
Hari ini memasuki hari ke lima perang dingin Alina dan Haidar terjadi. Belum ada tanda apapun dari Alina, untuk kembali berhubungan dengan Haidar. Sedangkan Haidar sendiri sudah tidak tahan dengan kondisi seperti ini.
Gelisah, itulah yang Haidar rasakan saat ini. Sekarang ia tahu rasanya jadi Alina dulu, bagaimana menahan rasa cintanya untuk orang yang benar-benar dia cintai. Di tolak berkali-kali, tetap saja berjuang agar cintanya bisa tersampaikan.
Sekarang pula Haidar tahu rasanya jadi Alina saat dia cemburu dengan keberadaan Meilla yang berada di dekatnya. Haidar saja merasa cemburu dengan keberadaan Alister yang jelas-jelas Alina sudah menolak masalalu nya itu.
Makanya sekarang Haidar takut, takut kalau semakin lama hubungannya renggang seperti ini, takut nanti ada orang ke tiga yang akan masuk ke dalam hubungannya dan menghancurkan semuanya. Haidar tidak mau itu terjadi.
Kondisi Haidar sudah lumayan pulih, dan dia bisa berjalan tanpa batuan tongkat lagi meskipunia belum bisa mengendarai mobilnya sendiri. Haidar meminta supirnya untuk mengantarkan nya ke rumah Alina lagi ini.
Kebetulan hari ini weekend, pasti Alina masih berada di rumahnya. Makanya Haidar ingin segera kesana pagi hari agar memiliki waktu yang banyak bersama dengan Alina.
...****************...
Setelah sampai di depan gerbang rumah Alina, Haidar memencet bel lalu menunggu satpam membukakan gerbangnya. Tidak sampai 5 menit, gerbang itu sudah terbuka lebar.
“Selamat pagi mas Haidar, silahkan masuk mas.” seru satpam rumah Alina.
Haidar mengangguk lalu tersenyum, “Makasih pak.” serunya lalu melangkah masuk ke arah pintu utama.
Haidar kembali memencet bel dan menunggu Eni membukakan pintunya, seperti tadi, tidak sampai 5 menit pintu itu, adalah orang yang ia dari. Alina, iya Alina yang membukakan pintu itu sendiri.
“Loh, Haidar?” seru Alina yang kaget dan tidak menyangka kalau Haidar akan kesini, mana masih pagi begini lagi.
Haidar tersenyum tulus lalu merentangkan tangannya berharap agar Alina segera masuk ke dalam pelukannya. Haidar terlalu rindu terhadap Alina nya.
Tapi ternyata Alina malah menggeleng, lalu tersenyum, “Ada apa, Haidar?” hanya pertanyaan itu yang keluar dari mulut Alina tanpa Alina bergerak sedikit pun dari tempatnya berdiri.
Haidar menghela napas kecewa, “Alina, aku kangen.” pertanyaan itu keluar dari mulut Haidar.
Alina terdiam, “Aku juga Haidar!” seru Alina dalam hati.
“Alina, apa marah kamu masih lama? Kamu bilang cuma butuh beberapa hari, dan ini sudah 5haru kita masih seperti ini. Aku udah gak kuat alina.” lirih Haidar membuat Alina merasa bersalah.
“Kuta obrolin di dalam yah?” ajak Alina.
Haidar menggeleng, “Kalau hasilnya tetap sama, buat apa Alina. Aku butuh kepastian.” seru Haidar menolak di ajak ke dalam oleh Alina.
Alina menarik tangan Haidar, dan membawanya masuk ke dalam rumah nya, “Kamu tunggu di sini sebentar ya.” seru Alina meninggalkan Haidar yang sudah duduk di ruang tamu rumahnya.
Haidar hanya diam sambil menatap Alina dari belakang yang sedang berjalan ke arah atas, mungkin ke arah kamarnya. Tak lama Alina turun dengan Mambawa paperbag di tangannya.
Alina menyodorkan paperbag itu pada Haidar, “Ambil ini, anggap ini kenang-kenangan dari aku.” seru Alina membuat Haidar menggeleng.
“Maksud kamu apa, aku gak mau terima! Alina kamu bilang kamu gak akan ninggalin aku, tapi kenapa kamu malah kasih aku kenang-kenangan?” seru Haidar dengan nada sedikit meninggi.
__ADS_1
Haidar tak suka situasi seperti ini, seakan Alina tengah mempermainkannya!
Alina tersenyum, “Ambil lah dulu, gak boleh loh nolak rezeki.
Haidar tetap tidak mengambil paper bag itu, dan matanya terus menatap Alina dengan kecewa. Tak habis pikir dengan pikiran Alina yang maunya seperti apa sebenarnya untuk hubungan ini.
“Haidar, aku cuma bercanda, ini sengaja aku beli untuk kamu. Sebagai tanda kalau hubungan kita kembali baik.” seru Alina sambil menggenggam tangan Haidar.
Haidar mengerutkan keningnya bingung, “Maksud kamu apa sih?” seru Haidar.
Alina kembali menyodorkan paperbag itu, “Buka dulu dong makanya, baru marah!” seru Alina.
Dengan berat hati Haidar mengambil paperbag itu lalu mengeluarkan isi yang ada di dalamnya, ternyata sebuah Hoodie berwarna hitam dengan gambar huruf A di dada sebelah kiri.
“Hoodie?” seru Haidar.
Alina mengangguk, “Iya, ini aku beli buat kamu. Kamu lihat kan ada gambar huru A di situ, sengaja aku beli yang huruf A biar kamu selalu ingat aku.”
