
Satu Minggu sudah berlaku bagitu cepat, meskipun menurut Haidar itu waktu yang lama. Mengapa tidak, sejak kepergian Alina hari itu, sejak itu pula Alina tidak memberinya kabar hingga saat ini.
Ingin rasanya Haidar segera menyusul ke sana, tapi sayangnya, jadwal kuliah nya sedang padat, di tambah sedang ada ujian terus tiap hari. Maka dari itu Haidar tak bisa meninggalkan kuliahnya.
Tapi hari ini Haidar sudah memutuskan akan menyusul Alina ke Amerika . Awalnya Indira dan Roy tidak mengizinkan nya, tapi dengan segala cara Haidar lakukan akhirnya ia di izinkan menyusul aliran ke sana. Siang ini ia akan berangkat sendirian, Roy sudah menyiapkan semuanya untuk Haidar.
Tapi tanpa di sangka, Alina datang ke rumah nya dengan beberapa paperbag di tangannya. Dari yang membukakan pintu untuk alina, langsung memanggil tuan muda yang selama beberapa hari terakhir bapak seperti murung.
“Alina!” sapa Haidar saat melihat Alina tengah duduk manis di ruang tamunya.
Haidar melangkah dengan benar tapi pasti untuk menghampiri kekasih yang ia rindukan satu Minggu kemarin. Kondisi Haidar masih memakai tongkat.
Alina yang namanya di oangygil langsung menoleh ke arah sumber suara itu, dan tersenyum manis pada kekasihnya itu.
Alina langsung menubruk dada Haidar dengan sedikit kencang, sampai Haidar sedikit terdorong ke belakang, untung saja Haidar masih bisa menahan keseimbangan nya, kalau tidak bis jatuh.
“Haidar kangen!” seru Alina dengan nada suara manja.
Haidar mengelus kepala Alina dengan sayang, sambil mengecup atas kepala Alina. “Aju juga, kamu kemana aja? Kenapa gak ada kabar?” tanya Haidar.
Alina mendongakkan kepalanya ke atas untuk melihat wajah Haidar dari bawah. Wajah yang mampu membuat nya seperti ini, wajah tampan dengan pahatan yang sangat sempurna.
“Aku sibuk banget, Haidar. Maaf ya.” seru Alina.
“Sesibuk itu sampai lupa sama aku.”
Alina terkekeh pelan, “lEnggak lupa kok sayang, ini buktinya aku langsung kesini.”
“Kamubtau gak sih kalau hari ini aku mau nyusul kamu, kata Yanga kau bilang waktu itu lebih dari satu Minggu aku susul.”
Alina semakin terkekeh, “Udah bucin ya sama aku?” goda Alina.
Haidar menyentuh ujung hidung Alina dengan telunjuknya, “pintwr banget godain aku ya sekarang!”
Alina terkekeh lalu melangkah menuju sofa untuk megambil paperbag yang tadi dia bawa. “Ini Buat kamu, dan buat mamah kamu. Oh ya, ada sama dari orang tua aku untuk papah mamah kamu juga.”
Haidar mengambil alih paperbag itu, “Makasih banyak, repot-repot segala bawa oleh-oleh kaya gini. Padahal lihat kamu pulang aja udah lebih dari segalanya.”
Alina mengelus wajah Haidar pelan, “Haidar, aku mau nanya sesuatu, tapi bisa kamu jawab jujur?” seru Alina dengan nada suara pelan, dengan posisi mereka masih saling berhadapan.
Haidar menatap Alina dengan tatapan penuh tanya, apa Alina ingin menanyakan sesuatu yang membuatnya pergi selama seminggu kemarin?
__ADS_1
Haidar mengangguk lalu menggandeng tangan Alina untuk duduk di sofa agar pembicaraan mereka lebih rileks.
“Mau tanya tentang apa, sayang?” tanya Haidar saat melihat sudah duduk berdekatan.
Belum sempat Alina berbicara, tiba-tiba Indira datang dari luar bersamaan dengan Meilla di sampingnya. Meilla kaget karena melihat Alina ada di sana, karena tak ada mobil Alina di depan. Sedangkan Alina hanya bersikap biasa saja, tidak menunjukkan ekspresi apapun.
Alina berpikir, mungkin ini saat yang pas karena sedang ada Meilla juga sat ini. Sekalian saja minta kejujuran hal itu pada Meilla di sini.
“Loh Alina sudah pulang?” sapa Indira lalu menghampiri Alina dan Haidar yang langsung bangkit dari duduknya.
Alina mengangguk lalu mencium punggung tangan Indira, “Alhamdulillah, udah tante.”
“Mah ini ada oleh-oleh dari alina.” seru Haidar sambil memberi paperbag yang tadi Alina kasih kepada Indira.
Indira menerima itu dengan senyuman, “Wah makasih banyak Alina, sampai repot-repot bawa oleh-oleh segala.”
Alina membalas dengan senyum, “Gak papa Tante, gak repot juga. Semoga Tante sama om suka ya.”
“Pasti suka deh kalau pilihan Alina, sekali lagi terima kasih banyak ya alina.” seru Indira.
Meilla yang mendengar itu, baru tahu kalau Alina habis pergi. Meilla hanya diam saja tidak bersuara apapun.
