
Alina bahagia, sanagat bahagia malam ini. Tidak menyangka kalau Reymond bisa membuat acara seperti ini tanpa Alina ketahui sama sekali. Alina bahagia karena pada akhirnya hubungannya di restui oleh kedua orang tuanya.
Sebenarnya dalam hati Alina merasa kesal, tetapi rasa itu tertutup dengan rasa bahagianya.
Sejak tadi Adero belum sempat menemui sang adik karena sibuk menyambut para tamu, yang kebanyakan rekan bisnisnya. Dan sekarang waktu yang pas untuk menghampiri Alina yang sedang bersama dengan para sahabatnya.
“Alina, selamat ya. Gue ikhlas kok kalau di langkahin nikah sama lo!” seru Adero sambil memeluk sang adik.
Alina membalas pelukan itu sambil mengelus punggung Adero pelan, “Gue nikah masih lama kok, lo segera cari pasangan ya sebelum gue nikah!” ujar Alina.
Adero mengangguk, “Do’ain biar cepat dapet ya!” Alina mengangguk sambil bilang amin.
Adero melepaskan pelukan itu dan beralih ke Haidar, sama seperti pada Alina tadi, Alvaro memeluk Haidar walau hanya sebentar.
“Gue titip adik gue, jangan pernah bikin dia nangis. Gue orang pertama yang bakal kasih lo pelajaran kalau sampai gue tahu lo nyakitin Alina!” seru Adero.
“Iya kak, gue akan jaga Alina semampu yang gue bisa!” sahut Haidar.
Adero mengangguk, “Selamat buat kalian, semoga bahagia selalu.” seru Adero.
Setelah itu Adero pergi dari sana untuk kembali menyambut para tamu yang baru saja datang. Acara yang sukses, Reymond dan Roy sama-sama mengundang rekan bisnis mereka masing-masing.
Tiba-tiba Elsa menepuk bau Alina pelan lalu membisikkan sesuatu, “Lin, itu Alvaro bukan sih?” tanya Elsa sambil matanya menatap seseorang yang mirip Alvaro sedang berbincang dengan Adero.
Alina mencari seseorang yang di maksud Elsa, dan ternyata benar itu Alvaro. Alina tidak bisa bayangin bagaimana rasanya jadi Alvaro saat tahu sekarang Alina menjadi tunangan Haidar pasti sedih ya Varo?
Alvaro berjalan berdampingan dengan Adero ke arah Alina dan Haidar. Wajah Haidar sudah berubah tak suka saat melihat Alvaro ada di sini. Tak bisa di pungkiri kalau Haidar masih takut, Alvaro mengambil Alina dari genggamannya.
Alvaro tersenyum miris saat dirinya sudah berdiri berhadapan dengan Alina. Kecewa pada dirinya sendiri karena telah kembali kalah dari Haidar untuk kedua kalinya. Tapi Alvaro ikhlas selagi Alina bahagia dengan pilihannya.
Alvaro menjulurkan tangannya ke depan Haidar lebih dulu, “Selamat atas pertunangan lo sama Alina. Semoga lancar sampai waktunya nanti.” seru Alvaro.
“Maksud!” jawab Haidar dengan nada ketus.
Alvaro beralih ke arah Alina dan kembali menjulurkan tangannya. Alina menerima itu dengan senang hati sambil tersenyum manis dan di balas senyuman juga oleh Alvaro. Alina tahu persis maksud dari senyuman itu, menyimpan luka yang amat dalam.
“Lin, selamat atas pertunangan lo sama Haidar. Akhirnya hubungan kalian melangkah ke jenjang lebih serius. Gue berdoa semoga lo bahagia selalu bersama pilihan lo. Lo gak perlu khawatirin gue, gue ikhlas kok.” seru Alvaro.
__ADS_1
Alina tersenyum miris mendengar itu, siapa yang tidak khawatir melihat kondisi hati Alvaro saat ini. Pasti para pembaca pun khawatir, iya kan?
“Thabks atas ucapan sama kedatangan lo ke sini Var, Gue berdoa semoga lo nemuin pasangan yang cocok buat lo. Maaf Kalau gue pernah ngecewain lo selama ini, gue harap lo juga selalu bahagia!” seru Alina membuat haidar semakin tak suka mendengarnya.
Terlalu manis, pikir Haidar.
Alvaro melepaskan salaman itu, dan kembali tersenyum untuk terakhir kalinya pada Alina. Semakin sulit untuk mendapatkan gadis itu, gadis yang masih tetap berada di hatinya entah Samapi kapan.
Alvaro berbalik badan dan pergi dari hadapan Alina dan yang lainnya. Tak ingin Membuat acara ini menjadi kacau kalau Haidar cemburu karena Alvaro terlalu lama memandang tunangan nya.
...****************...
Acara pertunangan itu telah selesai. Para tamu undangan sudah banyak yang pulang dan menyusahkan keluarga dan para sahabatnya Alina dan Haidar saja.
Alina menghampiri sang papah dan memeluk nya erat, “Pah, makasih banyak atas semuanya. Alina bahagia banget, tapi papah nyebelin juga ya!” seru Alina.
