
Setelah Kepergian Nanda dan Gadis dari tempat duduk mereka. Terdengar lah suara bisik-bisik dari ketiga gadis itu.
“Namanya sih boleh gadis, tapi kayaknya dia udah gak gadis deh!” seru Elsa.
Tanpa sadar Meilla langsung menggenggam erat tangan Edo. Sedikit tersentil hatinya mendengar cibiran itu, meskipun bukan untuk dirinya. Tetapi Meilla merasa bersalah karena melakukan hal yang seharusnya ia dan Edo tidak lakukan. Edo tahu apa yang Meilla rasakan saat mendengar itu.
Edo pun merasa bersalah dengan itu semua, terutama dengan Meilla. Tetapi nasi sudah menjadi bubur, semua tidak bisa di ulang kembali. Edo berharap ini semua tidak akan menghalangi proses tunangan mereka.
“Hust, sayang jangan ngomong kaya gitu nanti Nanda denger pasti marah!” seru Lio memberitahu Elsa agar tidak asal berbicara.
“Tapi emang bener kayaknya dia cewek gak bener deh, kamu lihat gak waktu dia natal Haidar selama Ingi. Makan gitu, ih serem.” seru Elsa.
Lio mengangguk setuju dengan ucapan kekasihnya itu, “Lagian si Nanda dapet dari mana sih cewek kaya gitu!”
“Lin, dia beneran temen SMP lo? Dia dulu gimana? Begitu juga?” tanya Meilla santai sambil menutup kegugupannya.
Alina mengangguk, “Emang begitu dari dulu, gue kasihan Saman Nanda deh.”
“Setahu gue, Gadis memang kerja jadi cewek bayaran gitu dari dulu, tapi gak tau kalau sekarang. Gue kasihan sama Nanda, takut jadi korban si Gadis!” seru Alina memberitahu latar belakang Gadis.
“Lo serius Lin?” seru Lio yang tanpa sadar dengan nada suara tinggi.
Elsa memukul bahu Lio sedikit keras karena kaget, “Pelan-pelan bisa gak sih, bikin kuping orang sakit aja!” seru Elsa.
Alina mengangguk, “Tapi gue gak tahu juga sih sekarang dia gimana, secara gue baru ketemu lagi dia di sini!”
“Lo sama dia gak temenan ya dulu? Maksud gue kaya ada masalah gitu Lo berdua.” tanya Meilla.
Alina mengangguk, “Iya, dia selalu cari masalah sama gue, karena iri. Apapun semua bisa gue dapetin waktu di sekolah, termasuk soal cowok.”
“Cowok kamu juga banyak waktu itu?” tanya Haidar cepat saat mendengar Alina mengatakan cowok.
Alina menggeleng, “Enhgak, cuma sekedar jadi temen aja. Maksudnya kaya cowok famous gitu Deket ke aku, terus Gadis cemburu karena gak bisa kaya aku.” beritahu Alina.
“Tapi gak sampai pacaran kan? Mantan kamu cuma yang itu aja kan?” cemburu Haidar.
“Yah cemburu dua guys, udah aja bersambung ceritanya males lihatin orang cemburuan!” keluh Lio dan di setujui oleh yang lain.
__ADS_1
Alina terkekeh lalu menggengam tangan Haidar erat, “Jangan gak percaya diri terus dong, sayang! Semua hal tentang kamu sangat indah, gak ada yang bisa ngalahin!” seru Alina memebuat hati Haidar kembali menghangat.
Tak lama, Nanda kembali ke meja setelah mengantarkan dan memastikan Gadis telah masuk ke taksi online.
“Nan, lo serius pacarin cewek kayak gitu?” tanya Lio.
Nanda menatap Lio tak suka, “Maksudnya cewek kaya gitu, apa?” tanya Nanda dengan nada tak suka.
Lio yang menyadari perubahan raut wajah dan nada suara Nanda langsung menggeleng. Emang dasar ya, tadi Lio yang melarang Elsa untuk tidak mengatakan hal yang tidak-tidak, eh sekarang malah dia sendiri yang bertanya langsung.
“Lo ketemu dia dimana?” tanya Haidar dengan nada santai.
“Di kenalin temen kelas gue di kampus!” seru Nanda lalu meneguk minumannya.
Yang lain hanya bisa mengangguk. Memberitahu sekarang pun rasanya tidak pas, karena Nanda sedang jatuh cinta. Dan jatuh cinta membuat orang menjadi buta. Takut nanti Nanda malah marah, lebih baik mereka diam.
