Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Liburan


__ADS_3

Haidar sudah sampai di depan gerbang rumah Alina, dan Alina pun ternyata sudah berdiri di sana karena Haidar sudah mengabarinya sebentar lagi akan sampai.


Haidar berjalan menghampiri alina, “sudah siap liburan sama gue buat pertama kalinya?” tanya Haidar saat di hadapan Alina.


Alina mendorong bahu Haidar pelan, “Apaan sih pertanyaan Lo gak jelas banget!” ujarnya salah tingkah.


Alina melangkah ke arah mobil dan langsung masuk ke dalam di kursi belakang, Haidar yang melihat Alina memilih duduk di belakang langsung menegurnya.


“Emang gue supir!” ketus Haidar.


Alina pun terkekeh pelan, “mirip.”


“Pindah.” Haidar mode dingin.


Alina menggeleng, “Gue di belakang aja, biar Meilla yang di depan kan dia yang tau jalannya.” celetuk Alina.


“Gue juga tahu jalannya.” sahut Haidar jujur.


Alina menepuk keningnya pelan, “Iya gue lupa, lo kan sedekat itu sama keluarga meilla.” seru Alina seakan menyindir Haidar.


Haidar tersenyum kecil, “Cemburu?” ujar Haidar membuat Alina salah tingkah.


Terdengar kekehan kecil dari Alina dan membuat Haidar menoleh ke arahnya.


“Lo lucu kalau lagi cemburu.” ujar Haidar yang semakin membuat Alina salah tingkah.


“Pindah di depan ya, duduk samping gue.”


Alina terdiam, “Apa ada alasan kenapa gue harus pindah ke depan?”


“Meilla itu cuma sahabat gue, sedangkan lo masa depan gue. Jadi lo yang lebih pantas duduk samping gue.” ujar Haidar lembut dan terdengar sangat tulus.


Jantung Alina semakin tidak karuan, tanpa pikir panjang Alina keluar dari mobil lalu berpindah posisi duduk jadi di depan samping Haidar.


Haidar tersenyum karena Alina menuruti perintah nya, setelah itu Haidar ikut masuk ke dalam mobil.


Sebelum mobil melaju, Haidar sempat berkata, “Aelalu di samping gue ya Lin.” ujar Haidar membuat Alina mengangguk lalu tersenyum.


Lalu Haidar melajukan mobilnya menuju rumah Meilla, di sepanjang perjalanan keduanya terlibat pembicaraan yang tidak ada habisnya. Selalu saja ada di bahas, Alina berpikir ternyata Haidar tidak seburuk itu sama seperti Alvaro yang ternyata nyambung saat di ajak bicara.


Setelah habis menghabiskan waktu 35 menit keduanya telah sampai di depan rumah milik Meilla dan ternyata sudah ada yang lainnya juga di sana terlihat ada mobil Nanda terparkir di depan gerbang.


Haidar dan Alina turun untuk masuk ke dalam rumah Meilla, karena sepertinya yang lain masih di dalam rumah Meilla. Setelah di persilahkan masuk, keduanya pun langsung masuk ke arah ruang tamu dan terlihat yang lain sedang makan cemilan yang di sediakan.


“Tuh dia Dateng juga.” seru Lio saat melihat kedatangan keduanya.


“Lama banget sih lo berdua, abis ngapain dulu sih?” gerutu Edo.


Haidar dan Alina hanya diam tidak menjawab pertanyaan dari mereka, setelah itu mereka memutuskan untuk segera berangkat karena sekarang sudah pukul 7 malam. Saat ingin keluar rumah, terdengar suara yang memanggil Meilla dan juga Haidar.


“Meilla, Haidar.” panggil Fandi otomatis membuat mereka semua menghentikan langkahnya lalu berbalik ke arah Fandi.


“Iya pi?” jawab Haidar lebih dulu.


“Ini kunci villa nya, kalian hati-hati dan jangan berbuat macam-macam inget kalian masih sekolah, masa depan masih panjang jangan berbuat di luar batas, Paham?” Fandi memberi nasihat pada semuanya.


Semuanya mengangguk, “Paham om.”


Haidar mengambil alih kunci itu, “Terima kasih pi, kalau gitu kita berangkat dulu ya.” Palit Haidar lalu mencium tangan Fandi.

