
Setelah mendengar penjelasan dari Meilla mengapa Alina menangis. Haidar hanya bisa terdiam sambil terus mengelus punggung kekasih nya itu. Sungguh sedih melihat Al seperti ini karena Adero.
Setelah merasa sudah sedikit tenang, Alina menegakkan duduknya sambil menghapus air matanya tadi, itu juga di bantu oleh Haidar. Ah ya so sweet banget sih kalian.
Alina menatap para sahabatnya yang sedang melihat ke arahnya dengan tatapan sendu, apakah mereka juga merasakan apa yang Alina rasakan saat ini?
Alina menatap Nanda dengan seksama, dan kebetulan pula Nanda juga menatap nya. Alina sudah berpikir kalau akan memberitahu Nanda tentang pertemuannya dengan Gadis semalam. Kalau Nanda marah dan tidak terima, tak apa yang terpenting Alina sudah berusaha menyelamatkan Nanda.
Balik lagi kepada Nanda nya sendiri, mau menerima saran dari Alina atau tidak. Itu hak Nanda dengan kehidupan yang di jalaninya saat ini. Tetapi Alina sangat berharap Nanda mengerti maksud nya, mengapa memberitahu soal ini.
"Nanda!" Panggil Alina pada Nanda yang tengah duduk berdampingan dengan Hellena di karpet bawah.
Nanda menaikkan alisnya, "Kenapa Lin?" Tanyanya.
Alina menghela napasnya, "Terserah lo mau percaya apa engga sama gue, atau lo marah sama gue gak papa. Tapi ini buat kebaikan lo juga, gue kasih tahu ini bukan tanpa alasan Nan, gue ini sahabat gue lagi di manfaatin seseorang!" Seru Alina dengan pelan.
Tanpa di duga, Nanda berdiri dengan wajah yang memerah dan duduk di sebelah Alina sambil terus menatap mata Alina dengan tajam.
"Kenapa? Lo mau ngomong tentang Gadis? Yang menurut lo itu, dia bukan cewek baik? Iya?" Tanya Nanda dengan tajam.
Alina menggenggam tangan Haidar erat, takut melihat ekspresi Nanda saat ini. Haidar yang melihat Nanda seperti itu pada Alina tidak terima ingin menghajar Nanda saat ini juga. Tetapi Alina menatap kekasihnya sebentar lalu menggeleng.
"Lin, please banget ini kehidupan gue kan? Makasih banget karena lo mau dengan repotnya nyelidiki ini untuk gue, tapi sorry Lin!" Seru Nanda dengan nada penuh penekanan.
Alina menelan ludahnya, begitu pun yang lainnya, karena melihat wajah Nanda yang begitu garang. Tetapi tekad Alina tetap sama, biarkan saja Nanda marah yang terpenting ia sudah memberitahu nya.
"Nan, sorry gu-" ucapan Alina terpotong karena suara Nanda kembali terdengar.
Nanda menggeleng dengan cepat, "Gue belum selesai bicara, gue selesaiin dulu?" Alina hanya bisa mengangguk patuh, tanpa di sadari yang lain pun ikut mengangguk. Latah namanya itu!
"Tapi sorry Lin, gue udah tahu semuanya kok. Gue udah tahu kalau Gadis memang bukan cewek yang baik untuk gue. Gue udah tahu kalau Gadis cuma mau manfaatin gue sama kakak lo!" Seru Nanda.
Alina dan yang lain kaget mendengar apa yang Nanda katakan tadi, "Nanda, Lo?" Seru Alina yang tak bisa berkata-kata.
Nanda mengangguk, "Iya Lin, gue udah tahu semuanya Lin. Gue udah lihat dengan mata kepala gue sendiri, kalau dia jalan sama cowok lain juga. Salahnya gue kenapa terlalu berharap lebih sama dia. Padahal gue tahu dia itu cewek club dan gak akan mungkin menaruh hati di satu orang saja!" Lanjut Nanda.
Nanda merangkul pundak Alina, tetapi langsung di tepis ol h pawangnya yaitu Haidar. Dengan cengiran tak bersalah nya, Nanda langsung menurunkan tangannya kembali.
