
Tepat hari ini adalah tepat di mana siswa dan siswi kelas 12 mengadakan malam perpisahan. Malam yang mungkin akan bersejarah nantinya untuk mereka semua.
Acara perpisahan ini di adakan di sebuah hotel bintang 5 yang ada di kawasan Bandung, siswa dan siswi pergi bersama menggunakan bis yang telah di sewa oleh sekolah.
Sejak pagi tadi, mereka sudah berangkat menuju hotel tersebut hingga akhirnya mereka sampai di jam 3 sore karena keadaan lalu lintas yang lumayan macet. Semua langsung bergegas masuk ke dalam kamar hotel masing-masing yang sudah di bagi menjadi beberapa kelompok.
Mereka cuma punya waktu 4 jam untuk bersiap-siap sebelum acara perpisahan nanti di mulai. Alina, Meilla dan Elsa satu kamar hotel, membuat ketiganya bahagia.
“Lin, nyokap bokap lo jadi ke Indonesia?” tanya Elsa.
Tadinya, orang tua Alina ingin pulang bersama ke Indonesia tetapi ternyata ada pekerjaan yang papah nya tidak bisa tinggal waktu itu, makanya mereka tidak jadi pulang bersama dan menjadwalkan ulang nanti.
“Belum tahu sih, bokap gue masih ada urusan katanya.” jawab Alina.
“Lin, lo masih marah sama Haidar?” tanya Alina sambil tangannya mengeluarkan baju yang nanti akan di pakainya.
Alina menggeleng, “Gue gak pernah marah sama dia La, gue cuma butuh nenangin hati gue doang sih sebenarnya.” jelas Alina.
Meilla mengangguk, “Sampai kapan Lin?” tanya Meilla lagi.
Alina mengangkat bahunya, “Belum tahu La, gue ngerasa lagi ada di titik terendah aja saat ini, makanya gue butuh sendiri dulu. Jangan paksa gue ya?”
Meilla mengangguk lalu melangkah ke arah kamar mandi, “Gue mandi duluan ya?” izin Meilla lalu masuk ke dalam.
“Jangan pake lama La, Lo kan kalau mandi bisa sampai sejam!” teriak Elsa dari luar kamar mandi dan Alina hanya tertawa.
“Lo sama Lio gimana, Sa? Aman? Tanya Alina sambil tangannya merapikan barangnya kembali ke dalam koper.
Elsa mengangguk, “Aman, gue gue ngerasa nyaman aja Lin kalo Deket sama dia.”
Alina tersenyum, “Gak nyangka ya akhirnya lo sama Lio, dulu aja Lo najis-najisan eh sekarang ke makan juga rayuan tuh cowok gila.” cibir Alina dan di lempari bantal oleh Elsa.
“Lo jangan gitu kenapa sih, malu tau gue!” gerutu Elsa sambil menutup wajahnya.
Tak lama pintu kamar mandi terbuka, Meilla sudah selesai dengan ritual mandinya, Sekarang giliran Elsa mati Alina terakhir.
“La, gue bagi sabun cuci muka lo ya, gue lupa gak bawa!” teriak Elsa dari dalam kamar mandi.
“Lo mah emang kebiasaan Elsa!” gerutu meilla kesal.
Elsa dan Meilla memang memiliki sabun cuci muka yang sama. Waktu mereka berlibur ke Amerika pun Elsa mengatakan hal yang sama bahkan memakainya lagi sampai pulang ke Indonesia. Padahal Elsa bisa beli di sana, tetapi selalu saja bilangnya 'ah nanggung, punya gue masih banyak di rumah.' itu jawaban Elsa. Menyebalkan bukan?
Tak lama Elsa keluar dari kamar mandi dan Sekarang giliran Alina yang memakai kamar mandi itu. Alina memang selalu yang terakhir karena dandan nya cepat, ia yang terakhir mandi tetapi ia duluan yang selalu selesai pertama nantinya.
“La, kayaknya Alina bosen gitu ya sama Haidar?” ujar Elsa pelan.
Meilla mengangguk, “bener yang Alina hilang tadi, ada di titik terendah. Dia bingung mau maju atau mundur Sa kalau gue liat.” sahut Meilla yang sedang memakai skincare.
“Terus rencana kita gimana nanti?” Meilla mengangkat bahunya.
“Gimana pun hasilnya atau jawaban dari Alina nanti, kita gak boleh paksa dia Sa. Biar bagaimana pun, sesuatu hal yang di paksakan gak akan baik.” seru Meilla dan di anggukin oleh Elsa.
“Tapi gue berharap, Alina mau menerima Haidar lagi, la.” seru Elsa dan di itu juga harapan Meilla.
Pintu kamar mandi terbuka dan Alina berjalan ke arah ke dua sahabatnya yang sedang sibuk dengan alat make-up masing-masing.
“Gak nyangka ya, kita bakalan pisah setelah ini. Padahal gue nyaman banget tau temenan sama kalian!” seru Alina tiba-tiba yang sedang menyalakan hairdryer untuk mengeringkan rambutnya.
