Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Rencana liburan


__ADS_3

Bel pulang sekolah telah berbunyi, Haidar sudah menunggu Alina di depan kelas gadis itu bersama dengan Nanda dan Edo. Tak lama yang keluar terlebih dahulu adalah Vanesa. Saat Vanesa melihat ada Haidar di sana, dengan cepat ia menghampiri lelaki itu.


"Haidar, nanti malam papah ngajakin makan malam." Ujar Vanesa.


Haidar langsung terlihat emosi ketika mendengar kata 'papah' di sebut oleh Vanesa. Sudah lama sekali Haidar tidak pernah bertemu dengan Roy (ayah Haidar)


Pergi!" Usir Haidar.


Vanesa terkekeh pelan, "lo gak kangen sama papah?" Pancing Vanesa dan semakin membuat Haidar emosi.


"Cabut lo cewe caper!" Bentak Edo.


Tawa Vanesa semakin terdengar, dan sebelum pergi sempat mengatakan, "Bye, kakak tiri gue yang paling tampan." Ujarnya lalu pergi dari sana.


Emosi Haidar sudah meluap, ia lampiaskan dengan memukul tembok hingga tangannya sedikit berdarah. Nanda dan Edo yang melihatnya itu berusaha menghentikan Haidar.


"Stop Haidar, bisa roboh ini sekolah!" Ujar Edo karena Haidar masih terus memukul tembok.


Perilaku Haidar pun di lihat langsung oleh siswa-siswi yang melintas di sana, baru pertama kali mereka melihat Haidar sejarah ini tapi entah apa penyebabnya.


Edo dan Nanda tidak berhasil memberhentikan Haidar, hingga akhirnya Alina lah yang dapat memberhentikan Haidar.


"Haidar, cukup!" Teriak Alina lalu menarik tangan Haidar.


Haidar yang mendengar suara Alina pun langsung memberhentikan kegiatannya itu.


Alina mengelus punggung Haidar agar lebih tenang, "Cukupnya, kita obatin tangan lo sekarang di UKS." Ujar Alina lalu melepaskan pelukan itu.


Alina menggenggam tangan Haidar menuju UKS, begitu pun dengan teman-temannya yang mengikuti mereka hingga sampai.


Haidar duduk di sebuah kursi di UKS lalu Alina mencari kotak P3K untuk mengobati luka di tangan Haidar.


"Sini tangannya." Ujar Alina lalu duduk di bawah lantai agar lebih mudah mengobatinya.


Haidar memberikan tangannya agar di obati Alina.


"Kenapa bisa sampai semarah ini?" Tanya Alina.


"Vanesa!" Ujar Haidar dan Alina langsung paham maksud nya.


Alina menggeleng, "Tapi gak usah sampai ngelupain diri sendiri juga Haidar!"


"Maaf."


"Maaf maaf sama diri lo sendiri, bukan sama gue!" Haidar mengangguk.


Setelah selesai mengobati, Alina pun mengembalikan kotak itu pada tempatnya tadi.


"Makasih Alina." Alina mengangguk lalu tersenyum.


Keduanya keluar dari UKS ternyata masih ada teman-temannya.


"Gimana kalau kita pergi, ke puncak atau ke mana kek." Usul Nanda tiba-tiba.


Lio mengangguk, "Bener, mumpung besok kita libur." Seru Lio setuju dengan usul Nanda.


"Ah bilang aja lo mau berduaan kan Sam Elsa?" Seru Alina tahu maksud Lio semangat liburan kali ini.

__ADS_1


Elsa yang mendengar namanya di sebut langsung menatap Lio tajam, "Najis!" Seru Elsa yang belum mengetahui kalau Alina dan Meilla sudah mengetahui hubungan nya.


"Gak usah sok najis, pacaran juga lo!" Seru Meilla dan membuat siapa saja yang baru tau kaget.


"Serius?" Ujar Nanda dan Edo secara bersamaan dan di anggukin Meilla serta Alina.


"Wah anjir, pajak jadian lah! Kita liburan semua biaya di tanggung Lio!" Seru Edo dan di sorakin heboh Leh yang lainnya.


Wajah Elsa memerah karena malu, sedangkan Lio mengglaruk-garuk kepalanya.


"Jadi kemana?" Tanya Haidar.


Alina menggeleng, "hari Senin kita udah ujian bukannya belajar malah pergi liburan aneh lo pada." Seru Alina tak setuju.


"Ah Alina, kita refreshing dulu sebelum menghadapi ujian." Seru Nanda lalu di anggukin yang lain.


"Ya udah terserah, gue gak ikut tapi." Jar Alina.


"Yah gak seru lo!" Ujar Lio.


"Tau, kalau lo gak ikut pasti Haidar juga gak akan ikut, iya kan?" Haidar mengangguk.


Alina menghela napasnya, “iya, iya gue ikut!” seru Alina pada akhirnya.


"Kita ke villa keluarga gue aja, gimana?" Seru Meilla dan di setujui semuanya.


"Habis magrib kita jalan, kita bawa 2 mobil aja, mobil Haidar sama mobil gue." Seru Nanda dan di setujui oleh semuanya.


Setelah selesai menyusun rencana, semuanya bergegas pulang, begitu dengan Alina dan Haidar. Hari ini memang mereka akan pulang bersama, karena pagi tadi Alina di jemput Haidar.


"Mau mampir kemana dulu?' tanya Haidar.


"Kalau gue minta anterin ke makam Olivia dan Diana bisa gak?" Ujar Alina.


Haidar menatap Alina dengan lekat, di dalam hatinya bertanya-tanya untuk apa Alina ingin mengetahui ini semua sampai sedalam ini.


