Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Mengejutkan..


__ADS_3

Setelah acara dansa selesai, Haidar mengajak Alina untuk keluar hotel senter. Ia sudah berjanji sebelumnya pada Alina untuk memberitahu siapa Vanesa sebenarnya.


"Kenapa ke sini, pesta Bobi kan belum selesai?" Tanya Alina saat sudah ke dalam mobil Haidar.


"Lo mau tau Vanesa siapa kan?" Ujar Haidar dan langsung di anggukin oleh Alina.


Alina menjadi tau, tujuan Haidar mengajaknya kesini, agar mereka dapat berbicara dengan bebas tanpa ada yang mendengarnya.


"Tunggu, gue udah tau siapa Vanesa, yang gue mau tau sekarang sebenarnya lo sama dia ada masalah apa? Karena selama ini gue lihat kalian seperti punya masalah besar." Ujar Alina membuat Haidar bingung dengan kata sudah tau Vanesa.


"Apa yang udah lo tau tentang Vanesa?" Tanya Haidar.


"Vanesa juga sama kaya gue kan."


Haidar bingung maksudnya apa.


"Iya, dia juga ngejar-ngejar lo kan dari dulu. Apa mungkin alasan dia pindah ke sini karena mau ketemu lo lagi?"


Haidar mengangkat bahunya tidak tau alasan itu. Alina menatap Haidar dengan dalam, terlihat jelas ada rasa benci bercampur sedih di matanya.


"Haidar, lo gak papa?"


"Lo cuma tau itu tentang Vanesa?" Haidar tidak menjawab pertanyaan Alina dan malah menanyakan hal ini.


Alina mengangguk.


"Vanesa itu saudara tiri gue!" Ujar Haidar pelan tetapi bisa di dengar jelas oleh Alina.


Alina yang mendengar itu sangat terkejut. Lalu Alina berpikir apakah yang lain juga tau tentang ini atau tidak ya.


"Kenapa bisa? Maksudnya saudara tiri gimana, gue gak paham." Ujar Alina sambil menyengir.


Haidar menghela nafasnya, terlalu malas sebenarnya menceritakan ini pada orang lain tetapi saat ini kan ia sedang berusaha berjuang agar gadis itu percaya lagi dengannya.


"Jadi, bokap gue itu nikah sama nyokap Vanesa." Jelas Haidar ada nada emosi yang terdengar.


Alina yang mendengar itu lagi-lagi kaget, "itu yang bikin kalian gak akur? Bukan kah seharusnya kalau saudara itu rukun?"


Haidar menggeleng, "Lin, nyokap dia ambil bokap gue saat gue SMP jadi gue udah paham gimana rasa sakit saat di tinggal bokap gue waktu itu." Ada nada sedih sekarang yang terdengar.


"Gue udah mau dewasa waktu itu, seharusnya seorang ayah bisa mencontohkan yang benar atau bahkan menuntut gue bisa jadi seseorang dewasa yang bijak." Keluh Haidar.


Alina mengambil sebelah tangan Haidar lalu di genggamnya erat, "Sorry, karena gue yang kepo tentang Vanesa jadinya luka lo ke buka kembali." Ujar Alina merasa bersalah.


Haidar menggeleng, "Gue rasa lo harus tahu ini, sebelum lo tahu dari orang lain dan semakin membuat lo ngerasa gak di anggap."

__ADS_1


Alina tersenyum tersipu.


"Lin, lo inget waktu gue usir lo di rumah karena lo ngeliat sesuatu?"


Alina mengangguk, "inget banget Haidar, gue rasa itu gak pernah gue lupain deh."


"Yang gak di lupain itu, waktu gue usir atau waktu lo pulang pagi sama Alvaro?" Terdengar nada tidak suka saat menyebut nama Alvaro.


Alina tersenyum lagi, "kayaknya dua-duanya deh. Soalnya Alvaro datang di waktu yang tepat." Ujar Alina ingin melihat reaksi Haidar.


"Lo suka sama Alvaro?"


"Siapa yang bisa nolak pesona Alvaro?" Sahut Alina membuat Haidar berbalik yang menggenggam tangan Alina dengan erat.


"Gue serius Alina."


Alina terkekeh, "Balik ke topik awal, kita ke sini mau ngomongin soal Vanesa bukan Alvaro."


Haidar akhirnya mengangguk dan mengendurkan genggaman tangannya agar Alina tidak merasakan sakit seperti waktu itu.


"Lo tahu siapa yang Lo liat waktu itu?" Alina menggeleng.


Yah gak tau lah, orang gak di kasih tau apa-apa sama siapapun gimana mau tahu yang ada langsung di usir gerutu Alina dalam hati.


"Itu nyokap gue." Ucap Haidar sangat pelan dan nada bicaranya sangat amat sedih sekali, Alina saja hanya mendengar bisa merasakan itu.


Haidar mengangguk, "iya, nyokap gue depresi." Terang Haidar menjelaskan keadaan ibu nya yang memang sekarang sedang depresi walau tidak separah dulu.


