Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Aneh...


__ADS_3

Memulai aktivitas seperti hari-hari sebelumnya membuat kebanyakan orang merasa bosan. Aktivitas yang sama yang terus mereka lakukan setiap hari.


Seperti bersekolah yaitu bangun pagi, sarapan, pergi ke sekolah, mengejar tukas, istirahat, lalu pulang lagi ke rumah. Tapi, berbeda dengan alina, dia ada satu kegiatan lagi yang membuat dia tidak bosan berada di sekolah. Apa? iya benar. bucin pada Haidar, meskipun tau selalu ditolak.


Seperti pagi ini, padahal Alina sudah mengetahui fakta bahwa Haidar sudah memiliki kekasih hati seperti apa yang Haidar bilang kemari. Tetapi tetap saja, Alina masih terus berusaha untuk mendekati Haidar.


"Pagi, Haidar." sapa Alina saat ber pas-pasan dengan Alina di parkiran.


Seperti biasa, Tidak ada jawaban apapun dari Haidar.


"Gimana tidurnya tadi malam, nyenyak gak? mimpiin Alina gak?" tanya Alina lagi


"Gue mimpiin lo Lin." jawab seseorang yang tak jauh dari mereka.


"Alex!" ujar Alina saat mengetahui siapa Alex.


Alex berjalan mendekati ke arah Alina dan otomatis pun ke arah Haidar. Alina memang memiliki kepribadian yang ramah.


"Gue yang mimpiin lo lin semalem, serius!" ucap Alex mengulang ucapannya.


"oh ya? kok bisa? di mimpi lo gue gimana?" tanya Alina antusias lalu menoleh ke arah Haidar.


Alex merangkul pundak Alina, "Gue juga gak tau kenapa tiba-tiba lo nyasar ke mimpi gue. tapi di mimpi itu, lo sama gue pacaran." jelas Alex dan itu semua didengar oleh Haidar.


Alina menatap Haidar tak enak hati setelah mendengar cerita Alex.


"Lin, mau gak jadi pacar gue di dunia nyata?" ujar Alex.


Belum sempat mengatakan apapun pada Alex, tiba-tiba tangan Alina ditarik oleh haidar untuk menjauh dari Alex dan keluar dari parkiran.


Karena Alina masih kaget dengan ucapan Alex tadi, hingga ia tidak sadar kalau tangan nya kembali dipegang oleh sang pujaan hati.


Keduanya menjadi tontonan pagi hari ini, melihat keduanya memang lah cocok bahkan sangat cocok. bagaimna tidak, keduanya cantik dan ganteng, memiliki otak yang sama-sama cerdas dan dari keluarga yang kaya.


Haidar berhenti melangkah saat mereka di depan tangga, serta langsung melepaskan genggaman itu.


"Haidar, jangan salah paham ya, Alex pasti bercanda tadi." ujar Alina seakan menjelaskan kejadian tadi


Haidar hanya mengangguk


"Tadi Haidar gandeng Alina lagi sampai ke sini??" tanya Alina sambil berusaha menyembunyikan rasa bahagianya.


Padahal hatinya sudah jelas jedah jedug tak karuan karena sangat bahagia.

__ADS_1


Haidar kembali diam dan tidak menjawab pertanyaan Alina, tapi bagi alina tak masalah karena Alina sudah tau jawabannya.


"Coba Haidar yang bilang itu, Alina pasti udah langsung Alina bilang mau tanpa mikir lagi." ucap Alina.


"Tapi gak mungkin, kan Haidar udah punya pacar. Alina juga gak mau jadi yang kedua, maunya jadi satu-satunya buat Haidar." keluh Alina dan membuat Haidar tersenyum tipis.


"Cie yang abis gandeng-gandengan lagi." goda Lio yang tiba-tiba sudah berada di dekat mereka.


Alina yang terus tersenyum, sedang Haidar yang datar. "kayaknya semakin hari semakin maju deh." kali ini Nanda yang bersuara.


"Haidar semakin di depan." ujar Edo.


Ketiga cowok itu langsung tertawa dan Alina pun ikuti tertawa. berada di lingkaran seperti nya mereka menyenangkan.


"Alina, hari ini jadi kan traktir sekelas lagi pas istirahat?" tanya Lio.


wajah Alina langsung berubah cemberut, "iya, ya bawel lo. ini terakhir gak ada traktiran lagi setelah ini.


Ketika cowok itu kembali tertawa melihat ekspresi Alina yang sedang kesal, " gue juga boleh ikut di traktir ya, kan kita temenan juga," ujar Edo dan di anggukin oleh lio.


Alina hanya mangat-mangut sambil mulutnya terus mendumel meskipun tidak ada suaranya.


"kenapa?" tanya haidar entah pada siapa.


ketiganya yang mendengar pertanyaan itu langsung menyuruh Alina menjelaskan maksud dari omongan tadi.


Haidar mengangguk dan mengerti maksud dari obrolan mereka tadi, Haidar merasa kasihan pada Alina.


hanya kasihan ya, ingat kasihan.


