Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Keputusan 2


__ADS_3

Semua orang yang berada di rumah Meilla saat ini kaget dengan keputusan yang Fandi buat untuk masalah yang saat ini sedang terjadi. Bagaimana bisa, Fandi menyuruh Haidar yang bertanggung jawab?


Siapapun pasti tidak akan setuju dengan keputusan itu, terutama para reader nih. Haidar cuma punya Alina, iya kan?


“Papi mau, Haidar yang tanggung jawab dengan ini semua kalau tidak Meilla harus tetap gugurin kandungan itu!” seru Fandi setelah diam memikirkan semuanya.


Haidar langsung menggeleng setelah mendengar ucapan Fandi tadi. Begitu pula dengan Alina yang sangat amat tidak setuju dengan itu semua.


“Gak bisa, ini bukan tanggung jawab Haidar, yang harus tanggung jawab itu Edo bukan Haidar!” seru Haidar langsung menolak.


Fandi menggeleng, “Papi tidak akan membiarkan Meilla berhubungan lagi sama dia, lebih baik papi suruh Meilla gugurin kandungan kalau kamu tidak mau tanggung jawab untuk ini semua!”


“Pi, ini bukan salah Haidar, bukan Haidar yang harus tanggung jawab. Haidar sudah punya Alina dan mereka pun akan menikah nanti!” seru Meilla membela Haidar.


“Diem kamu! Siapa suruh kamu berbuat hal konyol seperti ini! Keputusan papi sudah bulat, dan tidak bisa di ganggu. Kalau kamu mau mempertahankan anak kamu, ya kamu menikah dengan Haidar!”


Edo keju menghadap langsung ke depan wajah Fandi, “Om biarin saya yang bertanggung jawab sama semuanya, ini kesalahan saya, ini anak saya dan saya menyayangi Meilla dengan tulus. Please om saya mohon!” mohon Edo.


“Pergi kamu, saya gak mau besanan sama musuh saya, yaitu orang tua kamu!” tegas Fandi.


Alina gerak dengan perkataan Fandi sejak tadi, mau tidak mau Alina harus ikut campur masalah ini karena ini semua sudah menyangkut hubungan nya.


Alina melangkah mendekat ke arah Fandi berdiri tepat di samping Haidar, “Maaf om, keputusan om itu terlalu egois, maaf kalau perkataan Alina sedikit kasar tapi memang itu kenyataannya!” seru Alina dengan nada lantang. Tidak merasa takut sama sekali dengan Fandi saat ini.


Alina akan memperjuangkan Haidar sampai kapanpun, seperti dulu sebelum Haidar menjadi miliknya.


“Meilla melakukan itu dengan Edo memang khilaf, tetapi di sisi lain mereka saling cinta. Begitu pula dengan Alina dan Haidar. Maka dari itu om gak bisa maksa Haidar untuk tanggung jawab yang bukan kesalahannya.” seru Alina.


“Saat om mengatakan itu, om mikir gak bagaimana perasaan Alina terutama, terus perasaan Edo dan Meilla? Egois kan? Sama kaya halnya, om enggak kasih restu mereka dengan alasan, om benci dengan orang tua Edo!”

__ADS_1


“Om ini semua sudah terjadi, mau om marahin Edo bagaimana pun, dia tetap ayah dari anak yang di kandung Meilla saat ini. Apa om tega, ngelihat Meilla berjuang sendiri kalau om kekeuh pisahin dia dengan Edo?”


“Atau om tega, menghilangkan cucu om dengan cara yang sadis? Dia gak berdosa loh om,dia tidak bersalah. Om pikir deh, seberapa egoisnya om kalau seperti itu?”


“Om, dendam itu sampai kapan pun tidak akan pernah hilang kalau diri kitanya masih tidak bisa menerima kehadiran orang tersebut. Semua orang punya sisi gelap dan terang om, dan Alina yakin om pun punya sisi seperti itu.”


“Tapi balik lagi, jadilah orang tua uang bijak, jangan mengambil keputusan yang bisa menyebabkan orang di sekitar ikut sakit merasakannya. Sekali lagi, Alina katakan kalau Alina tidak akan membiarkan Haidar bertanggung jawab sampai kapan pun!” seru Alina kalau menarik napasnya dalam-dalam.


Haidar langsung menggenggam tangan kekasihnya itu dengan erat dan tersenyum simpul,seakan mengatakan hal itu tidak akan pernah terjadi. Karena Haidar pun, hanya ingin Alina yang menemaninya sampai kapan pun. Aamiin!


Fandi terdiam cukup lama, seakan mendengar kan dan mencerna apa yang tadi Alina katakan panjang lebar. Semua apa yang Alina katakan itu benar, dan Fandi mengakui kalau dirinya sedang egois saat ini.


Riani yang melihat suaminya masih terdiam, merenungi setiap perkataan Alina, melangkah menghampiri Fandi.


Riani mengelus punggung Fandi pelan, “Pi semua yang Alina katakan itu benar, kita sebagai orang tua saat ini hanya bisa mendukung mereka, apalagi Meilla karena kondisi seperti ini pasti tidak akan mudah untuk dia.”


