Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Rahasia


__ADS_3

Alina yang sedang melangkah pelan menuju ruangan tersebut terlonjak kaget karena kedatangan seseorang di belakang.


"Eh non, ngapain ke sini?" Tanya sari dengan suara pelan.


Alina yang ketahuan oleh sari hanya bisa menggaruk kepalanya, malu dan takut.


"Mendingan non sekarang balik lagi ke depan sebelum mas Haidar lihat." Ujar Sumi dengan suara pelan.


"Tapi bi, itu siapa?" Tanya Alina penasaran membuat sari menggeleng dan mendorong Alina dengan pelan. Bukan kurang ajar tetapi inilah yang harus di lakukannya.


Daripada nanti Alina yang kena amuk oleh Haidar, kan kasihan pikir sari.


Belum sempat melangkah lebih jauh dari ruangan tersebut, suara langkah kaki terdengar di belakang mereka dan membuat keduanya terkejut dan menoleh ke arah belakang.


Sari yang melihat siapa di belakang langsung menunduk takut, sedangkan Alina hanya menyengir. Meskipun Alina tau kalau tatapan Haidar saat ini sangat berbeda, ada kemarahan yang tercetak jelas di sana.


"Siapa yang nyuruh dia ke sini?" Bentak Haidar pada sari.


Sari semakin menundukkan kepalanya, "emm..anu mas.." ucapan sari tergagap dan langsung di potong oleh Alina.


"Haidar, jangan nyalahin bibi. Gue yang salah kok karena gue sendiri yang masuk sini tanpa izin." Ujar Alina menjelaskan pada Haidar.


Haidar menatap Alina dengan tatapan tajam, terlihat jelas kemarahan di sana dan membuat Alina menciut melihatnya. Sekarang Alina hanya menunduk.


"Kenapa lo lancang?" Bentak Haidar.


Alina yang di bentak langsung kaget, "Ma..maaf Haidar." Ujarnya lirih.


"Pergi!" Usir Haidar dan membuat Alina menatap Haidar sekilas lalu menunduk kembali.


"Tapi sekarang udah malem banget, gue gak berani pulang sendiri." Ujar Alina sambil menahan tangisnya.


"Gue gak peduli! Pergi!" Teriak Haidar membuat air mata yang sejak tadi di tahan akhirnya mengalir.


"Pergi sialan!" Teriak Haidar lagi membuat sari langsung menarik Alina menjauh dari Haidar dan Alina hanya pasrah mengikuti arah kaki sari.


Sesampainya di ruang tamu, sari langsung memberikan minum yang tadi ia sajikan pada Alina untuk mengurangi rasa takutnya.


"Lebih baik non pulang sekarang ya." Usul sari dan di anggukin oleh Alina.


Dengan cepat Alina mengambil tas miliknya yang tergeletak di sofa lalu pamit pulang pada sari. Sebelum benar-benar keluar dari rumah Haidar, Alina menoleh kembali ke belakang berharap Haidar menghampiri dan mengantarkan nya pulang. Tapi sayangnya tidak ada tanda-tanda apapun di sana.

__ADS_1


Tanpa menunggu lagi, Alina segera keluar untuk pulang. Saat ingin keluar gerbang tiba-tiba datang laki-laki paruh baya menghampiri Alina.


"Non, mau bapak anter aja?" Tawar laki-laki tersebut.


Alina menggeleng lalu tersenyum, "gak usah pak, saya pulang sendiri aja. Permisi pak." Pamit Alina lalu melangkah keluar gerbang rumah milih Haidar.


Alina melangkah kakinya menuju depan komplek perumahan ini untuk mendapatkan taksi, lumayan jauh dari rumah Haidar.


"Kenapa lo Setega ini sama gue Haidar?" Gerutu Alina sambil menangis.


"Kenapa lo juga semarah ini? Lo jahat!"


Alina menghapus air matanya yang terus mengalir di pipinya yang mulus itu. Alina bingung dengan sikap Haidar tadi? Apa karena ai melihat apa yang seharusnya ia tidak lihat? Apa ini namanya sebuah rahasia?