"Tapi kalau lo keberatan gak usah." Seru Alina karena tidak mendapatkan jawaban dari Haidar.


Haidar menggeleng, "Gue anterin."


"Terakhir kali lo kesana kapan?"


"Seminggu yang lalu." Alina mengangguk-angguk.


Akhirnya Haidar melajukan mobilnya menuju pemakaman umum yang dimana Olivia dan Diana di makamkan. Keduanya di makamkan berdampingan.


Perjalanan menuju pemakaman ini memakan waktu hampir 1 jam, setelah sampai Alina lebih dulu turun lalu di susul oleh Haidar. Sebelum melangkah Alina menggenggam tangan Haidar.


Haidar melangkah menuju batu nisan di mana terdapatnya nama kedua orang yang ia sayangi.


"Assalamu'alaikum Olivia dan Diana." Sapa Alina saat memilih berjongkok.


Haidar hanya melihat Alina apa yang akan ia lakukan di sini.


"Diana, kenalin gue Alina. Maaf ya, gue kesini sama kekasih Lo, Haidar. Lo udah bahagia ya di sana?" Seru Alina pada baru nisan Diana.


"Diana, kalau suatu hari nanti Haidar jadi milik gue, gak papa kan? Gue tau kok, sampai saat ini pun Haidar belum bisa lupain lo, Lo terlalu sempurna buat dia ana."

__ADS_1


"Ana, izinin Haidar buat bahagia bersama gue ya?" Tanpa sadar Alina menangis, membayangkan betapa sedihnya dulu menjadi Haidar dan meilla.


Haidar mengelus punggung Alina pelan, "Ana pasti izinin kita bersama kok, di gadis yang baik." Ujar Haidar begitu saja.


Alina mengangguk, lalu berbalik ke arah batu nisan adiknya Haidar, Olivia. Alina mengelus batu nisan itu dengan pelan lalu tersenyum.


"Olivia, pasti kamu cantik banget ya seperti mamah kamu. Sayang, kita belum ketemu waktu itu. Kamu lagi bersama Kak Ana ya disana? Berbahagia ya di atas langit bersama Tuhan."


"Olivia, kakak boleh minta tolong gak sama kamu untuk datang kemimpi mamah kamu agar ikhlas membiarkan kamu pergi."


"Kakak janji, suatu hari nanti kakak akan ajak mamah kamu untuk ngunjungin kamu ke sini, pasti kamu kangen kan sama beliau?"


"Kalo gitu, kakak sama kak Haidar pamit ya. Kalian berdua bahagia selalu ya di sana." Ujar Alina lalu kembali mengelus batu nisan keduanya secara bergantian.


Sebelum pergi, Alina dan Haidar berdoa dulu di depan makam keduanya, alinap berharap dengan begini, rasa bersalah Haidar semakin berkurang walau Alina tahu Haidar belum bisa sepenuhnya melupakan Diana.


Setelah selesai berdoa, keduanya kembali menuju mobil, Haidar pun menanyakan hal ini serupa, mau pergi kemana lagi. Tetapi Alina menjawab ingin langsung pulang saja.


Sepanjang perjalanan gaya ada suara radio yang terdengar. Hingga keduanya sampai tepat di depan gerbang rumah Alina.


Saat Alina ingin turun, Haidar menahan tangan Alina, "makasih Alina." Ujar Haidar tiba-tiba.


"Untuk apa?"


"Untuk semu ketulusan Lo." Alina mengangguk lalu mengusap lengan Haidar.


"Sama-sama Haidar. Ujar Alina sambil tersenyum.


"Lin, Lo beneran mau bawa mamah ke makam?" Tanya haidar.


Alina mengangguk, "Gue rasa itu salah satu cara agar mamah lo tahu kalau Olivia dan Diana itu udah gak ada."


"Mungkin nanti setelah ujian gue akan ajak nyokap lo ke sana. Paling tidak gue akan minta bantuan Meilla dan maminya juga. Lo setuju kan?"


Haidar mengangguk setuju dengan apa rencana Alina nantinya


"Ya udah kalau gitu gue masuk dulu ya?" Izin Alina.


"Nanti gue yang jemput ya?" Alina mengangguk lalu turun dari mobil Haidar.


Saat ingin masuk gerbang, suara Haidar kembali terdengar dengan di tangannya memegang sesuatu.


"Ini buat Lo." Ujar Haidar lalu memberikan Alina permen lollipop berbentuk love lumayan besar.


Alina terkekeh pelan, lucu dengan sikap dan tingkah Haidar akhir-akhir ini, "Lo belajar modus begini dari mana sih?"


"Dulu aja dingin banget, sekarang kayaknya es batu lo cair y? Makanya bisa modus begini sekarang, terus ucapan lo juga gak sepatah dua patah lagi, udah bisa berucap panjang!" Cibir alina.


Haidar mengacak pucuk kepala Alina, " udah pinter ngeledekin gue ya sekarang!' seru Haidar lalu menggelitiki perut Alina membuat Alina meronta.


"Haidar stop ih." Ujar Alina sambil tertawa.


Akhirnya Haidar berhenti, tanpa di duga Haidar memeluk Alina sekarang


"Alina, tetap bersama gue ya." Seru Haidar dan membuat Alina mengangguk.


Setelah pelukan itu terlepas, Alina mengusap lengan Haidar lembut, "sudah sana pulang, prepare biar bisa jemput gue paling awal."

__ADS_1


"Siap tuan putri!" Seru Haidar membuat alina tertawa bahagia.


__ADS_2