Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Rumah Sakit


__ADS_3

Alina tengah di tanganin oleh dokter di rumah sakit. Kondisinya memang sangat mengkhawatirkan karena mereka tidak tahu sejak kapan Alina tidak sadarkan diri. Bukan kah terlalu lama, itu sangat berbahaya? Apalagi dengan kondisi yang over dosis.


Haidar sejak tadi masih terus berdiri di depan ruangan Alina, menatap pintu itu dengan sedih. Memikirkan bagaimana nasib Alina di dalam sana.


Sedangkan Reymond yang masih berusaha menenangkan istri nya yang masih saja menangis, padahal Reymond pun sama, sangat khawatir dengan Alina.


"Haidar!" Panggil Reymond dan membuat Haidar terlonjak kaget karena panggilan itu.


"Iya lah?" Seru Haidar lalu menghampiri Reymond yang duduk di ruang tunggu.


"Kamu tahu gak masalah Alina dengan Adero?" Tanya Reymond yang mengira pasti Alina cerita apapun masalah nya dengan Haidar.


Haidar menghela napasnya, Lalau menjelaskan ke salah pahaman antara kakak beradik itu karena cewek, yaitu kekasih Adero.


"Jadi pacar Adero itu bukan cewek baik?" Tanya Mira di sela tangisannya.


Haidar mengangguk, "apa cewek club bisa di katakan baik, mah?" Seru Haidar.


Reymond memijat keningnya, tidak habis pikir kenapa bisa anak sulung nya bersikap seperti itu pada adiknya sendiri hanya karena maslah perempuan.


"Tadi papah lihat di CCTV, apa hasilnya?" Tanya Haidar yang penasaran mengapa Alina sampai melakukan hal gila seperti ini.


Kecewa dan sedih boleh, tetapi bukan kah kita juga harus berpikir ke depannya.


Reymond menghela napasnya, "papah lihat mereka sempat bertengkar, lalu Adero sempat menampar Alina!" Seru Reymond membuat emosi Haidar muncul.


Bener apa yang Haidar duga, pasti Adero menyakiti Alina hingga akhirnya Alina kecewa dan sedih seperti ini.


"Kalau seperti itu, apa yang akan papah lakuin sama kak Dero?" Tanya Haidar yang ingi. Tahu respon apa yang akan di berikan Reymond pada Adero.


Reymond menggeleng, "papah belum tahu apa yang akan papah lakuin sama Adero, biar bagaimanapun Adero tetap anak papah, Haidar. Siapa pun orang tua tidak akan tega menyakitii anaknya?"


Haidar menghela napasnya, apa yang Reymond bilang memang benar tetapi kalau Adero tidak di berikan hukuman itu tidak adil. Lihatlah sekarang Alina tengah berjuang di dalam, karena kesalah Adero.


"Maaf pah, bukan Haidar ikut campur terlalu jauh. Tapi menurut Haidar,papah harus kasih kak Dero hukuman supaya dia tahu letak kesalahannya. Agar dia tidak lagi ngelakuin hal yang seharusnya gak pernah dia lakuin sama adiknya sendiri!" Seru Haidar menyeruak an pendapat nya.


"Tapi balik lagi ke papah, Haidar hanya menyampaikan apa yang harus papah lakukan menurut Haidar." Sambung Haidar.


Reymond mengangguk, "iya Haidar, papah akan pikirkan hukuman apa yang tepat buat Adero. Sekarang kita fokus ke Alina dulu, papah harap Alina baik-baik saja!"


Haidar mengangguk, dan mengaminkan doa dari calon mertuanya itu. Haidar pun berharap hal yang sama, agar ia bisa kembali melihat senyum tuduh kekasih nya, dan mendengar suara indahnya.


Rasanya kangen deh sama kamu batin Haidar.


Haidar berpikir untuk mengabarkan para sahabatnya tentang kondisi Alina saat i i. Biar mereka pun ikut mendoakan yang terbaik untuk Alina.


Kalau di tanya, siapa yang harus di salah kan di sini siapa?


