Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Meilla dan Edo


__ADS_3

Makan siang bersama sudah selesai, semuanya kembali ke villa untuk beristirahat. Orang tua dan anak muda memang memiliki stamina yang berbeda. Buktinya, anak muda sekarang masih duduk di halaman belakang sambil mengadakan konser dadakan di pinggir kolam renang.


Haidar dan Nanda yang memainkan gitarnya, sedangkan yang lain bernyanyi. Bayangkan suara mereka menjadi satu seperti apa.


Lagu Budi Doremi yang kini tengah di mainkan, ini request dari Alina loh.


Aku mengerti perjalanan hidup yang kini kau lalui


Ku berharap meski berat kau tak merasa sendiri


Kau telah berjuang menaklukkan hari-hari mu yang tak mudah


Biar ku menemani ku membasuh lelah mu


Izinkan ku lukis senja


Mengukir namamu di sana


Mendengar kamu bercerita


Menangis tertawa


Biar ku lukis malam, Bawa kamu bintang-bintang


Tuk temani yang terluka, Hingga kau bahagia


...Melukis Senja - Budi Doremi....


Lagu yang indah menurut Alina, siapa juga yang menganggap lagu ini indah?


Lagu telah usai, semua terdiam memikirkan apa yang di nyanyikan lagi setelah ini. Tetapi tiba-tiba Nanda berisik untuk main game.


“Guys, gimana kalau kita main truth or dare?” seru Nanda.


Yang lain langsung menggeleng, menolak ajakan Nanda dan membuat nya merasa sedih. Lebay!


“Males, udah basi main gituan. Nanti yang ada malah jadi berantem lagi!” seru Elsa menyeruakan pendapatnya tentang permainan itu.


Alina mengangguk, “Benar tuh!” seru Alina.


Tanpa Alina sadar,Haidar menatap teman-teman nya satu persatu lalu matanya mengarah ke kolam renang. Semua tahu maksud Haidar itu apa, iya menceburkan Alina ke dalam kolam. Kekasih yang jahat emang!


Haidar memberikan aba-aba tanpa suara, sampai hitungan ke tiga saat Alina sudah berada di gendongan Haidar dan...


Byurrr


Alina tercebur ke dalam kolam renang bersama dengan Haidar. Iya, karena saat ingin menyebutkan Alina, Haidar pun ikut di dorong oleh teman-temannya alhasil mereka berada di kolam renang bersama.


“Mau jahil sih lo sama sahabat gue!” ejek Elsa.


“Tahu lo, tunangan macam apa coba!” timpal Lio.


Memang ya pasangan ini selalu lemes banget mulutnya.


Alina yang tahu fakta aslinya langsung menghadiahi Haidar cubitan di perut tunangannya itu. Gemas!

__ADS_1


“Oh gitu ya, kamu jahil sama aku, iya? syukur kena batunya juga!” seru Alina yang masih mencubit perut Haidar dengan pelan.


Haidar berlaga meh kesakitan padahal tidak ada rasa sama sekali, “Yah kan kamu ulang tahun, di kerjain sekali gak papa!”


“Pala mu! Itu kemarin malam udah di kerjain habis-habisan! Nyebelin ih!” gerutu Alina lalu berenang menjauh dari Haidar.


Haidar tidak tinggal diam, ia langsung menyusul Alina dan memeluk nya dari belakang. Membuat para sahabatnya teriak mengancam untuk memberitahu ke orang tua mereka.


“Tante, om lihat nih Alina sama Haidar peluk-pelukan di kolam renang!” teriak Lio.


“Iya nih, om. Haidar gak bisa di bilangin nih om!” sahut Edo.


Sedangkan yang lain hanya tertawa, tetapi hal itu tidak membuat Haidar melepaskan pelukannya karena ia tahu bahwa orang tua mereka berdua sedang istirahat.


“Mending lo semua ikut nyebut sini.” ajak Alina.


Elsa mengajak Lio dan kekasihnya itu ma, Nanda pun sama. Berbeda dengan Edo yang ingin berbicara lebih dulu dengan Meilla di bangku sana.


“Gue sama Meilla ke situ dulu, guys!” seru Edo memberitahu yang lain yang sudah ikut masuk ke dalam kolam renang.


Nanda mengangkat jempolnya, “Oke, jangan ciuman ya lo berdua, awas macem-macem! Ntar ***** lagi!” teriak Nanda yang langsung di toyor oleh semua orang yang berada di dalam kolam.


“Begitulah, makanya jomblo terus orang otaknya mesum Mulu!” seru Haidar dengan tegasnya, sedangkan Nanda hanya menyengir tak berdosa.


Sedangkan Edo mengajak Meilla untuk duduk di bangku, ada sesuatu yang ingin edo bicarakan pada kekasihnya ini.


“Ada apa, beb?” tanya Meilla.


Edo menarik tangan Meilla untuk di genggamnya, lalu matanya menatap Meilla dengan dalam, begitupula sebaliknya.


“La, kalo aku berbuat seperti Haidar lakuin, kamu akan terima gak ya?” pertanyaan ambigu yang membuat Meilla tidak mengerti kemana arah pertanyaan itu.


Edo berdehem pelan, “Mengajak kamu untuk jadi tunangan aku juga.” seru Edo.


Meilla kaget mendengar perkataan itu, ia kira Edo belum memikirkan hal ini untuk sekarang, Meilla pun sama.


