
Setelah pulang kuliah, Alina dan Haidar memang langsung pulang tanpa mampir karena yang lain pun sama. Saat masuk ke dalam rumah, Alina kaget dengan kedatangan kedua orang tuanya yang tiba-tiba.
Alina segera menghampiri Mira yang tengah duduk di meja makan sambil memakan cemilan.
“Assalamu’alaikum mah!” sapa Alina senang.
Mira tersenyum kepada putrinya lalu memeluk sang putri, “Waalaikumsalam sayang!”
“Kamu baru pulang, nak?” tanya Mira.
Alina mengangguk, “Iya mah, mamah kapan Dateng? Kok gak ngabarin Alina?”
“Baru aja sampai sekitar satu jam yang lalu.” beritahu Mira.
Alina celangak celinguk seperti sedang mencari sesuatu, “Mamah sendiri? Papah gak ikut?”
Mira menggeleng, “Ikut, papah lagi istirahat di kamar.”
Alina mengangguk, “Ehem, mamah sama papah tumben pulang ke Indonesia. Ada masalah kah di sini?”
Mira mengangkat bahunya, “Entag nak, papah bilang ada sesuatu yang harus di selesaikan di sini.” memang Reymond belum memberitahu tentang obrolan nya dengan Alina beberapa hari silam.
Alina mengangguk lagi, “Maamh istirahat gih, pasti capek perjalanannya kan jauh.”
Mira mengusap kepala Alina dengan sayang, “Kamu juga bersih-bersih, makan terus istirahat ya sayang.”
Alina mengangguk lalu tersenyum, dan sebelum melangkah ke kamar Alina mengecup pipi Mira dengan sayang.
...****************...
Sore hari, Alina keluar dari kamarnya dan melihat Reymond dan Mira sedang bersantai di ruang keluarga. Keduanya sedang menonton televisi bersama sambil berbincang. Pemandangan yang sangat indah menurut Alina. Alina melangkah ke arah mereka dan duduk di tengah-tengah di antara mereka.
“Ih anak siapa ini asal duduk aja!” cibir Reymond.
“Mira mengangkat bahunya sambil menahan senyum, “Gak Tah lah, ganggu aja!” gerutu Mira.
Alina terkekeh lalu mencium pipi Reymond dan Mira secara bergantian, dan membuat kedua orang tuanya ikut terkekeh.
“Ini anak udah gede juga, tingkahnya masih kaya bocah!” cibir Reymond lagi.
Alina menepuk bahu Reymond pelan, “Ih papah!”
Reymond terkekeh sebentar kalau memasang wajah seriusnya, ini lah tujuannya datang ke Indonesia untuk mengetahui pasti yang Alina bicarakan waktu itu.
“Alina, papah mau nanya tentang percakapan kita di telepon kemarin. Apa itu semua benar?” tanya Reymond dengan nada serius.
__ADS_1
Mira yang tidak mengetahui hal itu bingung, “Percakapan apa? Kok mamah gak tau, pah?”
Reymond diam tidak menjawab pertanyaan Mira, dan menunggu jawaban dari Alina.
Alina mengangguk, “Iya pah benar, Haidar serius sama hubungan ini, dan dia mau Alina jadi tunangan nya.”
Reymond memperhatikan Alina yang sedang memainkan cincin yang tersemat di jari anak gadisnya itu, “Itu cincin dari dia? Dia udah ngajak kamu tunangan lebih dulu terus kamu pun udah Nerima?”
“tunangan?” beo Mira.
Alina mengangguk.
Reymond menggeleng, “Gimana bisa dia ngajak tunangan anak orang tanpa izin orang tuanya lebih dulu!”
“Pah, ini cuma simbol aja. Makanya Haidar mau minta restu sama papah dan mamah buat bikin acara yang serius untuk pertunangan ini.” beritahu Alina.
“Tetap aja dia gak sopan karena mendahului, Alina! Lagi pula, kalian baru masuk kuliah harus mikir Maslah hubungan seperti ini? Pikirin dulu pendidikan kalian!” seru Reymond.
“Pah ini cuma tunangan, gak akan ganggu kuliah aku dan Haidar!”
Reymond menggeleng, “Besok ajak Haidar ke sini, papah mau bicara sama dia!” seru Reymond tegas.
Alina mengangguk, “Baik kalau itu mau papah, tapi Alina minta papah jangan marahin haidar.” pinta Alina.
Reymond hanya diam tidak menjawab apapun, sedangkan Alian langsung bangkit dari duduknya dan kembali masuk ke dalam kamarnya. Mira mengelus lengan suaminya itu, tahu kalau suaminya sedang emosi.
Biar bagaimanapun, orang tua tidak suka melihat anak gadisnya di permainan oleh laki-laki dan sekarang ada laki-laki yang ingin serius dengan anaknya masa di tolak!
Reymond diam tidak menjawab saran dari Mira tadi, dadanya masih naik turun karena emosi nya.
...****************...
Hari ini adalah hari libur, Alina sudah memberitahu Haidar tentang permintaan papahnya yang ingin bertemu. Haidar menyetujui nya dengan senang hati.
Sebentar lagi ia akan berangkat ke rumah Ali a setelah selesai sarapan bersama kedua orang tuanya.
