
Memaafkan seseorang memanglah mudah, tapi melupakan sesuatu yang pernah orang itu lakukan tidak mudah. Bener gak?
Haidar kembali ke rumah nya setelah mengantarkan Alina pulang. Sebenarnya ia malas sekali pulang, tetapi Alina terus memaksa nya untuk pulang dan membicarakan hal ini pada Roy. Biar bagaimana pun Roy adalah ayah kandungnya yang harus Haidar hormati.
Karena Haidar tidak mau membuat Alina kecewa maka dari itu Haidar memutuskan untuk pulang dan bertemu dengan Roy.
Setelah sampai di rumah, mobil Roy masih ada di garasi. Sebelum melangkah masuk Haidar menarik napasnya untuk menenangkan dirinya agar tidak terbawa emosi lagi. Semoga saja bisa!
Saat masuk ke dalam, yang pertama kali Haidar lihat adalah Indira dan Roy tengah berpelukan. Terlihat dari wajah Indira kalau dia merindukan sosok suaminya itu, tidak peduli pernah menyakiti seperti apa waktu itu.
Haidar semakin merasa tidak ada alasan lagi untuk menolak kehadiran Roy di rumahnya. Lagi pula ini pun rumah Roy bukan rumah Haidar.
“Maafin aku karena sudah buat kamu menderita selama ini Indi.” ujar Roy.
Haidar mendengar jelas permintaan maaf itu, membuat hatinya mencelos begitu saja. Haidar berpikir apakah ayahnya ini beneran tulus dengan permintaan maafnya? Mengapa tiba-tiba?
“Maafin aku juga mas.” seru Indira meminta maaf juga yang ia sendiri pun tahu seperti nya ia tidak punya salah pada Roy.
“Kamu mau nerima aku kembali kan? Kita mulai hidup dari awal lagi?” tanya Roy.
Indira mengangguk, “Iya mas, terima kasih karena akhirnya kamu kembali lagi sama aku dan Haidar.”
Roy kembali memeluk Indira dan mengecup kening Indira beberapa kali. Hingga suara deheman terdengar membuat mereka melepaskan pelukan itu.
“Udah cukup!” seru Haidar.
Indira beranjak menuju ke arah anak sulungnya itu, “Nak, terimalah maaf papah mu, biar bagaimana pun baik dan buruk nya dialah tetap paphmu!”
“Haidar tau!” sahut Haidar.
“Kamu mau kan hidup bahagia bersama papah lagi seperti dulu?” seru Indira.
Haidar terdiam, tak lama ia memandang Roy dengan tajam, ia penasaran mengapa ayahnya tiba-tiba datang kalau meminta maaf dan mengajak hidup bersama kembali.
“Kasih Haidar penjelasan, kenapa papah bisa balik ke sini lagi?” seru Haidar dengan tajam.
Roy menghela napasnya lalu duduk di sofa ruang keluarga, Indira pun menarik Haidar untuk ikut duduk di sana mendengarkan penjelasan dari Roy.
“Alina gak cerita sama kamu, tentang pertemuan papah sama dia?” tanya Roy membuat Haidar kaget dan bingung.
Haidar menggeleng.
“Mungkin karena kesan pertama bertemu tidak baik, makanya dia gak mau cerita sama kamu.” ujar Roy semakin membuat Haidar bingung.
Bertemu dengan Alina? Kapan? Kenapa pertemuan pertamanya di bilang tidak baik? Apakah papah punya Maslah dengan Alina di pertemuan itu? Lalu mengapa Alina tidak cerita? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepala Haidar.
“Waktu itu-” Roy menceritakan semua tentang kejadian malam itu.
Masih ingat kan kejadiannya?
Setelah Roy selesai bercerita, Haidar langsung terdiam. Memikirkan apa kesan pertama orang tua Alina, saat melihat Roy dan mengetahui status nya yang bisa di bilang tidak baik itu. Haidar khawatir takut menjadi penghalang hubungannya. Tapi sejauh ini, orang tua Alina masih bersikap biasa saja pikir Haidar.
“Jadi kamu sadar karena Alina?” tanya Indira dan Roy mengangguk.
“Alina itu gadis yang hebat, dia berani mengekspresikan dirinya sendiri selagi itu benar.” puji Roy untuk Alina.
Indira mengangguk, “Benar banget, mamah juga suka banget sama Alina, karena dia, mamah jadi sehat lagi seperti ini.”