“La, sorry cuma beli buat Tante sama om sama Haidar doang. Yang lain pun gak gue bawain kok.” seru Alina memberitahu hal yang sebenarnya tidak perlu di beritahu.
Indira pamit lebih dulu untuk bersih-bersih. Mengapa Indira datang bersama Meilla, karena tadi Indira main ke rumah Meilla dan di antar pulang oleh sahabat anaknya ini.
“Ehem, kebetulan ada lo juga La, Gue mau nanya sesuatu sama kalian berdua boleh?” seru Alina saat kembali duduk.
Meilla menatap Haidar dengan lekat, “Mau tanya tentang hubungan gue sama Haidar yang sebenarnya apa? Please gue capek banget jelasinnya kali Lo juga gak akan percaya, Lin!” seru Meilla.
Alina menggeleng, “Bukan sekedar itu La, maaf kalau pertanyaan gue kali ini sedikit sensitif, tapi gue perlu tau jawabannya.”
“Ada masalah apa, sayang?” Tanya Haidar.
Alina menarik napasnya sebelum pertanyaan itu keluar dari mulutnya, “Maaf, apa benar kamu pernah melecehkan Meilla, dulu?” seru Alina.
Meilla dan Haidar tercengang mendengar pertanyaan Alina itu. Keduanya saling tatap, hal itu pun di lihat oleh Alina.
“Aku mohon, jawab dengan jujur, suatu hubungan harus dilandasin dengan kejujuran, bukan?” seru Alina mengingatkan Haidar agar memberi jawaban yang jujur.
“Kamu denger berita itu dari mana Alina?” seru Haidar.
__ADS_1
Alina menggeleng, “Dengar dari mana itu gak penting, Haidar. Aku cuma mau kamu dan Meilla jujur tentang ini.”
“Maaf lalu kesannya aku maksa, tapi ini semua menyangkut hubungan kita.” lanjut Alina.
“Hanya hampir terjadi Alina, belum terjadi apapun di antara aku sama Meilla. Bibi pergokin aku waktu itu, dan untungnya aku langsung sadar. Aku hampir ngelakuin itu karena hidup aku lagi kacau, alina.” jelas Haidar dan di anggukin Meilla.
“Bener Lin, semua belum terjadi hanya hampir.” sahut Meilla.
Alina terdiam, apakah ia harus percaya dengan pengakuan mereka berdua?
“Kalau soal perjanjian itu?” tanya Alina juga.
Meilla bingung, sedangkan Haidar menghela napasnya. Apa ini saatnya untuk memberitahu Alina batin Haidar.
“Perjanjian tentang nantinya kalian harus menikah!” lanjut Alina memberitahu meilla yang nampak bingung.
Meilla menggeleng, “Gue gak tahu tentang perjanjian itu, Lin. Sumpah!” seru Meilla yang memang tidak mengetahui hal ini sama sekali.
Haidar mengangguk, “Iya sayang, Meilla memang gak tahu tentang ini. Hanya aku dan kedua orang tua kita yang tahu.”
“Haidar, maksud lo apa?” seru Meilla.
Haidar mengangguk lagi, “Iya La, papi lo minta gue harus nikahin lo nanti. Tapi tenang semua kesepakatan itu sudah gue ubah, dan papi lo ngasih waktu ke gue kalau sampai umur 23 tahun gue belum menikah atau mengikat seseorang, mau tidak mau gue harus nikah sama lo.”
“Papi?” seru Meilla yang kaget mendengar itu.
Alina pun kaget mendengar penjelasan dari Haidar tadi, sebegitu nya kah?
“Kau percayakan sama apa yang aku bilang tadi? Butuh bukti apa sampai kamu percaya, sayang?” seru Haidar.
Alina hanya diam tidak menjawab apapun, bingung harus merespon seperti apa. Jawaban yang ia harapkan sudah dijawab oleh Haidar. Mau jawaban apa lagi yang Alina tunggu, bukan kah jawaban itu tidak menyakitinya?
“Kalau lo mau gue tes keperawanan, gue gak papa kok Lin. Biar hubungan lo sama Haidar terus berjalan.” seru Meilla.
“Gue juga akan bilang ke papi untuk membatalkan perjanjian itu, maaf gue beneran gak tahu sama sekali tentang ini.” lanjut Meilla.
Alina Manarik napasnya dalam-dalam, “La, gue bingung harus percaya apa enggak, karena selama ini li udah banyak ngecewain gue juga. Gue juga bingung harus bersikap kaya gimana, semua orang tua mau yang terbaik untuk anaknya, itu juga yang papi lo lakuin.”
“Gue jadi ngerasa orang yang paling bersalah di sini, karena mungkin gue datang di waktu yang gak tepat. Tapi maaf kalau akhirnya Haidar jadi milik gue seutuhnya, gue egois kalau tentang ini.” lanjut Alina.
Meilla mengangguk, Gue ngerti kok alina, gue juga akan dukung lo terus bersama Haidar. Maaf juga kalau kenyataan nya serumit ini, tapi sebisa mungkin gue akan bantu lo, Lin.”
__ADS_1
“Maaf kalau selama ini gue selalu ngecewain lo, mungkin emang gue bukan temen yang baik buat Lo selama ini. Tapi gue berharap lo masih mau anggap gue temen, setelah ini.” lanjut Meilla.