"Terima kasih, karena lo udah sering kasih tahu soal ini sama gue, tapi sayang gue gak pernah percaya sama lo. Maafin gue Lin, kalau akhirnya bikin lo nangis kaya gini!"
"Gue berharap, hal yang sama juga lo lakuin sama kak Dero biar dia sadar kalau Gadis gak baik. Nanti gue bantu untuk jelasin ini ke kakak lo!" Seru Nanda.
Alina mengangguk, tak menyangka kalau ia kembali menangis dan Haidar kembali mengusap punggungnya.
"Tapi, lo tahu dari mana semua itu Nan?" Tanya Lio.
__ADS_1
Nanda menghela napasnya, "Gue gak sengaja menrgokin dia di kost lagi tidur sama cowok lain, dan gue juga ada di cafe malam itu waktu Alina ketemu sama Gadis dan gue denger semuanya!" Jelas Nanda membuat yang lain kembali kaget.
Alina menatap Haidar lalu menatap Nanda, senyum kecil Alina terbit di sana, "Akhirnya lo sadar Nan sama semua ini, gue kira lo bakal marah sama gue kaya waktu itu!"
Nanda menggeleng, "Lo emang sahabat yang luar biasa Lin buat kita semua, lo selalu mentingin kita dari pada diri lo sendiri. Gue seneng jadi sahabat lo!" Seru Nanda dan ingin menaruh tangannya lagi ke pundak Alina tapi sayang pawangnya sudah menatap dengan tajam alhasil tidak jadi karena takut.
Alina terkekeh melihat itu, tanpa meminta izin pada Haidar l, ia langsung merangkul Nanda dan membisikan sesuatu pada cowok itu.
"Kan sekarang udah ada Hellena, lo coba aja deketin dia, gue yakin dia cewek baik deh!" Bisik Alina membuat Haidar langsung menarik kepala dan tangan kekasih nya agar menjauh dari Nanda.
Nanda yang di bisikan seperti itu langsung menoleh ke cewek yang disebut Alina tadi. Benar, meskipun baru beberapa kali jalan bersama Hellena, Nanda merasa cewek itu beda. Dia memiliki daya tarik tersendiri untuk menyita perhatiannya.
Nanda membisikan kembali Alina dengan kilat, "Saran lo boleh juga, gue coba deh!" Seru Nanda langsung menarik kepalanya menjauh sebelum Haidar menoyor nya karena cemburu.
"Guys, cobain deh kue kering buatan Hellena yang di buat pakai cinta untuk Nanda! Seru Elsa sambil mengangkat toples berisi kue yang tadi mereka buat.
Hellena yang mendengar ucapan Elsa tadi membuatnya jadi salah tingkah dan hanya menundukkan kepalanya tanpa mau melihat sekitar. Tanpa di duga ternyata Nanda sudah kembali duduk di sampingnya lalu memegang dagu Hellena dan mengangkat agar wajahnya terlihat.
"Jangan nunduk, nabati cantik lo gak kelihatan!" Gombal Nanda membuat suasana menjadi ricuh sesaat.
"Gila, baru putus udah ada yang baru lagi. Dasar Playboy cap kaleng!" Seru Lio memebuat yang lain tertawa.
Hellena hanya terkekeh pelan, sumpah gak bohong jantung nya kali ini berdetak sangat cepat tidak seperti biasanya, ia gugup.
"Guys tunggu, jangan ke Hellena sama Nanda dulu. Selesaiin dulu masalah Gadis sama kak Adero. Ini selanjutnya kita gimana biar kak Dero percaya?" Seru Meilla tiba-tiba memebuat mereka kembali ke mode hening.
"Nan, waktu di cafe lo ada rekamannya gak?" Tanya Haidar.
Nanda menggeleng, ia benar-benar tidak berpikir untuk merekam saat kejadian itu. Waktu itu ia sudah emosi saat melihat Gadis memandang Haidar dengan tatapan memuja.
"Yah, aturan lo rekam Nan!" Timpal Lio yang kecewa dan di anggukin oleh yang lain.
Lalu mereka kembali memikirkan bagaimana caranya, dan..
"Ah ya, kita minta rekaman CCTV di depan cafe itu aja yah meskipun gak ada suaranya yang penting ada bukti kalau Gadis jalan sama cowok lain!" Seru Alina.
