Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Indah..


__ADS_3

Pulang dari liburan di Bali bersama para sahabatnya. Alina dan Haidar kembali dengan rutinitas mereka seperti biasa. Setiap harinya mereka semakin merasa bahagia.


Mereka selalu menyempatkan untuk bertemu atau bertukar kabar meskipun sedang sama-sama sibuk dengan kuliahnya. Karena jadwal kelas yang semakin berbeda, bisa membuat keduanya tidak pergi dan pulang bersama apalagi jika ada tugas.


Meskipun begitu, mereka tetap bersyukur karena hubungan nya tetap terjaga, Alina mengerti Haidar begitu pula sebaliknya. Jadi mereka tahu, bagaimana rasanya kangen saat tidak bisa bertemu.


Seperti saat ini, Alina sudah lebih dulu keluar kelas dan harus pergi ke sebuah cafe untuk mengerjakan tugas bersama dengan kelompoknya. Ali a tidak bisa menunggu Haidar masih ada dua kelas lagi hari ini.


Sebelum Haidar masuk kelas, Haidar menyempatkan bertemu dengan Alina lebih dulu di parkiran kampus sambil memberinya sebatang cokelat yang tadi pagi ia beli di supermarket sebelum sampai di kampus.


“Kamu hati-hati, kabarin aku kalau sudah selesai semua, terus kalau udah mau jalan pulang juga kabarin. Kalau aku udah selesai duluan, nanti aku nyusul ke sana ya?” seru Haidar sambil menggenggam tangan Alina.


Alina mengangguk lalu tersenyum, “Pasti dong sayang, kamu belajar yang fokus jangan terlalu mikirin aku.”


Haidar menggeleng, “Gak bisa, kamu prioritas nomer satu di pikiran aku, apalagi saat ini kamu pergi sama beberapa cowok yang satu kelompok sama kamu!”


Alina terkekeh, wajah Haidar sangat lucu kalau sedang cemburu seperti ini, “Ututu, jangan cemburu sayang. Bikin gemas deh kamu!”


Haidar yang melihat Alina malah terkekeh, jadi semakin gelisah, “Aku bolos kuliah aja kali ya, buat nemenin kamu nugas?” usul Haidar dan membuat Alina reflek memukul bahu kekasihnya.


“Enak aja, kita udah lumayan sering gak masuk haidar,. Kamu fokus belajar, biar kita cepat lulus dan nikah kaya Lio dan Elsa. Emang nya kamu gak mau?”


Hadar tersenyum miring, “Cie pengen cepat nikah sekarang, mau ngerasain juga ya?” goda Haidar.


Wajah Alina berubah menjadi merah, karena malu. “Ih apaan sih Haidar, ngaco!”


“Cie yang malu, emang mau ngerasain apa? Apa mau ngerasain sekarang?” goda Haidar semakin gencar karena wajah Alina terlihat lucu.


Alina menggeleng sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan nya, “Haidar apa sih, udah ah aku mau berangkat lagian kamu kan harus masuk kelas, sana gih!” seru Alina kesal karena di goda dengan Haidar.


Haidar terkekeh lalu mengelus rambut gadisnya, “Iya sayang, ini cokelat untuk kamu biar semakin semangat ngerjain tugas nya.” sejak tadi ia simpan di saku jaket yang di pakainya.


Alina menerima cokelat itu dengan senyum manisnya, “Makasih banyak sayang! Kamu juga semangat ya!” seru Alina sambil mengecup punggung tangan Haidar dengan lembut seakan sedang Salim dengan calon suaminya, asek!


Haidar mengangguk, seperti biasa sebelum mereka berpisah keduanya pasti saling berpelukan lebih dulu dan Haidar mengecup kening Alina dengan lembut.


“Sabar ya sayang, setelah semua selesai kita langsung menikah kok, jangan gak sabaran gitu ah, jadi gemes tahu!” bisik Haidar di sela pelukan mereka.


Alina yang mendengar bisikan itu langsung mendelik takut dan mendorong Haidar agar segera menjauh.


“Stop Haidar, aku bilangin papah loh kalau macem-macem!” ancam Alina dan membuat Haidar terkekeh.


