Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Party Birthday Bobi 2


__ADS_3

Suasana pesta Bobi sangat meriah.


Bobi melangkah maju menuju seseorang tersebut dengan senyuman di bibirnya.


Bobi menghentikan langkahnya saat tepat di depan seseorang. Semua orang yang disana sangat penasaran siapa sosok itu.


"Apakah kue pertamanya buat dia?" Ujar pembawa acaranya.


"Kue pertama buat Lo." Ujar Bobi.


Seseorang pun kaget.


"Buat gue?" Tanya seseorang itu memastikan.


Bobi mengangguk menatap, lalu terdengar tepuk tangan dari semua yang ada di sana. Semua orang penasaran siapa seseorang di balik topeng tersebut sampai mereka semua berteriak.


"Buka topengnya." Seru semua tamu.


"Kira-kira siapa ya?" Tanya Alina pada teman-temannya.


Semuanya hanya menggeleng tak tahu, tapi tidak dengan Haidar, dia pasti mengetahui siapa perempuan di balik topeng itu.


"Malah gue kira dia bakalan ngasih lo Lin, secara kan dari dulu dia ngejar ngejar lo." Sahut Elsa dan di anggukin oleh yang lain.


Tak lama suasana menjadi sunyi saat seseorang yang di beri kue tersebut membuka topengnya. Dengan dramatis semua tamu di sana langsung melongo.


"Anak baru."


"Vanesa?"


Itu lah respon para tamu yang melihat siapa perempuan di balik topeng itu, dan ternyata Vanesa lah yang di beri kue pertama dari Bobi. Semua tak percaya, karena semua pun tahu kalau Bobi itu suka dengan Alina mereka kira itu Alina.


"Vanesa?" Ucap Alina saat melihat Vanesa di sana.


"Bobi salah orang kali ya? Memang sebelumnya mereka saling kenal?" Ujar Elsa heran.


Vanesa pun bingung mengapa Bobi memberikan kue pertamanya, padahal mereka baru bertemu sekali di depan tata usaha waktu itu. Apa Bobi salah sasaran? Mungkin Bobi kira ia adalah Alina?


"Lo gak salah ngasih kue nya ke gue?" Tanya Vanesa.


Bobi menggeleng, "Enggak kok, gue memang niat ngasih ke lo."


"Kenapa? Kita gak kenal lo sebelumnya?"


Bobi mengangguk, "Maka dari itu, kue itu tanda mulai bertema nya kita hari ini Vanesa." Ujar Bobi lembut.


Vanesa tersenyum begitu pula dengan Bobi. Tepuk tangan kembali terdengar di barengi dengan teriakan heboh dari teman-teman nya.


"Tembak aja Bob langsung, gak usah temenan." Ujar salah satu temannya bobi.


Bobi yang di teriakin hanya mengangguk kepalanya sedangkan Vanesa langsung memakai kembali topengnya.


"Guys, kita lanjutin acaranya ya." Teriak pembawa acara.


Semua kembali teralih ke arah pembawa acara, menunggu acara selanjutnya dan ternyata sekarang waktunya berdansa. Semua yang ada di sana bergegas mencari pasangan dansa.


Nanda hendak menarik Alina untuk di ajak berdansa tetapi lebih dulu di tarik oleh Haidar. Begitu juga Edo menarik Meilla dan Lio menarik Elsa untuk berdansa bersamanya.

__ADS_1


Nanda hanya bisa diam melihat teman-temannya berdansa, "Nasib..nasib, padahal gue udah ganteng gini tapi gak ada yang ngajakin gue dansa." Gerutu Nanda.


Tiba-tiba ada uluran tangan tepat di depan wajahnya membuat Nanda menoleh ke arahnya.


"Mau dansa sama gue?" Ujar gadis yang berada di depan Nanda.


Nanda tidak bisa mengetahui di balik topeng tersebut, tidak berpikir panjang Nanda menyambut tangan tersebut dan ikut berdansa dengan yang lainnya. Biarlah meskipun tidak mengetahui dengan siapa ia berdansa, setidaknya ia bisa berdansa.


Sedangkan di sisi lain, Alina tengah berdansa dengan Haidar. Hal itu membuat jantung Alina rasanya ingin copot saat ini juga. Gugup, takut dan senang tercampur jadi satu saat ini. Tanpa Alina sadari, hal itu pun di rasakan oleh Haidar.


Haidar terus bertanya-tanya pada dirinya, apakah ia sudah bisa menerima Alina di hatinya dengan ikhlas? Apakah ini tandanya dia sudah mulai menyukai atau bahkan menyayangi Alina? Karena semua yang ia rasakan sama seperti dulu saat pertama kali bersama Diana.


Haidar menggeleng, ia mengingat perkataan Alina. Sebelum ia benar-benar mengikhlaskan Diana jangan harap Alina kau menjadi pengganti Diana.


"Alina." Panggil Haidar pelan dan terdengar sensual.


Alina langsung menoleh ke atas untuk melihat wajah tampan haidar yang di tutupi oleh topeng berwarna hitam.


"Iya Haidar?" Jawab Alina dengan lembut.


"Lo cantik." Puji Haidar membuat kecepatan detak jantung Haidar semakin meningkat.


"Lo..lo juga ganteng." Puji balik Alina dengan gugup.


Haidar tersenyum kecil, lalu menaruh keningnya di kening Alina membuat wajah mereka sangat dekat.


"Kasih gue waktu." Ujar Haidar.


