
Setelah pulang dari restoran, Alina segera bersih-bersih dan berganti pakaian. Setelah selesai semua, Alina duduk di atas kasurnya lu mengambil ponselnya.
Alina ingin segera menghubungi kedua orang tuanya untuk memberitahu hal penting ini. Perbedaan waktu di antara mereka membuat Alina agak susah menghubungi nya.
Alina menekan tombol panggil ke nomer telepon Reymond. Beberapa kali suara deringan tetapi tetap tidak ada jawaban sama sekali dari sana.
“apa mungkin papah lagi di kantor?” seru Alina pada dirinya sendiri.
Alina tak kehilangan akal, ia segera menghubungi nomer Mira. Tetapi sama, tak ada jawaban yang dia dapatkan dari kedua orang tuanya. Selalu seperti ini, makanya Alina selalu merasa sepi. Semua anggota keluarga nya seakan memiliki kesibukan masing-masing tanpa memperhatikan Alina yang masih butuh kata sayang.
Alina menghela napasnya, lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur. Ponselnya ia letakkan tepat di sampingnya. Berusaha untuk segera tidur, tetapi tak bisa karena memang sudah lewat dari jam tidurnya.
“Haidar udah tidur belum ya?” tanya Alina pada dirinya sendiri.
Saat ingin menghubungi nomer Haidar, ada telepon masuk dari Reymond. Dengan cepat Alina mengangkat panggilan tersebut.
“Halo pah?”
“Iya, sayang?”
“Papah sama mamah sehat kan?”
“Yaps, are u okay baby?”
“Yes I’m okay.”
“Kok kamu belum tidur sayang? Di Indonesia bukannya ini sudah pukul jam 12 malam?”
“Iya benar, ehem ada sesuatu yang mau aku bicarain sama papah dan mamah.”
“Gak bisa besok pagi aja? Memangnya kamu besok gak kuliah?”
“Perbedaan waktu kita itu susah buat kita komunikasi pah, jadi mumpung ada kesempatan, aku mau bicara sekarang.”
“Ehem, ada apa sayang?”
“Pah, ini soal Haidar.”
“Haidar? Kenapa? Dia nyakitin kamu?”
Alina menggeleng padahal Reymond pun tidak dapat melihatnya, “Bukan pah, Haidar ngajakin aku tunangan.”
Cukup lama Reymond diam tidak menjawab itu, “Tunanagan? Kamu baru aja masuk kuliah. Kamu lupa gimana janji kamu ke papah? Menikah setelah lulus kuliah.”
“Iya Alina ingat, tapi ini cuma tunangan pan.”
__ADS_1
“Kita bicarain nanti, papah ada meeting penting. Bye, i love u!” seru Reymond lalu mematikan sambungan telepon itu secara sepihak.
Alian kecewa dengan respon Reymond, mengapa seakan hal ini tidak penting sama sekali untuk papahnya. Alina hanya ingin meminta izin, meminta restu karena kata Haidar restu orang tua adalah hal yang paling penting.
Tanpa sadar air mata Alina kembali menetes, Alina bingung akan menjawab apa kalau Haidar bertanya tentang ini. Ia tidak mungkin jujur dengan respon sang papah, karena akan menyakiti Haidar.
“Kenapa, seakan gue gak penting di hidup mereka!” gerutu Alina sambil memeluk kasur meluapkan emosinya.
Adero yang kebetulan lewat di depan kamar Alina, mendengar suara tangisan dari dalam membuat kakinya melangkah masuk ke kamar Alina. Berhubung pintu kamar tidak terkunci.
“Dek, lo kenapa?” tanya Adero saat melihat Alina menangis sambil memukul kasur.
Adero mendekat ke arah Alina, lalu menariknya dan memeluk nya dengan erat membiarkan Alina menangis hingga puas di dalam pelukannya. Hingga akhirnya suara tangisan itu mulai reda, dan Adero melepaskan pelukannya.
“Lo kenapa, galau?” seru Adero.
Alina diam tidak menjawab.
“Dek, ceritakan sama kakak. Ada apa? Siapa yang nyakitin kamu!”
Alian menatap makanya dengan tatapan menusuk, “Kak, papah mamah sebenarnya sayang gak sih sama Alian?” pertanyaan itu keluar langsung dari mulut Alina.
Adero bingung dengan pertanyaan itu, bagaimana tidak selama ini hubungan Alina dengan kedua orang tuanya sangatlah harmonis. Mengapa sekarang Alina bisa bertanya seperti itu?
“Lo kenapa tiba-tiba nanya kaya gitu? Jelas lah mereka sayang sama lo.” jawab Adero.
Adero mengerutkan dahinya, “Gak peduli?”
Adero terkekeh, “Alina selama ini lo jajan, makan dari mana kalau bukan dari mereka? Itu yang Lo bilang gak peduli?”