__ADS_1
Meilla dan Elsa menoleh ke arah Alina, “Kita gak bakalan pisah, Lin! Kita bisa satu kampus lagi dan kalau bisa kita ambil jurusan yang sama.” seru Elsa.
Meilla mengangguk, “Bener juga kata Elsa!”
Alina menghela napasnya, “Gue lagi bingung mau kuliah dimana, ortu gue nyuruh di Amerika aja.”
Elsa dan Meilla kaget dengan fakta itu, “Serius Lin? Terus lo terima?” tanya Meilla.
Alina mengangkat bahunya, “Belum tau, makanya gue lagi bingung.”
“Kalau buat kuliah di Amerika, gue gak bisa deh kayaknya, nyokap gue gak ngizinin gue jauh-jauh soalnya.” seru Elsa.
Terdengar helaan napas kecewa dari mereka bertiga, “Udah gak usah sedih, kuliah di manapun gak masalah, yang penting kita bikin jadwal ngumpul kalau ada waktu luang.” seru Meilla.
Elsa menggeleng, “Susah La, kuliah itu sibuk banget. Apalagi kalau Alina beneran pindah ke Amrik, waktunya saja udah beda! Kita pasti gak bisa kumpul kaya gini lagi.” ujar Elsa.
“Gak nyangka ya kita sudah sampai di titik ini, gue sedih sih ninggalin kalian berdua nantinya tapi gimana lagi kita kan punya cita-cita dan tujuan hidup berbeda.” seru Alina.
“Lo tetep di Indonesia ya Lin? Please.” mohon Elsa.
Alina menggenggam tangan Meilla dan elsa, “Guebbelum nentuin apa-apa Sa, gimana pun nanti kedepannya kita tetap sahabatan kok!” seru Alina meyakinkan kedua sahabatnya.
Ketiganya berpelukan seakan malam ini adalah malam terakhir mereka bertemu, padahal belum tentu, karena masih ada waktu beberapa bulan lagi untuk masuk ke universitas.
“Ya udah yuk siap-siap.” ajak Meilla dan di anggukin keduanya.
Mereka langsung merias dirinya masing-masing, Meilla yang terlihat tomboy jago make-up; loh. Malam ini dress code nya adalah kebaya. Mereka bertiga memiliki model kebaya yang sama dan hanya berbeda warna.
Alina memakai warna gold, Meilla memakai warna hitam sedangkan Elsa memakai warna merah.
Setelah hampir 30 menit akhirnya mereka selesai berdandan untuk malam penting ini. Sekarang sudah pukul setengah 7 malam dan mereka langsung ballroom kamar menuju ballroom hotel yang dimana tempat acara perpisahan itu di adakan.
“Astaga Alina, Lo cantik banget!” puji Bobi saat melihat Alina masuk ke dalam dengan Meilla dan Elsa.
“Gye sama Meilla gak cantik maksud lo?” gerutu Elsa karena Elsa seakan tidak menganggapnya di sana.
Bobi menggaruk kepalanya yang tak gatal, tak bisa di pungkiri Bobi juga sangat tampan malam ini menggunakan jas berwarna cokelat dan celana senada, seperti hampir kebanyakan cowok memakai jas malam ini.
“Cantik juga kok, tapi kan lo berdua udah ada pawangnya, kalau gue puji juga gue takut mereka marah!” seru Bobi menyiapkan isi hatinya.
Alina terkekeh mendengar kejujuran Bobi, “Lo tampan Bob, btw Vanesa mana? Bukanya lo lagi gencar deketin dia?” tanya Alina dan di anggukin oleh Melia dan Elsa.
“Masih di kamarnya belum rapi katanya, Lo gak cemburu Lin kalau gue sama Vanesa?” ujar Bobi.
Alina memukul bahu Bobi. “Asal Lo bahagia, gue juga bahagia Bob.” ujarnya lalu pergi dari sana menuju meja yang kosong.
Meilla dan Elsa terkekeh melihat ekspresi Bobi, lalu mengikuti Alina duduk di meja yang kosong tersebut sambil menunggu acara di mulai.
Mereka pun sama dengan yang lain, berfoto dengan siapapun, tetapi bedanya mereka yang hampir bukan menghampiri. Tak lama suasana menjadi sangat bising, karena ternyata banyak cewek yang ingin berfoto dengan Haidar malam ini.
Alina yang melihat Haidar bersama dengan ketiga sahabatnya langsung terpana. Tampan, Satu kata itu loh yang pas saat pertama melihat Haidar masuk ke dalam ballroom.
“Gila, kenapa Haidar yang lebih tampan dari pada Lio sih!” gerutu Elsa saat ikut terpesona melihat Haidar.
Melia menoyor kepala Elsa pelan, “sejak kapan emang Lio ganteng?” cibir Meilla.
“Eh Lio ganteng tau, cuma ketutup aja sama tingkah konyolnya.” Alina membela Elsa.
__ADS_1
“Nah, tapi gebetan lo lebih menggoda anjir Lin!” Elsa masih tetap terkagum dengan Haidar.