__ADS_1


“Iya, papi titip Meilla ya.” ujar Fandi tanpa sadar membuat hati Alina sedikit sakit mendengarnya.


Meilla pun langsung paham dengan kondisi seperti itu, “Haidar khusus buat jagain Alina pi karena sekarang mereka pacaran. Iya kan Dar?” ujar meilla membuat yang lain hanya diam.


Fandi menatap Haidar, “oh ya? Serius kamu sudah pacaran sama Alina? Selamat ya Haidar, semoga kamu bisa jagain Alina terus seperti kamu jagain Meilla terus dulu.” ujar Fandi


Haidar mengangguk, “Makasih banyak pi, Haidar bakalan jagain Alina lebih dari apa yang pernah Haidar kasih ke meilla.” jawab Haidar membuat hati Alina tersentuh.


“Ya udah kalau gitu, kita pamit ya om takut sampai nya nanti kemalaman,” ujar Edo pada akhirnya menyusahkan situasi ini.


Fandi mengangguk, lalu semuanya keluar dari rumah Meilla. Rombongan di bagi menjadi 2. Nanda, Lio dan Elsa. Sedangkan Haidar, Alina, Meilla dan Edo.


Meilla sudah memberitahu Lio dimana letak villa nya, dan Lio pun sudah tahu dimana karena ternyata tidak jauh dari villa keluarganya.


Di dalam mobil Haidar terlihat suasana yang canggung, mungkin karena situasi yang tadi. Dengan keberanian Meilla membuka suara terlebih dulu.


“Lin, sorry ya kalau omongan bokap gue tadi bikin Lo kepikiran.” ujar meilla meminta maaf pada Alina.


Alina langsung menoleh ke belakang, “Gak papa kok La, wajar kali. Bokap lo pasti percaya banget sama Haidar, makanya lo di titipin sama dia. Iya kan Dar?”


Haidar tidak menjawab, ia takut jawabannya salah akan membuat situasi makin kacau.


“Do, sorry juga ya.” ujar meilla pelan dan Edo hanya mengangguk.


Akhirnya mereka kembali diam, hanya suara radio yang terdengar di mobil Haidar, tidak seperti di mobil Nanda yang sangat berisik padahal jumlah mereka bertiga tetapi sangat berisik, katena seperti biasa Lio mengadakan konser dadakan dan sekarang penyanyinya di tambah 2 yaitu Nanda dan Elsa pun ikut bernyanyi.


“Guys, gimana kalau nanti kita bikin rencana biar Alina sama Haidar bisa jadian?” ujar Elsa tiba-tiba membuat Nanda dan Lio menghentikan nyanyinya.


“Gimana caranya?” tanya Lio.


Elsa nampak seperti berpikir, “Alina itu takut sama hantu, kita jahilin Alina buat pura-pura kita jadi hantu, nanti kan pasti Alina teriak dan yang paling sigap pasti Haidar terus kita kunciin deh mereka di dalam, pasti setelah itu mereka jadian.”


Nanda mengangguk, “Iya, bener malah enak-enakan mereka bikin gue ngiri karena gak ada bahan.”


Elsa menoyor kepala kedua lelaki di kursi depan, “Lo berdua otaknya parah ih, Haidar gak mungkin kaya begitu lah, kalau lo berdua baru gue percaya.” seru Elsa.


“Maksud kamu, aku udah gak perjaka gitu? Tega banget kamu nuduh aku kaya gitu.” ujar Lio dengan nada sok dramatis.


“Emang iya kan?” sahut Nanda membuat tangan Lio memukul kepala Nanda.


“Tuh kan, gue mah udah tau yo.” saru Elsa.


Lio menggeleng, “Engga yang, belum pernah demi dah. Nanda dipercaya, dia mah seneng kalau liat kita berantem soalnya dia iri gak punya pasangan sendiri. Percaya sama aku yang.”


Nanda tertawa berbahak, hingga mengeluarkan air mata di sudut matanya, “Iya Sa, gue cuma becanda. Tenang semua sahabat gue masih perjaka kok termasuk gue.” seru Nanda.


“Gue tetep gak percaya.” seru Elsa.


“Ya udah kalau gak percaya, ayo coba aja nanti di villa.” ujar Lio membuat Elsa menarik rambut Lio dari belakang.


“Anjing emang mulut lo!” seru Nanda lalu tertawa lagi karena melihat Elsa dan Lio sedang perang.