"Karena ditinggal bokap lo?"


"Salah satu penyebab itu, tapi ada penyebab lain yang bikin mamah depresi Lin."


"Apa?"


Alina memang seperti ini, terlalu kepo. Padahal itu tidak baik untuk kesehatan nya apalagi kepo dengan percintaan bisa menyakiti hatinya sendiri kalau tau fakta yang seharusnya tidak ia ketahui. Bener gak?


"Adik perempuan gue meninggal karena kecelakaan mobil bareng Diana waktu itu!" Saat mengatakan itu hati Haidar seperti di remas dan raganya seperti di bawa lagi ke kejadian waktu itu. Ia bisa merasakan lagi bagaimana rasanya waktu itu.


Alina yang mendengar itu langsung ikut merasakan apa yang tengah Haidar rasakan. Ternyata di balik sikapnya yang cuek dan dingin, Haidar menyimpan banyak rahasia bahkan bukan hanya rahasia tetapi juga menyimpan banyak luka pada hidupnya.


Bayangkan saja, dia harus menerima kepergian ayahnya bersama dengan wanita lain dan harus menerima juga kenyataan adik perempuan satu-satunya meninggal dan mungkin yang paling menyakitkan untuk Haidar adalah sang ibu nya depresi. Bagaimana pun anak seusia Haidar masih perlu bimbingan dari kedua orang tuanya.


Tetapi balik lagi, Haidar harus menelan pil pahit itu dengan lapang dada. Alina tidak bisa membayangkan itu semua yang dilalui Haidar selama bertahun-tahun.


"Haidar." Panggil Alina lembut.

__ADS_1


"Hidup gue gak sesempurna yang lo liat Lin, hidup gue penuh rasa pahit selama ini."


"Apa ini penyebabnya lo jadi pendiam Dar?"


Haidar mengangguk, "Dari dulu gue juga pendiem, tetapi gak separah sekarang."


"Gue ngerasa gak percaya sama orang lain selain temen-temen gue."


"Temen lo, termasuk Meilla?"


Haidar mengangguk, "Meilla itu orang yang selalu ada untuk gue dari dulu Lin, Meilla yang selalu menanti. Mamah lalu mamah lagi kumat. Karena Meila Deket sama mamah sejak dulu, mungkin mamah merasa aman kalau sama Meilla." Jelas Haidar panjang lebar.


Alina yang mendengar itu langsung merasa sedih sedikit, sedikit ya inget gak banyak. Ternyata hubungan Haidar dan Meilla sudah sejauh itu. Ah ya jelas lah kan mereka sahabat sejak kecil batin Alina.


"Gue boleh coba ketemu nyokap lo? Tanya Alina ingin mencoba apakah ia bisa di terima juga oleh ibunya Haidar.


Haidar menggeleng, "gak bisa Lin, gue gak mau lo kenapa-napa."


"Gak akan terjadi apa-apa sam gue. Boleh ga?"


Haidar lagi-lagi menggeleng, "Gak bisa Alina, Mamah gak bisa melihat perempuan lain selain Meilla dan ibunya. Mamah merasa perempuan asing adalah ancaman baginya dan pasti dia langsung kumat." Jelas Haidar tidak ingin terjadi sesuatu pada Alina nantinya.


Alina menggeleng. "Please Dar, izinin gue." Ujar Alina dengan nada sangat memohon.


Haidar nampak sedang berpikir, apakah keputusan yang tepat kalau ia mengajak Alina untuk bertemu dengan ibunya.


Akhirnya Haidar mengangguk, "Iya boleh." Ujarnya dengan penuh khawatir an.


Alina tersenyum lalu tangannya yang sudah terlepas dari genggaman Haidar kalau Alina merapikan rambut Haidar yang padahal sudah rapi.


"Alina, lalu kalau gue minta lo buat jauhi Alvaro bisa kan?"


Alina terdiam menggeleng.


"Kita belum punya hubungan apapun Dar, dan Alvaro itu temen gue. Gue gak bisa jauhi dia dengan alasan gue lagi Deket sama Lo."


"Gue tau kok masalah lo berdua, makanya lo ngelarang gue kan buat deket-deket sama dia."


"Haidar, gue gak sesempurna Diana, gue tuh gak pantas di rebutin sama dua laki-laki yang menurut gue baik. Gue Deket sama Alvaro pun cuma sebatas dia teman gue dan lo gak perlu khawatir tentang perasaan gue buat lo, perasaan gue itu akan tetep ada ke lo." Jelas Alina akhirnya membuat Haidar mengangguk.


Haidar tidak mau terlalu memaksa Alina agar menjauhi Alvaro takut terkesan jahat nantinya.


"Kita balik ke acara yuk?" Ajak alina.


"Haidar menggeleng, "Gimana kalau kita dinner berdua di luar?"

__ADS_1


Alina yang mendengar ajak kan itu akhirnya mengangguk lalu tersenyum cantik. Rasanya Alina malam ini tidak akan bisa tidur karena memikirkan Haidar.


Lebay ga sih haha!


__ADS_2