
Alina telah sampai di lokasi agar pertunangan Elsa akan dilangsungkan. Sekarang sudah pukul 19.15 artinya Alina sudah telat 15 menit dari jadwal acara. Maklum namanya juga ibu kota, pasti macet apalagi ini malam Minggu. Ya kalian tahu lah ya...
Alina masuk ke dalam baliroom hotel, pertama yang ia lihat banyak orang yang lalu lalang tetapi menggunakan dresscode hitam. Alina berpikir, mungkin putih untuk para sahabatnya.
Alina berjalan menuju titik tengah, sambil mencari di mana Elsa dan Lio. Apa acaranya sudah selesai atau belum di mulai?
Tak lama Meilla datang bersama dengan Edo, dan membuat Alina bingung mereka menggunakan gaun dan jas berwarna hitam.
“La, dresscode nya hitam atau putih sih? Tapi di undangan gue tulisannya putih!” tanya Alina yang bingung karena merasa seperti salah kostum.
Meilla berusaha untuk tidak tertawa karena lucu melihat wajah bingung dan panik Alina, “Warna hitam Lin, serius di undangan lo warna putih tulisannya?” tanya balik Meilla.
Alina mengangguk, “Anjur, Elsa ngerjain gue gimana ya?” kesal Alina.
Tak lama Elsa, Lio dan Nanda datang, sama seperti Meilla dan Edo mereka menggunakan gaun dan jas berwarna hitam. Alina semakin bingung, ada apa sebenarnya?
“Sa, Lo gak lagi ngerjain gue kan?” to the point Alina pada Elsa.
Elsa menggeleng sambil menahan senyum, “Lo cantik Lin, bersinar sendiri di antara ratusan orang di sini!” seru Elsa membuat Alina semakin kesal karena menganggap kata-kata Elsa seakan mengejeknya.
“Sa lo bener-bener ya! Gubug deh kalau kaya gini!” marah Alina dan ingin segera pergi dari acara itu.
Meilla dan Elsa menahan tangan Alina kiri dan kanan, sedangkan Alina berusaha memberontak agar tangan sahabatnya terlepas.
Tak lama lampu menyorot ke arah mereka yang sedang berdiri di depan panggung yang nantinya akan di gunakan untuk pemesanan cincin kedua calon.
“Akhirnya orang yang kita tunggu telah tiba. Langsung saja acara kita mulai!” seru pembawa acara.
Tahan Meilla dan Elsa sudah terlepas, Alina hanya bisa diam sambil menggerutu dan matanya seperti sedang mencari seseorang. Iya, dia mencari di mana keberadaan Haidar, apakah demi tidak bertemu dengan Alina. Haidar lebih memilih tidak hadir di acara penting sahabatnya ini?
Alina tidak fokus dengan apa saja yang di katakan pembawa acara. Matanya masih terus mencari keberadaan Haidar, hingga akhirnya ia di kagetkan dengan dorongan di bahunya yang di lakukan oleh Elsa dan Lio.
“Buruan maju Lin, di panggil itu!” suruh Elsa.
Alina bingung, kenapa malah ia yang di suruh maju ke depan kenapa bukan kedua mempelai. Alina tetap berdiri di tempat nya, hingga akhirnya suara yang sangat familiar terdengar dari depan sana memanggil namanya.
“Alina, sini maju sayang!” seru Mira yang entah sejak kapan sudah berada di atas panggung.
__ADS_1
“Itu nyokap gue? Ngapain dia di situ?” seru Ali a entah pada siapa.
“Buruan Alina ke depan, itu nyokap lo manggil!” kesal Lio sambil mendorong bahu Alina pelan.
Alina mulai melangkah dengan pelan menuju panggung untuk menemui Mira. Alina bingung lagi, kenapa bisa Mira ada di sini, bukannya kemarin lusa orang tuanya sudah kembali ke Amerika?
“Mamah, ngapain ada di sini? Ini kan acara pertunangan nya Lio sama elsa?!” bisik Alina.
Mira tak menjawab pertanyaan Alina dan hanya menggenggam tangan anak gadisnya itu. Tak lama Haidar masuk bersama dengan kedua orang tuanya dan juga Reymond papah Alian.
Alina semakin di buat bingung dengan ini semua. Apa dia sedang di kerjain? Atau Haidar lagi numpang di acara orang untuk meminta maaf? Tapi kenapa ada orang tuanya segala?
Haidar berdiri tepat di samping Alina, dan Reymond berpindah berdiri di samping sang istri.
“Sebentar lagi, kita akan lihat bagaimana seorang Haidar Nari Adriaz akan menyatakan cintanya pada Alina Revalina Putri Ricolas!” seru pembawa acara.
Alina lagi-lagi di buat bingung oleh semuanya, dan hanya bisa diam menunggu apa lagi yang akan terjadi. Haidar membalikkan tubuhnya agar bisa memandang Alina.
Tak lama Haidar berlutut di depan Alina dan mengulurkan kotak merah berbentuk love dari saku jas nya. Cincin yang sama indahnya seperti cincin yang kemarin berikan pada Alina, bedanya kali ini ada dua disana, meskipun yang satunya hanya polos.
“Alina, maaf kalau kemarin aku sempat menghilang tanpa kabar. Maaf juga karena aku kembali bikin kamu nangis kemarin. Tapi malam ini aku gantikan tangis sedih mu menjadi tangis bahagia.” seru Haidar.
