Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Hari terakhir


__ADS_3

Hari terakhir ujian kelulusan di SMA Garuda membuat perasaan siswa siswi di sini campur aduk. Mereka senang karena hari kelulusan akan segera tiba, tetapi juga sedih karena mungkin ini adalah moment terakhir kebersamaan mereka belum nantinya lebih sibuk lagi.


Moment di mana yang tidak mungkin bisa terulang kembali. Selama tiga tahun bersama, membuat mereka susah melepaskan itu semua, tetapi hidup terus berjalan ke depan dan mereka harus tetap menjalaninya.


Siapa di sini yang sedih waktu perpisahan sekolah dulu?


...****************...


Bel tanda berakhirnya ujian telah berbunyi, membuat para siswa dan siswi bergegas ke aula sekolah karena akan ada perkumpulan di sana.


Tadi pagi, ketua panitia untuk perpisahan sekolah nanti, mengumumkan ini. Mereka ingin memberitahu susunan acara yang nantinya di adakan saat perpisahan sekolah.


Alina melangkah bersama Lio ke arah aula karena keduanya memang satu ruangan. Elsa tidak marah melihat hal itu karena itu lah salah satu bagian dari rencana yang akan di lakukan nanti. Demi Alina dan Haidar bersatu!


“Lin, duduk di sana?” ujar Lio sambil menunjuk bangku di barisan ketiga dari depan.


Alina mengangguk lalu melangkah ke bangku yang di maksud Lio, “Lo gak sama Elsa?” tanya Alina.


Lio menggeleng, “Lagi ngambek dia.” seru Lio berbohong.


“Kalau pacar lo lagi ngambek harusnya lo bujuk dia dong, bukan malah jalan sama gue gini. Gue gak mau ya, Elsa marah juga sama gue karena salah paham!” tegas Alina.


Lio hanya menyengir, “Iya Alina.”


“Iya apaan coba! Udah sono tuh samperin Elsa, gue sendiri aja.” Lio menggeleng.


Saat ingin bersuara lagi, Alina melihat Elsa dan Meilla masuk ke dalam aula dan membuat Alina langsung mendorong bahu Lio agar segera menghampiri Elsa.


“Cabut gih Sono, gue gak mau Elsa salah paham karena lo malah sama gue sekarang!” ujar Alina tak enak hati.


Lio lagi-lagi menggeleng, “gak mau ah, gue lagi males juga sama dia!” seru Lio menolak apa yang di suruh Alina tadi.


Alina menghela napasnya, lalu bangkit dari duduknya, “Ya udah kalau lo gak mau pergi, biar gue aja yang pergi.” seru Alina lalu pergi dari sana dan memilih tempat lain.


Akhirnya Lio menghampiri Elsa, dan memberitahu respon Alina tadi. Elsa dan Meilla sudah tahu jawabannya, pasti Alina tidak enak hati.


Tak lama, Haidar, Nanda dan Edo masuk juga ke dalam aula. Mereka duduk bersama dengan Meilla, Elsa dan juga Lio sedangkan Alina bersama dengan teman sekelasnya yang lain.


“Lo gak gabung sama mereka Lin?” tanya Rina teman sekelas Alina.


Alina menggeleng, “Lagi pengen menyendiri Rin.” sahut Alina dan hanya di anggukin oleh Rina.


Tak lama Arfan beserta panitia lainnya masuk ke dalam aula dan memulai rapat yang ingin di adakan hari ini. Arfan adalah mantan ketua OSIS pada masanya, makanya saat ini dia lah yang menjadi ketua pelaksana.


“Udah kumpul semua?” tanya Arfan menggunakan mic yang telah di sediakan.


Arfan melihat ke sana kemari memastikan kalau semuanya sudah masuk ke dalam aula, dan memulai pembicaraan susunan acara nanti.


“Jadi kalau ada yang berkenan mengisi acara nanti, bisa hubungi gue atau Erni buat pendaftaran.” ujar Arfan.

__ADS_1


“Kita kan punya waktu 2 Minggu dari sekarang, pendaftaran di mulai dari sekarang sampai H-6 ya, biar gak mepet. Nanti H-4 paling kita ngumpul lagi kaya gini, biar rencana kita semakin matang!”


“Gue mau acara perpisahan angkatan kita ini yang paling meriah dan paling berkesan, makanya gue minta kerja samanya juga sama kalian semua.”


“Gue rasa cukup buat hari ini, oh iya gue mau ngasih tau sama kalian, kalau kita di bolehin coret-coret seragam asal di dalam lingkungan sekolah saja, selesai waktu pulang kita harus ganti baju Ar tidak mengundang sekolah lain.”


“Biasanya kalau hari terakhir ujian kaya gini rawan tawuran guys, kalian inget kan kejadian tahun lalu? Makanya kepala sekolah ngizinin coret-coret nya di dalam sekolah biar aman semua!” beritahu Arfan.


“Hore!” teriak satu angkatan.


“Setelah coret-coret, kita ada foto satu angkatan, setuju?”


“Setuju.” teriak semuanya.