Alina menggeleng, “Maksud Alina bukan tentang materi kak, tentang kasih sayang. Dari dulu mereka sellau mentingin bisnisnya, tanpa peduli sama Alina yang butuh kasih sayang juga.”
Adero teriak, memang benar begitu.
“Alina butuh kasih sayang dari mereka kak, selama ini Alina gak Maslah mereka tinggal jauh dari kita. Tapi setidaknya mereka perhatian sama kita setiap hari dengan cara menelpon atau krim pesan, itu pun mereka jarang lakuin ke kita kak.” lanjut Alina.
Adero mengelus punggung Alina bermaksud menenangkan adiknya itu, “Iya kakak tahu, tapi bukannya ini juga salah kita yang gak mau ikut mereka pindah ke sana?”
“Alina, Lo gak bisa bilang kalau mereka gak sayang sama kita karena tidak selalu ada untuk kita. Lo bisa bayangin gak gimana sedihnya mamah kamu dengar hal itu? Gue harap lo ngerti maksud omongan gue.” lanjut Adero.
Alina terdiam cukup lama memikirkan apa yang Adero bilang. Benar, ini juga salahnya yang tidak mau ikut pindah ke Amerika padahal orang tuanya menawarkan hal itu.
“Kak, pacar Alina ngajak tunangan. Menurut kakak gimana?” Alina memberitahu kisah asmaranya pertama kali pada Adero.
Adero tersenyum, “Gas lah, jaman sekarang jarang ada cowok yang mau serius cepat-cepat.”
__ADS_1
Alina ikut tersenyum, “Termasuk kakak ya?” cibir Alian.
Adero mengacak rambut Alina, “Tuh tau! Gue masih belum mikirin tentang itu, gue lagi fokus sama bisnis papah. Kan kamu gue sukses, nanti cewek yang akan nyamperin gue.” seru Adero.
“Ehem, btw pacar lo Alvaro?” tanya Alvaro.
Alina langsung menggeleng cepat, “Bukan kok, namanya Haidar dia teman SMA Alina dulu.”
Adero mengangguk, “Gue kira lo pacaran sama Alvaro. Padahal lo berdua kalau gue lihat cocok. Tapi balik lagi, siapapun pilihan lo gue akan dukung kok, tenang aja.”
Alian langsung merubah raut wajahnya menjadi sedih, “Kak tapi papah gak setuju soal ini.”
Adero langsung menatap adik gadisnya itu, “Kenapa gak setuju?”
Alina menghela napasnya, “Papah mau, Alina menikah setelah selesai kuliah. Kak padahal ini cuma tunangan, bukan menikah.”
Adero terdiam, “Biar nanti kakak bantu bicara sama papah ya.”
Alina tersenyum lalu mengangguk, “Makasih banyak Kaka, sayang kakak!” seru Alina lalu mencium pipi sang kakak.
Adero yang memang tak suka di cium langsung menghapus bekas ciuman Alian dengan telapak tangannya dan berdiri menjauh dari Alina.
“Alina lo nyebelin!” gerutu Adero lalu keluar dari kamar Alina, sedang kan gadis itu hanya terkekeh.
“Semoga papah setuju setelah kak Adero yang bicara nanti.” ujar Alina.
Setelah itu Alina membaringkan dirinya dan tidur karena sekarang sudah hampir pukul satu malam. Besok ia harus kuliah pagi!
...****************...
Keesokan paginya, Haidar menjemput Alina dengan supir yang mengantarkan. Alian yang telat bangun akhirnya tidak sarapan di rumah dan meminta Haidar untuk menemaninya nanti ke kantin.
Sepanjang perjalanan genggam tangan satu sama lain tidak terlepas hingga mereka sampai di kampus. Cincin yang indah bertengker di tangan putih milik Alina membuat nya semakin cantik.
Keduanya langsung melangkah menuju kantin, untuk sarapan. Haidar yang sudah sarapan di rumah, memilih ikut membeli makanan untuk menemani Alina. Setelah memesan makanan, keduanya duduk di kursi kosong di sana.
“Kamu udah hubungin orang tua kamu, sayang?” tanya Haidar.
Alina mengangguk sambil membuka air mineral yang ia beli karena kesusahan air itu di ambil alih oleh Haidar dan dengan mudah di buka oleh kekasihnya.
“Terus gimana?” tanya Haidar.
Alina mengangkat bahunya, “Belum sempat bicara, telepon udah mati karena papah mau meeting.” seru Alina.
Haidar mengelus punggung tangan Alina yang berada di atas meja, “Gak papa sayang, sabar. Gak buru-buru kok.” seru Haidar.
__ADS_1
Alina terdiam sebentar, “Haidar, kalau nanti papah gak setuju dengan ini semua bagaimana?” tanya Alina yang ingin tahu respon Haidar.
Gimana ya kira-kira?