
Kembali beraktivitas seperti biasa. Kuliah, belajar kalau menikmati hari dengan penuh bahagia, itu lah mungkin yang Alina lakukan setiap hari. Selalu merasa bersyukur apa yang di dapat nya selama ini, enya mengecewakan tau tidak, ia harus tetap bersyukur.
Setelah pulang dari kampus, Alina di ajak Haidar untuk berkunjung ke rumahnya. Kalian ingat kan kalau hari ini Meilla dan Edo akan datang ke ruma Haidar? Maka dari itu Haidar pun mengajak Alina untuk berkunjung.
Haidar tahu kalau Alina benar-benar tidak masalah dengan kunjungan Meilla ini. Lagi pula sekarang media kan sudah menikah, tidak mungkin pula macem-macem.
Alina pun tidak merasa keberatan kalau di ajak pacar sendiri, selain bisa membiasakan diri untuk lebih dekat dengan Indira, Alina pun ingin melihat bagaimana reaksi Meilla saat main merasakan Indira yang sedang di idamkan.
“Ini serius aku gak papa ke rumah kau?" Tanya Alina memastikan.
Haidar mengangguk, “Yah ga masalah, kan kamu calon mantunya."
Alina mengangguk lalu tersenyum setelah mendengar kata terakhirnya, entah perasaannya sangat bahagia saat mendengar itu.
Alina dan Haidar melangkah menuju parkiran kampus, untuk segera pulang ke rumah di tengah perjalanan keduanya bertemu dengan cinta. Pandangan Haidar langsung berubah saat melihat gadis itu.
“Eh Lin, Lo di undang gak ulang tahun Ratna! Minggu depan?" Seru Hellena.
Alina menggeleng, “Belum ada undangan sih, enggak kali. Lagian gue juga gak terlalu kenal dia!"
Hellena mengangguk, “Iya lo gak kenal dia, tapi hampir satu kampus kenal lo kali!"
Bena apa yang di katakan Hellena, siapa sih yang tidak mengenal Alina dan Haidar di kampus. Pasangan yang sering membuat orang itu ketika melihat keduanya. Maka dari itu ada yang suka ada juga yang tak suka dengan mereka.
“Alah lo mah, enggak juga kali!" Seru Alina.
Hellena melihat ke arah Haidar sekilas, “Yaudah gue cuma mau nanya itu aja, tadi gue mau nanya di kelas lupa!" Alina mengangguk lalu pamitan dengan Hellena untuk pulang.
Setelah itu Alina dan Haidar kembali melanjutkan langkahnya, tetapi lagi-lagi ada halangan yang melangkahi jalan mereka. Kali ini mereka ketemu dengan kakak tingkat Alina, yang waktu itu di pukulin Haidar. Kalian ingatkan? Adriel kalau gak sala namanya.
“Hey Alina!" Sapa Adriel membuat mata Haidar langsung menatap tajam.
Adriel tidak menghiraukan Haidar yang berdiri tepat di samping Alina, matanya tetap menatap Alina dengan dalam. Terpana dengan kecantikan yang Alina pancarkan.
Alina tidak menjawab sapaan itu, dan hanya tersenyum kecil saja. Setelah itu langsung menggenggam tangan Haidar dengan erat, agar Haidar tidak terlalu emosi.
“Pefmisi kak, kita mau lewat!" Seru Alina dengan sopan lalu menarik tangan Haidar agar ikut melangkah bersama nya.
Tetapi Adriel tidak membiarkan hal itu terjadi, dengan kurang ajarnya ia malah menarik tangan Alina dan terbebaskan dari genggaman itu. Haidar yang melihat jelas itu semua, tidak lagi bisa mengontrol emosi nya
tanpa aba-aba Haidar menghempaskan tangan Alina lalu menghantam wajah Adriel dengan cepat. Adriel yang tahu Haidar akan melakukan itu, segera menghindar dan beruntung pukulan Haidar tidak jadi mengenainya.
__ADS_1
Dan terjadilah keributan antara Haidar dan Adriel. Keduanya saling hantam dan menghindar, keduanya pula menjadi pusat perhatian saat ini. Alina terus berusaha memisahkan keduanya, dengan menarik Haidar dari belakang.
Tetapi sayang tenaga Haidar lebih kuat, Alina sempat kualahan dengan keadaan. Mana yang lain hanya menonton saja, malah bersorak senang. Alina tak habis pikir dengan mereka, seperti anak kecil saja, bertengkar dan yang lain bersorak.
“Hqidae berhenti!" Teriak Alina dengan sekencang mungkin.
Sedangkan Haidar sama sekali tidak mendengarkan apa yang Alina katakan itu, dan masih fokus menghajar Adriel.
“Habus lo sama gue!" Desisi Adriel.
Haidar dengan lincahnya menghindar setiap pukulan yang di layangkan oleh Adriel, begitu pula dengan yang Adriel lakukan.
Alina sudah hilang kesabaran, akhirnya ia memberanikan diri untuk menghampiri Haidar dan meleraikan nya dengan berdiri di antara keduanya.
Tanpa Haidar dan Adriel sangka Alina melakukan itu, maka dari itu Alina terkena pukulan di pipi dari kedua sudut, yaitu dari Haidar dan Adriel. Saat itu pula, Alina tersung ke belakang karena kepalanya langsung terasa sakit. Bayangkan saja, kena pukulan dari dua cowok sekaligus dalam satu waktu.
Tenaga perempuan dengan laki laki kan berb da!
Haidar yang melihat itu langsung menghampiri Alina, dan berusaha membangunkan dengan menepuk pipi sang kekasih. Tetapi sayang, Alina tetap menutup matanya dan tidak menjawab apapun yang Haidar katakan.