Tanpa menunggu lama semuanya keluar dari aula menuju ke lapangan untuk mengikuti tradisi yang entah dari mana asalnya itu, setelah ujian kelulusan pasti mereka akan coret-coret baju seragam dengan pilox.


Semua ikut, tanpa terkecuali, mereka pikir moment ini yang paling di tunggu setelah 3 tahun sekolah dan juga malam prom night nanti.


Alina ikut berbaur bersama dengan yang lainnya, sampai akhirnya ia bertemu dengan teman-teman nya


“Lin, are u okay?” tanya Meilla saat berpas-pasan langsung dengan Alina.


Alina menatap Meilla sebentar lalu tersenyum, “i'm okay la.” sahut Alina lalu mengelus punggung Meilla.


“Gue tanda tangan di seragam lo boleh?” izin Meilla.


Alina mengangguk, “Sure, bestie!”


“Sa, Lo kalau punya masalah sama Lio cepat selesaiin ya, jangan berlarut-larut.” ujar Alina dan di anggukin oleh Elsa.


Tak lama datang haidar beserta sahabatnya, membuat Alina ingin segera pergi dari sana tetapi langsung di cegah oleh Meilla.


“Mereka cuma mau lo tanda tangan di seragam mereka Lin!” beritahu Meilla atas kedatangan mereka.


“Gue bukan artis, ngaco!” sahut Alina tetapi tetap saja menaruh tanda tangan di seragam ke empat cowok tampan di angkatannya itu.


“Gantian ya Lin?” izin Lio dan Alina mengangguk lalu tersenyum.


Ke tiganya bergantian, hingga akhirnya giliran Haidar yang ingin mendatangani seragam Alina.


“Masih marah?” tanya Haidar saat berhadapan dengan Alina.


Alina menggeleng tanpa menjawab dengan suara.


“Pulang bareng?” ajak Haidar.


Alina lagi-lagi menggeleng, “Gue bawa mobil sendiri.”


“Suruh Nanda yang bawa mobil lo!”

__ADS_1


Alina menggeleng, “Gak.”


Haidar menghela napasnya lalu segera bertanda tangan di seragam alina. Tidak bisa memaksa, itulah yang Haidar pikirkan.


“Lin, nanti malam gue sama Meilla ke rumah lo ya? Pesta kita!” ujar Elsa.


Alina menggeleng, “Sorry guys, gak bisa gue harus prepare!” sahut Alina dan membuat semua kaget.


“Prepare, kemana?” sahut Haidar paling cepat.


“Iya lo mau kemana emang Lin?” tanya Nanda.


Alina menarik napasnya, “Gue mau ke Amerika, gue mau liburan di sana.” ujar Alina.


Alina sudah memikirkan ini semalam, ia akan pergi ke Amerika besok pagi. Selain ia sudah kangen dengan orang tuanya dan ia juga masih butuh menyendiri sepertinya.


“Besok pagi?” seru Haidar tak percaya.


Alina mengangguk, “iya.” jawab Alina santai seakan tidak ada beban meninggalkan ini semua.


“Sampai kapan?” tanya Haidar lagi.


Alina mengangkat bahunya. “Gak tau sih, palingan mepet prom night atau malah gue skip juga.”


Lio menggeleng, “Gak boleh skip Lin, itu acara terakhir kita, Lo gak mau bikin malam itu malam yang indah nantinya? Mungkin itu adalah malam terakhir lo ketemu teman-teman Lo yang lain atau bisa juga malam terakhir ketemu temen Lo yang ganteng ini!”


“Najis! Gue usahain dateng kok yo, tapi liat nanti sih soalnya bokap nyokap gue juga mau liburan ke sini katanya.”


“Gimana kalau kita ikut lo ke Amerika, Lin? Sekalian kita juga liburan kan di sana?” seru Elsa sambil menatap meilla.


“Boleh juga tuh, kayaknya seru liburan ke luar negri bertiga!” sahut Meilla.


Alina nampak berpikir, dan akhirnya mengangguk, “Oke boleh,” ujar Alina mengizinkan Meilla dan Elsa ikut.


Haidar langsung menghampiri Alina dan menarik tangan lalu menggengamnya, “Gue pasti kangen banget!” seru Haidar.


Jantung Alina berdetak cepat, wajah Haidar terlihat sedih dan membuat Alina merasa bersalah.


“Gue gak akan lama di sana.” seru Alina seakan menenangkan Haidar agar tak perlu khawatir.


“Tapi, lo masih punya janji sama gue?”


Alina mengerutkan keningnya, seakan sedang mengingat janji apa pada Haidar yang belum ia tepati.


“Mau bawa mamah ke makam.” seru Haidar mengingat janji Alina waktu itu.


Alina menepuk jidatnya, “Ah ya, setelah gue pulang, gue langsung ajak nyokap Lo ke makam ya, Illa nanti bantuin gue ya?” ujar Alina meminta bantuan Meilla dan di anggukin oleh Meilla.


“Lo hati-hati, selalu kabarin gue!” pinta Haidar dan di anggukin oleh Alina.

__ADS_1


“Udah ah gak usah mellow begini, sekarang kita happy-happy guys!” teriak Lio membuat yang lain tertawa.


__ADS_2