Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Kumpul..


__ADS_3

Hari ini Alina sudah ada janji untuk berkumpul dengan para bumil di rumah Meilla. Sudah lumayan lama mereka tidak menghabiskan waktu bertiga. Yah kali ini hanya mereka bertiga yang ada di sana.


Cowok-cowok sedang berada di cafe karena mereka di usir para cewek. Katanya ini quality khusus cewek, jadi yang cowok silahkan pergi kemana dulu.


Mereka hari ini niatnya akan .membuat kue kering, karena request an dari bumil Elsa yang lagi ngidam membuat kue. Alina yang di ceritakan bagaimana kehamilan di trimester 1 membuatnya merinding. Sehebat itu kah perjuangan mereka melewati masa mual dan muntah setiap hari.


"Lo nanti kalau ngerasain pasti nikmat deh Lin, nyiksa sih karena gak bisa makan banyak tapi kalau di pikir buat baby dalam perut rasanya jadi beda!" Seru Elsa yang sedang duduk di kursi bar di dapur mini Meilla.


Meilla mengangguk, "Benar tuh, sampai si Edo bulak balik ganti sprei karena kena muntahan gue terus!"


Alina bergidik geli, "Jorok ih lo pada ngapain ngomongin muntah kek, ngomong yang lain kek!" Seru Alina.


Meilla dan Elsa terkekeh, "Mau ngomongin yang dewasa dewasa gak? Seru dan nikmat juga loh ini!" Sahut Elsa membuat Alina langsung menatapnya tajam.


Alina tahu, Elsa akan berbicara ke arah mana nantinya lebih baik di kasih tatapan maut saja. Bukan apa, takut Alina dewasa sebelum waktunya mendengar kan cerita itu.


"Ih Lin, kita berbagi pengalaman loh, biar Haidar minta terus sama lo nanti. Gue kasih tahu triknya yang benar!" Seru Elsa dan Meilla hanya terkekeh melihat wajah Alina.


Alina menggeleng cepat, "No, gue gak mau anjir! Lo mah rese banget Sa!" tajuk Alina membuat Meilla dan Elsa tertawa kencang.


"Eh Lin, emangnya sih Nanda lagi Deket ya sama Hellena?" Tanya Elsa mulai menggosip.


Alina mengangguk, "Kayaknya sih, mereka sempat makan malam bersama katanya."


"Iya lah mendingan sama si Hellena dari pada sama si Gadis tuh si Nanda." Sahut Elsa.


Meilla mengangguk, "Ah ya gimana kalau suruh ai Hellena kesini sekalian? Nantikan Nanda juga pasti ke sini, ketemu deh mereka!" Usul Meilla membuat kedua sahabatnya mengangguk setuju.


Alina langsung mengambil ponselnya yang berada di dalam tas, lalu mendial nomer Hellena. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya panggilan itu di jawaban oleh Hellena di ujung sana. Untungnya hari ini Hellena bisa untuk datang ke rumah Meilla.


"Sebentar lagi dia otw kesini katanya!" Seru Alina memberitahu jawaban dari Hellena tadi.


Meilla dan Elsa mengangguk lalu memulai acara memasaknya itu. Mereka sudah punya tugas masing-masing, tetapi tetap saja ada yang jadi pengrusuh di sana. Siapa lagi kalau bukan Meilla.


"Eh lo kerjain nih, lo kan yang ke pengen anjir!" Seru Alina saat melihat Elsa yang malah mengusap apel yang dia ambil dari kulkas Meilla.


"Sabar Napa sih Lin, gue tiba-tiba ke pengen makan apel anjir!" Sahut Elsa membuat Alina hanya bisa menggeleng.


Alina berpikir, begitulah kelakuan orang hamil yang gampang banget merubah kemauan? Yang ia tahu hanya gampang merubah mood saja, ternyata tidak.


Alina melanjutkan aksinya di bantu dengan Meilla di sana. Tak lama bel rumah Meilla berbunyi, tanpa di suruh Elsa lah yang membukakan pintu depan. Ternyata Hellena sudah tiba di rumah Meilla saat ini.


Hellena masuk ke dalam dan melihat Meilla serta Alina yang sedang sibuk membuat kue. Hellena memeluk percaya itu secara bergantian, lalu meletakkan tas kecil yang ia bawa di meja dan mulai membantu yang lain.


