
Pagi yang cerah untuk Alina dan manusia seisi bumi. Weekend yang mungkin akan Alina buat seindah mungkin nantinya, karena ia akan menghabiskan waktu berdua dengan Haidar hari ini. Menghabiskan waktu berdua, setelah beberapa waktu tidak ada kesempatan untuk mereka berdua.
Banyak masalah yang terus di hadapin keduanya beberapa waktu lalu. Meskipun masalah itu bukan dari keduanya, tetapi keduanya selalu berperan penting di sana.
Alina masih belum percaya kalau dirinya akan segera menikah dengan kekasih hatinya yang selama ini selalu mencuri perhatian dan hatinya.
Waktu 3 bulan memang cukup lama, tetapi Alina sabar kok dengan waktu itu. Yang penting orang tuanya sudah setuju dengan semuanya, dan sudah ada rencana untuk menikahkan Alina.
Alina berharap semua bisa berjalan dengan lancar sesuai dengan rencana awal nantinya. Alina dan Haidar belum memberitahu berita bahagia ini pada sahabatnya, dan mereka berencana tidak beritahu sampai mendekati waktunya nanti.
Alina sudah siapa dengan pakaian santai nya, kali ini ia hanya menggunakan celana jeans panjang, di padukan dengan kameja bunga bunga berwarna putih, dan tas kecil bermerk terkenal, lalu dia pun memakai sepatu kets berwarna putih.
Alina menunggu Haidar di ruang keluarga bersama dengan Reymond, Mira dan juga Adero di sana dengan kegiatan masing-masing. Meskipun terkadang mereka terlibat percakapan entah masalah bisnis atau yang lainnya.
“Mau pergi sama Haidar?” tanya Mira pada Alina yang sudah duduk di samping Adero.
Alina mengangguk, “Iya mah boleh kan?"
Belum sempat Mira menjawab, suara Adero terdengar, “Keluyuran mulu lo, s hari kek ada di rumah! Pacaran terus, inget gak baik!” ketus Adero membuat Alina kaget.
Kenapa bisa Adero bicara seperti itu, padahal selama ini ya g jarang ada di rumah ya Adero. Meskipun weekend pasti Adero juga pergi dari pagi sampai malam. Lalu kenapa sekarang saat orang tuanya Adero malah ada di rumah saat weekend.
Alina tak habis pikir mengapa Adero bisa berubah menjadi ketus dan galak seperti ini pada Alina. Apa ini semua penyebabnya adalah gadis?
Adero tak suka kalau Alina ikut campur urusannya dengan Gadis, dan mengatur atau mengatakan kalau gadis bukan cewek yang benar dan tidak cocok untuk Adero. Memang siapa yang tidak marah kalau pacarnya di katakan seperti itu.
“Gue baru mau keluar kali kak!” sahut Alina malas.
Adero menatap Alina sekilas, “Baru mau keluar? Kemarin-kemarin emang lo gak keluar sampai pulang malam sama pacar lo itu?”
Reymond dan Mira yang mendengar itu semua langsung menggeleng. Pandangan yang tak biasa buat mereka, melihat kedua anaknya nampak akan bertengkar. Biasanya keduanya sangat rukun dan dekat selama ini.
“Kalian kenapa saling ketus kaya gitu?” tanya Mira.
Alina m ngangkat bahunya, “Tqhu tuh kakak duluan mah, Alina juga gak paham kenapa kakak berubah!” sahut Alina.
“Gue gak berubah, gak usah ngadu yang aneh-aneh bisa?” ketus Adero lagi.
Reymond tidak bisa tinggal diam dengan situasi seperti ini, “Semalam papah juga dengar kalian sempat beradu argumen, sebenarnya ada apa?” tanya Reymond dengan tegasnya.
Alina menundukkan wajahnya, begitu pun Adero. Kalau Reymond bertanya dengan nada serius mereka akan takut, karena Reymond m m Nanang sangat tegas dan mendidik.
