Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Bertemu


__ADS_3

Setelah pembicaraan nya tadi di sekolah bersama Lio, membuat Alina berpikir kalau ia sangat egois selama ini. Menyuruh Haidar melupakan Diana karena tidak mau rasa sayang nya terbagi, Tetapi Alina sendiri masih terus berhubungan dengan Alvaro yang jelas-jelas musuh dari Haidar.


Wajar kalau Haidar marah karena Alina masih berhubungan dengan Alvaro. Gini, Alina saja bis amarah karena Haidar masih menyimpan Diana di dalam hatinya yang jelas-jelas sekarang Diana sudah tidak ada, untuk apa ia khawatir kalau Haidar berbalik pada Diana.


Sedangkan Alvaro masih berwujud Maksud nya masih ada di dunia ini, wajar kalau Haidar takut Alina akan berpaling pada Alvaro.


Memang terkadang cinta itu membuat orang menjadi buta, tidak bis memilih yang mana yang benar dan yang mana yang salah.


Maka malam ini alina ingin menyampaikan pada Alvaro kalau ia memilih Haidar untuk menjadi kekasihnya dan meminta Alvaro untuk menjaga jarak dengan nya.


Bukannya Alvaro pernah bilang, lalu dia kan ikhlas apapun keputusan Alina nantinya. Semoga saja apa yang Alvaro bilang waktu itu benar.


Alina sudah menghubungi Alvaro untuk mengajaknya ketemu malam ini di rumahnya.


Sekarang sudah pukul 7 malam, Alina sudah menunggu Alvaro di depan gerbang rumahnya karena mereka janjian jam segini. Alina sengaja ingin mengajak makan malam bersama di rumahnya untuk terakhir kalinya.


Setelah itu ia akan fokus pada Haidar, Alina rasa cukup sudah pengorbanan Haidar meskipun belum sebanding seperti apa yang pernah ia lakukan dulu untuk cowok itu.


Tak lama suara derungan motor terdengar, Alvaro membuka helm full face nya. Alina membukakan gerbang rumahnya agar motor Alvaro di masukkan ke dalam halaman rumahnya.


“Tumben amat lo ngajakin gue makan malam, di rumah lagi. Kenapa gak di luar aja?” ujar Alvaro saat sudah turun dari motornya.


Alina terkekeh pelan, “Gue gak boleh keluar sama kakak gue, karena besok masih ujian.”


“Tunggu, ini di rumah lo ada orang lain kan selain kita, Maksud gue kita gak berduaan kan di dalem?”


“Ada mba Eni, sama kakak gue kok. Tapi kayaknya kakak gue udah tidur sih di kamarnya.”


Alvaro mengangguk, lalu mengikuti Alina masuk ke dalam rumahnya menuju meja makan.


“Kita makan dulu ya, gue laper banget soalnya, setelah itu ada yang mau gue omongin Sam lo.” beritahu Alina maksudnya mengundang Alvaro.


“Ngomongin masalah apa?” tanya Alvaro.


“Ada lah nanti aja setelah makan, sekarang makan dulu. Enak loh masakan gue nih.” bangga Alina.


“Oh ya? Lo bisa mask juga ternyata!” Alina mengangguk.


Setelah itu keduanya mulai selesai acara makan malam bersamanya, keduanya hanya fokus pada makanan meskipun sekali-kali ada suara dari mereka berdua membahas yang mereka makan saat ini.


Setelah selesai makan, Alina mengajak Alvaro berpindah ke ruang tamu. Sebelum memulai pembicaraan serius, Alina berbincang ringan sambil bercanda dengannya.


“Terus ko sama Haidar, gimana Lin?” tanya Alvaro tiba-tiba membuat Alina terkekeh karena jokes Alvaro langsung terhenti.


Terlihat wajah serius di antara keduanya sekarang.

__ADS_1


“Gue nyuruh lo kesini, buat bahas tentang itu.” ujar Alina.


Alvaro mengangguk, “Ada masalah?”


Alina menggeleng, “Gak kok, gue cuma mau bilang ngasih tau keputusan gue Var.”


“Lo udah ambil keputusan tentang ini Lin?” Alina mengangguk.


“Lo akan terima apapun keputusan gue kan Var, seperti apa yang Lo bilang dulu?” Alvaro mengangguk.


Wajah Alvaro berubah murung, meskipun ia belum tahu pasti keputusan Alina tetapi di dalam hatinya yakin kalau Alina akan lebih memilih Haidar dari pada dirinya.


Dan dugaannya benar!


“Gue lebih milih Haidar, Lo gak papa kan?”


Alvaro menghela napasnya, “Seperti apa yang udah gue bilang dari dulu, gue akan terima apapun keputusan lo Lin.”


“Mubgkib itu pun salah satunya bentuk perjuangan gue buat lo, maaf kalau selama ini belum bisa berbuat lebih buat ngeyakinin hati Lo untuk pilih gue ”


“Gue punya cara sendiri dan mungkin Haidar pun punya cara sendiri buat nenangin hati Lo dan sekarang gue kalah dari haidar.” Hela Alvaro.


Alina merasa bersalah pada Alvaro, terlihat sekali wajah Alvaro sangat kecewa saat ini. Tetapi bukan kah Alina berhak memilih? Alina tau, Alvaro adalah cowok yang baik, tetapi sayang sejak dulu hatinya memang milik Haidar.


“Lo marah?” tanya Alina


“Varo tapi kita masih bisa berteman baik kaya gini, kalau ada waktu luang juga gue bis pergi sama lo kok.” ujar Alina.