Yang lain nampak berpikir lalu mengangguk, "Tapi yang ngasih CCTV itu jangan kamu ya, aku takut kak Dero tetap gak percaya sama omongan kqmu;!" Seru Haidar dan membuat yang lain mengangguk lagi.
"Gimana kalau Nanda aja yang kasih rekaman itu, kan dia juga korban dari Gadis!" Timpal Hellena membuat yang lain mengangguk lagi.
Apa sih bisanya cuma mengangguk???
"Kaya ada nada-nada kecemburuan gitu gak sih waktu nyebut nama Gadis?" Goda Elsa lagi lagi membuat mereka mengangguk lalu terkekeh.
Hellena yang di goda lagi hanya menampilkan wajah sebalnya pada mereka semua. Jujur, Hellena suka di dalam pertemuan ini, terlihat sangat kompak. Apalagi mereka memiliki karakter yang berbeda beda, memebuat pertemanan mereka semakin berwarna. Baru kali ini Hellena memiliki teman yang seperti ini.
__ADS_1
"Lo gak usah godain calon cewek gue gitu Sa, nanti dia gak nyaman ada di sini gimana?" Timpal Nanda membuat wajah Hellena semakin memerah karena malu.
Edo yang eneg melihat tingkah Nanda, hanya bisa melempar bantal sofa yang sejak tadi ia pegang, begitupun Lio m lakukan hal yang sama. Haidar pun tidak mau kalah, dan juga melakukan hal yang serupa.
Memang dasar pertemanan aneh!
"Ya udah mau kapan ke cafe itu untuk minta rekaman CCTV nya?" Tanya Edo.
"Kalau besok gimana? Sekarang udah sore juga kan!" Seru Alina.
"Kenapa kita gak makan malam sekalian aja di sana? Tempat nya asik kan?" Usul Lio membuat yang nampak berpikir. Boleh juga tuh sarannya.
"Oke boleh, lo yang bayar semuanya!" Seru Haidar membuat yang lain bersorak senang, sedang kan Lio hanya mengangguk kepala.
"Jangan kurangin jatah bulanan gue ya lo!" Seru Elsa membuat yang lain tertawa mendengarnya.
Memang pasangan yang sangat cocok mereka tuh!
Akhirnya semuanya mulai bangkit dan masuk ke mobil masing-masing untuk segera ke cafe tersebut. Untung saja tadi Hellena tidak jadi membawa mobil, jadi sekarang ikut di mobil Nanda dan mereka berduaan ya guys!
"Nanda, kalau gue nanya sesuatu boleh?" Seru Hellena pelan membuat Nanda yang sedang menyetir menoleh sekilas lalu tersenyum teduh.
"Mau nanya apa Hellena?" Seru Nanda dengan nada suara yang aduhai, merdu sekali rasanya!
Hellena menghela napasnya, "Lo beneran putus sama Gadis?"
Nanda mengangguk, "Iya."
"Tapi perasaan lo ke dia gimana sekarang, masih ada?"
Nanda terdiam cukup lama, "Namanya baru putus, rasa itu gak mungkin akan hilang secepat itu kan? Gue gak mau munafik soalnya, makanya gue jawab jujur."
Hellena mengangguk pelan, benar apa yang Nanda katakan. Mana mungkin rasa sayang bisa hilang secepat itu dalam hitungan detik. Meskipun mereka putus karena Gadis yang salah, toh sebelumnya Nanda pernah sayang sama Gadis.
"Pasti lo sendiri pun belum ngerasain sesuatu buat gue kan? Karena rasa itu pun gak mungkin tiba-tiba datang!" Seru Nanda membuat Hellena langsung mengangguk.
"Rasa itu akan datang, kalau kita terbiasa bersama. Lo mau gak?" Ujar Nanda membuat Hellena bingung dengan pertanyaan itu.
"Mau apa?"
"Mau kita terbiasa bersama, biar rasa itu datang!"
"Tunggu, maksudnya lo lagi nembak gue?"
Gimana baper ga sama gombalan Nanda ke Hellena?
__ADS_1
Guys jangan lupa komen dan kasih ulasan ya, biar aku tambah semangat buat ceritanya!