Reymond membalas pelukan sang anak dengan erat juga, dan mengecup kening Alina dengan sayang, “Sama-sama, maaf ya udah bikin kamu nangis dan bolos kuliah.” seru Reymond.
“Loh kok papah tau aku bolos kuliah?”
“Jelas, mata-mata papah banyak. Awas ya kalau di ulangi lagi. Papah marah beneran sama kamu!” seru Reymond.
Indira menghampiri Alina, “Alina, maafin Tante juga ya karena kemarin ikut bohongin kamu. Itu semua karena skenario papah mu.” beritahu Indira.
Alina menoleh ke arah Reymond dengan tatapan menahan, sedangkan hanya di balas kedipan sebelah mata dari sang papah.
“Iya gak papa Tante, papah memang orangnya jahil!” seru Alina membuat yang lain tertawa.
Haidar mendekat ke arah Reymond dan mencium punggung tangan nya, tanpa di sangka Reymond membawa Haidar ke dalam pelukannya.
“Om akan tetap ingat janji kamu, untuk selalu jaga dan bahagiain Alina! Ingat, kalian cuma baru tunangan, jangan ngelakuin hal di luar batas. Om percaya sama kamu untuk itu semua, semoga kamu pun bisa jaga kepercayaan om!” seru Reymond.
Haidar mengangguk di dalam pelukan Reymond, “Pasti om, terima kasih banyak karena telah memberi restu ini untuk saya dan Alina. Terima kasih juga karena sudah menyiapkan acara yang bikin moment pertunangan ini sangatlah indah.” seru Haidar.
Reymond melepaskan pelukan itu, lalu menepuk bahu Haidar dua kali, “Terima kasih juga karena kamu berani untuk meminta Alina kepada saya dengan sopan. Sabar nunggu sampai lulus kuliah untuk melanjutkan ini semua, kan?” kekeh Reymond.
Haidar pun ikut terkekeh begitu pula dengan Alina, “Iya om sabar kok.” sahut Haidar.
__ADS_1
Reymond memandang para sahabat Alina, lalu mengucapkan jempolnya, “Akting kalian oke banget, kalo minat nanti om bantu untuk ikut audisi master chef!” gurau Reymond membuat semua yang berada di sana tertawa.
Memang ya papah Alina itu beda!
“Oh ya, besok kan Alina ulang tahun, gimana kalau kita ngerayain di villa? Biar om yang urus semua?” seru Roy membuat para sahabat Alina bersorak heboh.
“Setuju banget!” seru semuanya kompak.
Alina dan Haidar hanya tertawa kecil melihat tingkah para sahabatnya. Keduanya beruntung memiliki sahabat yang selalu support satu sama lain, meskipun suka ada selisih paham sedikit, itu wajar bukan di dalam pertemanan?
Haidar mengajak Alina sedikit menjauh dari keluarga serta sahabat nya. Sejak tadi keduanya tidak memiliki waktu berdua.
Haidar menggengam tangan Alina begitu erat, “Alina.” panggil Haidar pelan.
“Iya, tunangan ku?” jawab Alina dengan nada manja.
Haidar terkekeh mendengar suara Alina seperti itu, inilah yang Haidar kangen selama beberapa hari kemarin. Tidak melihat senyum, tingkah dan sentuhan Alina.
“Kamu bahagia gak?” pertanyaan bodoh macam apa yang di tanyakan Haidar saat ini.
Alina langsung mengangguk cepat, “Sangat bahagia Haidar. Aku gak nyangka akting kamu mulus banget waktu di cafe, nyebelin tahu gak!” gerutu Alina.
Haidar mengelus punggung Alina, karena tidak bisa mengelus rambut Alina. “Kamu tahu gak aku mati-matian untuk bersikap seperti itu. Rasanya tuh aku pengen banget meluk kamu waktu itu, tapi apa daya semua sudah di rencanakan!”
“Ehem, aku bahagia tapi aku kesal juga, gimana dong?”
“Maafin aku ya sayang, gak lagi-lagi deh begini serius. Aku gak kuat nahan rindu sama kamu. Bener kata dilan, rindu itu berat dan aku gak kuat.”
“Maksudnya biar aku aja gitu?” celetuk Alina.
Haidar menggeleng sambil terkekeh, “Bukan, maksud nya kita jangan ciptain rindu itu. Sebisa mungkin atau sesibuk mungkin kita harus tetap bertemu walau hanya 10 menit, dan harus tetap komunikasi. Oke?”
Alina mengangguk, “Setuju, tunangan ku!” seru Alina.
Haidar mengelus punggung Alina lagi dengan pelan, dan perlahan mendekatkan wajahnya pada wajah Alina. Saat ingin mengecup kening Alina tiba-tiba keduanya di kagetkan dengan kedatangan yang lainnya termasuk keluarga nya.
“Nah loh, udah di bilangin jangan macam-macam! Malah ngajak mojok terus mau ciuman! Batu nih anak!” seru Lio membuat yang lain menggeleng kepala.
__ADS_1
“Apa sih lo, jangan bikin huru hara yang enggak enggak deh, dasar netizen!” ketus Alina. Sebenarnya Alina malu karena ketahuan seperti itu.
Ah emang dasar, Elsa dan Lio tuh sama punya mulut lemas kaya netizen!