
Mira tak menyangka kalau main malam bersama dengan sahabatnya menjadi kacau. Berniat mengajak anak masing-masing untuk di kenalkan eh ternyata mereka sudah sudah saling mengenal. Bukan hanya saling mengenal, tetapi mereka pun punya kisah masing-masing.
Begitu pun dengan kekasih anaknya, Haidar. Ternyata Haidar punya peran juga di antara mereka. Yang membuat Mira kaget, karena mendengar ucapan dari mulut Vanesa tadi. Mira sampai tidak dapat berpikir apakah itu benar apa bohong.
Setelah menceritakan semuanya pada Reymond di mobil tadi, hingga satu kalimat yang keluar dari mulut Reymond membuat Mira dan Alina kaget.
“Papah rasa, kamu gak usah berhubungan lagi sama Haidar!” seru Reymond.
“Kenapa, pah? Haidar gak seperti apa yang Vanesa bilang!” seru Alina tetapi tidak di jawab oleh Reymond.
Setelah mereka sampai di ruma, Reymond langsung menyuruh Alina dan Mira untuk duduk sebentar di ruang keluarga untuk menjelaskan mengapa dirinya melarang Alina untuk tidak berhubungan dengan Haidar.
“Alina, sebenarnya papah tanya, apa kamu pernah ada masalah dengan Vanesa?” tanya Reymond.
Alina menggeleng, “Gak pernah pah, Vanesa itu anak baru di sekolah Alina. Jadi Vanesa gak tahu bagaimana Alina di sekolah selama 3 tahun kemarin!” seru Alina membela diri.
“papah tau, Haidar itu anak yang baik. Papah bisa menilai nya, dek. Tapi yang papah gak suka, latar belakang keluarganya.” seru Reymond.
“Maksud mas?” tanya Mira yang bingung dengan ucapan Reymond.
Reymond menghela napasnya. “Iya kamu lihat, papahnya Haidar bisa meninggalkan keluarganya, apalagi sampai istrinya depresi. Dan papah gak mau, kalau Alina di gitukan sama Haidar juga!”
Alina menggeleng, “Papah, gak bisa samain Haidar sama papahnya! Semua itu jelas berbeda, karena sifat manusia itu berbeda-beda!”
“Tapi buah jatuh tak jauh dari pohonnya, sedikit banyak pasti sifat papahnya ada yang turun ke Haidar! Dan papah takut, sifat mendua itu lah yang turun pada Haidar!”
Mira mengelus tangan suaminya pelan, “pah, mereka masih pacaran, belum menikah!”
“Iya papah Tau, tapi papah cuma gak mau lihat Alina sakit hati dan menangis karena Haidar, mah! Selama ini papah selalu berusaha buat Alina bahagia tanpa kurang sedikit pun!”
Alina menghampiri Reymond yang duduk bersebrangan dengannya, lalu berlutut di depan Reymond sambil kepalanya di taruh di kaki Reymond.
“Pah, please izinin Alina buat ngejalani ini sama haidar, biar Alina buktiin kalau Haidar gak seburuk itu!” mohon Alina sambil terisak pelan.
Mira mengelus kepala putrinya begitu juga dengan Reymond. Sebenernya Reymond pun suka dengan Haidar, tetapi seperti yang ia bilang, tak suka latar belakang keluarganya.
Reymond menghela napasnya, “Papah kasih satu kali kesempatan buat kalian buktiin kalau kalian memang pantas bersama, kalau sampai papah tau Haidar nyakitin kamu, jangan harap dia bisa ketemu kamu lagi! Paham?”
Alina hanya bisa mengangguk lemah tanpa bisa bersuara apapun. Apa Alina harus menceritakan ini semua pada Haidar?
Alina bangkit dan izin pamit untuk segera ke kamarnya, walaupun perutnya terasa perih karena lapar tetapi ia sedang tidak mood untuk makan dan memilih untuk tidur saja.
Sedangkan Mira dan Reymond masih berbincang di ruang keluarga.
...****************...
Pagi hari yang cerah tetapi bagi Alina tidak secerah biasanya. Entah mengapa di otaknya terngiang-ngiang omongan Reymond semalam.
Alina belum cerita masalah ini dengan siapapun, Alina bingung harus cerita pada Haidar atau tidak kah masalah ini, ia takut nantinya Haidar malah sakit hati karena di sama-sama kan dengan Roy, papahnya.
Dalam diri Alina, ia yakin kalau Haidar tidak seperti Roy. Haidar lelaki yang baik dan penyayang, buktinya saja sudah ada. Meskipun orangnya sudah tidak ada di dunia in aja, Haidar masih merasa sayang padanya.
