
Memutuskan untuk istirahat sebentar dari dunia Haidar, Alina merasa memang itu lah yang terbaik untuk sekarang. Untuk menata hati serta mengembalikan rasa percayaan pada Haidar berikut Meilla.
Biar bagaimanapun Meilla tetap lah sahabat nya, meskipun sering kali Meilla membuat nya kecewa tetapi Alina tidak bisa melupakan gitu saja pertemanan mereka dulu.
Pagi ini Alina memutuskan untuk pergi ke kampus sendiri. Tidak menjemput Haidar seperti waktu itu. Sejak semalam Alina sudah memblokir kontak Haidar, agar ia bisa lebih fokus dengan keputusannya.
Sebenarnya Alina khawatir dengan Haidar, dengan kondisi Haidar yang belum pulih total. Tetapi balik lagi, hatinya sudah cukup kecewa untuk saat ini, biarkan dirinya sendiri dulu tak apa kan?
Alina mengendarai mobilnya menuju kampus, Sepajang perjalanan Alina sengaja menyalakan lagu galau yang lagi viral di kalangan nya saat ibu, seperti tertawan hati yang kemarin Edo nantikan, Alina jadi suka juga dengan lagu itu.
“Woi ini lagu apa kisah gue sih, relate banget anjir!” gerutu Alina sendiri dalam mobil.
Menyanyi mengikuti alunan lagu ya membuat Alina sedikit lega. Jadi ingat waktu di cafe saat ketemu Alvaro. Ah jadi kangen alvaro, orang yang selalu setia ngedengerin curhatan sampah gue tentang Haidar mulu batin Alina
Ingin rasanya Alina menghubungi Alvaro dan mengajaknya bertemu, tetapi ia segera mengusir pikirannya itu. Hubungannya dengan Haidar sedangkan bermasalah.
Alina telah sampai di kampusnya, setelah turun dari mobil Alina memutuskan untuk mampir ke kantin lebih dulu sebelum ke kelas. Jam kelas pertama masih ada waktu 30 menit, jadi masih cukup kalau Alina membeli cemilan atau air mineral ke kantin.
Di tengah perjalanan menuju kantin yang sebenarnya tak jauh dari parkiran, Alina bertemu sosok yang sedang ia hindari untuk beberapa hari ke depan.
“Alina!” panggil Haidar saat sudah berdiri berhadapan.
Alina tidak menjawab panggilan itu, dan ingin segera pergi dari sana. Tapi lagi-lagi Haidar mencekal tangannya membuat langkahnya terhenti.
“Alina, aku beneran gak bisa diem-diem sama kamu gini. Kenapa kontak aku di blokir juga? Kamu bilang kamu gak akan pergi ninggalin aku, tapi nyatanya kamu kaya mau pergi. Menutup semua akses untuk aku tahu kabar kamu!” keluh Haidar dengan nada suara pelan. Ada nada sedih di dalamnya, Alina sekuat hati tidak mudah terpengaruh karena itu.
Alina membalikkan badannya, “ini kita bisa ketemu di kampus kan? Please Haidar, jangan kaya anak kecil gini, malu!”
“Kamu yang kaya anak kecil, semua masalah bisa di bicarakan baik-baik. Bukan malah menghindar kaya gini!” Haidar lepas kontrol karena tak suka Alina menyebutnya anak kecil.
Alina menatap Haidar dengan senyum kecil, “Kalau aku tahu langsung dari kamu. Mungkin kecewa aku gak sampai begini Haidar. Aku selalu ngerti posisi kamu dengan Meilla selama ini, jadi please sekarang kamu juga harus ngerti posisi aku saat ini.”
“Oke fine kalau emang itu mau kamu, terserah kamu mau kaya gini sampai kapan. Aku capek mohon sama kamu , kalau akhirnya keputusan kamu gak berubah juga.” Haidar menyerah dengan tekadnya membuat Alina segera memaafkan nya.
Alina mengangguk kecil, hatinya terasa sakit mendengar itu semua dari mulut Haidar. Loh bukannya ini maunya, menjauh sejenak dari Haidar. Lalu kenapa sakit saat Haidar menerima itu semua? Dasar cewek serba salah emang!
Haidar melepaskan cekalan tangannya pada Alina, membiarkan Alina melangkah pergi menjauh darinya untuk beberapa hari ke depan. Dalam hati Haidar, berharap kalau situasi ini tidak akan berlangsung lama.
Alina kembali melangkah menuju kantin, jantungnya berdebar cepat sekaligus sakit mengingat Haidar menyetujui maunya. Alina membeli air mineral lalu duduk di bangku yang kosong di kantin.
__ADS_1
“Bukannya ini emang mau lo, Lin?” Alina bermonolog sendiri dengan tatapan kosong di depan nya.
Tanpa sadar ada seseorang yang duduk di depannya, “Alina, Lo kenapa?” tanya Hellena yang sudah duduk di depan Alina.
Alina yang sedang melamun, kaget mendengar suara Hellena, “Astaga, kaget gue!” seru Alina.
“Lagian masih pagi ngelamun, kenapa lo? Ada masalah?” tanya Hellena.
Alina menggeleng, “Gak kok, cuma lagi capek aja baru pulang dari Amrik, langsung kuliah!” seru Alina berbohong.
