
Jam mata kuliah sudah selesai, membuat Alina dan Haidar kembali menjadi at perhatian. Mengapa? Yups karena mereka terus bergandengan tangan, seakan tidak bisa lepas satu sama lain.
Keduanya berjalan menuju parkiran kampus. Mereka akan ke cafe, karena hari ini Alina tidak ada tugas untuk di kerjakan. Kebetulan Nanda pun menyuruh yang lain untuk datang ke cafe karena katanya dia ingin mengenalkan cewek barunya.
“Kira-kira ceweknya Nanda kaya gimana ya orangnya?” tanya Alina sambil berjalan menuju parkiran.
Haidar mengangkat bahunya, “Gimana pun terserah dia, yang penting aku udah punya kamu.” ujar Haidar sambil menoel ujung hidung milik Alina.
Alina terkekeh, “Gombal! Lagian gak nyambung juga, ngaco!” kekeh Alina.
Saat hampir di parkiran, Alina melihat Hellena sedang berdiri entah sedang apa disana. Alina menatap Haidar tanpa bicara apapun, tetapi Haidar langsung mengerti dan membiarkan Alina untuk menghampiri Hellena. Haidar tidak ikut, karena malas melihat wajah gadis itu.
“Hell, Lo ngapain?” tanya Alina tiba-tiba membuat Hellena yang lagi fokus pada ponselnya kaget.
“Ini mobil gue gak bisa nyala, gue lagi telepon supir buat jemput tapi gak bisa-bisa!” seru Hellena beritahu masalahnya, dan ini benar!
Alina mengangguk, “Mau ikut gue aja?” tawar Alina.
Hellena menatap Haidar yang tak jauh dari sana, lalu menggeleng, “Gak usah deh,gue bisa pesan taksi online kok!”
Alina menatap Haidar, tahu alasan Hellena menolak karena apa, dan Alina pun tidak ingin memaksa. Tiba-tiba otaknya berpikir satu orang yang bisa menolong Hellena saat ini. Yups, Alister tapi Alina dan Hellena tidak mempunyai nomer telepon cowok itu.
Entah kebetulan atau memang sengaja, Alister datang ke sini. Padahal parkiran untuk fakultas dia itu berbeda loh!
Alister datang dengan wajah tampannya.
“Eh Alina, aku kira kamu sudah pulang. Dari tadi aku cariin kamu!” seru Alister tiba-tiba mendekat ke arah Alina dan Hellena berdiri saat ini.
Haidar yang melihat kedatangan Alister pun langsung melangkah maju m buku gadisnya, tak ingin memberikan celah sedikit pun untuk cowok itu.
“Kita pulang!” seru Haidar dengan dingin dan menarik tangan Alina pelan.
Tetapi pergerakan Haidar di tahan oleh Alina, “Sebentar sayang!” seru Alina.
Alina menatap Alister sebenar lalu menatap Hellena, “Ali, gue minta tolong anterin Hellena pulang karena mobilnya mogok. Kalo lo orang baik pasti lo punya hati! Gue cabut dulu ya!” seru Alina lalu pamit pergi dari sana.
Alister menggerutu kesal, karena mendengar Alina berbicara dengannya menggunakan lo-gue, lalu memanggil Haidar dengan sebutan sayang di hadapannya.
“Sialan!” gerutu Alister dalam hati.
Sedangkan Hellena menunggu apakah Alister benar akan mengantarkannya, Hellena berharap seperti itu.
“Ayo gue anterin lo pulang.” seru Alister lalu berjalan lebih dulu ke parkiran fakultas nya dan di ikuti oleh Hellena dari belakang.
__ADS_1
Tak bisa dipungkiri hati Hellena sangat bahagia walaupun Hellena tahu Alister sebenarnya terpaksa mengantarkan nya. Tetapi Hellena sangat berterimakasih pada Alina karena sangat baik dengannya, Hellena jadi kangen dengan Diana, karena sifat dan tingkah laku Alina sama persis dengan Diana sepupunya.
...****************...
Alina dan Haidar sedang di perjalanan menuju cafe. Sejak masuk mobil tadi Haidar diam saja, bahkan di panggil Alina pun tidak menjawab. Alina tahu kekasihnya itu sedang kesal atau marah atau cemburu dengan Alister tadi.
“Sayang, maafin aku!” mohon Alina padahal ia tidak tahu salahnya dimana.
“Aku gak marah!” jawab Haidar pada akhirnya.
Alina menggeleng, “Gak marah tapi diem aja!”
“Lagi sariawan!” Ketus Haidar.
“Sariawan tiba-tiba? Kamu mah, aku tuh cuma nolongin Hellena, mobilnya mogok terus dia telepon supirnya gak bisa, aku ajak bareng dia gak mau pasti malas sama kami, eh kebetulan ada Alister, jadi aku sengaja suruh dia anterin Hellena biar mereka proses PDKT dan gak akan gangguin kita lagi!” jelas Alina.
Haidar menatap Alina sebetar, “Benar cuma niat seperti itu? Gak ada niat lain?”
Alina mengangguk, “Iya lah sayang, niat ala lagi coba. Niat nikah sama kamu baru ada!”