“Alina.” hanya itu yang keluar dari mulut Haidar, terlalu speechless mendengar setiap perkataan dari mulut Alina.
“Kita couple-an aku punya Hoodie yang gambar huruf H. Biar aku pun selalu ingat kamu.” seru Alina memberitahu Haidar kalau dirinya pun punya barang yang sama.
Tanpa pikir panjang, Haidar langsung memeluk Alina dengan erat, seakan tidak akan membiarkan Alina pergi lagi dari kehidupannya.
“Haidar, lepas. Sesek napas aku!” gerutu Alina.
Alina menggengam tangan Haidar, “Maaf juga karena selama beberapa hari ini buat kamu jadi galau sampai kamu gak bisa tidur kan?” kekeh Alina.
“Kok kamu tahu?” memang benar kenyataannya seperti itu, tapi dai mana kah Alina tahu tentang itu.
Alina terkekeh, “Dari Lio, dia ngeluh sama aku karena sering di ajak keluar malam sama kamu, cuma untuk nemenin kamu yang gak bisa tidur.” beritahu Alina.
“Wah Lio, bocor banget!” gerutu Haidar.
Alina masih terkekeh, “Kalau galau jangan nyusahin orang dong pak!” seru Alina.
Haidar menarik pucuk hidung Alina membuat sang pemilik menghentikan tawanya lalu mengaduh kesakitan, “Alah kamu juga, ngajak Elsa ketemu Mulu padahal Lio mau berduaan sama Elsa. Aku rasa itu pun termasuk nyusahin orang, iya kan?” seru Haidar.
Lio memang sempat beberapa kali komplain pada Haidar tentang Maslah Elsa yang selalu di ajak jalan dengan Alina. Tetapi Haidar sendiri pun bingung harus melakukan apa, kontaknya saja di blokir oleh Alina.
“Wah Lio, bocor banget!” seru Alina meniru perkataan Haidar tadi.
Keduanya tertawa.
Tapi mereka baik banget ya, mau kita repotin terus, ” seru Alina.
__ADS_1
Hadar mengangguk, “Iya, kapan-kapan kita terakhir mereka ya.”
Alina pun mengangguk setuju.
“Ehem, jadi kita baikan nih?” tanya Haidar memastikan lagi.
Alina menatap Haidar dengan tatapan serius, “Kamu gak mau baikan, emangnya?” seru Alina berniat bercanda.
Haidar menggengam tangan Alina erat, “Alina, maaf kalau selama ini aku gak ngerti bagaimana rasanya jadi kamu, dan sekarang aku tahu rasanya cemburu kaya kamu ke Meilla atau ke Diana dulu. Jadi sebelum ada orang yang menghancurkan hubungan kita, aku mau kita baikkan. Aku mau kita seperti dulu lagi, selalu bersama, alina.” mohon Haidar.
Alina yang mendengar itu pun bingung, cemburu, Haidar cemburu sama siapa? Pikir Alina.
“Kamu cemburu? Cemburu karena apa?” tanya Alina.
Haidar mengangguk, “Iya, aku tahu di kampus ada seseorang yang pernah ngisi hati kamu, alias mantan kamu ”
Alina kaget, “kamu tahu dari mana?”
Haidar menjelaskan semuanya pada Alina saat pertemuan pertamanya dengan Alister, dan memberitahu kalau Alister berniat mengambil Alina dari genggamannya saat ini.
“Tapi Kalian gak sampai bertengkar kan? Maksud aku, Kamu gak pukulin dia kaya waktu kamu mukulin kakak tingkat kan?” tanya Alina.
Haidar menatap Alina dengan tatapan curiga, “Memang kenapa kalau aku sampai saling pukul sama dia, kamu takut dia kenapa-kenapa?” seru Haidar yang cemburu.
Alina menggeleng, “Bukan gitu, aku gak mau kamu kena Maslah Haidar. Cukup sekali aja kamu ngelakuin hal kaya gitu, aku yakin kamu pasti ngerti maksud aku.” seru Alina langsung menepis tuduhan dari Haidar.
“Tapi kali sampai kelewat batas, aku gak akan tinggal diam, aliran. Aku gak mau kamu di ambil siapapun, kamu cuma milik aku!” mode cemburu Haidar masih ada.
Alina mengelus kepala Haidar dengan lembut, “Iya aku tahu Haidar, tapi semua bisa lakuin tanpa adanya kekerasan, aku gak mau kamu jadi orang yang gampang tersulut emosi.”
Haidar terdiam, menikmati setiap elusan yang Alina rasakan pada kepalanya.
“Ini lah resiko punya pacar cantik kaya aku.” seru Alina sambil terkekeh membuat Haidar gemas lalu mengecup pipi Alina sekali.
Loh sejak kapan gemas, malah menjadi mencium?
“Ih Haidar, nyebelin asal cium aja!” Alina pura-pura merajuk padahal jantungnya sudah berdetak lebih cepat dari biasanya.
“Gemas sama orang cantik!” seru Haidar.
Keduanya terkekeh.
“Mumpung libur, gimana kalau kita jalan? Hari ini kamu bebas mau kemana aja, aku temenin.” seru Alina.
Mata Alina berbinar, “Serius?”
__ADS_1
Haidar mengangguk, “Tapi tetap kamu yang bawa mobil, kaki aku belum kuat buat nginjak pedal gas nya.” kekeh Haidar membuat Alina memanyunkan bibirnya.
Alina menghela napas, “Oke deh gak papa, kalau gitu aku ganti baju dulu ya.” pamit Alina setelah mendapat anggukan dari Haidar.