Alina merapikan bajunya sebelum turun dari kamarnya untuk pergi ke kampus pagi ini. Setelah di rasa sudah rapi, barulah Alina turun ke bawah untuk sarapan lebih dulu bersama dengan keluarganya.
“selamat pagi.” sapa Alina lesu.
Tidak ada semangat seperti biasanya, bahkan senyumnya pun belum muncul pagi ini.
Mira yang tengah membereskan meja makan langsung menatap putri kecilnya dan tersenyum, “Pagi sayang, sarapan dulu ya?”
Alina mengangguk dan duduk di meja makan, hanya ada Alina di sana, tidak ada Reymond dan Adero.
“papah sama kakak kemana mah? Belum keluar kamar?” tanya Alina sambil tangannya mengambil sepiring nasi goreng, maklum karena semalam tida makan makanya ia merasa sangat lapar pagi ini.
“Papah lagi ke kantor sama kakak kamu.” jawab Mira yang ikut duduk di samping Alina sambil memakan kue kering buatannya.
__ADS_1
“Tumben, kakak ikut ke kantor.”
“Iya, papah mau ngajarin kakak bisnis, biar perusahaan yang di sini dia yang pegang, soalnya papah sama mamah Lik lagi ke amerika.”
“Kakak pegang perusahaan? Gak salah mah? Yang ada bisa bangkrut tuh perusahaan!” terkekeh Alina mendengar kalau Adero yang nantinya akan menggantikan Reymond di kantor yang ada di Indonesia.
“Hus, kamu bukan nya support kakaknya, lagi kan kamu gak mau di suruh pegang perusahaan dan memilih jadi guru, kalau bukan kakak siapa lagi.”
Alina mengangguk membenarkan apa yang Mira bilang, “kenapa mamah sama papah balik ke Amerika lagi? Bukan tinggal di sini aja sama alina.” ujar Alina dengan nada sedih.
Harus di tinggalkan lagi oleh kedua orang tuanya. Meskipun hanya beda negara tetapi rasanya kangen banget!
“Iya haruslah nak, perusahaan di sana siapa yang ngurus kalau papah Sam Mamah di sini terus? Om bara belum mengerti semuanya Maslah ini.”
“memang papah gak punya orang kepercayaan di sana, yang bisa handle semua?” seru Alina yang masih berusaha membujuk Mira agar tidak pergi lagi.
Mira bingung dengan respon Alina yang tidak seperti biasanya, “kamu kenapa sih dek, tumben banget. Biasanya fun fun aja mamah tinggal.” seru Mira.
Alina menggeleng, “Alina cuma butuh mamah sama papah di sini, ngawasin Alina seperti anak yang lainnya. Sudah terlalu lama mamah sama papah pergi dari pelukan Alina selama ini.”
“Dek-” ucapan Mira terpotong.
“please, stay with me?” mohon Alina dengan nada sedih.
Mira menghela napasnya, “nanti kita bicarakan ini sama papah ya?” seru Mira dan di anggukin oleh Alina.
Setelah selesai makan, Alina berpamitan dengan Mira untuk segera pergi ke kampus. Setelah mengecup pipi Mira, Alina segera melangkah menuju pintu bersama Mira yang ingin mengantarkan sampai luar.
Tak di sangka, ternyata Haidar tiba tepat Alina membuka pintu utama. Alina dan Mira kaget melihat sosok haidar yang tengah berdiri di depan pintu.
“Astagfirullah.” seru Alina dan Mira bersamaan.
“Assalamu'alaikum, tante.” seru Haidar yang sekan-akan tidak terjadi apa-apa dan langsung mengambil tangan Mira untuk di kecup.
“Waalaikumsalam, iya nih Haidar bikin Tante kaget aja.” seru Mira juga.
Hadar tersenyum tipis, lalu memandang Alina dengan tatapan kagum. Wajah Alina memang mirip dengan Reymond, namun kecantikannya persis dengan Mira. Ah yah iyalah kan memang anaknya!
“Kamu udah sarapan haidar!?” tanya Mira.
Haidar mengangguk, “Sudah kok tante.” jawab Haidar.
Mira mengangguk, “kalian janjian buat ke kampus bareng?” tanya Mira.
Haidar mengangguk sedangkan Alina menggeleng, membuat Mira bingung dengan tingkah anak muda di depannya.
“yang benar yang mana?” tanya Mira lagi.
“Iya.” sahut Haidar.
“Enggak!” sahut Alina.
Mira menghela napasnya, “Terserah deh, bingung mamah. Karena Haidar udah ada di sini, jadi kamu berangkat bareng Haidar ya!”
