
Setelah mengetahui fakta yang sangat mengejutkan membuat Alina mengkhawatirkan Haidar sekarang. Alina berpikir, dengan cara apa Haidar bisa bertahan sampai titik ini.
Kalau Alina Yanga da di posisi Haidar. Mungkin Alina sudah mengakhiri hidupnya kali. Alina saja yang sehari tidak di telepon orang tuanya bisa marah, apalagi seperti Haidar.
Setelah pulang sekolah nanti, Haidar akan mengajak Alina untuk ke rumah nya dan bertemu dengan mamah nya. Haidar berharap mamahnya bisa menerima Alina seperti beliau menerima Meilla selama ini.
Rasanya lega saat Haidar su menceritakan semua tentang rahasianya yang selama ini jaga. Haidar merasa omongan Meilla waktu itu benar, Alina bukan perempuan yang akan membuka rahasia seseorang ke yang lain.
Saat ini jam pelajaran sedang berlangsung, tetapi saat ini kelas Alina sedang tidak ada guru pelajaran alias jam kosong karena guru pengajar tidak datang hari ini.
Jam kosong di kelas Alina di manfaatkan oleh Lio untuk mengadakan konser dadakan, ada pula yang sedang bermain game di ponsel masing-masing ada juga yang tengah ngerumpi seperti Alina.
"illa, nyokap nya Haidar suka apa?" Tanya Alina.
Meilla yang mendengar pertanyaan itu langsung menatap Alina sebentar lalu mengalihkan pandangannya, ia bingung harus menjawab apa. Meilla tidak tahu kalau Alina sudah tahu semuanya tentang keluarga Haidar.
"Nyokap nya haidar gak ada di Indonesia Lin." Jawab Meilla.
Meilla berbohong lagi? Eh tunggu, pasti karena meilla kira gue belum tahu semuanya balik Alina.
"illa, gue udah tau semuanya. Makanya gue tanya sama lo, biar gue juga bisa di terima beliau seperti terima lo." Ujar Alina pelan agar tidak ada yang mendengar.
Meilla kaget dengan itu semua, dari mana Alina tahu? Karena Alvaro tidak tahu masalah ibunya Haidar, yang Alvaro tahu cuma sebatas ayah Haidar menikah lagi itu saja.
"Haidar udah cerita semua nya sama gue waktu ultahnya Bobi, La." Ujar Alina tahu kalo Meilla bingung.
Meilla menarik napasnya menetralkan detak jantungnya yang tak sempat berdetak terlalu cepat. Elsa yang mendengar pembicaraan mereka terlihat bingung, karena meilla tidak menceritakan tentang ibunya Haidar. Meilla cuma cerita tentang Vanesa.
"Emang nyokap nya Haidar kenapa?" Tanya Elsa dengan nada suara yang lumayan keras sampai semua siswa milirik ke arahnya.
Alina langsung menutup matanya dan menggeleng, entah apa maksudnya Alina begitu. Mungkin maksudnya tak habis pikir dengan Elsa.
"Lo bisa gak sih kalau ngomong suara kecilin! Budek lama-lama gue temenan sama lo!" Gerutu meilla kesal dengan respon Elsa.
Elsa hanya menyengir, "Iya sorry, gitu aja marah, gak laku lo kalau galak terus!" Cibir Elsa.
__ADS_1
"Kaya lo laku aja!" Cibir balik meilla membuat Alina menggeleng lagi.
Meilla dan Elsa salah begitu, terapi entah kenapa mereka masih berteman sampai sekarang selalu selisih paham.
"Jadi apaan illa? Setelah pulang sekolah gue mau ke sana." Beritahu Alina tujuannya menanyakan hal itu.
Meilla pun kaget, sama seperti Haidar. Meilla khawatir ibunya Haidar menyakiti Alina nantinya, karena sejak kejadian itu, ibunya Haidar tidak suka melihat perempuan asing.
Meilla menggeleng, "Gue rasa gak perlu kesana deh Lin." Ujar meilla mencegah Alina.
Alina yang melihat respon Meilla mengangkat alisnya seakan bertanya, memangnya kenapa.
"Dia gak suka di jenguk siapapun Lin."
"Cuma suka di jenguk lo, maksudnya?"
Meilla pun bingung dengan respon Alina, karena sepertinya Alina terlihat sedikit emosi terdengar dari nada suaranya.
"Bukan gitu Lin, Gue takut lo terluka, entah fisik atau hati nantinya." Jujur Meilla memberitahu kekhawatiran nya agar Alina tidak salah paham.
