
Hidup Alina berubah 180°derajat. Sedih, bingung, kecewa itu lah yang di rasa Alina saat ini. Alina bingung harus apa sekarang, Alina merasa sangat kesepian saat ini. Ia sendiri, Haidar tidak ada kabar lalu orang tuanya sudah kembali ke Amerika bahkan para sahabatnya punya kesibukan masing-masing.
Setelah pulang kampus, Alina memutuskan untuk berkunjung sebentar ke cafe biasa. Rasa kangen pada Haidar semau besar karena memang banyak kenangan mereka di cafe ini.
Alina masuk ke dalam cafe lalu matanya mencari tempat duduk yang kosong. Belum dapat menemukan, seorang pelayan uang sudah mengenalnya menghampiri Alina.
“Nyari Haidar? Tuh di pojok Daan dia.” seru ikhsan pelayan di sini.
Alina kaget dengan perkataan Ikhsan tadi, Haidar sedang berada di sini juga? Alina harus menghampiri Haidar!
“Okay, thank you!” seru Alina lalu jalan menuju tempat yang di tunjuk Ikhsan tadi.
Dan benar, di sana ada Haidar sedang fokus pada laptop di depannya. Alina tersenyum sedih, mengapa Haidar seakan tidak rindu padanya, bahkan tidak mencoba menghubungi nya.
“Haidar!” panggil Alina saat sudah berdiri tepat di samping meja Haidar.
Haidar kenal dengan suara ini, ia berusaha untuk tidak menghiraukannya, dirinya tetap fokus pada laptop nya.
“Haidar, kamu kemana aja?” tanya Alina yang masih setia berdiri di sana.
Lagi-lagi Haidar diam, tidak menjawab apapun.
Alina memberanikan diri untuk duduk di bangku depan Haidar. Alina menarik napasnya dalam-dalam mengusir rasa takut di dalam hatinya, entah mengapa rasa itu muncul dengan sendirinya. Apa karena ia merasa bersalah?
“Haudar, kamu pergi kemana? Kenapa gak ngabarin aku?” tanya Alina lagi.
Haidar tetap tidak menjawab.
“Haidar, kamu dengar gak aku ngomong, kamu marah sama aku?”
Alina mencoba merah tangan Haidar, namun dengan cepat Haidar menarik tangannya dan menatap Alina dengan tatapan tajam.
“Bi..tang!” seru Alina terbata karena takut.
Haidar masih terus menatap Alina dengan tatapan tajamnya. Haidar pun melihat kekuatan yang di rasa Alina saat ini.
“Stop ganggu gue!” seru Haidar.
Alina menggeleng, “Haidar, kamu kenapa? Kok kamu galak gitu sama aku!”
“Pergi!” usir Haidar.
Alina menggeleng lagi, “Haidar, aku minta maaf soal papah, kita bisa berjuang bersama aku?”
__ADS_1
“Stop,gak ada waktu buat bahas itu!” ketus Haidar.
“Tapi kenapa Haidar? Kamu nyerah? Segitu aja perjuangan kamu untuk hubungan kita?”
“Restu orang tua itu sangatlah penting di dalam hubungan, kalau dari mereka enggak kasih restu, hubungan akan sia-sia!” seru Haidar.
Alina menggeleng, “Kita bisa perjuangin restu itu bersama, Haidar. Bukan kaya gini caranya, kamu ninggalin aku tanpa kabar. Kamu tahu gimana rasanya di posisi aku sekarang?” seru Alina yang tanpa sadar air matanya mengalir.
“Aku di posisi yang serba salah, aku sayang sama kamu tapi aku pun gak bisa bantah perintah papah karena dia orang tua aku. Aku pikir, kita akan tetap bersama memperjuangkan ini, tapi nyatanya kamu memilih mundur!” lanjut Alina.
Haidar membereskan laptopnya, lalu di masukan ke dalam ransel yang di bawanya. Setelah itu ia bangkit dan ingin segera pergi dari sana. Ikut sedih melihat Alina menangis seperti ini, tapi bagaimana cuma ini caranya.
“Jaga diri baik-baik, aku yakin kamu akan bahagia nanti!” seru Haidar sambil mengacak rambut Alina dengan lembut setelah itu Haidar pergi dari sana.
Tangis Alina pecah begitu saja, sedih. Pertemuannya dengan Haidar membuat nya sangat sedih. Haidar kembali seperti dulu, dingin tak ingin tersentuh lagi dengan Alina. Lalu Alina harus apa kalau sudah begini?
Entah kebetulan atau apa, Elsa dan Meilla pun datang ke cafe ini. Seperti Alina tadi, mereka di beritahu Ikhsan di mana teman mereka duduk.
“Tadi ada Haidar, tapi kayaknya lagi ada masalah sama Alina. Tuh tinggal Alina lagi nangis!” seru Ikhsan sambil menunjuk Alina yang sedang menaruh kepalanya di atas meja.
Elsa dan Meilla langsung melangkah ke arah Alina. Kaget melihat kondisi Alina saat ini, seperti sangat terpukul.
“Alina, Lo kenapa?” tanya Meilla.
