
Jantung Alina berdebar cepat saat mengetahui kalau sekarang sudah sampai di rumah Haidar. Gugup dan takut itulah yang di rasakan saat ini.
Pesan dari Meilla tadi sudah Alina belikan dan semoga saja itu bisa menjadi kesan yang baik saat pertama bertemu ibunya Haidar. Alina menghela napasnya lalu ikut turun bersama Haidar yang sudah lebih dulu keluar dari mobil.
Haidar melangkah masuk ke dalam rumah dan di ikutin Alina di sampingnya. Masih sama waktu itu Alina pertama kali ke sini. Tetapi yang membuat beda tujuannya ke sini.
"Alina beneran siap ketemu nyokap gue?" Tanya Haidar kesekian kalinya lalu di anggukin oleh Alina.
Haidar kagum dengan konsistensi seorang Alina yang tidak mudah berubah. Sampai ke perasaan kepadanya saja Alina tidak merubahnya meskipun sudah di tolak berkali-kali.
"Lo tunggu dulu ya, gue masuk dulu ke dalam." Ujar Haidar lalu di anggukin oleh Alina.
Alina menunggu Hadar di depan pintu kamar itu Alina lihat, jantungnya bener-bener berdebar hebat.
Setelah menunggu 5menit akhirnya Haidar keluar dari kamar itu, dan saatnya mengajak Alina untuk masuk ke dalam bertemu Indira, ibu nya Haidar.
Haidar menggenggam tangan Alina, tak Haidar tahu kalau Alina sedang gugup, terasa dari tangan yang sedikit dingin.
"Mah." Panggil Haidar kepada Indira yang tengah terbaring membelakangi Haidar.
Indira tidak menjawab panggilan tersebut yang terdengar hanya isakan lalu terganti dengan tawa dan berganti lagi isakan begitu terus yang Alina dengar.
Haidar melangkah menuju tempat tidur Indira lalu mengusap punggung nya dengan lembut.
"Ini ada teman Haidar, mau ketemu sama mamah." Beritahu Haidar dan lagi-lagi tidak ada tanggapan dari Indira.
Haidar menyuruh Alina untuk mendekat ke arah Indira, dengan langkah pelan saat ini Haidar sudah berada di belakang tubuh Indira yang sedang berbaring.
"Assalamualaikum Tante." Ujar Alina pelan.
Suara isakan dan tawa dari Indira terhenti, lalu Indira membalikkan badannya metal Alina yang tadi memanggilnya.
"Meilla?" Ujar Indira yang mengira itu Meilla.
Indira memandang wajah Alina dengan seksama seakan sedang meneliti, sampai akhirnya Indira sadar kalau itu bukan Meilla.
"Siapa kamu? Pergi!" Usir Indira sambil mendorong tubuh Alina agar menjauh dari dirinya.
"Mah, ini temen Haidar. Mau kenalan sama mamah."
"Tante, kenalin nama saya Alina."
Indira menatap Alina dengan tajam. Terlihat jelas ada kemarahan di mata Indira, sampai Alina meneguk ludahnya sedikit khawatir.
"Pergi wanita sialan!" Teriak Indira lalu menarik rambut Alina.
Haidar yang melihat itu segera berusaha melepaskan itu tarikan tangan Indira pada kepala Alina.
"Mah, tangan mah. Alina bukan orang jahat mah, Alina teman baik Haidar mah."
"Dasar wanita sialan! Gara-gara kamu suami saya jadi pergi!" Teriak Indira seakan Alina itu adalah wanita yang merebut suaminya.
__ADS_1
Tak lama terdengar suara tangisan dan tangannya terlepas sendiri dari kepala Alina.
"Anak gadis ku, Olivia." Isak Indira sambil menyebut nama adik perempuan Haidar.
"Olivia dan Diana mana Haidar?" Tanya Indira yang terus menanyakan itu pada Haidar.
Alina kembali mendekat ke arah Indira meskipun kepalanya terasa pusing karena di tarik oleh Indira tadi.
"Tante, Olivia sama Diana sudah tenang di sana, Tante harus ikhlas ya." Ujar Alina pelan membuat kemarahan Indira muncul kembali.
Haidar pun kaget dengan keberanian Alina saat ini, sejak dulu Indira menanyakan dimana Olivia dan Diana, Haidar selalu menjawab ada di luar karena waktu itu Haidar pernah bilang kalau mereka sudah meninggal, Indira mengamuk sampai melukai dirinya sendiri.
"Kurang ajar kamu nyumpahin anak sama pacar anak saya meninggal! Dasar wanita sialan! Pergi kamu atau sekalian mati saja kamu!" Amuk Indira lalu mendorong tubuh Alina berkali-kali.
Alina menahan tubuhnya agar tidak tersungkur ke belakang dan itupun di tahan oleh Haidar di belakang tubuh Alina.
"Tapi apa yang Alina kata kan memang benar mah." Ujar Haidar memberanikan diri.
Indira menatap Haidar tajam, "Kamu juga ikut-ikutan wanita sialan ini!"
Tak lama terdengar tertawaan dari Indira lalu kembali terisak lagi, dan tertawa lagi terisak lagi begitu terus membuat Alina memberanikan diri untuk berbicara.
"Tante, ini Alina bawain bunga semoga Tante suka ya." Ujar Alina sambil memberikan itu semua.
Mata Indira langsung berbinar, seperti melihat sesuatu yang sangat berarti. Soraya menghirup wangi bunga tersebut.