Tanpa berpikir lagi, Haidar mengangkat Alina untuk di bawa ke mobil, menuju rumah sakit terdekat dari kampus nya. Padahal bisa saja, Haidar membawa Alina ke ruang kesehatan yang ada di kampus, ada dokternya pula.
“Aabar sayang, kita ke rumah sakit sekarang! Maafin aku ya!" Seru Haidar sambil terus melangkah menuju mobil.
Hingga akhirnya sampai dan Haidar m masukan Alina di kursi belakang, tetapi Haidar khawatir kalau Alina tidak ada yang menjaganya di kursi belakang, gadis itu akan jatuh ke bawah pula.
Tak lama Hellena datang dari arah belakang, setelah mendengar berita ini dari para penonton yang melihat kejadian tadi. Maka dari itu, dengan cepat Hellena mencari keberadaan Haidar untuk membantunya.
“Biar gue yang jaga Alina di belakang!" Seru Hellena yang tahu kalau Haidar sedang bingung.
Haidar hanya bisa mengangguk, demi gadisnya ia harus menurunkan egonya. Bagaimana pun Alina harus segera di bawa ke rumah sakit untuk segera di tanganin.
Haidar langsung melakukan mobilnya menuju rumah sakit. Akhirnya mobil Haidar telah sampai di parkiran rumah sakit, setelah menempuh jarak yang memakan waktu 15 menit dari kampus l. Beruntung saat itu jalanan sedang senggang.
Haidar langsung menurunkan Alina, dan segera di taruh di brankas. Perawatan langsung mendorong brangkar tersebut ke arah IGD. Haidar dan Hellena pun ikut mendorong, tangan Haidar terus menggenggam tangan Alina.
Kecemasan itu pun terlihat dari wajah Haidar saat ini. Ia merasa khawatir sekaligus takut dengan kondisi Alina saat ini. Bagaimana bisa ini semua terjadi, itu yang ada di pikirannya.
“Mohon maaf, mas dan mba tidak boleh masuk ke dalam. Kami akan mengecek kondisi pasien!" Seru salah satu perawat.
Haidar dan Hellena melangkah mundur, mengerti apa yang perawat itu katakan. Haidar terus berdiri di depan pintu IGD, dan Hellena pun berdiri juga tak jauh dari sana.
__ADS_1
“Mqkaaih karena udah mau bantu gue!seru Haidar pada Hellena.
Hellena mengangguk, “Alina temen gue, masa gue diem aja ngelihat temen gue terluka!"
Haidar mengangguk.
“Lo udah hubungin orang tua Alina?" Tanya Hellena dan di jawab gelengan oleh Haidar.
“Lebih baik lo kasih tahu kondisi Alina sekarang!" Saran Hellena.
Haidar menggeleng lagi, “Gue sendiri belum tahu kondisi Alina kaya gimana, gue harus tahu sebelum kasih tahu ke orang tua Alina."
“Bilang aja lo takut kan, buat ngejelasin semua yang udah terjadi sampai akhirnya Alina kaya gini?" Tuduh Hellena.
Haidar mengangguk, memang itu lah yang Haidar khawatir kan selain kondisi Alina saat ini. Bingung bagaimana menjelaskan semuanya pada orang tua Haidar.
Hellena menghela napasnya, “Kenapa dari dulu lo pengecut si Dar? Dulu waktu Diana kecelakaan juga, Lo gak langsung ngabarin nyokapnya!"
“Padahal menurut gue, orang tuanya berhak tahu apa yang terjadi sama anaknya. Tapi balik lagi sama lo sih, kalau lo tetap jadi pengecut ya tunggu aja dulu gimana kabar Alina!" Sambung Hellena.
Haidar menatap Hellena dengan tajam, tetapi apa yang di katakan Hellena semuanya memang benar. Dulu Haidar pun melakukan hal yang sama saat Diana kecelakaan, sampai akhirnya Diana di nyatakan kritis baru lah Haidar menghubungi orang tua Diana untuk memberitahu kabar itu.
Haidar berjalan menjauh dari Hellena, lalu mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi orang tua Alina dan memberitahu kondisi Alina saat ini yang masih di tanganin oleh dokter di dalam.
Saat ingin m dial nomer Reymond, tiba-tiba pintu yang di dalamnya ada Alina terbuka. Salah satu perawat keluar dari sana, sambil mencari keluar Alina.
“Maaf apa di sini ada keluarga pasien?" Tanya perawat Hellena.
Hellena langsung menunjukkan Haidar yang sedang melangkah mendekat ke arah pintu, “Itu tunangan nya sus!"
Sampqi akhirnya Haidar sampai di depan pintu tersebut, “Bagaimana keadaan pasien, susu?" Tanya Haidar dengan nada penuh kekhawatiran.
“Paaien masih di tanganin, tetapi sepertinya kami membutuhkan persetujuan orang tua pasien untuk mengecekan lebih lanjut, mas!" Beritahu suster.
Haidar mengangguk, “Lqkukqn apapun yang terbaik buat pasien sus, selagi menunggu kedatangan orang tuanya, saya yang akan bertanggung jawab untuk semuanya!" Seru Haidar.
Suster pun mengangguk, “Baik kalau begitu, kalau akan melakukan CT Scan terlebih dahulu di bagian kepala, mas!"
Dan Haidar hanya bisa mengangguk, setelah itu suster kembali masuk ke dalam ruangan untuk melanjutkan kegiatan di dalam. Haidar pun kembali medial nomer Reymond untuk memberitahu hal ini padanya.
Haidar tidak mau di cap pengecut oleh Hellena, biar bagaimanapun orang tua Alina berhak tahu dengan kondisi anaknya saat ini. Lagipula, pasti Mira sebagai ibu merasa tak enak hati karena kejadian ini.
__ADS_1