“Bercanda sayang.” seru Haidar.


Akhirnya Alina segera masuk ke dalam mobil dan menuju cafe di mana ia akan mengerjakan tugas bersama dengan kelompoknya. Setelah Kepergian Alina, Haidar segera masuk kelas karena kelasnya sudah di mulai sejak 10 menit yang lalu. Biarlah telat, dari pada tidak masuk sama sekali iya kan?

__ADS_1


...****************...


Alina telah sampai di lokasi setelah menghabiskan waktu beberapa menit dari kampusnya. Ternyata semua anggota sudah berkumpul di sana dan hanya Alina yang belum tiba.


“Sorry guys telat!” seru Alina meminta maaf dan langsung duduk di bangku yang masih kosong.


Seperti biasa, setiap orang ada yang suka dan tidak suka dengan kita. Tidak semua orang di haruskan suka dengan kita kan, meskipun kita itu baik?


“Pacaran Mulu sih lo, gue lihat lo di parkiran lama banget pake segala pelukan!” ketus Anisa yang memang dari awal tak suka dengan Alina.


Alina hanya tersenyum tanpa menjawab cibiran itu, kalau membuka buku tugas dan ikut berdiskusi dengan yang lain.


“Lo kalau emang gak niat ngerjain tugas gak usah datang sekalian!” ketus Rena juga yang sama seperti Anisa karena mereka memang berteman.


Kesabaran Alina mulai terusik, “Kalau gue niat, gue gak akan datang dan ikut berdiskusi sekarang! Mata lo buta?” kesal Alina.


Anisa bangkit dari duduknya kalau menunjuk wajah Alina dengan jari telunjuknya dan Alina tak suka dengan perbuatan itu lalu ikut bangkit. Lagi pula siapa sih yang suka di perlakukan seperti itu, iya kan?


“Lo berani ngejawab juga ternyata? Gue kira kalau gak ada cowok nya, Lo cupu!” seru Anisa.


Rena terkekeh, “Iya gue kira juga gitu, karena kan ngetem mulu tuh di ketek cowoknya!” Timpal Rena,


Anggota yang lain hanya menggeleng melihat tingkah Anisa dan Rena yang memang selalu seperti itu. Sombong!


“Berisik Lo berdua, mending cabut deh!” kesal Alan.


Alina menjulurkan lidahnya karena merasa menang saat ini, “Cabuy deh mending kalau lo berdua gak fokus buat ngerjain tugasnya, ganggu tahu!” ketus Alina dengan nada mengejek.


Anisa menggebrak meja cafe memebuat pengunjung lain menatap meja mereka, ”Lo berani ya sama gue cewek kampung!” kesal Anisa lalu melangkah menuju Alina dan langsung menarik rambut alina.


Terdengar rintisan dari Alina, karena memang Anisa menarik nya dengan kuat. Anggota yang lain mambantu untuk melepaskan tangan Anisa dari kepala Alina dan menghalangi Rena agar tidak ikut menarik rambut Alina.


Tak di angkat ternyata ada seseorang yang datang, hanya dengan sekali ucapan Anisa langsung melepaskan tarikan di kepala Alina dengan erat.


“Lepasin dia, atau gue aduin lo sama papi lo?” seru Alvaro entah kebetulan atau bagaimana berada di sini juga.


Anisa yang melihat siapa yang datang dan menyuruh nya berhenti langsung terdiam dan menjauh dari Alina. Anisa tidak tahu kalau Alvaro kenal dengan Alina. Lalu mengapa Alvaro kenapa dengan Anisa?


Karena orang tuanya Anisa, salah satu dari sekian banyak clien Alvaro saat ini. Dan sempat beberapa kali bertemu, karena papinya Anisa memang berniat ingin menjodohkan keduanya. Alvaro tak suka dengan Anisa, sedangkan sebaliknya. Lagi pula siapa sih yang menolak di jodohkan oleh Alvaro. Muda, kaya dan berkarir!


Alina yang melihat meringis belum bisa melihat siapa yang telah menolongnya dengan mudah seperti itu, tetapi ia samar mendengar suara yang lumayan familiar di telinganya.