Tak ada jawaban dari Alina, hanya terdengar isakan tangis dari gadis itu.
Sama seperti Meilla, mereka tak dapat jawaban apapun dari gadis yang biasanya ceria ini.
“Alina, kata Ikhsan tadi lo ketemu sana Haidar. Gimana?” tanya Elsa.
Alina mulai mengangkat wajahnya, “Haidar udah gak datang sama gue!” seru Alina pelan.
“Haidar yang bilang sendiri sama Lo?” tanya Meilla.
Alina menggeleng, “Buktinya dia malah ninggalin gue gini, La. Dia nyerah karena di tolak papah gue, baru sekali dia udah nyerah La!” seru Alina.
Meilla mengelus lengan Alina dengan pelan, “Lo yang sabar, mungkin Haidar masih butuh waktu tentang masalah itu.”
“Iya gue tau, tapi gak mesti jauhi gue juga kan? Gue sayang sama dia, kita bisa berjuang bareng tapi Haidar memilih menyerah.”
Elsa menghela napasnya, “Emang kampret tuh Haidar, awas aja kalau ketemu sama gue. Gue Gubeng nanti!” celetuk Elsa.
“Udah ya jangan nangis lagi, nanti gue coba bantu bicara sama dia kalau gue ketemu ya. Lo jangan kaya gini, Alina yang gue kenal gak lemah kaya gini.” seru Meilla.
__ADS_1
Alina hanya bisa diam, sambil kembali menaruh kepalanya di meja lagi. Sedangkan Meilla dan Elsa ikut diam dan memesan makanan.
...****************...
Hari pertunangan Elsa dan Lio telah tiba, acara itu akan di selenggarakan di sebuah hotel bintang lima nanti malam. Rasanya Alina tak ingin datang, tetapi bagaimana lagi Elsa adalah sahabat nya masa dirinya tidak ada acara penting seperti itu.
Setelah pulang dari kampus tadi, Alina memutuskan langsung pulang ke rumah tanpa mampir kemana pun lagi. Alina memesan secara online gaun untuk acara Meilla nanti, karena ia tidak memiliki gaun berwarna putih.
“Neng, makan dulu!” panggil Eni dari luar kamar Alina.
Sekarang memang masih pukul 5 sore, dan Alina baru pulang karena tadi ada kegiatan sebentar di kampus. Alina ikut agar ia lupa dengan masalahnya saat ini, tetapi tetap saja kalau sendiri selalu ingat.
“Iya mba, sebentar!” jawab Alina dari dalam kamar.
Alina bangkit kalau keluar dari kamar menuju meja makan.sedang asik makan, Eni datang membawa kotak berisi gaun yang tadi Alina pesan.
“Neng mau pergi?” tanya Eni.
Alian mengangguk, “Iya mba, Elsa malam ini mau tunangan sama Lio. Jadi mba gak usah masak makan malam ya!”
Eni mengangkat jempolnya tanda ‘Oke’. “Neng pergi di jemput mas Haidar ya pasti dia ganteng banget nanti malam!” celetuk Eni.
Alian menggeleng pelan, “Kayaknya enggak deh, aku sama Haidar lagi ada masalah sedikit soalnya.”
Eni menutup mulutnya, “Ehem, maaf mba gak tau men. Neng pasti sedih ya?”
Alina mengangguk, jujur. “Sedih banget mba.” seru Alina.
“Neng yang sabar ya, mba do’ain semoga masalahnya cepat selesai. Kalian gak boleh berpisah, karena kalian kan couple goals.” seru Eni meniru bahasa anak muda jama sekarang.
Alina terkekeh, “Thanks you mba!”
Setelah selesai makan, Alina kembali ke kamar nya untuk bersiap-siap. Kalian tau kan kalau cewek bersiap-siap itu membutuhkan waktu yang lama. Apalagi kalau bikin alis, memang iya?
“Yok bisa yok, cuma Dateng lihat prosesinya terus pulang!” seru Alina menyemangati dirinya sendiri.
Setelah menghabiskan waktu hampir 1 jam, akhirnya Alina telah selesai. Ia menyulap dirinya secantik mungkin, biar bagaimanapun ini adalah acara spesial sahabatnya dan ia tidak mau membuat Elsa kecewa karena tampilan dia yang tidak maksimal.
Alina memutuskan untuk meminta Anatar satpam yang sekaligus supir di rumahnya, terlalu malas untuk membawa mobil dengan memakai gaun panjang seperti ini, belum lagi high heels setinggi 7cm yang ia pakai saat ini.
“Pak, anterin Alina ke hotel ini dong!” seru Alina sambil memberikan undangan pertunangan Elsa pada sang supir.
“Siap neng,” jawab satpam dan mulai membukakan pintu untuk nona muda yang cantik ini.
__ADS_1
Di sepanjang perjalanan Alina hanya memandang jalanan lewat kaca mobil. Alina bingung harus bersikap seperti apa nanti kalau bertemu dengan Haidar. Apakah ia harus mengemis lagi seperti dulu atau cuek saja?
Jangan sampe nangis ya!