Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Ada apa lagi?


__ADS_3

Ternyata semua tidak berjalan sesuai yang di harapkan oleh Meilla dan Edo. Kedua orang tuanya sama-sama memiliki dendam pribadi yang terpendam memiliki dendam pribadi yang terpendam sejak dulu. Bagaimana dengan hubungan nya meilla dan Edo sekarang?


Pasalnya, Edo hari ini tidak masuk kuliah. Meilla pikir ia akan bertemu dengan kekasihnya itu di kampus, tapi sayang Meilla tak menemukan Edo di sini.


Sejak pulang dari restoran itu, Meilla sangat merasa sedih dan terpukul. Badannya terasa tidak enak, seperti masuk angin. Sejak semalam pula, Meilla tida berhenti memuntahkan isi perutnya, sambil terus menghubungi Edo, tetapi sayang ponsel kekasihnya itu tidak aktif.


Meilla hanya bisa menangis saat ini di dalam mobil. Bingung harus melakukan apa saat ini! Ia butuh teman untuk berbagi sedikit tentang kesedihan nya saat ini.


Meilla mengambil ponselnya di jok samping yang tergeletak begitu saja. Meilla menghubungi Alina, padahal ia tahu pasti saat ini Alina sedang ada di kampus. Tetapi sekarang ia hanya butuh teman, dan Alina lah yang paling cocok saat ini.


Meilla mendial nomer Alina, dan segera memanggil nya. Suara deringan terdengar beberapa kali, Samapi akhirnya panggilan tersebut di angkat.


“Halo, Lin?”


“....”


“Lagi ngampus?”


Meilla sangat berusaha untuk menahan nada suaranya agar tidak terdengar sambil menangis.meikla tidak mau Alina khawatir dengan keadaannya saat ini.


“....”


“Boleh gue ke rumah lo?”


“....”


“Hehe, takut ganggu lo!”


“....”


“Oke, gue otw ya!”


Bip


Panggilan itu terputus. Beruntung saat ini Alina sedang tidak ke kampus karena memang tidak ada dosen pengajar, dan sedang santai di rumah sambil menunggu Haidar untuk datang setelah selesai kuliah nanti.


Meilla berpikir, ia kira kisah cinta Alina dan Haidar saja yang di uji. Ternyata ia salah, kisahnya lebih berat saat ini. Memang hidup Alina sepertinya sangat sempurna.


Meilla melakukan mobilnya ke arah rumah Alina. Padahal seharusnya ia sudah masuk kelas saat ini, tetapi ia tidak peduli. Hatinya sedang hancur dan tidak bisa fokus untuk belajar karena masalahnya ini


Sepanjang perjalanan, otaknya terus memikirkan di mana Edo, dan terus mencoba menghubungi lelaki itu. Tetapi sayang, tidak ada jawaban sama sekali.meskipun ponselnya saat ini sudah aktif kembali.


Meilla mengirim pesan kepada Edo, berharap Edo bisa membacanya dan segera menghubungi nya kembali.

__ADS_1


Meilla :


Kamu dimana? Kalau bisa hubungin aku balik ya!


Hanya itu, pesan yang Meilla krim untuk Edo.


...****************...


Meilla telah sampai di rumah Alina. Seperti biasa, rumah Alina sepi, hanya ada Eni dan satpam di depan. Seperti biasa pula, Meilla langsung melangkah ke kamar Alina.


Alina yang sedang duduk di meja belajar, sambil mengajar kan tugas kuliahnya kaget karena kedatangan Meilla yang terbilang cukup dan tanpa mengetuk kamarnya. Kebiasaan emang!


“Sialan, kaget gue! Ketok dulu ngapa ih, udah cepet banget lagi lo. Ngebut ya lo?” kesal Alina.


Meilla hanya menyengir sekilas lalu menaruh tas kecil yang ia bawa di atas kasur Alina, juga merebahkan tubuhnya di atas kasur tanpa permisi pada yang punya.


Eits, jangan judge Meilla ya.. memang seperti ini kebiasaan Alina, Meilla dan Elsa jika berkunjung ke salah satu rumah mereka. Tidak ada sopan santun, karena kebiasaan!


Alina bangkit dari kursi, dan segera menghampiri Meilla. Alina meneliti wajah Meilla yang seperti menangis, karena hidung dan mata Meilla sedikit merah. Terlihat juga air mata yang tersisa di sudut mata gadis itu.


“Lo habis nangis?” tanya Alina dengan pelan.


Meilla mengangguk jujur, dan berusaha menahan tangisannya agar tidak menangis di depan Alina.


Ih Alina gak tahu apa, kalau seseorang lagi sedih kalau di tanya kenapa itu malah bikin seseorang itu menjadi nangis! Lihat lah Meilla saat ini, sudah berusaha tetapi saat mendengar pertanyaan Alina otomatis membuat pertahanan nya runtuh begitu saja.


