Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Berusaha


__ADS_3

Bel pulang berbunyi, dan Alina langsung melangkah pergi keluar kelas tanpa menyapa siapapun lagi. Tujuan Alina saat ini adalah ingin segera sampai ke parkiran dan pergi dari sekolah tanpa hambatan alias tanpa bertemu siapapun apalagi bertemu dengan Haidar.


Alina butuh waktu sendiri dulu, butuh waktu untuk berpikir apa yang akan ia lakukan ke depannya setelah ini. Bingung, itu lah yang ada di hati Alina, Seperti di tarik maju eh sekarang seakan di dorong mundur lagi.


Kalau kalian jadi Alina, apa yang akan kalian lakuin?


Dengan berat hati dan berat langkah, Alina menghampiri motornya berniat mengusir Haidar dari sana agar ia bisa cepat pergi dari sekolah.


“Minggir!” ketus Alina mengusir Haidar.


Haidar tidak bergeming sama sekali, malahan Haidar terus menatap Alina sejak gadis itu sampai di parkiran sekolah.


Alina menarik napasnya, lalu tangannya mendorong bahu Haidar agar segera turun dari motornya.


“Awas kek lo, gue mau pulang!” seru Alina kesal.


Haidar tetap diam saja, seakan dorongan Alina tidak ada apa-apanya. Sedangkan Alina terus saja menggerutu.


Karena kesal, Alina membalikkan badannya ingin segera meninggalkan Haidar. Tetapi tangannya langsung di cekal oleh Haidar membuat tubuh Alina kembali menghadap Haidar.


“Mau minta maaf.” ujar Haidar pelan.


Alina hanya diam memperhatikan wajah Haidar yang tampan itu, yang selalu membuatnya terkagum-kagum dengan pahatan indah.


“Alina.” panggil Haidar pelan.


“Kenapa.” Alina sengaja bersikap seperti ini, ingin tahu lagi bagaimana perjuangan Haidar agar bisa mendapatkan maafnya.


“Gue butuh waktu!” ketus Alina dan membuat cekelan tadi terlepas.


“Sampai kapan?” tanya Haidar.


“Minggir!” bukannya menjawab Alina malah kembali mengusir Haidar dari atas motornya.


Tetapi Haidar tetap tidak turun dari motor Alina, dan kembali membuat Alina emosi. Alina kembali membalikkan badannya dan pergi dari sana dan Haidar pun membiarkan itu.


Alina melangkah menuju ke toilet lantai bawah di sekolah. Alina mencuci tangannya lalu merapikan tatanan rambutnya kembali dan memoles sedikit lip gloss di bibirnya agar terlihat lebih fresh.


“Jadi cewek munafik banget sih!” ujar seseorang yang tiba-tiba berada di belakang Alina.


Alina menoleh ke arah orang tersebut yang ia sudah ketahui, karena ia bisa melihat lewat kaca di depannya.


“Jadi orang suka banget ikut campur urusan orang!” ujar Alina ketus sekalian menyindir orang tersebut.


“Alina... Alina lo kenapa jadi cewek munafik banget sih! Apa-apa di buat rumit tau gak sih sama lo!” ketus putri.


“Masalah buat lo?” sahut Alina tak kalah ketus.

__ADS_1


“Lo udah nolak Alvaro demi Haidar, tapi nyatanya Haidar gak setulus Alvaro!”


“Lo tau apa tentang tulus nenek lampir!” geram Alina.


Putri tertawa keras seakan meremehkan Alina, “Dasar cewe munafik!” cibir putri lalu keluar dari toilet membuat Alina semakin emosi.


“Dasar lo nenek lampir!” teriak Alina emosi.


Alina mengatur napasnya lebih dulu, sebelum keluar dari toilet. Setelah merasa cukup tenang, barulah Alina keluar dari sana dan kembali melangkah menuju parkiran berharap Haidar sudah pergi dari atas motornya.


Dan ternyata benar, Haidar sudah tidak ada di sana dan membuat Alina melangkah cepat agar bisa cepat pergi dari sana


Tetapi lagi-lagi ia dihalangi oleh dua orang, yaitu sahabatnya Meilla dan Elsa.


“Lin, kok lo langsung cabut gak nungguin kita?” ujar meilla.


Elsa mengangguk, “Iya tumben, lo marah juga sama kita?”


Alina menggeleng, “Enggak kok, gue cuma mau langsung pulang aja, gue ngerasa gak enak badan soalnya.” elak Alina.


Meilla dan Elsa mengangguk, “Kalau gitu kita ikut ke rumah lo ya?” ujar meilla.


Elsa mengangguk, “Iya, kita belajar bareng ya kan besok udah ujian terakhir.”


Alina menggeleng, “Jangan deh, kalau kita belajar bareng yang ada bukannya belajar tapi malah ngerumpi!” tolak Alina yang memang sudah malas menerima tamu saat ini.


Alina langsung tersenyum, Gue gak papa illa, serius deh. Gue cuma gak enak badan aja, gue balik duluan ya?” pamit Alina.


Meilla akhirnya mengangguk begitu pula dengan elsa, mereka tidak ingin memaksa Alina karena mereka tau kondisi Alina mungkin memang sedang gelisah alias galau.


