Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Masalah lagi


__ADS_3

Perdebatan demi perdebatan terus terjadi, Haidar dan Roy tidak setuju dengan usul dari Indira. Kedua laki-laki itu tahu, kalau Indira pasti sangat sedih mendengar berita yang di bawa Giselle saat ini.


Indira melakukan itu karena kasihan dengan anak yang sedang di kandung oleh Giselle. Indira pun tidak tahu pasti apakah itu anak Roy atau bukan, tetapi hati Indira tergerak karena ia jadi ingat dengan anak gadisnya yang telah meninggal lebih dulu yaitu Olivia.


Indira tidak ingin anak di dalam perut Giselle menjadi korban keegoisan orang tuanya. Maka dari itu Indira kekeuh untuk memberikan Giselle uang, sebagai rasa tanggung jawab Roy untuk anak itu.


Hadar dan Roy akhirnya setuju karena mereka hanya tinggal memberikan uang untuk persalinan anak itu, tanpa Roy ikut lagu tinggal bersama Giselle.


Indira memberikan sebuah cek, uang sebesar 100 juta rupiah, untuk anak yang sedang di kandung Giselle saat ini.


“Ini cek untuk kamu dan anak kamu sebagai tanda tanggung jawab mas Roy terhadap anak itu. Entah mengapa saya pun tidak percaya kalau itu anak dari mas Roy, tapi karena saya seorang ibu, saya tidak mau melihat ank itu menjadi korban karena keegoisan orang tuanya!” seru Indira di depan wajah Giselle.


Bukannya mengambil sebuah cek itu, Giselle malah menepis tangan Indira dan membuat cek tersebut jatuh begitu saja ke lantai.


“Saya tidak mau hanya uang yang mas Roy berikan, saya mau mas Roy tanggung jawab semuanya. Saya tidak mau melihat anak saya lahir tanpa ayah, saya mau mas Roy kembali tinggal bersama saya!” teriak Giselle.


Roy menggeleng, “Kita gak pernah ada kata resmi apapun Giselle! Saya hanya khilaf kemarin! Saya sudah berdosa kepada Tuhan, istri dan juga anak saya.” seru Roy mengingat kan hal itu kepada Giselle.


Memang benar apa yang Roy bilang, mereka berdua hanya sebatas pacaran, tidak ada pernikahan di antara mereka. Roy merasa sangat bersalah karena ia baru sadar kalau itu dosa besar.


Giselle menangis keras, merasa hancur sangat hancur bahkan karena mendengar Roy mengatakan hal itu. Dulu Giselle pernah di ajak nikah siri oleh Roy, namun di tolak karena Giselle memang pemain.


Lantas anak siapa kah itu kalau Giselle memang pemain selama ini?


“Vanesa tolong bawa nyokap lo pergi dari sini, sebelum kesabaran gue habis!” ancam Haidar membuat Vanesa takut.


Vanesa mengambil cek yang jatuh tadi lalu menarik tangan Giselle keluar dari rumah Haidar. Sebagai anak, Vanesa tidak mau melihat ibunya terluka dan malu.


Setelah Kepergian mereka, Roy langsung memeluk Indira dengan erat. Terdengar isakan tangis dari istrinya itu. Roy mengelus punggung Indira agar tenang.


“Jangan di pikirin ya, aku yakin itu bukan anak aku!” seru Roy.

__ADS_1


Indira mengangguk, “Aku juga yakin tentang itu mas!” jawab Indira.


Haidar menghampiri Indira dan Roy, “Mamah tenang aja, Haidar akan cari tahu tentang ini. Tapi maaf saat ini Haidar harus pergi sama Alina, karena sudah di tunggu teman-teman!” pamit Haidar.


Kedua orang tua itu mengangguk, “Kalian hati-hati ya, jangan macam-macam sebelum waktunya tiba. Mamah dan papah percaya in Inis enya sama kalian!” pesan Roy membuat kedua ank itu mengangguk.


Alina berpamitan dengan Indira dan memeluk calon mertuanya itu dengan erat, “Mamah jangan sedih ya, Alina sama Haidar akan cari tahu kebenaran nya nanti. Maaf kalau sekarang Alina harus ninggalin mamah dulu, besok Alina ke sini lagi ya?” seru Alina


Indira mengangguk lalu mengecup kedua pipi kekasih anaknya itu, “Iyq sayang gak papa, makasih ya karena sudah datang ke sini. Kamu hati-hati di jalan ya sayang!” jawab Indira dan di anggukin oleh Alina.


Setelah berpamitan dengan kedua orang tua Haidar, keduanya langsung masuk ke mobil dan bergegas ke cafe biasa karena sejak tadi Lio terus menghubungi nya.