"Begini nih aturan, langsung bantu, emangnya tuh orang yang ngelihatin doang padahal ini ngidamnya dia!" Kesal Alina lagi saat melihat Elsa kembali duduk di meja sambil memakan apel dengan nikmat.

__ADS_1


Bukannya merasa bersalah, Elsa hanya tertawa lalu mengangkat apelnya, "Siapa yang mau nih apel? Gue udah kenyang!" Serunya membuat Alina langsung melempar lap yang tadi sedang ia pegang ke arah Elsa.


"Dasar bumil gak jelas!" Cecar Alina membuat Meilla dan Hellena tertawa.


Entah mengapa Alina menjadi emosian seperti ini, Padahal biasanya Alina lah yang paling kalem dan santai. Ah ya karena Alina saat ini sedang PMS maklum kalau emosian. Kan katanya kalau cewek PMS itu galak.


"Lo lagi Deket ya sama Nanda?" Goda Meilla pada Hellena.


Hellena yang di goda seperti itu malu sampai wajahnya memerah, "Gak Deket sih, cuma temenan!" Jawab Hellena.


"Kalau Deket juga gak papa kali, Nanda kan jomblo;" sahut Elsa dari meja.


Hellena menggeleng, "Dia gak jomblo, La. Dia cerita kok sama gue kalau dia punya pacar. Tapi sorry Lin, katanya punya pacar yang sama kaya kakak lo, emang iya?"


Kemarin memang Hellena belum sempat bertanya soal ini pada Alina. Alina yang tiba-tiba di tanya seperti itu hanya bisa mengangguk pelan, dan kembali mengingat kejadian kemarin yang ia bertengkar dengan Adero dan juga Gadis di dalam cafe.


"Sorry ya Lin, pertanyaan gue saalh ya?" Seru Hellena saat melihat eksy Alina yang menjadi sedih.


Alina menggeleng lalu tersenyum tipis, "Enggak ada yang salah kok Hell, memang itu kenyataannya. Kalau gue minta tolong sama lo boleh?"


Hellena mengangguk.


"Buat Nanda putus sama pacarnya itu Hell, gue tahu pasti lo gak akan mau kan di jadiin pelampiasan? Tapi ini buat kebaikan Nanda, pacar dia itu bukan cewek baik. Gue mau lo selamatin dia dari itu cewek, gue gak maksa jugasih kalau lo nggak mau!" Seru Alina berharap sangat pada Hellena.


"Lo pikirin dulu aja Hell, tapi apa yang Alina bilang memang benar kok. Gue lebih setuju lo yang jadi pacar Nanda dari pada yang sekarang!" Sahut Meilla.


Elsa pun ikut mengangguk, "Iya Hell, gue gak suka sama pacarnya Nanda yang sok cantik itu!"


Hellena menghela napasnya, "Akan gue coba ya, tapi kalau untuk pacaran gue belum bisa pastiin karena gue gak ada rasa apapun sama dia, semoga kalian ngerti ya!" Jawab Hellena dan membuat ketiganya itu mengangguk.


Mengerti posisi Hellena pun tidak akan mudah, dan memang itu namanya pelampiasan. Kasihan kalau seperti itu Hellena nya. Makanya mereka menghargai keputusan Hellena.


Akhirnya mereka kembali dengan kesibukan mereka membuat kue itu. Setelah membuat dapur Meilla berantakan akhirnya kue tersebut jadi juga. Untung saja Hellena datang ke padaku, eh salah malah nyanyi. Untung saja ada Hellena yang ternyata jago dalam membuat kue,kalau tidak bisa bisa mereka sampai sore tidak jadi tuh kue.


"Gila emang ya lo, jago banget buatnya!" Seru Elsa senang karena akhirnya makanan yang ia idaman terpenuhi.


"Bikin beginian mah biasa buat gue, kalau lagi iseng di rumah sendirian!" Jawab Hellena.


Semuanya beralih ke ruang tengah untuk mencicipi hasil buatan Hellena itu. Rasanya enak, sempurna kalau kata Elsa mah.


"Ah enak baget Hell, besok-besok bikin lagi ya?" Seru Elsa membuat tangan Alina melayang dan menoyor kepala sahabatnya itu.


"Lo belajar, jangan cuma bisanya makan aja!" Seru Alina geram.


Elsa hanya terkekeh melihat Alina kesal, "Lo marah Mulu dari tadi Lin, gak kaya biasanya!" Seru Meilla dan di anggukin oleh Elsa.