“Turun kan ego mu dulu, untuk kebahagiaan anak kita satu-satunya pi, kalau bukan sekarang kapan lagi dia akan bahagia? Meilla sudah memilih Edo sebagai pendamping nya dan mami yakin Edo memang laki-laki yang tepat untuk Meilla!” seru Riani sambil terus mengelus punggung Fandi.


“Saya kasih kamu kesempatan sekali untuk membuat anak saya bahagia, kalau sampai saya lihat atau tahu kamu membuat Meilla menangis, detik itu juga kamu harus meninggalkan Meilla! Mengerti?” seru Fandi pada Edo dan memebuat Edo langsung mengangguk.


“Saya janji om, akan selalu membuat Meilla dan cucu om selalu bahagia, terima kasih banyak om!” seru Edo bergetar menahan tangis bahagia karena akhirnya ia di izinkan untuk menikah dengan Meilla.


Lalau bagaimana dengan orang tua Edo saat ini?


“Ajak orang tua kamu datang kesini, sekarang untuk membicarakan pernikahan kalian!” seru Fandi.


Edo menelan ludahnya, bagaimana cara menjelaskan kepada Fandi?


“Papi, karena masalah di restoran kemarin membuat Edo ingin di pindahkan ke Jepang besok oleh orang tuanya. Jadi, Haidar rasa, orang tua nya Edo tidak akan mungkin mau datang ke sini!” seru Haidar lebih dulu memberitahu Fandi tentang yang sebenarnya.

__ADS_1


“Maksudnya, kamu mau lari dari tanggung jawab tadinya?” tuduh Fandi.


Edo langsung menggeleng cepat, “Enggak om, enggak sama sekali, say baru tahu berita ini setelah Haidar dan yang lainnya datang kerumah tadi.”


“Gimana kalau kita saja yang ke rumah Yanuar dan Retno, Pi? Karena kita harus menikahkan mereka dengan cepat sebelum perut Meilla semakin besar!” usul Riani.


Fandi nampak berpikir sebentar lalu akhirnya mengangguk, “Kalau bukan karena meilla, saya ogah baikan sama papah kamu yang sombong itu!” seru Fandi dengan ketusnya lalu melangkah pergi dari sana bersama Riani untuk bersiap-siap.


Setelah Kepergian Fandi, Edo langsung memeluk Meilla dengan erat. Tangis keduanya tumpah begitu saja, rasa syukur yang kini mereka rasakan. Meskipun sebenarnya cara ini salah, tetapi akhirnya mereka akan bersatu sebentar lagi.


“Kita akan menikah La, kamu gak perlu takut lagi ya, aku akan selalu ada di samping kamu sebetar lagi!” seru Edo dan di anggukin oleh Meilla.


Meilla beralih memeluk Alina dengan erat, dan Alina mengelus punggung Meilla, “Makasih banyak Lin, karena lo bisa nyadarin papi kalau keputusan dia itu gak benar. Makasih karena lo, akhirnya gue sama Edo bisa menikah! Lo udah nyelametin dia!” seru Meilla sambil mengelus perutnya sendiri.


Alina melepaskan pelukannya, lalu menghapus air mata Meilla, “Berarti papi lo masih punya hati La, gue lega karena papi lo gak nyuruh Haidar lagi yang tangguh jawab karena gue gak rela, Lo tahu kan?” kekeh Alina agar suasana tidak terlalu tegas seperti tadi.


Meilla mengangguk lalu tersenyum kepada Alina.


“Udah jangan nangis terus, kasihan gedenya pasti sedih juga di dalam karena lo nangis terus dari tadi. Gue harap lo bisa jaga dia, sampai dia lahir ke dunia dan jadi keponakan pertama gue ya!” seru Alina sambil menarik ke arah Elsa seakan menyindir pasangan suami istri baru itu.


Elsa yang kebetulan juga menatap Alina langsung berdesis, “Maksud Lo apa? Bentar lagi gue juga punya. Nanti anak kita seumuran ya La, jangan kaya Alina yang gak tahu kapan tuh nikahnya!” Sindir balik Elsa sambil di ketawain oleh Lio dan Nanda.


Alina langsung mencubit kecil lengan Haidar seakan meminta pertolongan kekasihnya, “Haidar, Elsa nya tuh ngeledekin kita!” seru Alina dengan nada seperti anak kecil yang tengah mengadu pada ayahnya.


Haidar langsung mengelus kepala Alina dan menatap Elsa tajam, “Awas ya Lo!” hanya itu yang di katakan Haidar dan membuat Alina semakin kesal.


“Ih cuma begitu doang? Marahi. Kek, Jambak kek!” gerutu Alina.


Haidar membisikkan sesuatu di telinga Alina, “Nanti tunggu monyet di sebelah nya gak ada, baru kita eksekusi dia!” bisik Haidar membuat Alina terkekeh sambil mengangguk.

__ADS_1


“Minimal nikah dulu, jangan kelamaan pacaran nanti ada setannya loh!” cibir Nanda membuat yang lain langsung menatap Nanda dengan tatapan yang sulit di artikan.


“Minimal pilih satu, jangan maunya langsung tiga!” sahut Lio membuat yang lain tertawa kecuali Nanda.


__ADS_2