Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Rencana awal


__ADS_3

Memang sulit untuk mendapatkan restu orang tua, tetapi bukan kah kita seharusnya berusaha dan tidak menyerah begitu saja. Bukan kah setiap usaha tidak akan menghianati hasil akhir?


Seperti Alina contohnya, yang selalu berusaha untuk menaklukkan hati Haidar selama ini. Tidak menyerah sedikit pun meskipun penolakan yang selalu di dapatnya. Sekarang lihat hasil akhirnya, meskipun ini semua belum berakhir dan masih panjang perjalanan mereka.


Seharusnya itu kah yang di lakukan Meilla dan Edo? Tetap berusaha bagaimana pun caranya. Memang tidak mudah karena orang tua keduanya sangat keras, tapi sedikit berontak tak apa kan?


...****************...


Keempat cowok itu telah sampai di rumah Alina, mobil mereka sudah terparkir rapi di halaman rumah Alina dan sudah duduk di sofa ruang tamu tunangan Haidar.


Tidak bisa di pungkiri kalau saat ini Edo dan Haidar memiliki perasaan yang sama, yaitu khawatir dan takut. Haidar selama ini selalu berusaha menjaga meilla, makanya Haidar marah saat mengetahui kelakuan kurang ajar Edo itu.


Eni naik ke atas kamar Alina, untuk memberitahu kedatangan keempat cowok itu dan sudah menunggu di ruang tamu.


Tok.. Tok.. Tok


Alina yang sedang di dalam kamar bersama dengan kedua sahabatnya langsung melangkah ke arah pintu setelah m mendengar suara ketukan dari luar.


“Iya mba?” seru Alina saat melihat Eni yang tengah berdiri di sana.


“Ehem itu neng, di bawah ada mas Haidar sama yang lainnya.” beritahu Eni.


Alina mengangguk, “Boleh minta tolong suruh naik ke atas aja mba?”


Eni terdiam sebentar mengingat sesuatu, “Tapi neng, bapak sama ibu pernah pesan kalau neng gak boleh bawa masuk cowok ke kamar.”


Alina mengingat juga kata-kata itu dan ia tahu di sudut ruangan ada CCTV yang terarah ke arah pintu kamarnya.


“Ehem gimana ya, nanti aku yang bilang papah deh kalau dia nanya. Pintunya juga akan aku buka kok, dan ramai juga gak berdua aja sama Haidar di dalam,” bujuk Alina.


Eni terdiam sebentar seakan mempertimbangkan apa yang Alina inginkan dengan berat hati akhirnya Eni mengangguk. Biar bagaimanapun kan Alina juga majikan mudanya dan dia tidak bisa membantah banyak yang terpenting Eni sudah mencegah dan kalau nanti tuanya nanya. Alina yang akan bertanggung jawab.


Eni kembali turun dan memberitahu kan kepada teman Alina untuk naik ke atas kamar Alina saja. Setelah mendapatkan intrinsik seperti itu keempatnya melangkah menaiki tangga menuju kamar Alina.


Pertama kali yang Haidar dan Edo cari adalah dimana posisi Meilla. Ternyata Meilla sedang tertidur dengan wajah yang pucat dan ada bekas air mata di pipinya.


“Haidar!” panggil Alina.


Tetapi sayang, Haidar masih fokus mengamati wajah Meilla yang sekarang berdiri tak jauh dari kasur


Alina menghela napasnya, berusaha memaklumi apa yang Haidar lakukan nanti untuk Meilla. Alina tidak boleh marah atau pun cemburu , karena saat ini Meilla hanya butuh support dari mereka semua.

__ADS_1


Alina bergeser untuk memberikan ruang pada Edo biar bisa berdiri di samping Meilla. Alina beralih berdiri ke samping Haidar lalu mengelus lengan kekasihnya itu dengan lembut.


Haidar baru sadar setelah merasakan elusan hangat dari Alina itu, dan langsung menoleh ke arah kekasihnya dan merangkul punggung Alina.


