Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Orang lama


__ADS_3

Setelah di rawat beberapa hari di rumah sakit untuk memastikan kondsinya kembali fit, Hadiar akhirnya di perbolehkan pulang oleh dokter, ingat yang waktu itu dokter katakan? Kalau Haidar harus menggunakan tongkat untuk beberapa waktu


Meski kondisi Haidar yang menggunakan tongkat Alina tetap setia di sampingnya. Selama Haidar di rumah sakit, Alina selalu menjenguknya setelah selesai kuliah. Oh ya, hubungan nya dengan Meilla sedikit renggang begitu pula Elsa dengan Meilla. Kesalahpahaman itu belum juga selesai, entah sampai kapan.


Hari ini adalah hari pertama Haidar masuk kuliah lagi. Sebelumnya Haidar yang menjemput Alina untuk ke kampus bersama, namun sekarang Alina lah yang menjemput Haidar.


Alina sudah sampai di depan rumah Haidar, dan segera turun dari mobil untuk menemui Haidar di dalam rumah. Alina memencet bel yang ada di depan pagar rumah Haidar, lalu tak lama satpam membukakan pintu.


“Eh non Alina, silahkan masuk non. Mobilnya mau saya masukin?” sapa satpam.


Alina tersenyum lalu menggeleng, “Gak usah pak, biar nanti langsung berangkat ke kampus aja. Makasih ya pak, saya masuk dulu.” sopan Alina, setelah satpam mengangguk Alina segera melangkah menuju pintu utama.


Alina mengetuk beberapa kali, hingga akhirnya sari membukakan pintu untuk Alina.


“Eh non Alina, silahkan masuk non!” seru sari.


Alina tersenyum, “Makasih banyak bi!” seru Alina.


Alina melangkah menuju sofa di ruang tamu, tak lama Indira datang menghampirinya. “Selamat pagi Alina!” sapa Indira membuat Alina langsung berdiri untuk menghampiri Indira dan mencium punggung tangan indira.


“Selamat pagi juga Tante!” Alina tersenyum.


Indira duduk dan menyuruh Alina ikut duduk, “Alina, maaf ya karena ngerepotin kamu buat jemput Haidar.”


Alina menggeleng, “Gak papa Tante, Haidar pun sering jemput Alina. Sekarang kan kondisi Haidar lagi sakit.”


Indira tersenyum lalu mengangguk, “Alina, boleh Tante tanya sesuatu?” Alina langsung mengangguk.


“Alina, cemburu sama keberadaan Meilla saat ini?” tanya Indira.


Alina terdiam, lalu akhirnya mengangguk, “Kalau Alina bilang iya, wajar gak Tante?” tanya balik Alina pada Indira.


Indira tersenyum lalu mengangguk, “Menurut Tante wajar, karena Alina sekarang pacar nya Haidar. Tapi satu yang harus Alina tahu, Meilla sama Haidar itu gak ada hubungan apapun selain teman masa kecil. Wajar juga kalau keberadaan mereka seperti itu.”


“Iya Tante, Alina tahu kok. Haidar udah jelasin semua ke alina.” seru Alina dengan nada suara sedih.


“Tante harap Alina mengerti ya? Alina tenang aja, Tante akan selalu dukung hubungan Alina sama Haidar kok. Tante juga jamin kalau Meilla gak akan ngerebut Haidar dari Alina. Tante berharap Alina memang yang terakhir buat Haidar nantinya.” seru Indira dengan tulus lalu merentang tangannya seakan menyuruh Alina untuk masuk di dalam pelukannya.


Alina dengan cepat menghampiri Indira kalau memeluk ibunda dari kekasihnya itu. Hangat! Mungkin pelukan setiap ibu seperti itu, selalu hangat.


Tanpa sadar air mata Alina mengalir, masih di dalam pelukan Indira, “Maafin Alina ya, kalau cemburu Alina berlebihan pada Meilla. Seharusnya Alina bisa mengerti gimana posisi Meilla dulu sebelum Haidar mengenal Alina.” seru Alina sambil terisak.


Indira mengelus punggung kekasih anak lelakinya itu dengan penuh kasih sayang, “Menurut Tante gak berlebihan kok, lagi pula kemarin Alina juga gak bicara apapun kan. Tante malah senang, artinya Alina sayang Haidar dengan tulus, Tante berterima kasih pada Meilla karena selalu tulus menolong keluarga Tante.”


Pelukan mereka terlepas karena Haidar sudah berdiri di dekat mereka, “Nah loh kenapa pelukan gini? Habis ngomongin Haidar ya?” seru Haidar melirik ke arah kedua wanita itu bergantian.


Alina menunduk dengan tangannya sibuk mengusap air mata yang tadi mengalir, Haidar yang peka langsung menghampiri Alina dan menyentuh dagunya.

__ADS_1


“Kamu nangis? Mamah buat kamu nangis?” tanya Haidar langsung menuduh sang ibu.


Alina langsung menggeleng cepat,b“Bukan, aku cuma terharu aja tadi, mamah kamu peluk aku. Aku jadi kangen Mamah, Haidar!” seru Alina sebelum Haidar menyalahkan Indira.


Haidar menghela napas, “Kirain aku mamah yang buat kamu nangis.”


“Asal nuduh aja lagian!” seru Indira.


