
Setelah di rasa yakin kalau itu seseorang yang dikenalnya, membuat Haidar berniat untuk memberitahu Alina.
"Sayang, coba kamu lihat ke arah jarum jam 9 deh!" Seru Haidar membuat Alina mengikuti instruksi dari kekasihnya itu.
Alina pun melihat seseorang tersebut dengan mata menyipitkan, sama seperti Haidar tadi ingin memastikan lebih dulu apa kah benar. Ternyata memang benar, itu Gadis yang sedang berdiri di luar cafe. Alina yang memang berniat ingin bertemu Gadis langsung, ia pun bangkit dan berjalan keluar cafe tanpa meminta izin lebih dulu pada Haidar.
Haidar yang melihat Alina keluar cafe, langsung membayar tagihannya dan membawa tas Alina yang di tinggalkan begitu saja di dalam.
Sedangkan Alina langsung menghampiri Gadis yang tengah berdiri sambil memainkan ponselnya seperti sedang menunggu seseorang.
"Gadis?" Sapa Alina masih terlihat sopan.
Gadis yang merasa di namanya di panggil langsung menoleh ke sumber suara, ia pun kaget saat melihat siapa orang tersebut. Alina, orang yang selama ini Gadis usahakan untuk tidak bertemu seperti ini. Entah, Gadis merasa tak nyaman berada di dekat Alina.
"Lo lagi ngapain di sini?" Tanya Alina seakan akrab dengan Gadis.
Tetapi entah mengapa Gadis merasa terpojok dengan pertanyaan Alina itu, padahal nada ucapan Alina tidak sama sekali memojokkan loh.
Gadis hanya diam sambil kembali fokus pada ponsel yang di genggamnya itu. Alina tak suka didiemin seperti ini, jadilah Alina mencoba menyapa Gadis dengan menepuk bahunya dengan pelan.
"Gadis, gue bicara sama lo!" Seru Alina yang sekarang mengubah nada suara nya menjadi sedikit ketus.
Gadis menoleh lagi dan ternyata di belakang Alina ada Haidar. Bukannya menyahut panggilan Alina, ia malah tersenyum ke arah Haidar, membuat Alina mengikuti arah pandang Gadis.
Alina menjadi semakin sebal dengan cewek di depannya ini, terlalu sok cantik dan munafik mungkin menurut Ali a. Apa Gadis lupa, kalau Haidar itu adalah calon suaminya? Padahal Gadis sudah mendengar sendiri fakta itu.
"Weh, gue yang ngomong sama lo, ngapain lo ngelihatin cowok gue?" Kesal Alina pada akhirnya.
Gadis yang sekarang merasa di teriakin oleh Alina, tidak suka makanya ia menatap Alina dengan tajam.
"Lo apaan sih Lin?" Kesal Gadis.
"Yah lo yang apaan?" Balas Alina.
Gadis menatap Haidar lagu yang ada di samping Alina saat ini.
"Gue punya mata, dan hak gue mau lihat apapun yang ada di depan mata gue! Lo gak berhak ngelarang itu!"
Alina terkekeh, "Emang dasar ya lo dari dulu gak pernah berubah. Minimal tobat ngapa sih Dia, umur semakin tua, umur gak ada yang tahu loh!" Seru Alina dengan nada mengejek.
__ADS_1
"Lo kenapa sih dari dulu juga selalu ikut campur sama urusan gue? Ini hidup gue Lin!" Seru Gadis dengan nada tak suka.
Alina menarik napasnya, " Gue gak akan ganggu hidup lo lagi, setelah lo pergi jauh-jauh dari hidup kakak gue dan sahabat gue!"
"Lin, udah gue bilang tadi, ini hidup gue, lo gak berhak buat ngatur semuanya, lagi pula kakak lo sama sahabat lo itu cinta mati sama gue!"
Alina menggeleng, "Lo bener-bener cewek licik ya! Gue gak suci kalau lo sampai menikah sama kakak gue!"
Gadis malah tertawa mendengar ucapan Alina tadi, "Siapa juga yang mau menikah sama Adero, lo tahu gak kakak lo itu cupu anjir baru sebentar udah selesai. Gue pacaran sama dia, karena dia royal!"
Alina semakin tersulut emosi dan Haidar pun yang melihat perubahan dari Alina langsung menggenggam tangan kekasihnya itu dengan erat dan menatap Gadis dengan tajam, berbeda dengan Gadis yang menatap Haidar dengan senyuman centilnya.
"Pergi menjauh dari Adero dan Angga, atau gue bikin hidup lo menderita setelah ini!" Ancam Haidar dengan tajam.
Bukannya takut mendengar ancaman itu, Gadis malah mengedipkan sebelah matanya pada Haidar, "Boleh aja, asal lo jadi pacar gue setelah gue ngelepasin mereka?" Serunya dengan nada manja.
Emosi Alina sudah berada di kepala, rasanya ingin sekali menarik rambut cewek di depannya itu sampai terlepas kepalanya semua. Nyebelin!
"Sialan lo, dasar cewek murahan!" Teriak Alina sekencang yang ia bis sampai orang yang di sekitar mereka menoleh ke arahnya.
Haidar yang menyadari itu langsung menarik tangan kekasihnya untuk segera pergi dari sana. Percuma bicara dengan cewek keras kepala seperti Gadis, akan sia-sia saja.
Gadis yang melihat Alina dan Haidar belum masuk mobil, kembali membuat mereka emosi dengan melambaikan tangannya sambil tersenyum penuh kemenangan lalu memeluk cowok yang ada di depan nya itu.