Meilla hanya bisa menggeleng melihat respon Elsa yang menurutnya terlalu berlebihan, “Gue bilangin Lio lo!” adu Meilla dan membuat Elsa menatapnya tajam.
“Mereka ke sini anjir, gue gak tahan lihat Haidar, mau pingsan!” seru Elsa lagi membuat Alina terkekeh.
Keempat cowok tampan itu mendatangi meja yang sudah terisi ketiga cewek cantik. Mata Elsa masih terus menatap Haidar, begitu pula dengan mata Alina yang tak lepas dari Haidar.
“Eh, cowok Lo tuh yang ini bukan Haidar!” adu Meilla membuat Elsa memukul lengan Meilla keras.
“Sialan Lo!” gerutu Elsa pelan dan di hadiahi kekehan dari Meilla.
“Oh jadi kamu terpesona sama Haidar, bukan sama aku?” ujar Lio membuat Elsa mengangguk polos.
Angga tertawa paling keras lalu di ikutin oleh Edo, “Anjir sakit gue mah jadi lo Yo!” kompor Nanda membuat Edo semakin terpikat begitu pula dengan Meilla.
Alina dan Haidar hanya melihat tingkah para sahabatnya dengan senyum kecil. Moment indah yang tercipta seperti ini yang nantinya bakal di kangenin.
“Kok kamu jahat banget sih Sa!” Rajuk Lio.
Elsa langsung melangkah menuju Lio, “Gak gitu, cuma ya gimana ya.” ujar Elsa sulit menjelaskan pada Lio.
Perdebatan keduanya kembali terjadi, membuat Meilla, Edo dan Nanda terus tertawa melihat drama Elsa dan Lio. Sedangkan Haidar kembali fokus pada alina, begitu pula dengan Alina.
“Lo tampan.” puji Alina lebih dulu membuat Haidar mengembangkan senyumnya.
“Dari dulu ” sahut Haidar membuat Alina terkekeh pelan lalu mengangguk.
“Usah mulai percaya diri tali?” cibir Alina.
Haidar mengangguk lalu tersenyum lagi pada Alina. Hati Alina menghangat melihat Haidar yang sepertinya sudah bisa membuka diri. Seperti tadi, dia tersenyum saat berfoto dengan teman-teman yang lain, biasanya kan hanya menampilkan wajah datarnya.
Tak lama terdengar suara dari atas panggung, mengatakan bahwa acara sebentar lagi akan di mulai dan menyuruh siapapun yang masih lalu lalang segera duduk di kursi yang di sediakan.
Acara berjalan dengan lancar, sambutan dari kepala sekolah, guru dan juga ketua panitia sudah berjalan, hingga pembagian piagam untuk seluruh murid SMA Garuda.
Setelah semua selesai, waktunya acara hiburan yang akan di persembahkan dari siapa saja yang sudah mendaftar waktu itu. Termasuk Alina, salah satu yang ikut mendaftar di sana. Alina akan bernyanyi, diiringi oleh Alfin. Tidak ada yang tahu tentang ini, dan memang Alina sengaja merahasiakan ini.
Setelah beberapa penampilan dari siswa sisi yang lain, sekarang giliran Alina yang naik ke atas panggung bersama dengan Alfin.
“Guys, ada yang bisa tebak gak setelah ini siapa yang akan nyanyi?” seru Erni sebagai pembawa acara malam ini.
“Gue kasih clue ya, dia cewek, cantik, baik dan selalu nebarin senyumannya tiap hari. Dia juga pinter dan juga populer di sekolah kita. Tapi ada yang bilang dia gak punya malu karena mengejar cowok yang selalu nolak dia. Ada yang tahu siapa dia?” seru Erni membuat siapa saja langsung menoleh ke arah Alina.
“Lo mau nyanyi Lin?” tanya Lio.
“Maksud lo, gue yang gak punya malu gitu? Kok lo bisa langsung nebak gue?” ketus Alina berpura-pura.
“Eh bukan gitu, ciri yang lainnya pun nunjukin itu lo, bukan dari gak punya malunya, ih lo kok jadi sensitif gini!” seru Lio.
“Positif kali.” sahut Nanda dan mendapat tepukan dari Edo.
“Gak perlu lama-lama, kita sambut ini dia, Alina feat Alfin!” seru Erni membuat semuanya terbelalak kaget.
Alina bangkit dari duduknya lalu menoel dagu Lio, “Jawaban Lo bener bestie!” ujar Alina lalu tersenyum pada Lio.
Haidar ikut bangkit membuat Alina bingung, “Ngapain ikut berdiri?” tanya Alina.
__ADS_1
“Kenapa harus sama Alfin? Gue juga bisa main gitar!” cemburu Haidar membuat Alina gemas.
Alina menepuk bahunya pelan, “Duduk, dan nikmati aja persembahan dari gue, oke?” seru Alina lalu melangkah menuju panggung meninggalkan Haidar yang kembali duduk di bangkunya.