__ADS_1


"PMS ya lo? Ah gak telat gak asik Lin!" Sahut Elsa dan lagi-lagi membuat Alina kesal dan kembali menoyor kepalanya.


"Jangan sok jadi suhu tentang begituan deh Aa, geli gue denger nya!" Seru Alina kesal.


Badmood, itu lah yang Alina rasa saat ini. Ingin pulang saja rasanya, karena perutnya terasa sakit. Alina mengambil ponselnya untuk menghubungi Haidar agar segera menjemputnya.


"Lin, lo marah?" Tanya Elsa pelan dan hanya di jawab gelengan sama Alina.


Meilla menyenggol lengan Elsa, memberi kode untuk segera minta maaf pada Alina yang terlihat sangat kesal itu. Elsa bangkit lalu beralih duduk di samping Alina.


"Lin, sorry gue cuma becanda masa gitu aja lo marah sih!" Seru Elsa membuat Meilla dan Hellena menggeleng mendengar ucapan Elsa yang menurut keduanya salah.


Alina menatap Elsa sekilas lalu tersenyum kecil, "Gue emang belum nikah sama Haidar, tapi bukan berarti gue cupu kan belum pernah ngerasain apa yang udah sama Meilla rasain?"


"Lin, gak gitu maksud gue, asli gue cuma becanda doang, tumben juga lo marah kaya gini!" Sahut Elsa.


Alina menghela napasnya, "Gue gak marah, udah ya gue mau balik aja perut gue juga sakit!" Seru Alina pelan.


Elsa menarik lengan Alina untuk di genggamnya. "Lin, maafin gue dong, gue janji gak akan ngulangin lagi deh!"


Alina menarik kembali tangannya, "Gue gak masalah Sa dengan candaan lo itu, gue emang lagi gak mood dan capek aja makanya gue balet gini!"


Meilla dan Hellena bangkit, dan duduk di bawah sofa yang beralasan karpet bulu, "Lo lagi ada masalah ya,Lin?" Tanya Meilla hati-hati takut menambah kekesalan Alina.


Alina hanya menggeleng pelan sebagai jawaban. Membua ketiga cewek itu semakin yakin kalau ada sesuatu yang memang sedang di sembunyikan oleh Alina. Tidak seperti biasanya Alina sampai seperti ini, biasa nya memang suka marah lalu PMS tapi tidak separah ini.


"Lin, kalau lo butuh orang buat dengerin cerita lo, kita siap kok! Jangan di pendem sendiri ya masalah lo!" Ujar Hellena membuat Meilla dan Elsa mengangguk.


Alina menghela napasnya, lalu akhirnya menceritakan semua masalah nya yang kemarin ia hadapin dari sore hingga malam hari saat bertemu dengan Gadis. Respon ketiga sahabatnya itu sangat kaget, tidak menyangka kalau masalah nya sampai aeparah itu.


"Terus, rencana lo selanjutnya mau gimana?" Tanya Hellena.


Alina menarik Tangan Hellena lalu di genggamnya erat, "Maka itu alasan gue nyuruh lo deketin Nanda, biafdia bisa lepas dari cewek gak baik kaya Gadis. Mau ya?" Mohon Alina.


Hellena mengangguk setuju, Nanda itu cowok yang baik gak pantas mendapatkan cewek yang modelan kaya Gadis itu, kasihan kalau kata Hellena di dalam hati.


"Terus kak Adero gimana?" Tanya Elsa.


Alina mengangkat bahunya, "Sampai sekarang gue belum tahu harus apa, gue gak mau berantem terus sama dia, sedih raaanya kuat saat kembali mengingat pertengkaran dengan kakaknya itu.


Hellena mengelus punggung Alina agar sedikit tenang. Saat itu pula Haidar dan ya g lainnya datang, membuat Haidar khawatir dengan kondisi Alina yang sedang menangis itu.


Elsa dan Hellena bergeser duduk ya membiarkan Haidar yang membaut aki a tenang saat ini. Terlihat sekali wajah Haidar sangat khawatir lalu bertanya dengan pelan apa yang tengah terjadi. Alina uang masib menangis tidak menjawab pertanyaan itu, dan Meilla lah yanv menjawab kalau Alina sedang menceritakan masalah dengan kakaknya.


Guys jangan lupa komen dan kasih ulasan ya, biar aku tambah semangat buat ceritanya! :)

__ADS_1


__ADS_2