“Sevbenarnya ada apa sih sama Nanda?” tanya Alina si tengah perjalanan.


Haidar mengangkat bahunya, “Aku juga belum di kasih tahu pasti apa yang terjadi sama Nanda!”


Keduanya diam memikirkan apa yang sedang di pikiran masing-masing. Masalah Nanda saat ini, itulah yang sedang di pikiran Alina dan Haidar.


Setelah menempuh jarak menuju cafe, akhirnya mereka sampai dan langsung masuk ke dalam. Mereka melihat ada Meilla, Elsa, Edo dan Lio, lalu di mana Nanda?


“Akhirbya lo sampai juga Dar!” seru Edo membuat Haidar menaikan alisnya.


Haidar menarik kursi untuk Alina duduk, setelah itu baru menarik untuk dirinya, “Ada masalah apa sama Nanda?” to the point Haidar.


Lio menghela napasnya sebelum menjelaskan apa yang sedang terjadi, “Nanda di jebak Dar!” serunya.


Alina dan Haidar mengerutkan dahinya bingung, “Di jebak gimana? Nanda nya mana sekarang?”


“Nanda di kantor polisi, dia di jebak sama seseorang di club' kemarin malam!” seru Edo membuat Alina dan Haidar kaget tetapi tidak mengerti apa masalah nya.


“Di jebak gimana, maksudnya?” tanya Alina lagi.

__ADS_1


Lio berdehem lalu mengecilkan suaranya, yang bisa mendengar hanya teman-teman nya saja, “Nanda di tangkap polisi karena kedapatan membawa nark*ba. Dari pengakuan Nanda sih, dia di jebak Dar!” seru Lio membuat Haidar tiba-tiba menggebrak meja.


Semua yang ada di sana kaget dengan respon Haidar. Semuanya pun tidak menyangka dengan berita ini. Lio yang lebih dulu di kabarin oleh temannya yang waktu itu sedang ada di club' juga.


“Terus?” hanya itu yang keluar dari mulut Haidar.


Lio menggeleng, “Gue belum tahu lagi kelanjutannya, karena belum sempat ke kantor polisi untuk ketemu langsung sama Nanda.”


Elsa mengangguk, “Tadi kita udah coba ke sana tapi di suruh pulang karena udah bukan jam besuk!” timpal Elsa.


Haidar menggeleng tidak percaya, “Nanda bukan anak yang seperti itu, dan kalian tahu itu. Siapa yang kira-kira ngejebak dia sampai kaya gini?” seru Haidar.


Semua menggeleng dan mengangkat bahu karena tidak tahu harus menyalakan siapa. Yang jelas, setelah sahabatnya memiliki pasangan masing-masing hanya Nanda sendiri yang masih suka ke club.


Lio tidak tahu, siapa saja teman baru Nanda di club'. Yang Lio tahu, Nanda berteman dengan kekasihnya si Gadis itu yang di club.


“Gadis!” tiba-tiba Alina menggebrak meja sambil menyebutkan nama kekasih Nanda itu.


Semua mata tertuju pada Alina yang seakan bertanya apa maksud nya, “Gadis, setahu gue dari dulu dia suka pakai barang itu. Sempat beberapa kali dia di tangkap juga, tapi selalu berhasil keluar!” seru Alina memberitahu kenapa ia menyebutkan nama Gadis.


Semua kaget dengan fakta itu, “Lo yakin Lin? Kita gak bisa langsung tuduh begitu saja tanpa bukti!” seru Meilla dan di anggukin ol h yang lain termasuk Haidar.


Alina menghela napasnya, “akiya harus tanya soal ini sama Nanda nya langsung. Gimana kronologi nya sampai dia di tangkap polisi kaya gini!”


Haidar terdiam sebentar, “gini besok pagi kita ke kantor polisi buat nanyain tentang ini. Kalau memang terbukti Nanda tidak bersalah, gue akan minta tolong sama pengacara buat bebasin Nanda. Tapi kalau dari hasil test, Nanda bener memakai barang itu selama ini, kita gak bisa berbuat apa-apa.”


“Gue yakin Nanda gak bakal pakai barang haram itu Dar!” seru Edo menyangkal ucapan akhir Haidar.


“Iya kita belum tahu hasil pemeriksaan dari polisi, maka dari itu besok kita coba ke sana dulu. Sebisa mungkin gue akan bantu Nanda biar keluar dari penjara!” seru Haidar membuat yang lain mengangguk.


“Masalah terus, masalh lagi, masalah mulu!” batin Haidar.

__ADS_1


Tunggu bab selanjutnya ya akan seperti apa?


__ADS_2