Apa Alina sendiri, karena melakukan hal gila atau Adero karena yang membuat Alina melakukan hal seperti itu?


Menurut kalian gimana?


...****************...


Setalah menunggu hampir 2 jam, akhirnya dokter yang menangani Alina keluar dari ruangan. Peluh di dahinya terlihat sekali kalau tadi dia bekerja sekeras mungkin untuk menyelamatkan nyawa orang.


Kedua orang tua Alina m ndekat ke arah dokter, begitu pun dengan Haidar untuk mendengar apa yang akan di sampaikan oleh dokter tersebut.


"Dengan keluarga pasien?" Tanya dokter sebelum memberitahu apa yang terjadi di dalam.

__ADS_1


Reymond mengangguk dengan cepat, "Iya dok kami orang tua nya, dan ini calon suaminya!" Seru Reymond m memperkenalkan lengkap.


Dokter yang bernama Abim karena terlihat di name tag jasnya, hanya tersenyum kecil kepada Haidar, yang Haidar sendiri tidak tahu apa artinya.


"Kondisi pasien sangat mengkhawatirkan saat ini, karena pasien telah tidak sadarkan diri cukup lama. Kami sudah memberikan obat dan tindakan untuk minimalisir tekanan dosis yang masuk ke tubuhnya." Seru Abim membuat Mira kembali menangis.


"Mohon maaf, kalau pasien sekarang di nyatakan kritis saat ini!" Sambung Abim dengan nada pelan penuh dengan sedih.


Tangisan Mira semakin kencang, meraung memanggil nama Alina. Reymond yang berada di samping nya berusaha menenangkan istrinya, padahal hatinya sendiri pun hancur. Sedangkan Haidar hanya bisa terdiam melamun menatap pintu yang dimana dalamnya ada Alina.


"Hanya itu yang bisa saya sampaikan, kami akan terus berusaha agar pasien bisa melewati masa kritisnya. Sebagai keluarga datang untuk pasien." Seru Abim lagi.


"Apalagi untuk kamu, sebagai calon suaminya sering-seringlah memanggil namanya. Kita tidak tahu apa yang masuk ke dalam alam bawah sadar pasien, tetapi kebanyakan pasien di sini bisa sadar karena kekuatan cinta dari orang tersayang." Seru Abim kepada Haidar.


Haidar hanya mengangguk lalu tersenyum getir.


"Kalau begitu saya permisi dulu, mohon maaf untuk sementara waktu pasien belum bisa di temui ya pak, Bu!" Ujar Abim lalu pamit pergi dari sana.


Setelah kepergian Abim, saat itu pula para sahabatnya tiba di rumah sakit. Semuanya melihat pemandangan yang sangat memilukan hati. Dengan Mira yang menangis kencang dengan Reymond di samping nya sambil mengelus punggung yang wajah Reymond sendiri pun seperti menahan tangis.


Mata mereka teralih kepada Haidar yang berdiri tepat di samping pintu ruangan dengan Tatapan yang kosong. Semuanya mendekati ke arah Haidar.


"Dar, gimana keadaaan Alina?" Tanya Lio pelan dengan sangat berhati-hati.


Tidak ada jawaban dari Haidar, padahal cowok itu hanya diam sambil tersenyum kecil memandang pintu.


"Tante, duduk dulu ya. Tante tenang, ini minum dulu!" Seru Meilla sambil memberikan Mira air mineral yang sengaja tadi ia beli.


Reymond memberikan Mira pada Meilla untuk di bawa duduk di kursi tunggu. Sedangkan ayahnya Alina menepati ke samping lalu menangis kecil sendiri an di sana.


"Alina, kamu anak yang kuat nak!" Guman Reymond sedih.


"Om, yang kuat ya. Pasti Alina bisa melewati ini semua dengan baik! Alina kan perempuan yang kuat!" Seru Nanda sambil mengelus punggung Reymond dengan lembut.


Reymond hanya bisa mengangguk lalu menambah suara tangisnya, tangisan yang sangat pilu yang di dengar oleh Nanda.