“Ini semua kecelakaan, kamu gak boleh marah sama siapapun ya?” bisik Alina pelan dan di anggukin oleh Haidar.


Sedangkan Edo yang melihat wajah pucat Meilla pun merasa sangat bersalah. Mengapa ini semua bisa terjadi, memang penyesalan itu selalu datang di akhir.


“Sayang!” Panggil Edo pelan sambil mengelus wajah Meilla yang di penuhi keringat.


Meilla yang memang tidak sepenuhnya tidur langsung membuka matanya setelah panggilan dari suara yang sangat di kenalinya itu.


Meilla menoleh dan melihat wajah Edo di sana, membuatnya langsung bangkit dari tidur dan memeluk kekasih nya, tidak lupa juga kembali menumpahkan air matanya yang sejak tadi sudah ia tumpahkan.


“Do, kamu kemana? Kamu jangan pergi, aku butuh kamu di sini. Aku takut do, aku takut!” seru Meilla menggebu-gebu membuat Edo pun ikut meneteskan air matanya.


Edo mengelus punggung Meilla dengan pelan, “Kamu tenang, kamu gak boleh kaya gini. Kita bisa lewatin ini bersama, kamu percaya kan sama aku?”


“Kamu gak akan ninggalin aku lagi kan? Aku mau kamu ada di samping aku terus. Ini berat do buat aku, aku gak tahu harus bagaimana!”


Edo mengangguk pelan, ia pun bingung sekarang harus bagaimana apa ia langsung saja memberitahu Yanuar tentang masalah ini agar ia tidak jadi di berangkatkan ke Jepang besok.


Tapi tunggu, itu semua tidak akan semudah yang di pikirkan nya. Yanuar orang yang tegas dan tidak bisa di bantah kan. Sekali ia berkata demikian dan harus terjadi demikian pula, tidak mudah untuk di ubah.


“Kita harus gimana Dar?” tanya Nanda membuka suara, karena ia tahu Haidar lah yang paling bijak Dr alam mengambil sebuah keputusan.


Tapi jujur Haidar pun juga tahu harus bagaimana sekarang. Haidar, cara menjelaskanelaskan nanti pada Fandi karena Fandi pun sifatnya hampir sama dengan Yanuar, meskipun Fandi masih bisa di luluhkan.


Meilla menatap Haidar dalam, merasa sedih karena merasa gagal menjadi dirinya sendiri.


“mau gak mau kita harus kasih tahu orang tua Meilla dan Edo untuk masalah ini. Gue gak mau Edo lari dari tanggung jawab nya dengan alasan dipindahkan sama bokap nya ke Jepang!” seru Haidar setelah lumayan lama berpikir gimana baiknya.


Ketiga perempuan yang mendengar itu, terkejut, terutama Meilla. Belum sempat Meilla bertanya pada Edo, tetapi cowok itu sudah lebih dulu mengangguk sebagai jawaban.


Ya Meilla kembali pecah dan kembali memeluk Edo dengan erat. Meilla tidak akan membiarkan Edo pergi, dia harus bersamanya melewati ini semua. Kalau cuma Meilla yang melewati dan berjuang sendiri, Meilla tidak akan sanggup.


“Tapi papi?” seru Meilla setelah meredakan tangisannya setelah Edo memberikan ucapan yang mampu menyakinkan Meilla kalau dirinya tidak akan pergi dari sisi cewe itu.


Haidar menghela napasnya, “Seharusnya kalian sudah tahu kalau ini konsekuensi dari perbuatan yang kalian lakuin. Mau kita tutupin pun, pasti akan ketahuan karena perut lo akan semakin membesar.”


“Lagi pula, kalau semakin lama kita tutup yang ada masalah akan semakin besar. Jadi gue rasa ini keputusan yang tepat, memberitahu mereka sekarang sebelum nantinya mereka tahu dari orang.” lanjut Haidar.

__ADS_1


Meilla meringis ketakutan membayangkan bagaimana Fandi dan Riani nanti sat mengetahui fakta ini.


