Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Pelampiasan


__ADS_3

Kesedihan yang mendalam yang sedang di rasakan Alina saat ini. Mengapa semua begitu cepat itu lah yang alina pikirkan saat ini.


Apakah kalau Alina tidak pergi bersama dengan Meilla dan Elsa ini semua tidak akan terjadi? Apakah ini salah Alina yang membiarkan Haidar pulang sendiri? Alina terus menyalahkan dirinya sendiri.


Semua orang sudah berkumpul di depan IGD menunggu kabar dari dokter yang masih memeriksa Haidar di dalam. Sahabat serta orang tua Haidar dan meilla masih setia di sana.


Alina masih terus di tenangkan oleh Elsa, tatapi dengan Meilla juga kali ini. Tangisan Meilla yang sudah berhenti, begitu pun dengan Alina. Mereka hanya menampilkan wajah khawatir versi masing-masing.


...****************...


...Flashback...


Banyak yang melihat hubungan Meilla dengan Haidar tidak wajar kali hanya sebatas sahabatan. Memang mereka sudah mengenal satu sama lain sejak kecil.


Riani dengan Indira sahabatan sejak sekolah dulu dan rumah mereka sempat berdekatan hingga akhirnya Indira harus pindah ke rumah baru setelah menikah dengan Roy.


Sejak dulu Haidar memang memiliki sifat yang dingin pada siapapun, tak tersentuh sama sekali kecuali dengan Meilla. Hanya dengan Meilla, Haidar bisa mengekspresikan dirinya. Haidar nyaman dengan Meilla begitu pula sebaliknya.


Mitos tentang yang katanya Meilla meminta orang tuanya agar di jodohkan dengan Haidar itu semua benar. Orang tua Meilla sudah membicarakan ini waktu itu, namun di tolak oleh Roy karena menurut nya sekarang bukanlah jaman perjodohan. Roy mau membebaskan Haidar memilih kekasih hatinya sendiri.


Wajah kalau Meilla ingin Haidar jadi miliknya, karena sejak dulu Haidar selalu baik dan mengutamakan dirinya dari pada yang lain.


Sejak penolakan itu hubungan keluarga Haidar dan meilla sempat renggang. Sampai akhirnya dimana, Roy selingkuh dan meninggalkan Indira. Keegoisan Riani dan Fandi bilang begitu saja, mereka kembali berkomunikasi dengan Indira.


Hingga akhirnya Indira di vonis depresi, keluarga Meilla yang bantu mengurus semuanya. Mengurus butik Indira yang sedang ramai, membantu Haidar agar tetap kuat menjalani hidup. Semua di lakukan Fandi dan Riani karena masih menganggap Indira adalah sahabat nya.


Fandi tau kalau Meilla saat ini sedang menjalin hubungan dengan Edo, namun hati Fandi sudah terpaku pada Haidar dan gaya ingin Haidar yang menjadi suami Meilla nantinya. Maka dari itu Fandi sempat berkata dengan Haidar, kalau di usia Haidar menginjak 23 tahun belum menemukan siapa pilihannya. Haidar harus bersedia menikah dengan Meilla.


Tapi Meilla tidak tahu perihal ini, selama ini Meilla selalu berusaha untuk jaga jarak pada Haidar. Namun sayang selalu saja ada kejadian yang melibatkan keduanya. Kalau di tanya hatinya untuk siapa, Meilla pun bingung. Meilla sayang dengan Edo begitu pula sayang dengan Haidar. Bohong kalau perasaan kagumnya pada Haidar itu bisa menghilang sepenuhnya.


Sebagai seorang ayah, apapun akan Fandi lakuin demi kebaikan anaknya. Bukan Edo tidak baik, namun balik lagi Fandi sudah terlanjur sayang dengan Haidar.


...Flashback off...


Tak lama dokter yang menangani Haidar keluar dari ruangan. Semua orang langsung berdiri untuk menghampiri dan mendengarkan apa yang akan dokter itu katakan tentang kondisi Haidar.


“Bagaimana keadaaan anak saya dok?” tanya Roy.

__ADS_1


Dokter menghela napasnya, “Alhamdulillah anak bapak tidak mengalami luka yang cukup serius, hanya saja kaki bagian kanannya mengalami patah tulang.”


Roy bernapas lega, begitu pula dengan yang lainnya. “Apa langkah selanjutnya agar anak saya bisa sembuh seperti sedia kala dok?”


“Bapak tenang saja semua sudah di lakukan yang terbaik untuk anak bapak, tapi mungkin anak bapak harus menggunakan tongkat untuk membantu nya berjalan.”


“Tidak perlu khawatir pak, proses penyembuhan ini hanya perlu beberapa Minggu saja setelah itu anak bapak bisa kembali berjalan seperti semula meskipun pasti rasanya akan berbeda.” lanjut sang dokter.


Roy mengangguk, “Baij terima kasih banyak dok, apakah saya boleh menjenguknya?”


“Bokeh, setelah pasien di pindahkan ke ruang rawat dan tidak bisa terlalu banyak orang juga, biarkan pasien istirahat dulu pak.”


“Baik dok, terima kasih banyak.”


Dokter mengangguk, “Kalua begitu saya permisi.” pamit sang dokter lalu pergi dari sana.


Semua mengucapkan syukur setelah mendengar apa yang dokter katakan tadi. Terutama alina, rasa khawatir yang sangat membuncah tadi akhirnya berangsur hilang. Kondisi Haidar tidak seburuk itu dan Haidar masih bisa bertemu dengannya pikir Alina.


“Fue bilang apa, Haidar itu cowok yang kuat, dia gak akan ninggalin lo gitu aja Lin!” seru Elsa.