Alina ingin melangkah kembali ke arah Gadis namun di tahan oleh Haidar, "Mau ngapain lagi? Biarin gak akan di dengar juga sama dia!" Seru Haidar.
Alina kesal lalu membuka pintu mobil dengan kasar, begitu pun saat menutupinya sampai Haidar terkejut mendengarnya.
"Dasar cewek!" Batin Haidar lalu melangkah ke kursi pengemudi.
Di sepanjang perjalanan, Alina hanya diam sambil memikirkannya bagaimana caranya memberitahu Adero tentang ini. Ia tidak memiliki bukti apapun, ia lupa memotret atau merekam setiap ucapan Gadis tadi.
Alina mau Adero tahu fakta yang sebenarnya mengapa Gadis mau berpacaran dengan Adero. Tetapi Alina pun gak mau, keributan seperti tadi sore terulang lagi. Sedih rasanya saat bertengkar dengan orang yang selama ini selalu menjadi support system dalam kondisi apapun.
"Sayang, udah lah gak usah terlalu di pikirin!" Seru Haidar.
Alina langsung menatap Haidar dengan tajam, tak suka dengan pernyataan Haidar tadi.
"Gak perlu di pikirin?" Ulang Alina dan Haidar hanya mengangguk pelan.
__ADS_1
"Gila kali gak perlu di pikirin, pertama dia udah ngibarin bendera perang sama aku karena udah ngelihatin kamu dengan senyum centilnya itu. Aku gak suka lihat itu semua!"
"Yang kedua, karena ternyata dia pacaran sama kakak aku hanya untuk di manfaatkan, pasti begitu pun dengan Nanda. Dari dulu aku udah berpikir akan begini!" Sambung Alina.
"Dan sekarang aku bingung, gimana kasih tahu kakak tentang ini. Kita gak ada bukti apapun supaya dia percaya, aku gak mau berantem lagi jaya tadi sore!" Seru Alina membuat Haidar terusik dengan kata-kata di akhir.
Alina yang sadar telah keceplosan berbicara langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan lalu beralih memandang kaca ke jalanan.
"Tunggu berantem kaya tadi sore?" Tanya Haidar dan tidak ada jawaban apapun dari kekasihnya.
Haidar sampai memarkir kan mobilnya di pinggir jalan untuk mendapatkan jawaban dari Alina itu. Bukan apa, ia pun berhak tahu masalah yang di hadapi calon istrinya?
"Alina, jawab aku. Kamu berantem sama kak Dero tadi sore?" Tanya Haidar.
Alina yang sudah terlanjur berbicara akhirnya menghela napas lalu mengangguk pelan, "Iya tadi sore aku sempat berantem sama dia, dan kamu tahu? Dia pun berantem sama papah!"
"Karena apa? Ya karena si Gadis, kakak Makai uang perusahaan yang jumlahnya itu nggak sedikit, plus dia gunain kartu kredit melebihi limit, aku yakin itu semua dia lakukan buat cewek sialan itu!" Sambung Alina yang langsung menceritakan apa yang terjadi tadi sore pada Haidar.
Benar kan firasat Haidar tadi, kalau dirinya merasa tidak enak dan khawatir kepada Alina sore tadi. Ternyata ada masalah ini yang sedang Alina hadapin tadi.
Haidar merangkul Alina!Alina dan menyadarkan kepalanya di bahu, karena Alina sudah menangis saat bercerita tadi. Haidar tahu perasaan Alina saat ini, pasti sangat sedih.
"Maafin aku sayang." Seru Haidar yang jelas-jelas ini bukan salah nya.
"Kamu tahu gak Haidar, aku tuh lagi berada di posisi serba salah, aku gak suka lihat kakak terus bersama Gadis yang membawa dampak buruk terus, tapi aku gak mau kakak benci aku karena aku larang dia terus!" Seru Alina sambil sesegukan.
Haidar mengangguk, "Biar kita cari solusi nya bersama ya sayang. Aku yakin, nanti kakak kamu akan berpikir tentang ini semua."
"Yah tapi sampai kapan Haidar, nunggu sampai papah kena serangan jantung dan aku bertengkar hebat sama dua? Dia lebih dewasa dari aku, seharusnya dia tahu mana yang baik dan enggak buat dia. Tetapi nyatanya, dua udah di butakan oleh cinta yang salah!" Kesal Alina.
Haidar hanya bisa mengelus punggung Alina aga gadis itu tenang. Di otaknya pun sedang memikirkan bagaimana caranya Adero bisa melepaskan Gadis tanpa melibatkan Alina lagi.
"Kamu yang tenang ya, nanti kita pikirkan lagi masalah ini. Aku yakin sebelum kita menikah, semua masalah akan selesai;" seru Haidar memebuat Alina akhirnya mengangguk.
Alina berpikir apa lagi yang harus di lakuin selain sabar dan mencoba berpikir bagaimana caranya memisahkan mereka. Menangis saja tidak akan mungkin membuat mereka berpisah bukan?
Semoga saja, Alina dan Haidar bisa cepat menemukan cara yang tepat untuk membuat Adero dan Nanda sadar kalau Gadis memang bukanlah cewek yang baik. Tapi kayaknya Nanda akan segera sadar, karena sudah ada Hellena.
Guys jangan lupa komen dan kasih ulasan ya, buat aku tambah semangat buat cerita nya! :)
__ADS_1