“Iy tpi bagaimana jelasin ke papi, Haidar! Gue takut!” teriak Meilla setelah itu kembali terisak.


Haidar menyentuh bahu Edo, “Lo cowok, Lo jelasin semuanya ke papi Meilla dengan detail, untuk bagaimana reaksi papi, kita semua gak bisa prediksi. Kita akan bantu lo dan temenin lo di sana, Lo tenang aja.”


Edo menelan ludahnya sendiri, bingung apa yang harus ia jelaskan kepada Fandi nanti. Tetapi bagaimana lagi, ini memang salahnya kan yang tidak bisa mengendalikan nafsunya saat itu, dan benar kata Haidar seharusnya ia sudah tahu konsekuensi dari ini semua.


Edo mengangguk sambil menggenggam erat tangan Meilla, “kita hadapin ini semua bersama ya, kita berdoa semoga semua di lancarkan dan berakhir kita tidak akan di pisahkan.”


Meilla mengangguk pelan dan tersenyum kecil, setidaknya perasaan sedikit melega karena Edo ternyata berani bertanggung jawab sampai seperti itu.


Haidar menarik tangan Alina menuju balkon di kamar tunangannya itu,kadua nya Ingin mencuri waktu berdua sebentar di sana. Rasanya selalu kangen kalau tidak melihat wajah satu sama lain. Alah dasar bucin!


“Kenapa Haidar?” tanya Alina yang berdiri di samping Haidar sambil menatap lurus ke depan.


Haidar kembali merangkul pinggang Alina dengan erat, “Aku bingung sama apa yang aku rasa setelah melihat media tadi.”


Alina tahu maksud ucapan Haidar itu, lalu menoleh untuk menatap kekasihnya, ternyata Haidar pun sedang menatapnya jadi posisi wajah mereka saat ini sangat dekat hanya menyisakan 10 cm saja.


“Aku tahu kok, mungkin kamu merasa kecewa sama diri kamu sendiri karena pada akhirnya kamu gak bisa jaga Meilla sampai bisa seperti sekarang.” seru Alina.


Haidar mengangguk membenarkan apa yang Alina katakan.


“Tapibkamu harus ingat, Meilla semakin dewasa dan seharusnya dia tahu mana yang boleh di lakukan dan tidak di lakukan. benar kata kamu, ini resiko mereka.”


“Haidar, kamu gak boleh nyalahin diri kamu atas kejadian ini karena memang salah kamu. Kita sebagai yang baik hanya bisa menemani mereka melewati masa yang sulit ini, kamu siap bantu Edo untuk menjelaskan semuanya pada papinya Meilla kan?”


Haidar mengangguk lagi.


“Haidar, kalau aku bilang yang malah khawatir sama kamu, kamu percaya gak?” seru Alina yang sejak tadi menganggu pikirannya.


Haidar mengangkat alisnya bingung dengan ucapan Alina itu, “Khawatir karena?”


Alina menghela napasnya, “Aku yang malah takut, kamu yang di suruh untuk gantikan posisi Edo nanti oleh papinya Meilla. Aku gak mau itu terjadi, tetapi bagaimana mungkin cuma 7kamu yang bisa bantu Edo menjelaskan ini sama papi.”


Tangan Haidar yang merangkul pinggang Alina, sekarang beralih untuk mengusap kepala Alina dengan sayang. Senyum hanya Haidar terbitkan khusus untuk Alina seorang.


“Itu semua gak akan pernah terjadi sayang, aku akan tetap jadi milik kamu. Kamu percaya kan sama aku? Seru Haidar. hanya itu yang bisa Haidar katakan, karena dia sendiri pun tidak tahu bagaimana reaksi Fandi nanti.


Alina mengangguk lalu tersenyum lebar dan mengelus pipi putih milik Haidar, “I love you, Haidar!”

__ADS_1


“I love you too, Alina!” seru Haidar sambil mengecup kening Alina sedikit lebih lama dari biasanya.


__ADS_2