Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Kata maaf...


__ADS_3

Kata maaf memanglah mudah di ucapakan tetapi si pendengar kata itu pun jengah kalau terus bilang maaf tapi pada kenyataannya hal itu terulang lagi.


Seperti Alina, selalu saja di buat kesal oleh Haidar entah karena hal sepele atau hal besar. Kalian bisa baca sendiri kan. Kisah mereka, selalu saja Haidar yang buat salah.


Dan setelah itu Haidar meminta maaf, Alina memaafkan lalu setelah itu terulang lagi. Lelah? Pasti.


...****************...


Setelah pergi dari kerumunan di kampus tadi, Hadad memberhentikan mobilnya ditepi jalan. Pikirnya kalut saat mendengar Adriel mengajaknya taruhan untuk mendapatkan Alina.


Belum sempat Alina bertanya apapun, Haidar sudah mengatakan satu kata yang sering Alina dengar selama mereka bersama.


“Maaf!” ujar Haidar sambil menatap Alina dengan tatapan sedih.


Alina pun menatap Haidar, lalu mengambil tangan Haidar untuk di genggamnya. “Kenapa bisa terjadi?” Tanaya Alina.


Haidar sudah paham dengan pernyataan itu langsung menunduk, “Dia ngajakin taruhan buat dapetin kamu, Lin! Aku emosi, aku gak suka seakan-akan kamu seperti barang!” jelas Haidar.


Alina menggeleng, “Bisa di bicarakan baik-baik Haidar, gak seharusnya pakai kekerasan kaya gitu!”


“maaf, aku emosi!”


“aku tahu, tapi gak bisa di benarkan Haidar, gimana Klakah masalah ini terdengar pihak kampus? Kita mahasiswa baru Haidar, ingat.”


Haidar hanya bisa diam tak menjawab ujaran Alina, karena memang semuanya benar.


“Kalau mereka tahu dan kamu di keluarin dari kampus Gimana? Kamu gak kasihan sama papinya Meilla udah usahain biar kamu bisa masuk kampus itu?”


“Alina maaf!” hanya itu yang bisa Haidar katakan.


Alina menggeleng, “Bukan minta maaf sama aku, tapi sama kak Adriel! Karena kamu bisa dia sampai babak belur!”


Haidar menghela napasnya lalu menggeleng, “Aku gak mau, Alina! Dia udah kurang ajar sama kamu, aku gak suka!”


Alina pun menghela napasnya, “Kalau seperti itu kita lihat aja nanti apa yang akan dia lakukan, apakah dia bakalan lapor ke pihak kampus? Semoga aja tidak!”


“Alina, maaf!” Haidar masih berusaha meminta maaf pada Alina.


Alina memang kecewa pada Haidar tapi ia pun tak ada hak untuk marah karena Haidar melakukan itu demi melindungi nya meskipun dengan cara yang salah.


“Aku gak marah, Haidar!” seru Alina.


Tak lama ponsel Alina berdering, ada nama Lio di sana, dengan cepat Alina menerima panggilan itu.


“Iya?”


“....”


“Sekarang?”


“....”


“Oke, otw.”

__ADS_1


Bip


Alina mematikan panggilan itu lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Alina menata Haidar dengan seksama. Wajahnya mulus tanpa luka tidak seperti wajah Adriel tadi.


“Lio bilang kita di suruh ke cafe, Nanda mau traktir kita karena dia menang slot!” seru Alina dengan polosnya.


Haidar menggeleng, “Aku gak mau, uang haram!” seru Haidar membuat Alina bingung karena memang tidak tahu slot itu apa.


“Haram? Memang nya slot apa?” tanya Alina polos.


“Judi online!” sahut Haidar.


“Ih, aku jadi gak mau ah!” seru Alina.


Haidar terkekeh, “Lio pasti bohong, Nanda mana ngerti main gituan. Dia mau traktir kita karena hari ini dia ulang tahun, sayang.” jelas Haidar yang memang tahu kalau hari ini Nanda sedang berulang tahun.


Memang dasar ya si Lio, bikin Alina si gadis polos ternodai otaknya.


Alina mengangguk, “Kalau gitu kita mampir ke toko baju dulu buat beliin dia hadiah ya.”


“Kamu aja gak pernah kasih aku hadiah, tapi kamu udah mau ngasih Banda!” gerutu Haidar sedikit cemburu.


Alina terkekeh, “Dulu kalau aku kasih bekal aja, nyuruh Edo buang. Sekarang minta hadiah, nanti yang ada malah di buang sama kamu.” cibir Alina mengingat kejadian dulu.


Haidar menggeleng, “Maaf Alina!”


Alina mengangguk, “Udah sering minta maaf dan di maafin kok!”


Haidar tersenyum miris mendengar ujaran itu. Dalam hatinya ia merasa bersalah pada Alina, karena selama ini belum benar-benar bisa membahagiakan gadis itu. Gadis yang tulus mencintai nya tanpa melihat kekurangan nya. Seharusnya Haidar lebih bersyukur karena Alina selalu menerima dan memaafkan nya selama ini


Setelah itu Haidar segera melajukan mobilnya ke toko baju terdekat yang satu arah dengan cafe tempat mereka janjian.


...****************...


Semua sudah berkumpul di cafe story tempat yang mereka bisa gunakan untuk berkumpul sejak dulu. Selain makanan nya enak, harganya pun terjangkau. Saat ini mereka tengah menunggu Alina dan Haidar yang memang hanya mereka lah yang kampus nya berbeda.


“Lo pada tau gak sih, kalau Alina itu satu kelas sama sepupunya Diana, siapa namanya ya gue lupa?” seru Lio memberitahu kabar itu pada yang lain.