Pasti terjadi hal yang serius sama Alina pikir Nanda


Lio dan Edo yang masih di samping Haidar pun terus memberikan keterangan. Tidak bertanya lagi bagaimana kondisi Alina, karena mereka sudah tahu pasti kondisi nya tidak baik-baik saja setelah melihat respon dari orang tua dan Haidar saat ini.


"Lo sabar, Alina akan baik-baik saja setelah ini!" Seru Edo sambil menepuk bahu Haidar.


Haidar menggeleng, "Gak bisa, gue gak bisa lihat Alina berjuang sendirian di dalam sana!" Keluh Haidar.


"Alina banyak yang jaga di dalam sana, tugas lo sekarang cuma berdoa supaya Alina tetap bersama kita!" Sahut Lio.


Haidar menggeleng lagi, "Gue harus buat perhitungan sama dia, karena sudah buat Alina seperti sekarang!" Guman Haidar.


Bayangan wajah Adero terpampang jelas di depan wajah Haidar yang membuatnya terlihat sangat emosi sekarang.


Haidar membalikkan tubuhnya dengan cepat membaut Edo dan Lio kaget, "Lo mau kemana?" Tanya Lio.


Haidar melangkah dengan cepat menuju di mana Reymond berada saat ini. Haidar harus meminta izin terlebih dahulu sebelum menghajar Adero, biar bagaimanapun Haidar tidak mau gegabah dan menambah masalah Reymond dan Mira


"Pah, Haidar mau izin untuk seret Kak Dero kesini untuk lihat kondisi Alina! Karena dia Alina jadi kayak gini!" Seru Haidar penuh dengan emosi.


Reymond yang sedang menangis dalam diam, langsung menoleh ke arah Haidar. Reymond mengelus lengan Haidar dengan pelan.


"Papah tahu kamu kecewa dengan ini semua nak, tapi untuk apa kamu bertengkar sama Adero? Itu semua gak ada gunanya nak!" Seru Reymond tahu kalau Haidar tengah emosi.

__ADS_1


"Tapi pah, Kak Dero yang sudah buat Alina kaya gini. Haidar gak terima, dia nyakitin Alina!"


Reymond mengangguk, "papah mengerti nak papah pun sama tapi biar bagaimanapun Adero itu calon kakak ipar kamu. Papah gak mau kamu sama dia saling simpan dendam karena masalah ini!"


"Please, biarin urusan Adero papah yang ngurus. Sekarang kamu di sini aja jaga Alina, dokter bilamg dengan kekuatan cinta semoga ada keajaiban. Papah tahu Alina sangat cinta sama kamu, pasti dia butuh kamu sekarang!" Sambung Reymond.


Haidar terdiam, benar apa yang di bilang Reymond. Alina lebih membutuhkannya di rumah sakit, di banding ia harus menyamperin Adero dan memberikan pelajaran untuk cowok satu itu.


Lio mengelus punggung Haidar, "kita tunggu di sini aja ya, gue sama yang lain pasti nemenin lo Kom!" Serunya.


Haidar mengangguk lalu kembali melangkah ke depan pintu ruangan dengan langkah pelan. Rasanya hidupnya telah hancur, dunianya terasa berhenti sejenak saat ini. Ia kangen dengan kekasih cantiknya itu.


"Sayang berjuang terus yah. Waktu itu akan tiba sebentar lagi sayang, kamu yang kuat ya!" Seru Haidar dalam hati.


Tak lama seorang perawat keluar dari ruangan tersebut. Memberitahu kondisi terkini pasien di dalam.


"Maaf, apa ada orang tua pasien?" Seru perawat dan membuat Reymond serta Mira mendekat, begitu pun yang lain.


"Kami orang tua pasien, aua!" Jawab Reymond.


Suster mengangguk, "saya mau memberitahu kalau kondisi pasien memburuk, kami harus kembali melakukan tindakan pak. Untuk itu saya ingin meminta tanda tangan, atas persetujuan tindakan yang akan di lakukan dokter!"