Alina tidak mengerti omongan Haidar ia pun hanya diam tidak menjawab, menunggu Haidar melanjutkan perkataannya.


"Kasih gue waktu buat ngeyakinin lo lagi."


"Gue pastiin waktu itu akan tiba sebelum kita lulus Lin." Ujar Haidar yakin.


Alina lagi-lagi hanya mengangguk, ia tidak mau berharap terlalu tinggi tetapi ia sangat berharap kalau waktu itu akan tiba.


"Ternyata lo jago dansa juga." Ujar Alina memuji Haidar.


Haidar terkekeh pelan dan itu lagi-lagi membuat Alina terkesima.


"Haidar."


Haidar menundukkan kepalanya, "Iya Alina?"


"Vanesa itu sebenarnya siapa?"


Haidar yang mendengar pertanyaan dari Alina itu langsung menoleh ke atas seakan mencari jawaban yang pas.


"Setelah ini, gue kasih tau ya." Alina hanya mengangguk.


Keduanya kembali berdansa. Di lihat pula hati itu di lakukan dari Meilla bersama dengan Edo dan Elsa bersama Lio. Alina tersenyum melihat pandangan itu. Tidak menyangka itulah yang ada di benaknya.


"illa," panggil Edo.


Meilla menaikkan alisnya seakan bertanya kenapa, Meilla bingung apa yang ia rasakan saat ini. Berdansa bersama Edo adalah impiannya dulu waktu perpisahan sekolah menengah pertama.


"Lo masih nyimpen perasaan yang dulu gak?" Tanya Edo pelan.

__ADS_1


Meilla yang mendengar itu hanya diam tidak menjawab, iapun bingung harus menjawab apa, ia tidak tau apakah perasaan itu masih ada atau pun sudah hilang.


"Illa, kalau sekarang gue yang nyimpen perasaan itu gimana?"


Meilla sama sekali tidak bereaksi, ia terlalu kaget dengan ujaran Edo tadi. Sejak kapan Edo menyimpan perasaan itu pikirannya.


"Gue siap kok memperjuangkan lo seperti Haidar yang akan memperjuangkan Alina."


Meilla menggeleng, "buat apa Do?"


"Gue telat menyadari perasaan itu dulu La, makanya sekarang gue mau tebus kesalahan itu."


Meilla lagi-lagi menggeleng, "gue rasa gak perlu, semua sudah lewat Di."


Edo menggeleng, "biarin gue berjuang ya la, untuk hasilnya nanti lo yang nentuin dan gue akan terima apapun keputusan Lo nantinya."


Meilla hanya bisa diam mendengar penuturan dari Edo yang menurutnya terlalu membebankan.


Sedangkan di sisi lain, terlihat Elsa dan Lio tengah berdansa, tidak seperti kedua pasangan tadi yang terlihat romantis dan calm. Pasangan yang satu ini terlihat berbeda sambil terkekeh terus menerus tidak berhenti entah apa yang membuatnya tertawa begitu.


"Lo yang gak bisa dansa atau gue yang gak bisa?" Gerutu Elsa pada Lio meskipun di selingi tawa.


"Gue yang gak bisa dan lo juga gak bisa jadi kaya badut kita." Ujar Lio terkekeh.


"Lo liat deh yang lain gerakan nya anggun guru, lah kita kaya cacing ke Sireng air panas." Ujar Elsa.


"Biarin deh, yang penting gue bisa dansa sama lo."


Elsa yang mendengar ujaran itu langsung menatap Lio selama beberapa detik lalu akhirnya memutuskan tatapan itu.


"Sa, lo lagi gak di deket sama siapa pun kan?" Tanya Lio memastikan.


Elsa menggeleng


"Kalau gue ngajuin diri buat deketin lo, boleh?"


Elsa menggeleng lagi.


"Kenapa?"


"Gue gak mau kehidupan gue di sekolah kacau, kalau mantan-mantan lo tau, gue Deket sama lo. Lo kan tau sendiri gimana mereka!" Gerutu Elsa, jujur tentang mengapa ia malas berdekatan dengan lio apalagi waktu di sekolah.


Lio yang kaget dengan alasan Elsa menolaknya hanya terkekeh pelan, " yaudah kalau gitu kita backstreet aja, nanti kalau lo udah siap baru kita publikasikan ini."


"Termasuk sama sahabat-sahabat kita?" Lio mengangguk.


"Tapi tunggu, lo suka juga sama gue, Sa?" Tanya Lio.


Elsa mengangguk pelan lalu terkekeh, entah apa yang lucu. Mungkin karena perasaanya yang lucu, terlihat seperti musuh selama ini eh malah kesandung cinta seorang Lio juga.


Lio tuh tipe cowok humoris, hal itu yang membuat Elsa nyaman. Wajahnya pun tak kalah tampan dengan sahabat dia yang lain.


"Kalau gitu, lo mau kan jadi pacar gue mulai detik ini?" Ujar Lio pelan.


Elsa mengangguk, "iya mau." Sahut Elsa membuat Lio bersorak kencang dan membuat semua orang yang melihat langsung menoleh ke arahnya. Dengan cepat Elsa menyadarkan Lio kalau mereka sedang jadi perhatian.


"Lo mah bilangannya backstreet tapi lo pake teriak-teriak segala!" Gerutu Elsa kesal.

__ADS_1


"Hehe, iya maaf sayang." Ujar Lio pelan dan membuat Elsa senyum-senyum tak jelas.


__ADS_2