Alina menarik napasnya, seakan meredakan emosinya yang tadi sempat muncul. Alina kira Meilla melarangnya karena tak suka Alina mendekati ibunya Haidar dengan maksud tertentu tetapi Alina salah, Meilla hanya ingin melindunginya.
"Haidar udah izinin?"
Alina mengangguk.
"Kalau Haidar udah izinin, yaudah. Nyokap nya suka mawar putih. Gue kalau kesana suka bawa itu." Jelas Meilla dan di anggukin oleh Alina.
Elsa yang sejak tadi tidak di ajak bicara hanya bisa menggerutu tak jelas, ia akan menanyakan soal ini pada kekasihnya nanti dan pasti kekasihnya tahu tentang ini.
"Sudah ngobrolnya sampe gue dilupain?" Gerutu Elsa saat melihat Meilla dan Alina selesai berbicara.
Alina menyengir tak berdosa, "abis kalau lo di ajak, suara lo terlalu cempreng!" Cibir Alina membuat Meilla mengulurkan tangannya mengajak Alina 'tos'.
"Bener tuh, mulut atau toa itu gede banget." Cibir Meilla.
__ADS_1
Elsa yang di ledakin seperti itu sama kedua sahabatnya langsung memajukan bibirnya, "ih Lio, Alina sama Meilla ngeselin!" Gerutu Elsa tak sadar mengadu pada Lio membuat Alina dan Meilla saling tatap.
"Anjay Lin, lo denger gak tadi?" Sahut Meilla dan di anggukin oleh Alina.
"Lo pacaran ya sama Lio?" Tuduh Alina pada Elsa dan langsung membuatnya menutup mulut.
Lio yang mendengar namanya di panggil oleh kekasihnya langsung menghampiri ke meja Elsa dengan senyuman yang merekah.
"Siapa yang berani jahilin Elsa, hah?" Ujar Lio sambil menggebrak meja malah membuat siapapun yang melihatnya tertawa.
"Lo apaan sih, Sono pergi ih." Usir Elsa alibi agar acara backstreet nya tidak ketahuan.
Lio yang di usir menaikkan alisnya, "tadi di panggil, giliran di samperin malah ngusir emang aneh nih bocah!" Gerutu Lio.
Sebelum Lio pergi dari sana, Alina melayangkan pertanyaan, "Lo pacaran sama Elsa?" Tanya Alina sedikit kencang membuat perhatian siswa mengalih ke arah mereka.
Lio dengan cepat menggeleng, "enggak anjay, lo kan tau sendiri dia sok jual mahal sama gue!" Ujar Lio membuat Elsa menggerutu dalam.
"Sialan, malah melanjutkan gue!" Gerutu Elsa dalam hati.
"Yah lah, gue mana mau sama modelan cowok kaya lo!" Balas Elsa sengit.
"Lo berdua padahal cocok lo kalau gue lihat-lihat. Udah jadiin pacar aja Lio." Ujar Ali.
"Tembak, tembak." Sorak teman sekelas Alina.
Lio tersenyum sedangkan Elsa hanya menatap Lio dengan tajam, bermaksud agar Lio tidak melakukan itu di sini.
"Lo semua berisik!" Ujar Lio membuat sorakan itu terhenti.
Vanesa yang berada di dalam kelas itu hanya bisa diam, sejak tadi ia hanya fokus pada ponselnya tanpa ikutan nimbrung dengan teman-teman nya yang lain. Karena Vanesa sendiri yang malas berbaur.
"Gue kangen kita bertiga lagi, Illa, Ana." Ujar Vanesa pelan sambil melihat ke arah meja Alina.
Dulu memang Meilla, Vanesa dan Diana adalah sahabat. Semua berubah saat Vanesa tahu Diana menjadi pacar Haidar. padahal Diana tahu, kalau Vanesa menyukai Haidar.
__ADS_1
Awalnya pun Meilla memihak pada Vanes dan menjauhi Diana setelah mendengar bahwa Diana berpacaran dengan Haidar. Tetapi lama kelamaan situasi itu berubah, Meilla kembali bersahabat dengan Diana setelah mengetahui kasus mamah Vanesa yang merebut papah Haidar.
Meilla tak suka, karena mamah Haidar sudah di anggap ibunya sendiri sejak dulu. Mamah bintang waktu itu sangat terpukul, makanya Meilla menjauhi Vanesa. Sejak saat itu lah pertemanan ketiganya hancur.