Alina memang masih sering bercerita dengan Lio, karena Alina merasa nyaman dengan cowok satu ini. Meskipun sering bercanda tapi Lio tahu waktu yang pas untuk serius.


“Siapa ya, lupa gue!” seru Edo.


“Sama gue juga lupa, dia cantiknya juga gak kalah sama Diana ya ” seru Nanda.


Elsa menoyor kepala Nanda, “Cewe Mulu di otak lo!” cubit Elsa.


Nanda mengelus kepala nya, “Lio ajarin nih cewek lo jangan kurang ajar! Kalau rambut gue berantakan gimana? Makin susah gue punya cewek!” gerutu Nanda.


“Hellena.” seru Meilla membuat uang lain langsung menoleh ke arahnya.


“Kira-kira dia bakalan cerita apa aja ya sama Alina, tentang Diana dan Haidar dulu?” seru Lio.


Belum ada yang menjawab, Alina dan Haidar datang dan langsung duduk di bangku yang sudah di sediakan.

__ADS_1


“Happy birthday Nanda, wish u all the best!” seru Alina sambil memberi sebuah paper bag berisi baju yang tadi ia beli bersama dengan Haidar.


Nanda menerima kado itu dengan senyuman yang merekah, “Thank you Alina! Lo doang emang temen gue yang baik!” Seru Nanda dengan nada suara yang menyindir.


Karena baru Alina lah yang memberi nya kado hari ini!


“Itu dari gue sama Haidar, semoga lo suka ya!” seru Alina lagi.


Nanda mengangguk, “Thank you Haidar, Lo emang gak salah milih cewek yang baik dan perhatian gini!” seru Nanda menyindir lagi.


“Ayi Alina, pesan makanan hari ini gue yang bayar khusus buat Lo sana Haidar karena udah ngasih gue jadi!” seru Nanda bercanda.


“Maksud Lo kita gak di bayarin karena kita gak kasih lo kado, gitu?” sahut Lio.


“Anjir emang, daripada gue ngasih lo jadi mendingan gue buat bayar nih makanan!” timpal Edo.


Nanda terkekeh, “Bercalnda anj**g, begitu aja Lo berdua baperan! Udah jadi anak kuliahan juga bukannya dewasa malah semakin kaya anak kecil!” seru Nanda.


Semuanya memesan makanan di cafe tersebut dengan Nanda yang membayar tagihan semua. Sedang asik makan-makan sambil bercanda, meja mereka di datangi seseorang.


“Permisi, maaf mengganggu waktunya itu motor Vespa yang ada di depan boleh tolong di pindahin Karena menghalangi jalan.” seru orang tersebut.


Semuanya saling pandang, karena mereka tidak ada yang membawa motor, Edo, Lio dan Haidar membawa mobil sedangkan Nanda kebetulan menebeng dengan Lio.


“Maaf Paka, Vespa itu bukan punya salah satu dari mereka. Mungkin bapak salah meja!” seru Meilla.


Bapak itu menggeleng, “Tapi tukang parkir itu bilangnya punya mas Nanda yang duduk di meja ini, apa di sini ada yang bernama Nanda?” seru sang bapak.


Nanda mengangguk dan teman lainnya pun langsung pun langsung menunjuk Nanda. “Tapi maaf pak hari ini saya gak bawa kendaraan apapun, lagi saya gak punya Vespa!” seru Nanda.


“Coba mas lihat dulu keluar deh, soalnya tukang parkirnya bilang itu punya mas Nanda.” ajak si bapak.


Nanda dan yang lainnya bangkit dari duduknya lalu berjalan ke luar cafe. Saat sampai di luar memang ada satu unit motor Vespa eh tunggu tapi ada tulisannya di depan dengan kertas bertuliskan.


Happy Birthday, Nanda


Semoga cepat dapat cewek!


Dari kita, teman terbaik Lo!


Nanda yang melihat dan membaca tulisan itu pun terharu dan menoleh ke arah sahabat nya satu persatu. Mereka mengangguk tapu tidak dengan Alina yang memang tidak tahu masalah jadi ini. Selalu saja Alina sendiri merasa di asingkan.


“Ini buat gue?” seru Nanda yang lain mengangguk.


“Kado buat Lo, dari kita!” seru Lio senang karena acara kejutannya berhasil.


Kenapa harus motor Vespa, karena cuma Nanda yang belum punya motor ini. Bukan karena ia tidak sanggup membelinya, tapi di ladang oleh orang tua nya. Makanya sahabatnya membelikan ini agar bisa menjadi alasan pada orang tuanya kalau ini kado.


“Tunggu, tapi gue gak ikut patungan, kok kalian jahat sih gak ngajak gue patungan buat beli itu?” seru Alina.


Lio merangkul pundak Alina, sebelum akhirnya di lepaskan kembali karena Haidar melihatnya dengan tajam, “Lo inget gak yang waktu gue minta duit sama Lo itu. Waktu gue mau kasih tau buat apa, Lo malah pergi gitu aja karena buru-buru, eh setelah itu gue lupa lagi buat ngasih tau lo.” seru Lio.


Alina berusaha mengingat kejadian itu dan ia mengangguk, “Oh iya gue inget, berarti itu juga jadi dari Fu ya Lio!” seru Alina membuat yang lain gemas karena kepolosan gadis itu terutama Haidar.

__ADS_1


“Nati malam datang ke restoran bangsawan juga ya, nyokap bokap gue ngadain makan malam di sana!” seru Nanda membuat mereka bersorak senang.


“Keluarga sultan mah emang beda, tapi anehnya kenapa Vespa gak ke beli ya? Cibir Lio membuat yang lain tertawa.


__ADS_2