“Kalau mau curhat atau minta saran, hubungi kita ya Lin!” seru Elsa dan di anggukin oleh Alina.


Alina segera mengendarai motornya dan keluar dari sekolah. Sedangkan Meilla dan Elsa berjalan ke kantin yang tak jauh dari parkiran untuk menghampiri pasangan mereka.


“Gimana?” raya Haidar saat Meilla dan Elsa sudah duduk di hadapannya.


Memang Haidar lah yang menyuruh keduanya untuk menemui Alina, untuk membantunya minta maaf pada Alina tetapi sayang Meilla dan Elsa pun di tolak oleh Alina.


“Gue rasa dia kecewa banget deh, gue sama Elsa aja di tolak buat main ke rumahnya!” beritahu Meilla.


“Lo sih keterlaluan Dar!” sambut Meilla lagi.


Yang lain hanya mengangguk setuju dengan ucapan Meilla.


“Terus gue harus gimana?” ujar Haidar.


Semuanya hanya mengangkat bahunya, tidak tahu apa yang harus mereka lakukan untuk membantu Haidar saat ini.

__ADS_1


Saat suasana hening, tiba-tiba mereka di kagetkan dengan teriakan Lio, membuat Nanda dan Elsa langsung menoyor kepala cowok humoris itu.


“Gue tau gimana caranya!” ujar Lio membuat mereka mendekatkan kepala mereka semua.


Setelah Lio memberikan idenya dan di setujui oleh semuanya, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah, Lio bersama Elsa, Meilla bersama Edo sedangkan Nanda bersama Haidar.


Di tengah perjalanan, Nanda terus berceloteh tak jelas membicarakan apapun yang ada di pikirannya membuat Haidar pusing.


“Diam bisa gak!” seru Haidar membuat Nanda langsung menutup mulutnya.


“Sorry.” seru Nanda meminta maaf.


Haidar kembali fokus pada jalanan, dan tiba-tiba otaknya terlintas wajah Diana dan Olivia. Haidar memutuskan untuk mampir sebentar ke makam mereka sebelum pulang ke rumah.


“Nan, mampir ke makam dulu gak papa?” Nanda mengangguk lalu tersenyum.


Nanda memang sengaja ikut ke rumah Haidar, karena ia bosan sudah dua hari tidak keluar rumah dan malam ini mungkin ia akan menginap di rumah Haidar karena malam terakhir ujian.


Haidar melakukan mobilnya menuju makan. Entah mengapa rasanya seperti sangat rindu pada kedua gadis yang Haidar sayangi itu.


Saat sampai di makam, Haidar dan Nanda langsung turun dan melangkah menuju makam Diana dan Olivia, Haidar melihat ada yang aneh di makam tersebut. Karena ada bunga yang sepertinya baru saja di tabur di atas makam.


Haidar mencari seseorang siapa yang menaburkan bunga itu, tetapi makam sepi tidak ada satu pun orang di sana kecuali Haidar dan Nanda.


“Siapa yang kesini Dar?” tanya Nanda yang juga penasaran.


Haidar mengangkat bahunya, ia pun tidak tahu siapa yang tadi ke sini dan menaburkan bunga itu.


Nanda mencabuti rumput yang sudah terlihat panjang di kedua makam tersebut, sedangkan Haidar sedang berdoa di dalam hati.


“Diana, aku datang ke sini lagi. Olivia kakak juga datang buat jenguk kamu.”


“Kalian lagi apa di sana? Pasti kalian lagi tertawa ya ngelihat aku yang lagi galau begini.”


“Ana, sama kaya Alina kemarin, aku mau minta izin sama kamu. Kalau saat kamu tergantikan sama Alina, gak papa kan?”


“Menurut kamu Alina pantas gak buat gantiin posisi kamu di hati aku? Kalau iya, nanti malam kamu datang ya ke mimpi aku.”


“Aku kangen kamu Diana, coba kalau kamu masih di sini pasti kamu bisa ngasih saran yang tepat untuk situasi kaya gini, Aku bingung Diana!”


Haidar menghela napasnya lalu bangkit, begitu pula dengan Nanda setelah mengucapkan sesuatu untuk mereka berdua yang ada di dalam tanah.


“Dar, kalau masih ada Diana gak mungkin ada Alina di hidup lo!” ujar Nanda.


“Lo di pisahin sama Diana dan akhirnya ketemu sama Alina itu sudah takdir, dan takdir gak bisa di lawan bukan? Jadi, lo harus terima Alina sepenuh hati seperti lo terima Diana dulu, karena hidup itu akan terus berjalan Dar!”


Haidar mengangguk lalu merangkul bahu Nanda dan berjalan bersama menuju mobilnya sambil bercanda kecil. Sedangkan di sisi lain seseorang yang baru saja datang ke makam tersebut yang sedang mengumpat di balik pohon langsung memunculkan diri saat melihat Haidar dan Nanda sudah pergi.

__ADS_1


“Lo memang gak akan pernah bisa lupain Diana, Dar!” seru Alina yang memang sengaja datang ke makam Diana dan Olivia tak sepengetahuan Haidar.


__ADS_2