Sesampainya di depan komplek perumahan Haidar. Alina menunggu taksi yang lewat di jalan sepi ini dengan rasa takut dan kecewa yang ada di hati nya saat ini.


Saat ingin mengeluarkan ponselnya, tiba-tiba Alina di kagetkan dengan kedatangan beberapa motor dan berhenti tepat di hadapannya. Alina segera memasuki kembali ponselnya dan melangkah mundur.


"Siapa kalian? Mau apa?" Teriak Alina saat salah satu pemotor itu turun dari motornya.


Alina semakin takut. "Jangan ganggu gue!" Teriak Alina lagi.


Pengendara tersebut membuka helmnya dan memperlihatkan wajahnya, ternyata Alvaro yang ada di sana dan membuat Alina terkejut.


"Lo juga ngapain ada di sini?" Bukannya menjawab pertanyaan Alvaro malah bertanya balik.


"Gue mau balapan, Lo sendiri kenapa bisa ada disini? Ini udah jam setengah 12 malam loh!" Tanya Andre lagi.


"Lo suka balapan?"


Alvaro mengangguk, "Alina jawab pertanyaan gue, ngapain lo disini? Ini kan komplek rumahnya haidar?"


Alina mengangguk, "iya." Jawab Alina tanpa memberi tahu alasannya.


Alvaro celengak celinguk mencari keberadaan musuhnya itu, terapi tidak ada siapapun. "Terus Haidar nya mana? Di biarin lo pulang sendiri di tengah malam kayak gini?"


Alina menggeleng cepat, "Eh enggak kok, ini gue aja yang iseng main-main ke sini eh ternyata Haidar ya gak ada di rumah!" Alasan Alina yang tidak mau Haidar di pandang jelek oleh alvaro.


"Gue tau kelakuan tuh anak alina, terus sekarang Lo mau balik?" Ujar Alvaro seakan menepis alasan Alina.


"Iya gue lagi nunggu taksi."

__ADS_1


"Jam segini gak bakalan ada taksi yang lewat sini, Lo mau gue anterin aja?"


"Kalau gue ikut Lo dulu liahat balapan boleh gak?"


"Tapi ini udah malem Lin, lo gak papa? Orang tua lo gak nyariin?" Tanya Alvaro.


"Gak akan ada yang nyariin gue kok, tenang aja. Orang tua gue jauh gak ada di Indonesia." Jelas Alina membuat Alvaro mengangguk-angguk.


"Oke boleh, tapi Lo kalo gak nyaman di sana bilang aja sama gue ya? Biar gue anterin Lo balik."


Akhirnya Alina ikut bersama Alvaro ke tempat balapan motor akan di adakan. Ini pertama kalinya Alina pergi ke tempat begini. Meskipun ia tidak ada yang mengawasi.


Sesampainya di sana Alina nampak sedikit tidak nyaman karena kondisi jalanan yang remang dan banyak asap rokok. Alina tidak menyukai asap rokok, karena rokok yang menyebabkan papanya sakit.


"Lo oke?" Tanya Alvaro memastikan.


Alina mengangguk dan sambil mengangkat jempolnya.


"Kalau udah bosen bilang, biar gue anterin Lo pulang."


Menurut alvaro, Alina tidak cocok berada di tempat seperti ini, karena Alvaro tau, Alina sosok perempuan yang bagaimana.


"Var, yang mau balapan siapa?" Tanya Alina sedikit kencang karena suasana ini sangat bising.


"Gue." Jawab alvaro membuat Alina melotot tak percaya.


"Lo yang turun langsung ke balapan?"


Alvaro mengangguk.


"Do'ain biar gue menang, nanti gue traktir lo." Ujar Alvaro.


Alina menggeleng, "gak mau ah, duit haram." Tolak Alina membuat Alvaro tertawa sambil mengacak rambut Alina.


"Lo gemesin Lin!" Seru Alvaro membuat Alina salting.


Pikirannya, coba yang ngelakuin ini Haidar.


"Lin, lo punya pacar?" Tanya Alvaro.


Alina hanya menggeleng.

__ADS_1


"Kalau gue nawarin diri buat jadi pacar lo, gimana?" Ujar Alvaro membuat Alina terdiam.


__ADS_2