Reymond mengangguk lalu mengambil alih kertas di tangan perawat dan langsung di tanda tangannya.


"Lakukan apapun yang terbaik untuk anak saya sus, bantu agar dia bisa melewati masa kritisnya. Saya mohon sus, berapa pun biayanya!" Seru Reymond menahan tangisnya.


Orang tua mana ya g tidak sedih mendengar kondisi anaknya yang semakin melemah. Di tambah anak yang selama ini selalu ceria, dan sekarang harus terdiam di atas ranjang rumah sakit.


"Sebelum di lakukan tindakan apakah saya boleh melihat kondisi pasien, sus?" Tanya Haidar yang sudah tidak tahan ingin melihat wajah kekasihnya.


Suster menggeleng, "Mohon maaf mas, untuk saat ini belum bisa jenguk siapapun. Mungkin nanti Kalau kondisi pasien stabil, diperbolehkan oleh dokter!"


"Hanya sebentar saja sus, hanya ingin memberi semangat untuk pasien biar dia bisa lewatin semua ini!" Kekeuh Haidar


Suster menghela napasnya, "Sebentar saya tanya dulu kepada dokter Abim ya mas!"


Haidar mengangguk.


Tak lama suster kembali keluar dan mengizinkan Haidar untuk masuk ke dalam ruangan melihat Alina. Meskipun hanya di kasih waktu sebentar tapi Haidar akan gunakan dengan sebaik mungkin.


"Pah, Haidar masuk dulu yah, gak papa kan?" Izin Haidar dan di anggukin oleh Reymond.


Reymond tak masalah kalau Haidar yang masuk ke dalam untuk melihat Alina. Reymond yakin kekuatan cinta mereka berdua bisa membuat Alina akhirnya sadar seperti sedia kala.


Haidar masuk ke dalam ruangan Alina, dan betapa terkejutnya saat melihat kondisi Alina saat ini yang di penuhin dengan alat di tubuhnya. Miris itu lah yang Haidar rasakan. Tidak tega juga melihat kondisi Alina yang tengah berjuang.


"Mas, mohon untuk tidak menyentuh pasien ya!" Pinta perawat dan membuat Haidar mengurungkan niatnya untuk membelai wajah cantik Alina.


Haidar tersenyum kecil sambil melihat wajah pucat Alina saat ini. "Halo cantik, ini aku Haidar. Pasti kamu dengar suara aku kan, cepat buka mata ya sayang biar kamu bisa lihat ketampanan aku lagi!"


"Aku selalu di sini menemanin kamu, jangan pernah merasa sendiri ya sayang, jaga. Pernah merasa sendiri ya sayang. Berjuang terus untuk kita yang tinggal menunggu waktu pernikahan itu tiba sayang!"


"Alina, maaf kalau aku belum bisa jaga kamu sepenuh hati dan waktu sampai akhirnya kamu berada di sini. Maaf aku gak bisa lama di sini, nanti kalau kondisi kamu sudah stabil aku akan terus si sisi kamu ya!" Seru Haidar lalu mengecup Alina dari jauh.


Setelah itu ia kembali keluar ruangan dan melangkah menjauh dari orang disekitarnya. Ia butuh waktu sendiri saat ini, ia sedih, ia kecewa tidak bisa menjaga kekasihnya dengan baik.


Haidar berdiri di lorong rumah sakit, dan menangis tanpa suara meratapi apa yang tadi ia lihat tentang kondisi Alina. Tidak ada yang bisa Haidar lakukan lagi, selalu nya berdoa untuk kesembuhan Alina.


...Guys please komentar yang bikin aku semangat dong dan mohon maaf kalau aku lama update tapi aku usahain update lebih dari satu bab kok dan di real life pun aku gak punya waktu luang yang banyak. Jadi mohon pengertiannya yaaaaa......

__ADS_1


...Guys jangan lupa komen dan kasih ulasan ya, biar aku tambah semangat buat ceritanya!...


__ADS_2