Alina ingat pesan dari Haidar, “Jangan terlalu percaya dengan orang baru!” begitulah pesan Haidar makanya ia tidak akan menceritakan masalahnya pada Hellena.
Hellena mengangguk, “Lagian Lo ngapain si ke Amerika?”
“Nyusul orang tua gue di sana, sekalian ada acara keluarga tahunan.” beritahu Alina.
Hellena berkata oh tanpa bersuara, “Haidar mana? Tumben gak sama lo, biasanya kan lo berdua gak bisa terpisahkan. Kaya malam, Alina dan haidar.” kekeh Hellena membuat Alina ikut terkekeh.
“Lo bisa aja Hell, Haidar lagi sibuk banyak tugas, makanya gue gak sama dia dulu.” seru Alina berbohong lagi.
Sedang asik mengobrol banyak hal dengan Hellena, tiba-tiba mereka kedatangan seseorang yang langsung duduk di sebelah Alina membuat Hellena serta Alina kaget.
“Loh, Alister?” seru Alina saat melihat siapa orang yang duduk di sampingnya saat ini.
“Ehem, iya aku ada urusan sampai gak bisa masuk kampus.” jawab Alina.
Alina menatap Hellena yang sedang menatap Alister dengan tatapan kagum dan memuja. Tak heran jika wanita yang menatap Alister seperti itu, Alina tersenyum kecil setelah memikirkan rencananya.
“Ali, kenalin ini temen sekelas aku, kamu bisa panggil dia bercahaya.” seru Alina sambil mengedipkan padanya pada Hellena.
“Bercahaya?” beo Alister.
Alina mengangguk, “Iya kan nama dia Hellena Kana artinya bercahaya.”
Alister terkekeh setelah mendengar gurauan recehan dari Alina, “Alina, kamu masih sama kaya dulu!” seru Alister pelan mungkin Alina tak akan mendengarnya walau jarak mereka dekat.
“Hell, kenalin ini teman gue namanya Alister!” seru Alina membuyarkan lamunan Hellena yang sedang menatap Alister tanpa kedip itu.
Hellena kaget langsung bertingkah gugup, “Hai, gue Hellena. Senang kenalan sama lo!” seru Hellena sedikit gugup.
__ADS_1
Alina terkekeh melihat tingkah Hellena yang nampak salah tingkah itu.
“Gue Alister, mantannya Alina. Semoga kita bisa jadi teman baik ya!” seru Alister sambil tersenyum tampan miliknya.
Alina yang mendengar ucapan Alister kaget, untuk apa Alister berkata seperti itu di depan Hellena.
“Oh kalian mantanan ternyata, kenapa putus? Padahal kalian cocok loh kalau di lihat-lihat!” seru Hellena berjasa basi karena bingung mencari topik pembicaraan.
Alister ingin menjawab pertanyaan Hellena tadi, namun suara Alina yang lebih dulu terdengar, “Semua udah masalalu, gak perlu di bahas lagi ya. Gimana kalau kita bahas mas depan aja?” seru Alina.
“Masa depan kita kan, aku dan kamu, alina.” sahut Alister membuat Alina langsung menggeleng.
“Bukan Ali, kita udah selesai dan aku udah punya masa depan sendiri. Ehem kayaknya Hellena belum punya deh, coba aja kamu ajak dia untuk jadi masa depan kamu.”
Hellena yang sedang di promosiin begini, jadi semakin salah tingkah dan sekarang hanya bisa menunduk kan kepalanya karena malu.
“Alina, aku mau kita balik, apa gak bisa?”
Alina menggeleng, “Gak bisa Ali, aku udah punya Haidar saat ini. Aku bahagia bersama dia, biarin aku bahagia sama kehidupan aku yang sekarang ya?” Alina mencoba memberitahu kehidupan pada Alister.
Alister terdiam, “Kalauhaidar kamu udah nyerah, kamu kasih tahu aku ya. Biar aku yang lanjutin perjuangan dia, boleh?”
Alina hanya tersenyum tak menanggapi ucapan itu. Lalu Alina melirik jam yang ada di ponselnya, ternyata 10 menit lagi kelas akan di mula. Dengan cepat Alina bangkit dari duduknya dan mengajak Hellena juga yang masih menunduk.
“Boleh pinjam ponsel kamu?” tanya Alina pada Alister.
Dengan senang hati Alister memberikan ponsel itu, berharap Alina akan memberikan kontak teleponnya. Tetapi Alister salah, ponsel itu di berikan kepada Hellena.
“Hell, masukin nomor lo. Biar lo berdua bisa saling kenal lebih deket, kalau gue lihat-lihat kalian lumayan cocok!” seru Alina sambil memberikan ponsel Alister pada Hellena.
Hellena yang awalnya ragu, menoleh ke arah Alister dan ternyata di anggukin. Oleh Alister yang mungkin artinya boleh menaruh nomor teleponnya di sana. Setelah selesai, Alina mengembalikkan ponsel itu ke sang pemilik.
“Kalau gitu, aku sama Hellena pamit masuk kelas ya, jangan lupa chat Hellena. Aku harap kamu bisa melupakan aku, Ali!” seru Alina sambil menepuk bahu Alister pelan dan berlalu meninggalkan Alister di kantin.
“Apa benar-benar gak ada harapan lagi kita bersatu, Lin?” seru Alister.
Jadi lebih cocok mana
Alina × Haidar
__ADS_1
Alina × Alvaro
Alina × Alister