Meilla bangun dari tidur dan duduk berhadapan dengan Alina. Tanpa aba-aba Meilla langsung memeluk Alina dan menangis di pelukan sahabat nya itu. Alina membiarkan Meilla menangis, agar hatinya sedikit tenang.terdengar dari tangisannya, memebuat hati Alina merasa sedih.


“Lin, kenapa sih kisah cinta gue gak seberuntung lo sama Elsa? Kenapa gue di kasih cobaan seberat ini? Gue sedih Lin, gue takut!” adu Meilla kepada Alina.


Alina diam, tidak menanggapi ucapan Meilla agar Meilla terus menuangkan keluh kesahnya. Begitu bisa membuat Meilla sedikit lega nantinya.


“Lin, lo tahu gak kalau orang tua gue akhirnya gak setuju sama pertunangan gue dengan Edo?”


Alina kaget mendengar itu tetapi ia hanya diam, biar Meilla yang menjelaskan semuanya titik masalahnya saat ini.


“Ternyata, papi gue sama papahnya Edo itu bermusuhan Lin. Gue gak tahu masalah mereka apa, tetapi kenapa berdampak sama hubungan gue dan Edo?”


“Tuhan gak adil Lin sama gue, Tuhan gak sayang Lin sama gue. Rasanya gue mau mati aja kalau kaya gini caranya!” seru Meilla lalu menangis lagi dengan kencang.


Alina mengelus punggung Meilla dengan lembut, memberikan sensasi tangan agar Meilla bisa mengontrol omongan dan emisinya. Sekarang Alina sudah tahu letak masalahnya saat ini.


Alina melepaskan pelukan itu, lalu membantu menghapus air mata Meilla dengan telapak tangannya.

__ADS_1


“Gue tahu rasanya pasti sakit banget ya. Tapi bukannya masalah pasti ada jalan keluarnya? Lo udah coba bicara sama Edo, bagaimana kelanjutan nya?”


Meilla menggeleng, “Sejak malam, gue coba hubungi dia tapi gak ada jawaban sama sekali Lin! Gue takut Lin, Lo tahu gue udah gak suci lagi!”


Alina menggeleng dan kembali menghapus air mata Meilla yang masih saja mengalir begitu deras, “hust lo gak boleh ngomong gitu, mungkin Edo juga lagi mikirin gimana caranya biar kalian bisa bersatu.”


Saat Alina ingin melanjutkan pembicaraan, tiba-tiba Meilla kembali memuntahkan isi perutnya yang padahal belum ia isi apapun sejak semalam.


Uek.. Uek.. Uek..


Untung saja Meilla langsung berlari ke arah kamar mandi Alina, saat merasa ingin muntah. Alina mengejar Meilla, lalu mambantu memijit tengkuk nya.


Setelah hampir 5 menit, m Illa langsung membersihkan mulutnya dan kembali ke kamar di bantu oleh Alina. Karena meilla merasa sangat lemas saat ini


“Lo sakit? Lo belum makan ya?” tanya Alina yang mulai sangat khawatir melihat kondisi sahabatnya.


Meilla hanya menggeleng, lalu merebahkan tubuhnya di kasur Alina.


“Lo tunggu, gue ambilin lo makanan dulu ke bawah ya.” s di Alina dan di anggukin oleh Meilla.


Saat kepergian Alina menuju dapur, saat itu pula Meilla kembali memuntahkan isi perutnya yang tidak ada apa-apa lagi. Tubuhnya terasa sangat lemas, kepalanya pusing dan perutnya terasa sakit.


Tak lama Alina datang, dengan membawa piring di tangannya berisi nasi dan lauk pauk. . Alina memang tidak mengambil air karena di kamarnya ada galon dan kulkas kecil.


“Lo makan dulu, habis itu minum obat ya!” seru Alina sambil menyuapi basi ke mulut Meilla.


Baru beberapa suapan, Meilla kembali berlari ke kamar mandi. Pikiran Alina sudah negatif, tetapi langsung ia tepis karena itu tidak mungkin terjadi.


Setelah Meilla kembali, Alina kembali juga menyuapi Meilla, namun di tolak oleh gadis itu.


“Udah Lin, gue mual banget.” seru Meilla.


Alina menggeleng, “Makanan belum ada yang masuk, Lo harus minum obat La!”


Meilla menggeleng sambil menutup mulutnya rapat. Alina hanya bisa menghela napasnya, lalu memberikan air minum pada Meilla.


“Lin, gue takut!” cicit Meilla tiba-tiba.


Alina berpikir, apakah pikiran meilla sama dengan nya. Iya, kalau Meilla sedang hamil?


Mau berpikir positif bagaimana pun, tetapi pikiran Alina tetap ke arah situ. Apa iya itu semua terjadi pada meilla, yang saat ini sedang ada masalah dengan hubungan nya?


“Ya Allah, gue ga bisa bayangin gimana kalau itu beneran terjadi pada lo, La!” seru Alina dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2