Roy menatap Haidar yang masih terdiam. “Jadi kamu bisa kan menerima papah kembali lagi bersama kamu dan mamah di rumah ini?” tanya Roy.
__ADS_1
Haidar menatap Roy kalau mengangguk pelan, meskipun ia belum sepenuh hati menerima Roy. Tetapi Haidar yakin mungkin dengan sejalan nya waktu, Roy bisa membuktikan kalau dia sudah berubah, memaafkan ayahnya itu.
“Gimana kalau kita atur makan malam bersama dengan keluarga Alina?” seru Indira dan di setujui Roy.
“Benar tuh, papah mau minta maaf tentang pertengkaran waktu itu pada mamahnya Alina juga.” ujar Roy.
Haidar menggeleng, “Orang tua Alina harus balik lagi ke amerika.” jawab Haidar.
Indira dan Roy saling tatap, dan tak lama tersenyum, “Yaudah sekarang aja kita kesana, kamu kabarin Alina dulu gimana?” ide Indira.
“Benar tuh, pasti orang tuanya Alina bukan pergi hari ini kan?” sahut Roy.
Haidar mencoba menghubungi alina, tetapi tak ada jawaban dari gadis itu. “Alina gak bisa di hubungi.” jawab Haidar membuat kedua orang tuanya menghela napas.
“Kita jalan aja kesana, hitung-hitung bikin surprise buat Alina.” seru Roy.
Indira mengangguk dan begitu pun dengan Haidar. Tidak di pungkiri kalau hatinya senang melakukan ini. Kalau bisa malam ini adalah malam terindah untuknya, misalnya seperti mengajak Alina tunangan gitu. Tapi semua itu kan butuh persiapan batin Haidar.
Ketiga orang itu langsung memasuki mobil Haidar dan melajukan mobilnya menuju rumah Ali a. Kondisi jalanan lumayan macet karena sudah saatnya pulang kantor. Setelah menghabiskan waktu di perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah Alina.
Haidar berjalan lebih dulu, dengan kedua orang tuanya di belakang sambil bergandengan. Haidar memencet bel rumah Alina dan terlihat lah satpam rumah itu.
“Eh mas Haidar, tadi baru pulang kok balik lagi.” tanya Parno yang memang sudah mengenal Haidar.
“Iya mau ketemu Alina lagi, kangen!” sahut Haidar lalu masuk ke dalam menuju pintu utama sambil kunci mobil ya di berikan kepada parno untuk di bawa masuk ke dalam.
Haidar memencet bel lagi di pintu itu, tak lama Eni asisten rumah tangga Alina membukakan pintu.
“Eh ada mas Haidar, nyari mba Alina ya?” Haidar mengangguk tidak menjawab apapun.
“Mari masuk, biar Eni panggilan dulu mba Alina nya.” pamit Eni setelah menyuruh keluarga Haidar masuk.
“Loh, Haidar?” sapa Mira membuat Haidar bangkit dari duduknya bagitu pun dengan kedua orang tuanya.
“Iya Tante, mohon maaf Tante kalau Haidar datengny tiba-tiba gini.” seru Haidar.
Mira mengangguk, “Iya gak papa.”
Roy mengulurkan tangan nya dan di Sampit baik oleh Mira begitu pun Indira.
“Gimana kabarnya Bu? Masih ingat dengan saya kan?” seru Roy.
Mira mengangguk lalu tersenyum, “Alhamdulillah baik pak, ingat kok pak.” Mira sebelumnya ingin mengatakan kalau Roy suami dari sahabatnya Giselle namun ia mengurungkan niat itu agar tidak membuat wanita di sebelah Roy itu tidak nyaman.
Tak lama Alina turun dari kamarnya, dan betapa terkejutnya melihat Haidar bersama dengan kedua orang tuanya mengunjungi rumahnya.
“Apa Haidar mau ngelamar gue ya?” batin Alina. Jantungnya berdebar hebat, apakah ia harus menerima lamaran ini sebelum lulus kuliah?
“Eh ada om sama tante.” seru Alina lalu menyalimi kedua orang tua Haidar.
“Iya Alina, kita ketemu lagi. Maaf ya Tante sama om gak bilang dulu kalau mau kesini, tadi Haidar udah coba hubungi kamu tapi gak aktif.” terang Indira.
“Iya gak papa Tante. Silahkan duduk Tante, om.” Alina mempersilahkan duduk.