“Papah tanya sekali lagi, ada apa sebenarnya?” tegas Reymond dengan nada di tinggikan.
__ADS_1
Alina memainkan jarinya, bingung harus bagaimana. Apakah ia harus memberitahu Reymond tentang sosok Gadis yang jadi pacar Adero saat ini? Tetapi bukankah itu akan membuat Adero semakin benci dengan Alina?
Adero berdehem sambil memberanikan diri mengangkat wajahnya, “Gaj ada apa-apa pah, cuma ada salah paham sedikit aja.” jawab Adero.
Alina langsung mengangguk cepat, agar Reymond juga percaya dengan pernyataan Adero tadi, “Iya pah, wajar kan kalau adiknya ingin memberikan yang terbaik untuk kakak nya." Seru Alina dengan santai.
Reymond menatap kedua anaknya secara bergantian. Reymond merasa kalau ada sesuatu yang sedang mereka sembunyikan, dan Reymond harus tahu apa itu.
Tak lama, Haidar telah datang da masuk ke dalam ruang keluarga rumah Alina. Karena tadi Eni bilang, untuk langsung saja ke sini soalnya Alina sudah berpesan seperti itu
“Assalamu'qlakum!” seru Haidar membuat semua mata langsung menoleh ke sumber suara itu.
Alina tersenyum l bar sat m lihat kekasihnya datang. Hari ini Haidar tampak sangat tampan seperti nya, padahal cowok itu hanya menggunakan kaos hitam polos di padukan celana jeans se lutut warna senada. Lalu jam tangan hitam kesayangan nya, dan sepatu kets berwarna putih. Jangan lupakan rambutnya yang berantakan, macam badboy kekinian.
Haidar berjalan menghampiri Reymond dan Mira untuk mencium punggung tangannya sekaligus meminta izin untuk mengajak Alina keluar rumah di weekend ini. Haidar pun tak lupa mengeluarkan tangannya pada Adero, tetapi sayang Adero tidak menerima uluran tangan Haidar dan malah fokus pada ponselnya.
“Adero, itu Haidar datang!” tegur Mira membuat Adero tak mau menatap kekasih adiknya dengan sengit lalu menerima uluran tangan Haidar.
Tanpa bicara apapun l, Adero bangkit dari duduknya kalau melangkah menuju tangga untuk ke kamarnya. Hati Adero masih tidak terima kalau Alina benar-benar melangkahi nya. Dulu Adero tidak mempermasalahkan ini, karena ia belum memikirkan pasangan. Tetapi sekarang sudah memiliki pasangan, dan Adero pun ingin segera menikah.
Haidar mengamati punggung Adero yang makin lama semakin menghilang dari pandangannya. Lalu Haidar menatap Alina seakan bertanya ‘Kenapa!' Alina yang peka hanya menggeleng sambil m ngangkat bahunya.
“Haidar sudah sarapan, nak?" Tanya Mira saat Haidar sudah duduk tepat di sofa sebelah Alina.
Haidar mengangguk lalu tersenyum, “Sudah Tante." Jawab Haidar.
“Haidar, boleh Tante minta satu hal sama kamu?" Seru Mira membuat Reymond bingung sambil menatap istrinya.
Haidar mengangguk dengan cepat, “Boleh Tante, apa?"
“Panggil Tante dengan sebutan mamah seperti Alina lakukan pada ibu kamu. Apa boleh nak?”
Haidar tersenyum lebar, begitu dengan Alina sedangkan Reymond menatap istrinya sambil menghela napas.
“Bolegh Tante eh mah." Jawab Haidar membuat Mira tersenyum.
“Berarti panggil papah juga ya!" Sahut Reymond tak mau kalah.
“Baik pah!" Seru Alina.
Reymond menatap Alina, “Bukan kamu curut, itu dia pacar kamu!" Kesal Reymond karena tahu pasti anak perempuan nya itu sedang menggoda nya.