Alina mengangguk lalu tersenyum, “Thank Sa, Lo udah nenangin gue tadi!” sahut Alina sambil menggenggam tangan Elsa.


Lin, sorry!” seru Meilla pada Alina.


Lina mengangguk lalu tersenyum perih, “Gak masalah La, gue ngerti apa yang lo rasain, sama seperti apa yang gue rasa.”


Elsa yang mengingat kejadian tadi menjadi sedikit sebal dengan sikap Meilla, terlalu berlebihan pikir Elsa.


“La, sorry banget kalau waktunya gak pas gue ngomong kaya gini. Tapi please, seharusnya lo bisa jaga perasaan Alina. Gue tau lo sahabat nya Haidar, tapi gue rasa lo terlalu berlebihan. Lo harus inget Haidar sudah milik Alina begitu pula dengan lo udah punya Edo.” seru Elsa membuat Lio langsung mendekati kekasihnya itu sambil membisikkan. “Stop Sa, ini ruang sakit!” tapi tidak di hiraukan sama sekali dengan Elsa.


Meilla yang mendengar Elsa bicara seperti itu langsung menatap Elsa dengan ekspresi yang Elsa tidak tahu artinya apa.


“Sa, Lo gak boleh bicara kata gitu. Wajar kalau Meilla khawatir sama Haidar. Lo juga pasti khawatir kan sama Haidar?” seru Nanda yang membela Meilla.


“Gue khawatir tapi gak terlalu berlebihan sambil meraung-raung, gue rasa yang cocok ngelakuin itu nyokanya Haidar atau Alina, bukan malah meilla.” sahut Elsa tidak mau kalah.


Edo mengelus punggung Meilla memberikan ketenangan dan kesabaran pada kekasihnya itu, meskipun dalam hatinya Edo pun ikut sakit mendengar apa yang Elsa bilang.

__ADS_1


“Alina cuma pacarnya Haidar, bukan istrinya lalu lo lupa. Menurut gue gak wajar kalau Alina nangis sampai berlebihan!” Nanda masih terus membela Meilla.


“Tapi Meilla pun cuma sahabatan kan? Atau sebenarnya ada yang Lo sembunyiin lagi dari kita La?” tuduh Elsa membuat Meilla tersulut emosi.


Meilla menatap mereka semua yang ada di sana satu persatu, “Gue udah pernah bilang, gue sama Haidar gak ada hubungan selain sahabat. Tapi kenapa sampai sekarang kalian gak pernah percaya sama gue?”


“Karena lo munafik, gue cewek dan lo juga cewek gue tahu cara pandang lo setiap ngelihat Haidar. Lo nyimpen rasa sama Haidar, iya kan?” seru Elsa.


“Sa, lo lihat kenyataan nya sekarang gue ngejalanin hubungan sama Edo. Apa selama ini gue berusaha ngerusak hubungan Alina? Enggak kan!”


“Edo cuma lo jadiin pelampiasan karena lo gak berhasil ngedaperin Haidar! Lo gak ngerusak hubungan Alina? Lo gak sadar apa pura-pura gak sadar? Dengan cara lo seperti tadi secara gak langsung pun Lo mau ngerusak hubungan mereka, La!”


Belum sempat Meilla menjawab, suara Lio terdengar, “Stop! Ini rumah sakit, bukan waktu yang pas Lo berdua bertengkar! Yang terpenting saat ini adalah kesembuhan Haidar!”


Alina tidak memberikan tanggapan apapun, karena setuju dengan perkataan Elsa tadi. Alina sebenarnya ingi. Mengatakan langsung pada Meilla, kalau itu pun kurang suka melihat Meilla yang terlalu berlebihan.


Tapi Alina ingat kata-kata Hellena kalau apapun akan Haidar lakuin untuk Meilla. Alina tidak mau membuat Meilla sakit hati karena kejujuran hatinya, karena itu pun bisa membuat Haidar sedih.


Sepertinya kata munafik itu lebih cocok untuk Alina, bukan untuk meilla! Bener gak sih?


...****************...


Meilla pergi meninggalkan para sahabatnya begitu saja. Sedih karena di tuduh yang bukan-bukan oleh sahabatnya sendiri. Selama ini ia berusaha agar terhindar dari Haidar, tapi entah mengapa setiap kejadian selalu melibatkan keduanya.


Elsa yang melihat Meilla begitu saja semakin emosi, “Dasar cewek munafik! Lo mau aja Di, di jadiin bahan pelampiasan Meilla!” seru Elsa pada Edo.


Sedangkan Edo hanya bisa diam saja, karena sebenarnya Edi pun merasakan hal itu. Tapi ah sudahlah namanya cinta ya buta.


“Lin, Lo setuju kan apa yang gue bilang?” tanya Elsa pada Alina dan hanya di anggukin oleh Alina.


Nanda yang sejak tadi membela Meilla pun tak suka melihat itu, “Lo juga terlalu berlebihan Lin, kalian kan Sahabatan mas Lo berdua tega nuduh dia kaya gitu!” seru Nadya.


“Bukan nuduh Nan, tapi emang fakta. Selama ini banyak yang dia sembunyiin dari kita tentang Haidar! Lalu di setuju alin bersama Haidar seharusnya dia ngasih tahu apa saja yang dia tahu tentang haidar bukan malah nutupin dengan alasan buat Haidar aja yang kasih tau! Sahabat begitu?” ketus Elsa.


Udah lah cukup, mendingan kita jengukin haidar.” seru Edo yang merasa telinga nya panas.


Akhirnya mereka berjalan ke arah ruang rawat Haidar. Bergantian untuk masuk ke dalam melihat kondisi Haidar.

__ADS_1


Begitulah hubungan Meilla dan Haidar.. menurut kalian bagaimana?


__ADS_2