Tak lama, Reymond datang dari luar karena baru pulang dari kantor bersama Adero. Reymond pun sama kagetnya, karena tiba-tiba saja Haidar datang bersama dengan kedua orang tuanya. Untuk apa? Pikir Reymond.
“Assalamualaikum, wah lagi rame ya ternyata.” seru Reymond saat melihat keramaian di ruang tamunya.
“Waalaikumsalam, sini pah. Kenalin ini ayah dan ibu nya haidar.” seru Mira
__ADS_1
Reymond ikut duduk di sana bersama dengan anak dan istrinya, sedangkan Adero sudah langsung izin untuk ke kamarnya.
“Sebwlumnya saya meminta maaf tentang kejadian waktu itu di restoran. Maaf kalau kesan pertama kita bertemu tidak baik, pak, bu.” seru Roy.
Reymond mengangguk, “Tak apa pak, itu semua di luar dugaan kita. Ehem, mohon maaf saya bertanya tujuan bapak sama ibu datang kesini bersama Haidar untuk apa ya? Apakah ada hal yang penting?” seru Reymond yang memang belum setuju kalau Alina beranjak ke jenjang yang lebih serius bersama Haidar.
Yang pertama karena Reymond mau, Alina lulus kuliah lebih dulu baru menikah. Yang kedua karena Alina takut kalau Haidar memiliki sifat yang sama dengan papahnya
Wajar bukan kekhawatiran seorang ayah?
Roy menggeleng, “Tidak kok pak, kami hanya ingin berkunjung saja kesini. Karena kata Haidar, bapak sama ibu harus berangkat lagi ke Amerika.”
“Maka dari itu sebelum bapak Sam ibu pergi, saya pribadi ingin meminta maaf tentang kejadian waktu itu dan ingin mengenal baik keluarga dari kekasih anak saya.” seru Roy.
Reymond mengangguk, “Oh begitu, kirain saya ada yang penting.” kekeh Reymond.
Yang lain pun ikut terkekeh, semua orang tua itu tidak mengetahui bagaimana perasaan kedua anak muda saat ini.
Dag-dig-dug
“Kalau begitu ikut makan malam bareng di sini saja pak, Bu. Kebetulan saya masak banyak karena mau ada tamu juga nanti.” seru Mira.
“Maaf Bu gak usah ngerepotin, biar kami pulang saja.” sahut Indira.
Mira menggeleng, “Tidak ngerepotin kok buk.” seru Mira.
Reymond bangkit dari duduknya, “Ayo mari pak, Bu, Haidar kita makan sama-sama.” ajak Reymond lalu melangkah menuju meja makan.
Semuanya pun ikut bangkit dari sana, termasuk Haidar dan Alina. Tapi bedanya mereka ada di barisan paling belakang.
“Kaku ngapain bawa orang tua kamu?” tanya Alina dengan suara pelan.
“Kenapa emang? Takut ya?” jawab Haidar.
Alina menggeleng, “Bukan takut, tapi kaget!”
“Kaget karena takut di kamar tiba-tiba ya?” Alina mengangguk pelan lalu tersenyum malu.
“Aku juga mau sih, tapi kayanya waktu nya belum tepat deh sayang. Sabar ya?” seru Haidar.
Alina menepuk bahu Haidar, “Kamu tuh yang harus sabar, dasar kebelet nikah!” gerutu Alina lalu meninggalkan Haidar di belakang.
Saat sedang asik makan, Eni mengabarkan kalau ada tamu yang datang dan sedang menunggu di ruang tamu. Dengan cepat Mira menghampiri tamunya itu, yang memang sahabat nya.
Kalian ingat Sonia kan? Mamahnya Alvaro? Nah itu dia tamunya yang akan datang ke rumahnya saat ini.
“Aku kira kamu gak jadi datang, Son.” ujar Mira.
“Jadi dong kan gue udah janji sama lo, mau gibahin si Giselle.” seru Sonia.
Mira menggeleng, “Kayaknya gak bisa deh.”
“Kenapa? Oh iya kayaknya lo juga lagi ada tamu ya?” Seru Sonia karena mendengar suara agak ramai dari dalam.
Mira mengangguk, “Iya, suami si Giselle yang kemarin datang dan istri pertamanya dan anaknya.”
Sonia kaget bukan main, “Loh kok bisa mereka kesini?”
“Iya, kan anaknya pacaran sama Alina.”
__ADS_1
Sonia mengangguk-angguk, “Seserius itu ternyata hubungan Alina, gue kira ada celah buat nyatuin Alvaro sama alina.” Batin Sonia.