“Urusan lo gimana, Do? Lancar?” tanya Haidar pada Edo yang tadi sempat memberitahu Haidar kalau Fandi menyuruhnya datang ke rumah.
Edo mengangguk, “Alhamdulillah, om Fandi ngerestuin.” beritahu Edo dengan kabar bahagianya.
Edo mengangkat bahunya, “Om Fandi mau ketemu dulu sama orang tua gue untuk membicarakan masalah ini.”
Meilla mengangguk, “Do’ain guys biar semuanya lancar!” seru Meilla. Meskipun dalam hatinya ia takut. Takut karena telah melakukan sebuah kesalahan yang besar.
Yang lainnya mengangguk lalu mengaminkan doa itu, “Terus lo berdua gimana? Ada rencana buat tunangan juga dalam waktu dekat ini?” tanya Alina.
Lio dan Elsa kompak menggelengkan kepala. Lalu tiba-tiba Elsa mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan di taruhnya di atas meja. Siapapun yang ada di di sana melihatnya langsung kaget apa yang Elsa letakkan di sana.
Ada tiga undangan pernikahan di sana. Mereka mengambil satu persatu sesuai dengan nama yang tertera di Undangan. Mereka semua melihat dengan mata berbinar dan perasaan bingung.
“Ini prank buat siapa lagi? Meilla sama Edo?” seru Alina tidak percaya kalau ini undangan asli.
Di undangan tersebut tertulis nama Lio dan Elsa, sama seperti waktu Elsa memberikan undangan palsu pada Alina waktu itu. Elsa menggeleng saat Alina menuduh seperti itu.
“Ini asli cuy, gue sama Lio emang mau nikah!” seru Elsa.
“Yups, tanpa tunangan yang penuh drama kaya kalian!” timpal Lio.
__ADS_1
Elsa mengangguk, “Iya, kita sat set sat set langsung nikah. Biar bebas kalau lagi liburan!” sahut Elsa.
Semua masih belum percaya dengan perkataan pasangan ini. Karena kalian tahu kan bagaimana mereka berdua ini? Sangat sulit untuk di percaya.
Alina membuka undangan tersebut lebih dulu, lalu membacanya dengan teliti. Seperti nya memang ini undangan asli, pikir Alina.
“Ini seriusan gak sih?” seru Nanda yang masih tidak percaya.
“Serius anjir, ngapain gue main-main soal nikah!” sahut Lio yang lumayan kesal karena para sahabatnya tidak percaya.
“Gimana bisa?” tanya Meilla.
Elsa menceritakan mengapa tiba-tiba ia akan menikah dengan Lio. Ternyata orang tua keduanya sahabatan sejak dulu, dan baru mengetahui kalau anak mereka berpacaran saat pertemuan makan malam yang sengaja di buat oleh Lio dan Elsa.
Kedua orang tuanya sangat senang mendengar kabar ini, karena sejak dulu mereka memang berniat menjodohkan anak mereka. Maka dari situ lah pembicaraan soal pernikahan terjadi dan akhirnya mereka memilih tanggal untuk di jadikan moment sakral nanti.
“Gila, mulus banget ya kisah cinta lo!” seru Haidar dan di anggukin oleh semuanya.
“Itu kan tergantung amal dan perbuatan, kalau orang baik yah kaya gini selalu di mudahkan!” seru Lio dengan sombongnya membuat Edo dan Nanda sebal melihatnya sampai melempar tisu ke arah Lio.
“Gaya lo tengil!” seru Nanda kesal.
Lio hanya terkekeh lalu merangkul Elsa yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
“Pernikahan gue di Bali, lo semua tenang aja karena gue udah siapin pesawat buat kalian dan orang tua kalian. Untuk undangan orang tua kalian, nanti nyusul ya!” seru Elsa memberitahu yang lain.
“Oh ya satu lagi, gue juga udah siapin baju buat kalian jadi brigesmaind dan gromsmen gue!” timpal Lio.
Yang alin hanya bisa mengangguk patuh karena masih berpikir ini benar satu bohong sih. Tetapi kalau dari pembicaraan keduanya memang benar. Ah rasanya memang sulit untuk di percaya!
“Transportasi, hotel, makan, liburan udah gue siapin semua buat kita! Lo semua tinggal bawa badan aja!” seru Lio dengan sombongnya lagi.
“Bener-bener susah buat di percaya anjir, tapi mau gimana lagi, kita harus percaya guys karena emang ini nyatanya!” seru Nanda dengan nada penuh drama.
Yang lain hanya bisa mengangguk setuju.
“Semudah itu ya kisah cinta Lio sama Elsa!” batin Alina dan Meilla sama.
__ADS_1