Alvaro menggeleng, “Gue gak yakin kalau tentang itu Alina, Gue tau persis gimana Haidar ke pasangannya!”


Alina menggeleng, “Taoi gue sama Haidar pun belum jadian kok.” beritahu Alina.


“Meskipun belum jadian, kalau Haidar sudah mengklaim sesuatu yang miliknya sudah pasti gak bisa di ganggu sama siapapun, apa lagi orangnya gue, Lo tau sendiri hubungan gue sama dia gimana kan?”


Alina mengangguk lemah, “Tapi sebisa mungkin, gue akan tetap jadi teman Lo Alvaro, Lo tetap mau berteman sama gue kan?”


Alvaro mengangguk, “Ya udah laku gitu, gue balik ya?”


“Gak mau main PS dulu sama gue?”


Alvaro menggeleng lalu bangkit dari tempat duduknya berjalan menuju pintu keluar dan Alina mengikuti Alvaro sampai depan motornya.


“Alvaro Lo beneran gak papa kan sama keputusan gue?” tanya Alina sekali lagi.


Tanpa di duga, Alvaro menarik tubuh Alina masuk ke dalam pelukan nya dan Alina tidak menolak perbuatan Alvaro begitu karena Alina pikir mungkin ini untuk yang terakhir kalinya.

__ADS_1


“Thanks buat waktunya selama ini Lin, itu semua berarti banget buat gue, kalau gue boleh jujur memang gue gak suka sama keputusan lo ini tapi balik lagi Lo berhak memilih dan gue udah janji bakal Nerima keputusan lo.”


“Tapi gue cuma bisa berdoa agar lo selalu bahagia sama pilihan li yang menurut lo berhak ini. Gue harap Haidar bisa jaga lo dengan sepenuh hati agar kejadian Diana dulu gak terulang lagi sama lo.”


“Alina inget satu hal ya, gue akan ada buat lo kapan pun di mana pun kalau li hubungin gue. Gue juga orang pertama yang bakal hajar Haidar kalo tuh anak bikin lo sakit atau pun nangis!”


Alina mengangguk, tanpa sadar ia menangis saat ini, Alvaro sangat amat dewasa menurut nya. Jarang loh seseorang bisa menerima keputusan yang menyakitkan dengan tenang.


Alvaro melepaskan pelukan itu langsung menghapus air mata di pipi Alina, “Gak perlu nangis Alina, gue masih hidup kok. Kalau gue udah mati , baru lo tangisan gue!” goda Alvaro membuat Alina tersenyum dan memukul bahu Alvaro pelan.


“Kenapa Lo dewasa banget si Var? Gue jadi ngerasa bersalah banget tahu karena respon lo begini.” ujar Alina jujur.


“Ngaco, mau lo gue marah-marah terus nyamperin Haidar ngajakin dia duel gitu?”


Alina menggeleng, “Ya gak gitu juga sih.”


Alvaro mengusap pucuk kepala Alina lalu mengecup sebentar pucuk kepala itu. Alina pun kaget dengan perlakuan Alvaro tadi.


“Gue tetap sayang sama lo Lin, gue balik ya? Kabarin gue kalau lo udah jadian sama Haidar!”


Alinap menggeleng, “Fakbah, gue gak mau lo tahu kapan gue jadian sampa Haidar, gue gak mau lo semakin sakit dengar berita ini.”


Alvaro terkekeh pelan, “Meskipun gue gak tahu, tapi waktu itu akan kejadian kan?”


“Udah ah gue balik, lo belajar gih besok kan masih ujian!” ujar Alvaro menyudahi obrolan mereka.


Alina mengangguk, “Lo juga langsung pulang ya, belajar dan tetap fokus buat ujian besok. Maaf karena gue ngomongin ini di waktu yang gak pas!”


Alvaro mengangguk, “Siap komandan.”


Setelah itu Alvaro melajukan motornya keluar rumah Alina dan Alina kembali masuk ke dalam rumah.


Tanpa mereka sadari ternyata sejak tadi ada seseorang yang memperhatikan keduanya dari luar gerbang, setiap inci tata Lina dan Alvaro lakukan terlihat jelas meskipun orang tersebut tidak bisa mendengar obrolan nya.


Tetapi tetap saja hal itu membangunkan emosinya, emosi karena melihat Alina di peluk bahkan sampai di kecup oleh musuhnya.


Siapa kira-kira orang tersebut?


Yap benar, Haidar!


Haidar ada di sana dan melihat semua kejadian yang baru saja terjadi di depan matanya. Emosinya muncul begitu saja melihat perlakuan Alvaro terhadap Alina yang menurutnya di luar batas pertemanan dan Haidar tak suka itu.


Saat Alvaro keluar rumah, Haidar langsung bersembunyi di antara pohon-pohon yang tertanam di sana, Haidar memutuskan untuk langsung pergi dari sana.


Mengapa Haidar ada di rumah Alina? Karena Haidar ingin mengantar kan makanan dan belajar bersama dengan Alina, sebelumnya Haidar sudah mengirim pesan bahkan menghubungi Alina tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Makanya ia langsung datang ke rumah Alina.

__ADS_1


Haidar tidak menyangka ternyata Alvaro juga ada di rumah itu, Haidar merasa di sini lah Alina yang tidak serius dengan perjuangan nya, buktinya Alina berhubungan dengan haidar yang jelas-jelas Alina Tah kalau Haidar tak suka itu.


Lalu apa yang akan Haidar kelakukan setelah ini?


__ADS_2