Alina menggeleng, “Nantu Haidar telat kalau harus nganterin aku dulu mah!”
Haidar menggeleng, “Enggak kok Tante, hari ini aku masih free jadi gak masalah.”
“Tuh dengar apa yang Haidar ngomong? Udah gitu sana, kamu gak kasihan sama Haidar yang udah jauh-jauh buat jemput kamu!”
Mau tak mau Alina mengangguk, lalu berjalan ke arah mobil Haidar, begitu pula Haidar setelah berpamitan dengan Mira.
Haidar mulai melanjukan mobilnya menuju kampus Alina lebih dulu. Di dalam mobil Alina hanya diam sambil melihat jalanan dari jendela, moodnya sedang tidak baik makanya ia malas bicara!
“Kenapa pesan sama telepon aku gak di bales?” tanya Haidar yang memang dari semalam Alina tidak merespon apapun.
__ADS_1
“Tidur!” jawab Alina singkat.
Haidar menghela napasnya, “Kamu masih marah?”
Alina menggeleng.
“Itu buktinya masih cuek, artinya masih marah!”
“Jangan sok tahu!” ketus Alina.
Tangan Haidar terulur untuk mengusap kepala Alina dengan pelan, hal itu dapat membuat Alina salah tingkah. Jantung nya berdebar tak karuan, selalu saja begitu.
“Maafin aku ya, aku janji gak akan ngulang lagi!” mohon Haidar.
“Udah di maafin! Alina berusaha keras agar terlihat biasa aja di depan Haidar, walau sebenarnya ingin sekali sekarang ia memeluk nya itu dari samping dan menceritakan semuanya.
“Senyum dong.” seru Haidar sambil menoleh ke arah Alina sekilas.
Alina tersenyum, walau awalnya terpaksa tetapi lama kelamaan menjadi ikhlas dan menunjukkan senyum terbaiknya untuk Haidar.
“Makasih sayang.” seru Haidar.
Sebel!!
Tak lama mereka telah sampai di kampus Alina, keduanya turun dari mobil awalnya Alina bingung mengapa Haidar ikutan turun tetapi saat di tanya Haidar hanya diam saja tak menjawab.
“Kamu ngapain ikut aku turun? Bukan langsung jalan ke kampus!” seru Alina bertanya lagi.
Haidar menoleh ke kanan ke kiri melihat segala yang ada di depannya, di kampus Alina. Ternyata memang lebih mewah aslinya dari pada iklan di internet.
“Haidar ih” seru Alina karena merasa di cuekin oleh Haidar.
“Ini kan udah di kampus!” jawab Haidar.
“Iya tahu, tapi kan ini kampus aku!”
“Sejak kapan papah kamu beli kampus ini? Pantesan waktu rest kamu lolos, ternyata ada orang dalam!”
Alina menepuk bahu Haidar pelan, “ih bukan gitu maksud aku, kamu mah nyebelin ah!” gerutu Alina.
Haidar mengacak rambut Alina lalu menarik pucuk hidung milik Alina itu. Sampai yang punya meringis sebentar.
“Aku pindah ke sini!” seru Haidar membuat Alina kaget.
“Se..serius?” seru Alina tergagap.
Haidar mengangguk, “Kenapa? Kamu gak suka ya kita satu kampus akhirnya?”
“Suka banget malah! Akhirnya kita bisa satu kampus Haidar!” seru Alina antusias.
Hadar terkekeh, gemas melihat tingkah Alina, “Yaudah yuk kita ke gedung ekonomi?” seru Haidar sambil menggandeng tangan Alina.
“Ekonomi? Kamu masuk jurusan yang sama juga sama aku?” Hadar mengangguk membuat Alina memeluk dari samping karena senang luar biasa.
“Tapi kita beda kelas, sayang!” beritahu Haidar membuat Alina berhenti memeluk dan menatap Haidar dengan sedikit sedih.
Lalu tiba-tiba senyum indahnya terbit lagi, “Gak papa lah, yang penting kita satu kampus dan jurusan sekarang!”
Keduanya berjalan menuju gedung ekonomi. Di tengah perjalanan, Alina melihat Hellena yang tengah berjalan sendiri Sabil mendengarkan sesuatu lewat earphone nya.
“Hellena!” panggil Alina hingga orang yang di panggil menoleh.
Saat Hellena menoleh, Haidar sangat terkejut melihat siapa yang ada di depannya itu. Tanpa sadar, Haidar menepuk pipinya sendiri, ingin mengetahui ini mimpi atau bukan!
Kira-kira Hellena siapa ya??
__ADS_1