Haidar terkekeh lalu mengecup kening sang ibu. “Maklum terlalu cinta, takut Alina tersakiti mah!” seru Haidar membuat mereka terkekeh.


“Udah siap?” tanya Alina dan Haidar mengangguk.


“Mah, aku sama Haidar ke kampus dulu ya, mamah baik-baik di rumah!” pamit Haidar lalu mencium punggung tangan Indira.


Begitu pula dengan Alina, “Tante, Alina berangkat dulu ya.” pamit Alina.


Indira mengangguk lalu mengelus kepala kedua anak muda di depannya itu, “Iya, kalian hati-hati ya, belajar yang benar biar cita-cita kalian tercapai. Dan semoga hubungan kalian bahagia selalu.” doa Indira membuat keduanya langsung berkata amiin.


Setelah pamitan dengan Indira, Alina membantu Haidar saat masuk ke dalam mobil. Kali ini berbeda, biasanya Haidar yang membukakan pintu mobil untuk Alina sekarang malah terbaik, karena mengingat kondisi Haidar.


Alina segera melajukan mobilnya ke arah kampus. Haidar menatap Alina terus menerus sepanjang jalan, kagum itulah yang ada di otak Haidar saat ini untuk Alina.


“Makasih ya, sayang!” seru Haidar tiba-tiba membuat Alina menoleh sekilas.


Alina tersenyum, “Makasih untuk apa?”


“Bukankah, kita harus saling melengkapi? Kaki kanan kamu sakit dan aku siap bantu gantiin kaki kanan kamu untuk beberapa saat.”


Haidar mengelus kepala Alina dengan sayang, “Maaf kalau selama ini aku belum bisa jadi kekasih yang baik buat kamu!


Alina mengelus pipi Haidar sebentar lalu kembali pada setir mobilnya, “Aku pun masih seperti itu Haidar, kita belajar bersama ya agar menjadi kekasih yang baik?”


Haidar mengangguk.


Tak lama mereka telah sampai di kampusnya, Alina membantu Haidar lagi untuk turun dari mobil. Seperti biasa semua pasang mata langsung menoleh ke mereka. Mereka kaget saat melihat kondisi Haidar yang menggunakan bantuan tongkat untuk berjalan.


“Jalannya pake tongkat aja, masih terlihat gantengnya ya?”


“Gak ngurangin kadar ketampanan tuh cowok deh!”


“Ceweknya mau aja anjir, macam babu jadinya!”


Begitulah kira-kira omongan mereka yang melihat Alina membantu Haidar berjalan. Keduanya langsung melangkah menuju kelas haidar. Setelah sampai, Alina langsung duduk di bangku yang kosong.


“Akubtinggal ke kelas ya?” pamit Alina.


Haidar menarik tangan Alina lalu di kecupnya, “Makasih, sayang!” seru Haidar.

__ADS_1


Alina tersenyum, “Sama-sama. Nanti kalau udah selesai lebih dulu, tunggu di sini aja ya sampai aku jemput.”


Haidar menggeleng, “Aku bisa jalan sendiri kamu lupa, sayang. Aku yang akan jemput kamu nanti ke kelas kalau aku sudah selesai lebih dulu.”


Alina terkekeh, “Ya..ya.. aku ke kelas dulu ya.” Haidar mengangguk.


Alina langsung melangkah keluar kelas dan menuju ke kelasnya. Jam mata kuliah pagi ini akan di mulai sekitar 25 menitan lagi, ia masih ada waktu untuk ke kantin sebetar untuk membeli minum.


Di tengah perjalanan. Alina tak sengaja menabrak seseorang. Berapa terkejutnya saat Alina melihat siapa seseorang tersebut yang tadi ia tabrak.


“Ali?” seru Alina untuk memastikan.


Orang yang di panggil Ali pun langsung menatap siapa orang yang ada di depannya saat ini. Orang itu pun sama terkejutnya dengan Alina.


“Alina?” seru Ali untuk memastikan juga.


Alina mengangguk lalu tersenyum. Alister, kekasih Alina dulu, mereka menjalani hubungan sejak kelas satu SMP hingga lulus sekolah.


“Kamu apa kabar?” tanya Alister.


Alina mengangguk, “Alhamdulillah baik, kamu sendiri?”


Alister pun mengangguk, “Baik juga, kamu kuliah di sini?”


“Iya, aku jurusan ekonomi. Kamu juga kuliah di sini?”


Alister mengangguk, “Iya aku ambil hukum.”


Alina berkata oh tanpa bersuara, “Kalau gitu aku pergi dulu ya.” pamit Alina.


“Kamu mau kemana?”


“Aku mau ke kantin sebentar sebelum kelas di mulai.”


“Aku boleh ikut?” Alina hanya mengangguk.


Tidak ada salahnya bukan, kantin kan tempat umum siapa saja boleh datang ke sana.


“Kamu baru pulang ke Indonesia?” tanya Alina.


Alister mengangguk, “Enggak, udah mau satu tahun aku di Indonesia. Aku lulus sekolah lebih awal, jadi aku langsung pulang ke indonesia.”


“Wah hebat! Kenapa kamu gak lanjut kuliah di sana, Ali?”


Alister menggeleng, “Aku kangen kamu.”


Kita bikin Haidar merasa kecemburuan! Setuju kan?

__ADS_1


__ADS_2