“Mah, pah, aku ke rumah Alina dulu ya!” pamit Haidar.
Indira dan Roy mengangguk, “Hati-hati nak, kalau Alina ada waktu ajak ke sini ya.” seru Indira.
Haidar mengangguk, kondisi Haidar sudah baik, jadi ia bisa menyetir mobil sendiri. Sudah lumayan lama ia tidak mengendarai mobil. Apakah masih ingat? Hehehe.
Setelah menempuh perjalanan menuju rumah Alina, akhirnya Haidar telah sampai di tujuan. Setelah turun dari mobilnya, Haidar melangkah menuju pintu utama lalu mengetuknya.
Tak lama Eni membukakan pintu, seperti biasa senyuman Haidar dapat dari pembantu rumah kekasihnya itu. Siapa sih yang bisa nahan senyum kalau lihat cowok modelan kaya Haidar gini! Bener gak guys?
__ADS_1
“Silahkan masuk mas Haidar, biar Eni panggilan neng alina.” seru Eni mempersilahkan Haidar untuk masuk.
Haidar hanya menjawab dengan anggukan kepala, tidak memberikan respon lebih seperti senyum takut Eni besar kepala nanti.
Eni pergi dari sana untuk memanggil nona mudanya. Sedangkan Haidar duduk di ruang tamu sambil menendang ke segala sisi. Jantungnya berdebar, khawatir kalau nantinya tidak sesuai rencana. Khawatir kalau kedua orang tua Alina memang benar-benar tidak setuju.
“Haidar?” sapa Reymond yang sedang melangkah ke arah kekasih anak gadisnya itu.
Haidar langsung bangkit dari duduknya, dan mencium punggung tangan Reymond dengan sopan. Reymond duduk begitu pula dengan Haidar.
“Bagaimana kabar kalau?” Tanya Reymond.
Haidar mengangguk, “Baik Alhamdulillah om, kalau on dan Tante bagaimana?” tanya balik Haidar.
“Alhamdulillah kami juga baik.” jawab Reymond.
Belum sempat berbicara lagi, Alina sudah tiba di ruang tamu dan duduk di sebelah sang papah. Tak lama pula, Mira yang tadi di dapur keluar dan ikut duduk di sebelah Reymond.
“Haidar, saya gak mau basa basi lagi, pasti kamu sudah tahu tujuan saya menyuruh kamu ke sini.” seru Reymond dengan serius.
Alina menatap Haidar tidak berkedip, jantungnya pun ikut berdebar, rajut Reymond menyakiti Haidar dengan kata-kata yang nantinya keluar dari mulut sang papah.
Hadar mengangguk, “Iya om, saya sudah tahu. Saya senang akhirnya bisa bicara langsung dengan om dan Tante tentang ini. Kalau boleh, saya meminta izin dan restu untuk menjadikan Alina sebagai tunangan saya om, Tante!” seru Haidar dengan sangat serius juga.
Mira kagum dengan keberanian Haidar saat ini, dan semakin yakin kalau Alina memang jatuh di tangan laki-laki yang tepat. Alias ia akan setuju tentang pertunangan ini, atau bahkan menikah nantinya. Tetapi balik lagi bagaimana dengan keputusan sang suami.
Reymond mengangguk, “Saya senang kamu serius dengan hubungan ini, tapi mohon maaf kalau untuk sekarang saya tidak bisa menerima itu.” sahut Reymond yang menolak permintaan Haidar.
Alina menatap Reymond dengan kecewa, “Pah ini cuma tunangan, gak akan ganggu kuliah alina.”
Reymond memandang lurus ke depan, “Tapi papah gak bisa, sayang. Papah mau kamu benar-benar fokus sama kuliah kamu. Kamu ingat cita-cita kamu? Kamu ingat janji kamu?”
Alina mengangguk, “Alina Inga semuanya pah, tapi ini bukan nya salah satu bukti kalau Haidar serius sama alina.”
“Iya pah, benar kata Alina. Mereka hanya tunangan saja, bukan menikah di waktu dekat.” timpal Mira.
Reymond menggeleng, “Keputusan papah sudah bulat, tidak bisa di ganggu lagi. Kalau papah bilang tidak ya tidak. Haidar saya salut dengan keberanian kamu saat ini, tapi mohon maaf biarkan Alina fokus sama kuliahnya dulu. Semoga kamu mengerti maksud om.”
Haidar hanya diam tidak menjawab apapun, Haidar harus bagaimana, di tolak dan seakan kata-kata Reymond melarangnya untuk berhubungan dengan Haidar.
“Papah jahat! Ngapain sampai harus pulang ke sini, kalau nyatanya papah menolak tujuan baik Haidar!” seru Alina sambil menangis.
Reymond bangkit, “Biar saya antar kamu ke depan haidar.” seru Reymond mengajak Haidar keluar dari rumahnya.
Haidar hanya bisa menurut saja dengan ajakan itu, mungkin memang bukan sekarang waktu yang tepat. Haidar tidak akan menyerah begitu saja, dan akan terus memperjuangkan Alina agar menjadi miliknya.
__ADS_1
Nah loh kasian ya..
Cinta butuh pengorbanan dan perjuangan kan..