Setelah menghabiskan waktu hampir 4 jam akhirnya mereka telah sampai di villa keluarga Meilla. Villa nya sangat luas dan bersih meskipun jarang di kunjungi tetapi villa nya selalu di bersihkan oleh penjaganya.


Kedua mobil terparkir tepat di garasi villa, dan semuanya turun dari mobil sambil membawa barang mereka masing-masing. Tidak dengan Elsa yang barang bawaannya di bawa oleh Lio.


“Kita taro barang dulu di kamar, setelah itu kita ke halaman belakang ya soalnya kata papi gue sudah di sediain buat kita barbeque-an di sana ” ujar meilla lalu di anggukin yang lain.


Yang cewek mengikuti Meilla untuk ke kamar mereka, sedangkan yang cowo mengikuti Haidar. Setelah menaruh barang, semuanya kembali keluar kamar dan bertemu di halaman belakang. Benar saja, semua sudah tersedia dengan lengkap.

__ADS_1


“Dari dulu kek liburan kaya gini.” seru Lio.


“Emang maunya lo mah yang gratisan!” cibir Nanda dan Lio hanya menyengir.


Semuanya berbaur membagi tugas untuk acara malam ini, acara malam ini membuat mereka lupa kalau 2 hari lagi mereka akan ujian kelulusan. Biarlah namanya refreshing, melupakan hal-hal lain dulu, bikin hati senang dulu hari in.


“Eh guys, gimana kalau kita main truth or dare?” seru Meilla dan di setujui oleh semuanya.


“Pakai ini gimana? Kita putar aja di meja terus kita berdiri ngelilingi meja nya.” ujar Edo sambil mengangkat botol bekas air mineral.


Semuanya mengangguk lalu mengambil posisi masing, putaran pertama di mula dan berhenti tepat di hadapan Elsa.


“truth or dare?” seru Lio.


“trut!” jawab Elsa cepat.


“Lo sayang beneran gak sama Lio? Alasannya?” tanya Nada cepat.


Elsa nampak berpikir lalu akhirnya mengangguk, “Karena Lio humoris!” seru Elsa membuat mereka bersorak 'cie' pada Lio.


Putaran keduanya, kali ini berhenti di depan Meilla.


“Truth or dare?” tanya Alina.


“Trutg!” seru Meilla.


“Lo masih ada perasaan gak sama Haidar?” tanya Elsa membuat Haidar menghela napasnya.


“Engga ada!” jawab Meilla cepat.


Elsa mengangguk-angguk.


“Ah gak seru, gak ada yang pilih dare, pokoknya sekarang pertanyaannya di ganti jadi dare or dare!” seru Nanda.


Putaran ke tiga tepat berhenti di depan Haidar.


“Dare or dare?” tanya Lio dan membuat kepalanya di toyor oleh Edo.


“Gak perlu pake ditanya lagi dongo!” seru Edo.


“Tembak Alina sekarang juga!” teriak Elsa dan di anggukin oleh semuanya.


Alina langsung salah tingkah, tidak berpikir kalau permintaan mereka akan ke arah sana. Alina sedang berpikir, akan menjawab apa kalau Haidar benar melakukan itu.


Haidar menggeleng, “Gue gak mau maksa Alina, “Gue gak mau maksa Alina, untuk saat ini Alina belum sepenuhnya yakin sama gue soalnya.” ujar Haidar menolak permintaan mereka semua.


Alina menghela napas kecewa, entah mengapa ia seperti sedih mendengar itu, ia mengira itu akan terjadi malam ini, dan tadi ia sudah sempat berpikir kalau akan menjawab iya.


“Yah, gak seru lo!” ujar Lio kecewa.


“Ya udah, ganti deh. Peluk Alina sekarang!” seru Meilla.


“Eh, belum jadian udah main peluk-peluk aja!” sahut Edo.


“Gak papa, pacaran juga dosa.” ujar Elsa dan di anggukin yang lain.


Tanpa aba-aba Haidar langsung menubruk tubuh Alina untuk di peluknya. Haidar mengeratkan pelukannya seakan tidak ingin melepaskan Alina.


“Lin, gue sayang lo.” ujar Haidar di tengah pelukan mereka dan Alina mendengar jelas ucapan itu.

__ADS_1


__ADS_2