
Setelah bertemu dengan Elsa dan bonus bertemu dengan Alvaro tadi di cafe. Sekarang Alina sudah sudah sampai lagi di kampusnya untuk menjemput Haidar. Seperti permintaannya tadi, 20 menit sebelum keluar kelas Alina meminta Haidar untuk menghubungi nya. Agar saat Haidar keluar kelas, Alina pun sudah sampai di kampus.
Haidar segera keluar dari mobil untuk menghampiri Haidar, “Hai Haidar!” sapa Alina dengan senyuman manisnya.
“Sayang!” koreksi Haidar.
Alina terkekeh, “Iya sayang.” sahut Alina.
Alina membantu Haidar untuk segera masuk ke dalam mobilnya dan mengantarkan pulang kekasihnya itu untuk istirahat.
“Gimana ketemu sama Elsa nya?” tanya Haidar saat Alina sudah melakukan mobilnya keluar kampus.
Alina menoleh ke arah Haidar sekilas, “Gak gimana-gimana sih, cuma ketemuan biasa aja mumpung ada jam kosong.” seru Alina.
Haidar mengangguk, “Kenapa cuma berdua? Meilla gak ikut ketemu juga tadi?”
Alina mendengar Haidar mananyakan hal itu langsung menghela napas kecewanya, “Kenapa malah nanyain Meilla?” ketus Alina.
Haidar terkekeh, “Cemburu kah?”
Alina hanya diam tidak merespon apapun.
“Aku cuma tanya aja sayang, kan biasanya kalian kumpul bertiga, kenapa tadi hanya berdua?” jelas Haidar.
Alina tetap diam tidak menjawab apapun. Mood nya langsung hancur begitu saja karena Haidar. Hingga sampai di rumah Haidar, Alina tetap diam tidak menjawab apapun yang Haidar bicarakan dengan nya sejak tadi.
Alina tetap membantu Haidar turun dari mobil dan mengantarnya hingga depan pintu utama kekasihnya itu.
“Aku pulang dulu ya.” Alina langsung berpamitan pulang pada Haidar.
Haidar menarik tangan Alina agar tidak segera pergi, “Sayabf, kamu marah?”
Alina menggeleng, “Marah pun percuma, buat apa?”
Haidar menatap Alina dengan dalam, dengan tangan saling menggenggam, “Aku sama Meilla cuma sa-”
__ADS_1
Alina langsung memotong ucapan Haidar, “Iya tahu cuma sahabatan aja kan, gak perlu di jelasin lagi aku udah tahu haidar.” seru Alina.
Haidar menarik napasnya, lalu mengusap kepala Alina pelan, “Maaf lalu aku salah bicara.”
Alina mengangguk, “Yaudah aku pulang dulu ya. Kamu jangan lupa makan setelah bersih-bersih.”
“Kaku gak mau masuk ke dalam dulu ketemu kamu?” pinta Haidar agar Alina tidak langsung pulang.
Alina menggeleng, “Enggak dulu gak papa kan? Aku ada tugas yang harus di kumpul besok soalnya.” alasan Alina.
Haidar akhirnya mengangguk, membiarkan Alina pulang untuk mengerjakan tugas kuliahnya. “Yaudah deh, padahal aku masih kangen sama kamu loh.”
Alina diam tidak menanggapi apa yang Haidar bilang tadi. Alina segera melepaskan genggaman Haidar lalu berbalik badan untuk segera pergi. Tapi tanpa di sangka, Haidar malah memeluknya dari belakang membuat Alina diam.
“Jangan marah, aku sayang kamu.” seru Alina tepat di samping telinga Alina.
Alina yang dibisikkan seperti itu, rasanya seperti melayang ke udara. Jantungnya yang berdetak cepat, kakinya lemas seakan tidak bisa berdiri sempurna. Haidar mampu membuainya dengan cara seperti ini. Kehangatan dari pelukan Haidar sangat terasa dan membuat nya merasa nyaman.
...****************...
Setelah mengantarkan Haidar pulang ke rumahnya, Alina mampir ke mall lebih dulu untuk ke toko buku. Ada buku yang harus ia beli untuk keperluan kuliahnya.
Alina memasuki toko buku yang di maksud nya tadi dan mencari buku yang ingin ia beli. Tanpa di sangka ia bertemu dengan Vanesa di sini, sendirian juga.
“Alina?” sapa Vanesa.
Alina hanya tersenyum kecut lalu ingin segera pergi dari hadapan Vanesa. Sudah moodnya rusak di tambah bertemu dengan Vanesa semakin rusak deh.
“Alina tunggu, gue cuma mau ngasih tau satu hal sama Lo, tantang haidar.” seru Vanesa membuat Alina menghentikan langkahnya.
Alina membalikkan badannya untuk menatap gadis itu, “Tentang Haidar?”
Vanesa mengangguk, “Gimana hubungan lo sama Haidar? Masih aman kah? Atau udah ada yang masuk jadi pengganggu di hubungan lo?”