“Kamu serius?” tanya Meilla, jantungnya langsung berdebar antara sedih dan takut. Entah mengapa itu yang Meilla rasa.


Edo mengangguk, “Serius beb, aku sudah pikirin ini semua.” beritahu Edo dengan rencana yang sudah ia buat.


Meilla menarik napasnya lalu di hembuskan pelan, “kamu berani minta izin soal ini ke orang tua aku, beb?”


Edo langsung mengangguk cepat, ia ingat pesan Haidar “Restu orang tua adalah hal yang sangat penting buat hubungan lebih lanjut.” maka dari itu ia siapa kalau harus berhadapan dengan orang tua Meilla untuk meminta izin soal ini. Toh Haidar pun melakukan hal yang sama.


“Tapi dari kamu nya sendiri, mau kan?” tanya Edo.


Meilla mengangguk lalu tersenyum, “Jelaslah sayang, siapa yang nggak mau di ajak serius sama kekasihnya. Dari pada hubungan tidak jelas ke mana arahnya!” seru Meilla.


“Ehem, tapi hati kamu sudah untuk aku sepenuhnya kan?”


Meilla mengerutkan dahinya, bingung.


“Maksud aku, sudah gak ada orang lain lagi di hati kamu selain aku kan?” lanjut Edo.


“Kenapa kamu nanya kaya gitu?” tanya balik Meilla.

__ADS_1


Edo menggeleng, “Aku cuma memastikan, aku takut kamu terpaksa dan nantinya malah jadi gak baik buat hubungan kita. Aku mau kamu fokus ke aku, dan begitu pun aku.”


Meilla mengangguk lalu tangannya mengelus wajah Edo dengan lembut, “Aky cinta sama kamu Do, jangan pernah raguin lagi rasa aku ini ya?” pinta Meilla.


Edo terlena dengan itu semua dan hanya mengangguk. Emang ya dasar cinta!


Edo mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah, lalu di bukanya ada sebuah cincin berlambang hati kecil di sana.


“Cantik banget, beb! Ini untuk aku?” seru Meilla saat pertama kali melihat cincin itu.


Edo mengangguk lalu mengambilnya dan di sematkan ke jari manis milik kekasihnya itu. “Ini hanya simbol sementara, mungkin setelah pulang dari sini, aku akan minta orang tua aku datang ke rumah kamu dan mengajak kamu bertunangan.”


Meilla mengangguk.


“Kamu siap?”


Meilla mengangguk lagi, “Siap beb!” seru Meilla.


Setelah itu keduanya saling berpelukan, karena jarak kursi yang tidak jauh dari kolam renang, kegiatan mereka itu di lihat oleh para sahabatnya.


“Weh anjir, main peluk-pelukan!” teriak Lio.


“Tahu sini lo berdua! Gak boleh berduaan nanti yang ketiga setan!” teriak Nanda.


“Iya setan nya itu lo!” terik yang lainnya membuat Nanda kesal dengan para sahabatnya, memang nasib jomblo selalu di bully!


Meilla dan Edo melangkah mendekat ke arah kolam sambil berpegangan tangan. Senyum cerah terpancar di wajah keduanya.


Setelah dekat, Meila mengangkat tangannya yang tadi di sematkan cincin oleh Edo, “Guys, lihat!” seru Meilla.


Awalnya mereka tidak mengerti, setelah cukup lama akhirnya Alina yang lebih dulu paham maksud Meilla.


“Anjir, lo dikasih cincin sama Edo?” tanya Alina dan Meilla mengangguk.


“Eits gila Edo, mainnya ngasih cincin berlian anjir!” seru Elsa.


“Kamu juga mau? Nanti pulang dari sini kita beli yang!” sahut Lio membuat Nanda gemas dengan pasangan itu lalu menoyor kepala Lio. Kalau kepala Elsa, bisa-bisa Nanda kena cubitan maut dari gadis itu.


“Edo ngajak gue tunangan juga guys!” beritahu Meilla lagi.


Semua bersorak heboh, membuat keadaan menjadi semakin berisik.


“Anjir gercep banget lo Do, gak mau kalah saing sama gue?” seru Haidar.


Edo mengangguk, “Biar Meilla gak kabur, makanya di Iker!” seru Edo membuat tangan Meilla refleks memukul bahu sang kekasih.


“Do’ain biar semua lancar nanti saat gue minta izin ke orang tua meilla.” seri Edo membuat yang lain berkata amin.


“Semoga gak ada drama kaya gue lagi La!” seru Alina.


Yang lain terkekeh mendengar itu. Memang acara Alina ini ada lucu ada sedihnya juga. Tapi gak masalah buat mereka karena bayarannya seperti ini, liburan mewah gratis tanpa keluar duit sepeserpun.


Meskipun orang berada semua, terapi yang namanya gratisan siapa yang gak mau sih!


Entah kapan Lio sudah berada di atas dan di belakang Meilla dan Edo, Tanpa aba-aba Lio mendorong keduanya hingga ikut masuk ke dalam kolam renang bersama yang lain.

__ADS_1


Akhirnya semua basah karena berenang di sore dari yang indah ini. Semua bahagia, buka. Hanya Alina saja saat ini. Rasanya moment seperti ini tidak ingin cepat berhenti.


Happy kan?


__ADS_2