“Alina, mau kah kamu menjadi tunangan aku?” seru Haidar dengan tegas membuat air mata Alina turun entah sejak kapan.
Alina menoleh ke arah Reymond dan Mira, di luar dugaan keduanya tengah tersenyum dan mengangguk.
“Bagaimana, Alina apakah ajakan dari Haidar di terima?” seru pembawa acara.
“Terima.. terima!” sorak para tamu.
Alina memandang kedua orang tua Haidar, dan respon mereka dalam seperti kedua orang tua Alina.
Dan akhirnya Alina mengangguk, “Iya aku mau jadi tunangan kamu, Haidar!” jawab Alina dan langsung di hadiahi sorakan dari para sahabat dan tamu yang lainnya.
Haidar mulai menaikan cincin pada jari manis Alina, begitu pula sebaliknya. Tangis Alina semakin pecah, bingung harus merespon bagaimana karena ia tidak tahu kalau akhirnya seperti ini.
“Akhirnya, Alina dan Haidar resmi menjadi tunangan. Kita doakan semoga mereka selalu di beri kebahagiaan sampai waktu nya nanti telah tiba!” seru pembawa acara.
__ADS_1
“Ini kedua orang tua, boleh memberikan doa dan ucapan untuk Alina dan haidar.” seru pembawa acara.
Reymond yang lebih dulu mengambil microfon untuk berbicara, “Selamat malam semuanya, terima kasih karena telah hadir di acara pertunangan anak gadis saya Alina dengan kekasih yang dia cintai yaitu Haidar.”
“Pertama-tama saya ingin mengucapkan maaf pada Alina karena telah membuat kamu menangis tidak jelas selama beberapa hari ini. Oh iya kamu jangan salahin Haidar tentang ini ya, karena ini semua rencana papah.”
“Paaph sengaja bikin skenario ini semua, biar semuanya totalitas, maaf ya sayang. Tapi sekarang di ganti dengan kebahagiaan kan? Pasti kamu lupa kalau kamu besok akan ulang tahun? Kenapa papah bikin acara ini sekarang, karena biar kamu tidak curiga, kan kamu anaknya sangat percaya diri.” kekeh Reymond.
“Ehem, doa papah dan Mamah semoga kalian bahagia selalu. Pacaran yang sehat, jangan macam-macam. Selesaikan kuliah dulu dan raih cita-cita kalian. Jangan buat papah kecewa setelah ini, oke nak?” seru Reymond dan di anggukin oleh Alina dan Haidar.
Reymond memberikan microfon tersebut ke Roy, “Ehem dari papah cuma sedikit, semoga kalian bisa menjaga hubungan kalian sampai nanti, jangan belajar dari kesalahan-kesalahan yang papah buat dulu. Semoga Haidar selalu membuat Alina bahagia selalu selamanya.” seru Roy.
Tangis Alina masih belum berhenti dan Haidar mulai menenangkan gadisnya dengan mengelus punggung sang tunangan.
“Aku gak bisa peluk, ada papah mamah di sini!” bisik Haidar membuat Alina terkekeh dan memukul lengan Haidar.
Akhirnya sesi ini telah selesai, semuanya kembali turun dari panggung dan menyambut para tamu yang datang di hotel ini. Tunggu, jadi maksud nya ini pertunangan gue, bukan Elsa dan Lio? Pikir Alina yang masih tidak menyangka akan seperti ini.
“Anjay di restuin juga akhirnya guys!” seru Lio membuat yang lain bersorak.
“Tunggu jadi lo berdua bohong? Maksudnya ini gimana sih?” seru Alina yang masih bingung.
Elsa mulai menjelaskan apa saja rencana yang mereka lakuin dari kemarin untuk keberhasilan acara malam ini.
Jadi, undangan yang di kasih Alina itu bohong sebenarnya memang Alina dan Haidar yang akan bertunangan. Ini semua adalah rencana Reymond, yang meminta tolong kepada para sahabat Alina agar tidak memberitahu keberadaan Haidar padahal Haidar ada di rumah terus, dan tetap ke kampus tapi berusaha menghindar dari Alina.
Haidar pun menceritakan tentang kejadian waktu di rumah Alina yang Reymond seakan mengusirnya. Ternyata Reymond tidak seburuk itu, Reymond sengaja seperti itu agar Alina percaya. Padahal di depan Reymond memberitahu rencana ini dan menyusun acara ini bersama dengan Haidar. Jadi Reymond sebenarnya merestui mereka kok.
Ngerti kan semuanya?
“Kalian semua jahat tau gak, bikin gue kaya mayat hidup selam beberapa hari!” kesal Alina.
“Eits, lo gak bisa nyalahin kita. Kalau lo mau nyalahin, ya lo nyalahin Haidar atau bokap lo yang bikin rencana se perfect ini!” seru Edo.
Yang lain mengangguk setuju!
“Sudah ya gak usah marah, maaf ya bikin kamu nangis kemarin.” seru Haidar sambil mengelus lengan Alina.
__ADS_1
“Ini yang kamu maksud jaga diri baik-baik, semoga kamu nanti bahagia?” seru Alina dan di anggukin oleh Haidar.
Seneng gak kalau akhirnya begini?