Akhirnya Haidar tersenyum kembali sambil satu tangan nya mengelus kepala Alina dengan sayang, “kamu tuh selalu bisa bikin aku luluh ya, maaf karena aku cemburu.”
“Cemburu hanya untuk orang yang gak percaya diri!” seru Alina.
Haidar mengangguk, “Iya, memang aku sedang tidak percaya diri. Aku takut kisah kau sama dia indah dari pada kisah kita. Aku takut kamu memilih kembali pada dia, dari pada perjuangin hubungan kuta!”
Setelah melewati perjalanan yang sangat macet di ibukota. Keduanya turun dari mobil di tempat parkiran yang disediakan.
Di dalam sudah ada Edo, Meilla, Nanda dan pacar barunya. Lio dan Elsa seperti nya belum tiba. Alina dan Haidar masuk lalu melangkah menuju tempat duduk para sahabatnya.
Betapa terkejutnya Alina saat melihat siapa cewek baru Nanda yang akan dia kenalin ke para sahabatnya. Yups, Alina mengenali gadis itu.
“Alina?” seru Gadis, cewe barunya Nanda.
Semua yang ada di sana kaget, termasuk juga Nanda. Karena Gadis tidak bercerita kalau dia kenal dengan Alina, eh tapi memang Nanda belum cerita tentang sahabat nya sih.
Tak lama Elsa dan Lio datang sambil bergandengan tangan. Keduanya langsung duduk di bangku yang telah di sediakan.
“Ini cewek baru lo Nan, namanya siapa?” tanya Lio setelah menaruh bokongnya di kursi.
Nanda mengangguk, “Kenalin mamanya Gadis, cewek baru gue! Sayang, mereka sahabat aku!” beritahu Nanda.
Yang lain menganggukkan kepala, Gadis memang memiliki wajah yang cantik. Tetapi Alina tahu siapa Gadis sebenarnya, karena mereka satu sekolah dulu dan mereka musuh sejak karena Gadis yang selalu iri dengan Alina. Meskipun Alina tidak pernah menganggap Gadis musuhnya.
__ADS_1
“Tapi tunggu, kamu kenal Alina?” tanya Nanda pada Gadis.
Gadis mengangguk, membuat yang lain kaget, apalagi Haidar. Karena Alina tidak pernah menceritakan tentang masa lalunya seperti apa.
„Dia temen SMP gue!” seru Alina dengan nada tak suka.
Gadis memandang Alina dengan tatapan tak suka, lalu beralih memandang Haidar dengan raut wajah yang berbeda, alias dia tersenyum saat melihat Haidar. Alina yang melihat gerak gerik Gadis seperti itu langsung memeluk lengan Haidar dengan erat dan menyuruh Haidar untuk menatapnya saja. Alina tak suka berbagi apalagi dengan Gadis.
“Kalian pernah ada masalah?” tanya Nanda yang juga melihat tatapan Gadis tak suka saat melihat Alina.
Alina menggeleng, dan Gadis pun ikut menggeleng.
Nanda mengangguk, “Guys, karena ini gue ngundang kalian kesini buat traktir kalian.” seru Nanda.
“Emang dasar sultan, apa-apa traktir anjir!” seru Edo sambil terkekeh.
Lio pun ikut terkekeh, “Lo tinggal nikmatin aja, bacot!”
Tak lama suara deringan ponsel terdengar keras, ternyata itu dari tas milik Gadis. Dengan cepat ia langsung menerima panggilan yang masuk, sambil menjauh dari sana.
“Lo beneran pacaran sama dia?” tanya Alina memastikan.
Nanda mengangguk, “Iya, Emang nya kenapa?”
Bukan menjawab, Alina malah bertanya lagi, “Lo, ketemu dia dimana?”
“Ada di suatu tempat!” jawab Nanda.
“Lo kenal dia udah lama? Sampai akhirnya li memutuskan untuk menjadikan dia pacar?” timpal Elsa.
Nanda menggeleng, “Baru satu Minggu, tapi gue ngerasa cocok sama dia. Makanya gue tembak dia dan dia juga mau!”
“Lo gak cari tahu dulu, latar belakang dia seperti apa?” timpal Meilla.
Nanda menggeleng dan langsung diam karena Gadis telah kembali ke meja mereka, sedangkan Alina, Elsa dan Meilla memiliki feeling yang buruk terhadap Gadis ini.
“Nanda, aku harus pulang. Mami minta di anterin ke suatu tempat, gak papa ya?” pamit Gadis dengan nada manja.
Sedangkan ketiga cewek yang mendengar nya seakan ingin muntah.
“Harus sekarang banget?” tanya Nanda.
Gadis mengangguk, “Kamu gak usah anterin aku kok, aku sudah pesan taksi online.”
__ADS_1
Nanda menghela napasnya lalu mengangguk, “Yaudah aku anter kamu ke depan ya.”
Gadis mengangguk lalu mengambil tasnya, “Guys, gue cabut dulu ya. Lain kali kita ketemu lagi.” seru Gadis sambil matanya terus memandang Haidar dengan tatapan memuja.