Alina terkekeh, begitu pun dengan Mira serta Haidar. “Bqik pah!" Sahut Haidar membuat mereka semakin terkekeh.
__ADS_1
Adero yang belum benar-benar masuk ke dalam kamar, mendengar jelas apa yang sedang mereka bicarakan di bawah itu. Adero iri dengan semua ini, Adero mau merasakan apa yang Alina rasakan.
Tahu, sejak dulu orang tuanya memang tidak pernah membandingkan keduanya dan selalu berlaku adil. Tetapi entah mengapa sekarang Adero merasa kalau Reymond sedang tidak adil dengan nya.
Lagi pula sebenarnya kalau di pikir-pikir bukan salah Reymond kan? Waktu malam itu, Gadis sendiri yang menyatakan kalau dia belum mau menikah di waktu dekat ini. Lalu kenapa Adero merasa ini semua karena Alina dan Haidar atau karena Reymond yang tak suka dengan keputusan Adero ini.
“Gue gak akan biarin lo nikah duluan dek, haru gue duluan karena gue abang lo; semoga lo ngerti dek!" Seru Adero pada dirinya sendiri.
...****************...
Setelah pamitan dengan kedua orang tua Alina, saat ini Alina dan Haidar sudah berada di sebuah pantai yang ada di pinggiran kota. Memang bukan waktu gang pas untuk berkunjung ke pantai di waktu ini.
Bagaimana tidak, saat ini matahari sedang menyorot kencang ke arah bumi. Di tambah suasana di pantai, semakin membuat panas terik itu sangat terasa.
Alina dan Haidar menikmati pantai, dengan berlindung di bawah saung yang telah mereka sewa. Itu semua kemauan Alina dan mengajak ke pantai sampai tidak mau terkena panas matahari siang bolong seperti ini.
Maklum lah namanya juga perempuan, mereka takut kulit nya menjadi gosong. Sia-sia dong kalau selama ini selalu merawat nya.
“Panas banget ya!" Gerutu Alina padahal di depannya sudah ada es jeruk yang di pesan nya tadi.
“Yqng ngajakin ke pantai gini siapa?" Tanya Haidar.
Alina menatap lurus ke depan ke arah pantai, “Yqh aku sih, tapi kan ah sudahlah sudah sampai juga!"
Haidar mengelus kepala Alina dengan sayang, “Kita makan aja dulu, gimana?" Usul Haidar lalu di jawab gelengan kepala oleh Alina.
“Baru juga sampai sayang, nanti aja deh. Gimana kalau kita main game aja?"
Haidar mengangguk, mengiyakan apa yang ingin Alina lakukan hari ini. Haidar sudah berjanji ingin menuruti apapun kemauan Alina, full seharian.
“Main ular tangga dari handphone, gimana?" Usul Alina lagi.
Dan lagi-lagi Haidar hanya mengangguk. Alina sudah mengeluarkan ponselnya kalau di bukalah aplikasi yang sudah terunduh di ponselnya yaitu permainan ular tangga. Permainan ini sering di mainkan Alina dengan kedua sahabatnya sejak dulu.
“Suit siapa duluan yang lain! Seru Alina.
Setelah itu, Haidar lebih dulu yang jalan. Alina terkekeh selama permainan berlangsung. Hingga akhirnya Alina lah yang menjadi pemenangnya. Tanpa mereka sadari, sekarang jam sudah menunjukkan pukul 3 sore, yang artinya panas sudah tidak terlalu menyengat.
“Udah gak terlalu panas, mau main di pantai nya?" Tanya Haidar.
Alina menggeleng, “Nanti aja deh!"
Haidar mengangguk, kalau mengalihkan pandangannya ke seluruh pantai. Matanya melihat sesuatu yang sangat membuatnya kaget.
__ADS_1
Siapakah itu??
...Tunggu bab selanjutnya ya akan seperti apa...