Dahi Alina nampak bergelombang karena tidak mengerti maksud dari pertanyaan Vanesa itu, “Cepet kasih tahu aja, gak perlu banyak basa basi.” kaluh Alina tak ingin berlama-lama bersama Vanesa.
__ADS_1
Vanesa terkekeh, “Santau dong, gue gak jahat kok. Ehem kalau dari info yang gue denger hubungan lo lagi ada masalah karena sahabat Lo sendiri kan?”
Alina diam dan menunggu kelanjutan ucapan Vanesa.
“Meilla, dia sumber masalah di hubungan lo sama Haidar kan? Karena selama ini yang lo lihat atau rasa gak seperti pengakuan mereka yang bilang cuma seorang sahabat kan?”
“Lo tahu gak kenapa mereka gak bisa lepas sama sekali? Maksud gue tuh, kaya ada aja yang bikin mereka akan bersatu dalam sebuah ikatan serius?”
Alina menggeleng, hatinya penasaran sekali tentang ini. Tapi ia bingung apakah ia harus percaya omongan Vanesa, karena kan yang Alina tahu Vanesa yang menyebabkan Diana dan Olivia meninggal.
“Haidar sama Meilla itu pernah ngelakuin hal yang terlarang, Alina. Makanya mereka gak akan pernah bisa lepas satu sama lain, Lo tahu gak kalau orang tuanya Meilla buat perjanjian sama Haidar, tentang ini.”
“Maksud Lo?” seru Alina yang masih tidak paham dengan ucapan Vanesa.
“Iya pernah ngelakuin hubungan seperti itu, tapi kalau soal perjanjian itu gue gak bisa jelasin karena gue gak tahu yang pastinya kaya gimana.”
Alina mendengar kan seksama apa yang Vanesa katakan tadi. Hatinya hancur berkeping-keping mendengar itu semua. Meskipun hatinya menolak untuk percaya tapi entah mengapa ucapan Vanesa itu memang benar.
“Emang sih, memang ngelakuin itu karena khilaf. Waktu itu kondisi Haidar hancur setelah kepergian Diana dan Olivia, cuma Meilla yang mampu nenangin Hadar pada saat itu. Entah gimana kejadiannya gue pun gak tahu pasti, tapi gue tahu itu semua dari orang terpercaya.”
“Siapa?” hanya itu Yanga Lina tanyakan.
“Papah Roy, dia tahu karena waktu itu masih suka pulang ke sana. Mereka pun mengakui itu semua di depan kedua orang tua masing-masing. Makanya mereka seperti diikat gitu, orang tua Meilla mau Haidar tanggung jawab. tapi Haidar menolak dengan alasan tidak memiliki rasa apapun dengan meilla.”
Alina bingung harus bersikap seperti apa, bingung harus bagaimana setelah mendengar semua ini. Memang benar ya, hal yang di paksakan itu tidak akan membuahkan hasil yang baik. Seperti hubungannya dengan Haidar, seperti terpaksa.
“Kenapa Lo ngasih tahu ini semua sama gue?” tanya Alina ingin mengetahui maksud dan tujuan Vanesa memberitahu hal menyakitkan ini padanya.
“Alina, Lo cewek baik, gue gak bisa ngelihat lo terus tersakiti kaya gini. Lo boleh gak percaya sama apa yang gue bilang. Tapi pesan gue cuma satu, minta mereka jujur untuk hal ini dan Lo minta Haidar perjelas hubungan kalian.”
“Lobtahu Haidar orang seperti apa, dia akan selaku merasa bersalah meskipun sebenarnya bukan salah dia. Seperti kasusnya Diana dulu, dia bisa terpuruk sampai bertahun-tahun cuma karena dia ngerasa bersalah. Mungkin itu lah yang Haidar rasa juga pada Meilla.”
“Gue emang bukan orang baik, dan mungkin lo gak akan percaya itu semua. Tapi coba lo tanya sama Haidar atau Meilla kali mereka ngaku, terserah lo akan ngelanjutin hubungan lo sama Haidar atau milih berhenti.”
Vanesa menggenggam tangan Alina dengan erat, “Sorry kalau waktu itu gue pernah jahat sama Lo, semoga lo selalu bahagia Alina. Jangan seperti gue yang selalu ngerasa kesepian.” seru Vanesa dengan dengan nada suara tulus.
__ADS_1
Alina kembali menggenggam tangan Vanesa, “Semua orang punya kesalahan, dan semua orang juga memiliki kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik. Gue harap lo bisa merubah itu semua, dan hidup lo bahagia seperti apa yang lo mau.”
“Thanks buat informasi nya, walaupun gue belum percaya sepenuhnya kata kata Lo tadi. Tapi mungkin nanti gue akan minta kejujuran soal ini sama Haidar atau Meilla. Kalau gitu gue pamit duluan ya, semoga nanti kita ketemu lagi dengan lo yang lebih baik lagi.” pamit Alina lalu pergi dai sana menuju kasir untuk membayar buku yang ia beli.