“Lo kok bisa di sini? Lo mau jemput gue?” seru Anisa dengan percaya dirinya sambil mendekat ke arah Alvaro.


Alvaro tidak menjawab pertanyaan itu, dan berjalan mendekat kearah Alina yang mesin menundukkan kepalanya.

__ADS_1


“Lo gak papa?” tanya Alvaro sambil mengangkat kepala Alina agar ia bisa melihat wajah yang selalu ia rindukan sampai saat ini.


Alina mengangkat wajahnya dan berapa terkejutnya saat melihat Alvaro yang berada di depannya. Wajah mereka terlalu dekat, hanya ada jarak sekitar 10 cm saja di antara keduanya.


“Alvaro?” sapa Alina memastikan kalau di depannya ini memang Alvaro yang ia kenal.


Alvaro mengangguk lalu tersenyum, “Iyq, lo gak papa?” tanya Alvaro memastikan kalau Alina baik-baik aja , meskipun sebenarnya ia tahu itu tidak mungkin.


Anisa yang mendengar itu kaget, karena Alvaro dan Alina ternyata mengenal satu sama lain. Hatinya semakin tak suka, karena Alina selalu beruntung.


“Kalian saling kenal?” tanya Anisa lagi-lagi tak ada jawaban apapun dari keduanya.


“Kenapa lo bisa ada di sini?” tanya Alina.


Alvaro mengangguk, “Kebetulan ada meeting di cafe ini, gak sengaja gue lihat lo lagi di keroyok kaya tadi!”


Alina langsung menatap Anisa dengan tajam, “Emang sialan tuh nenek sihir! Dateng bukan ngerjain tugas malah buat kacau!” keluh Alina.


Alvaro terkekeh, “Kalau dia gangguin lo lagi, Lo hilang sama gue biar gue aduin ke orang tuanya!” pesan Alvaro membuat Alina bingung.


“Kalian saling kenal?” tanya Alina.


Anisa langsung mengangguk cepat, sambil menjulurkan tangannya seakan ingin memperkenalkan dirinya, “Kenalin gue Anisa, calon istrinya Alvaro!” seru Anisa dengan Alina yang tidak menanggapi tangan Anisa itu.


Alina menatap Alvaro, sedangkan Alvaro langsung menggeleng dan meletakkan jari telunjuknya di kening alias dia bilang gila!


Alina terkekeh melihat respon Alvaro kalau menatap Anisa dengan tatapan mengejek, “Jangan mimpi terlalu tinggi, nabati jatuh sakit loh!” ejek Alina.


Anisa yang kesal di ejek seperti itu ingin kembali menarik rambut milik Alina lagi, tetapi sayang Alam lebih cepat menghalanginya.


“Mending lo cabut deh, kita disini mau buat tugas bukan mau lihat drama lo!” ketus Alan sambil mendorong bahu Anisa agar segera pergi.


Sudah jatuh tertimpa tangga, mungkin itu lah kata yang pas untuk Anisa. Sudah terlanjur malu, makanya Anisa pergi keluar bersama dengan Rena yang memang sengaja Anisa tarik agar ikut dengannya.


“Awas ya lo, Alina. Kau ini Lo menang, lain kali gak akan gue biarin li menang!” acak Anisa pergi dari sana.


Alina hanya terkekeh mendengar ucapan itu, tidak merasa takut sama sekali dengan ancaman dari Anisa.


“Thanks Var, lagi-lagi lo nolongin gue!” seru Alina.


Alvaro mengangguk, “It’s okay, gue kesana dulu ya. Kalau ada apa-apa kabarin gue aja, gue kenal Deket kok sama keluarganya!” seru Alvaro dan hanya di anggukin oleh Alina.


Sebelum Alvaro melangkah, Alvaro menyempatkan untuk mengelus rambut cewek yang masih ia sayang sampai saat ini.


“Bye, cantik!” seru Alvaro lalu benar-benar pergi ke meja yang di mana ada seseorang perempuan yang sama seperti waktu itu, mungkin itu sekertaris nya.

__ADS_1


__ADS_2