"Gue yang bayar!" ujar Haidar lalu melangkah naik ke tangga untuk masuk ke dalam kelasnya.


keempat orang yang ada di sana melongo tidak percaya dengan ucapan Haidar tadi. terutama Alina yang bingung pernyataan Haidar.


"maksudnya dia yang bayar gitu?" tanya Alina entah pada siapa.


Lio, Edo dan Nanda hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Alina. mereka bertiga juga sebenarnya bingung, tetapi seperti nya memang benar jawabannya.


"Kalau Haidar yang bayar mah berarti gak ada budgetnya." ujar Lio senang.


Kenapa Lio di toyor oleh Alina, "otak lo isinya cuma makana. doang ye emang!" ketus Alina lalu melangkah menaiki tangga menuju kelasnya.


"Tau, makan Mulu otak lo!" ujar Edo sambil ikut menoyor kepala Lio dan segera menyusul Alina dan Haidar begitu juga dengan Nanda.

__ADS_1


"padahal makanan itu suatu kebutuhan, wajar kalau gue mikirnya makanan terus, karena pura-pura bahagia butuh energi yang banyak!" ujarnya dramatis sambil memegang kepalanya dan ikut menyusul semuanya.


******


Jam kosong adalah salah satu waktu yang ditunggu para murid selain istirahat dan bel pulang.


Suasana di kelas sangat ramai, semua sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ada yang ngadain konser mendadak, ada yang sedang berfoto-foto, ada yang sedang bermain kejar-kejaran, ada yang sedang main game, ada yang sedang meng gosip dan ada juga yang sedang mengerjakan soal-soal pelajaran.


Siapa lagi kalau bukan Alina, bukan karena ia kutu buku tapi Alina memang lebih suka melakukan kegiatan ini kalau moodnya lagi bagus, kalaupun pagi gak ingin belajar pun Alina akan menikmati jam kosong ini sama seperti mereka.


"Lin, foto yang Lio krim kemarin beneran?" tanya Elsa yang masih saja tidak percaya sejak kemarin.


Kemarin, setelah Lio mengirim foto tersebut, Elsa langsung menelepon Alina untuk menanyakan kebenaran nya.


Alina mengangguk sambil tangannya terus menulis jawaban soal yang ia sedang kerjakan.


"Kok bisa lo ketemu si Haidar di jalan? kan arah rumah Lo sama dia atau warung si ibu beda?" tanya Elsa lagi.


Alina meletakkan penanya lalu menatap Elsa, "itu yang bikin gue bingung awalnya, eh taunya dia lewat jalan situ karena rumah pacarnya arah situ juga." ujar Alina dengan nada suara yang berubah.


Meilla yang tadinya fokus pada ponselnya langsung menoleh ke arah alina. posisi duduknya Meilla di depan bersama dengan Talia cewek cupu di kelasnya sedangkan Elsa duduk dengan Alina tepat di belakang Meilla.


"Maksud lo, Haidar udah punya pacar?" Tanya Meilla.


Alina mengangguk, "Dia bilang sih begitu, tapi gue gak percaya."


"Tunggu, dia ngomong sendiri ke lo kalau dia itu sebenernya udah punya pacar?" tanya elsa dan di anggukin oleh Alina.


Wajah Alina menjadi murung, mengingat kembali fakta itu ia dapat kemarin.


"Terus setelah lo tau, Haidar punya pacar, apa Lo masih terus ngejar tuh cowok?" tanya Meilla.


Alina hanya mengangguk lagi, "gue ngerasa Haidar itu bohong la, dia sebenarnya gak punya pacar mungkin dia bilang kaya gitu biar gak ketahuan gue kalo sebenernya dia emang ngikutin gue."


Meilla menggeleng sambil terkekeh pelan, "Lin, jangan munafik kenapa sih. Lo udah tau kalo dia punya pacar l, dan lo tetep mau ngejar dia? Lin, yang ada Haidar malah ilfeel sama lo."


Elsa mengangguk setuju sama ucapan Meilla, "Bener apa yang Meilla bilang, Haidar malah jadi ilfeel sama lo nanti. Entah Haidar bohong atau engga soal pacarnya yang jelas dia itu secara halus ngusir lo biar lo gak usah ngejar dia lagi." sahut Elsa.


Alina hanya diam, mendengarkan apa yang sedang sahabatnya bilang. semua perkataan Meilla dan Elsa ada benarnya, tetapi balik lagi pada hatinya yang belum capai untuk mengejar Haidar.


"Gue bukan gak setuju lo sama Haidar, tapi perjuangan lo selama 2 tahun ini gak nge buahin hasil sama sekali Lin. Gue kasihan sama lo, Lo bisa dapetin yang jauh lebih baik dari Haidar." nasihat Meilla.


Alina menggeleng dan ingin mengatakan sesuatu tapi Meilla lagi yang terdengar.

__ADS_1


"Bukan karena lo gak bisa, tapi karena lo gak mau coba!" ucap Meilla ketus dan membuat Alina menunduk.


"Apa gue harus berhenti Samapi sini?"


__ADS_2