Melihat Indira yang rileks, membuat Alina mengulurkan tangannya untuk mengelus punggung Indira.
"Begitu juga dengan Tante, kehidupan Tante terus berjalan, Tante tidak bisa begini terus. Alina yakin Tante pasi bisa ngelewatin ini semua, seperti anak laki-laki Tante yang bertahan hingga titik ini sendirian tanpa support dari siapapun."
"Izinin Alina buat ngejenguk Tante di lain waktu lagi ya " entah mengapa Indira mengangguk membuat Valina dan Haidar tersenyum respon itu.
Entah karena kebetulan apa memang hati Indira terketuk dengan ucapan Alina tadi.
"Alina izin pulang dulu ya Tante, semoga Tante sehat selalu ya nanti kalau ada waktu Alina Dateng lagi ke sini bawain bunga lagi." Lagi-lagi Indira mengangguk.
Alina keluar lebih dulu dari kamar Indira, membiarkan Haidar berbicara lagi kepada ibunya.
"Mah, Alina itu anak yang baik, Alina selalu mengajarkan Haidar arti dari kesabaran selama ini nya. Semoga mamah bisa menerima Alina seperti mamah nerima Meilla ya." Ujar Haidar pada Indira sambil mengelus kepala ibunya sayang.
"Meilla?" Ucap Indira lalu melihat ke kanan ke kiri seakan mencari Meilla.
"Meilla gak ada di sini mah, nanti Haidar suruh Meilla datang ya. Sekarang izinin Haidar anterin Alina pulang dulu ya." Izin Haidar pada Indira.
"Meilla." Ujar Indira lagi.
"Iya, nanti Haidar bawa Meilla ke sini ya, sekarang mamah istirahat dulu " ujar Haidar lalu memberikan Indira obat penenang sekaligus obat tidur.
Itu lah cara agar Indira terlelap, karena tanpa bantuan obat itu Indira tidak akan tidur, meski sosisnya sudah berkurang tidak setinggi waktu pertama kali Indira depresi.
Ini berkat Meilla dan ibunya, yang selalu memberi nasehat seperti yang Alina lakukan tadi. Tetapi respon Indira berbeda tadi dengan Alina, India nampak marah sedangkan kalau dengan Meilla ia bisa menerima setiap ucapan yang keluar dan bisa membalas perkataan nya. Seperti tidak depresi kalau bersama dengan Meilla dan ibunya.
__ADS_1
Haidar keluar dari kamar Indira, lalu menghampiri Alina yang tengah duduk di sofa ruang keluarga Sambil memainkan ponselnya.
"Kepala masih sakit?" Tanya Haidar sambil mengelus kepala Alina.
Alina yang kaget dengan kedatangan Haidar langsung menaruh ponselnya di atas meja. Alina mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Haidar tadi.
"Masih sakit sedikit." Jujur Alina membuat Haidar kembali mengelus kepala Alina dan ikut duduk di sebelah Alina.
"Maafin mamah ya." Ujar Haidar lembut.
Alina mengangguk, "iya gak papa, gue paham kok."
"Makasih anyak Alina." Ujar Haidar tulus.
Lagi-lagi Alina mengangguk, " sama-sama Haidar. Semoga mamah lo bisa kembali sehat ya."
"Aamiin, gue harap juga begitu." Sahut Haidar.
"Haidar, Lo memang sedekat itu sama Meilla ya? Maksud gue sampai seperti tadi gitu?"
Haidar mengangguk, "Semenjak nyokap gue sakit, semua urusan keluarga gue di handel sama keluarganya Meilla termasuk masalah keuangan juga Lin."
"Lo bisa bayangin kan gimana deketnya gue SMA keluarga Meilla kalau gitu? Gue udah anggap Meilla sebagai saudara perempuan gue." Alina mengangguk paham.
"Lo cemburu sama Meilla?" Tanya Haidar.
Alina mengangguk, "Kalau gue bilang engga, gue munafik. Nyatanya memang cemburu yang gue rasain waktu liat lo tadi."
Haidar mengelus kepala Alina, "itu juga yang gue rasain saat denger obrolan lo tadi di telepon sama Alvaro."
Alina mengukir senyumnya, salah tingkah mendengar kata cemburu keluar dari mulut Haidar.
"Kita udah bahas ini Haidar, udah ya." Haidar mengangguk.
Alina melirik jam yang terpajang di dinding, sekarang sudah pukul 5 sore dan ia ada janji bertemu dengan Alvaro nanti saat makan malam.
"Haidar, udah sore." Ujar Alina mengingatkan Haidar.
"Eh iya, waktu cepet banget ya kalau bareng sama orang yang kita sayang." Ujar Haidar kembali membuat Alina salah tingkah.
"Pasti lo belajar gombal dari Lio ya." Cibir Alina.
Haidar terkekeh mendengar itu, "Ya udah ayo gue anter lo pulang." Alina mengangguk lalu bangkit dari duduknya begitu pun dengan Haidar.
"Lo mau pergi sama Alvaro nya?" Tanya Haidar saat sudah masuk ke dalam mobil.
Alina mengangguk, "iya, Alvaro ngajakin makan malam."
"Lo gak bisa nolak?" Alina menggeleng.
"Kita udah bahas ini, please gak perlu di bahas terus Haidar!" Kesal Alina.
__ADS_1
"Iya iya. Tapi inget jangan kasih masuk Alvaro ke dalam hati lo ya!" Alina mengangguk lalu tersenyum.