
Kalian tahu kan bagaimana rasanya di cintai sama seseorang yang juga kita cintai? Pasti bahagia banget deh! Merasa paling beruntung karena hal itu, walaupun kenyataannya jatuh cinta itu tidak seindah yang kita bayangkan.
Banyak luka liku yang harus kita hadapi nanti ke depannya, apalagi kalau kita memilih untuk melanjutkan ke jenjang serius. Betul gak? Ada yang punya pengalaman serupa?
Tapi kalian ingat kata-kata ini, cinta itu buta. Benar! Kalau orang sudah jatuh cinta dengan tulus pasti tidak pernah peduli apapun yang ada di sekeliling nya, seakan dunia kita hanya untuk dia seorang. Padahal sebenarnya hal itu tidak baik, karena biar bagaimanapun kita harus tetap bersosialisasi bukan?
...****************...
Setelah selesai kuliah tadi, Haidar mengajak Alina untuk berkunjung ke rumahnya. Haidar bilang kalau Indira ingin bertemu dengannya. Maka dari itu, dengan senang hati Alina ikut bersama dengan Haidar mengunjungi Indira.
Di perjalanan menuju rumah Haidar, jantung Alina berdebar, entah mengapa menjadi gugup seperti ini bertemu dengan Indira. Melebihi waktu pertama kali ia mengunjungi Indira waktu itu. Apa kah ada yang berbeda?
“Haidar, aku gugup!” keluh Alina memberitahu Haidar tentang perasaan nya.
Haidar menoleh sekilas ke arah Alina lalu kembali fokus pada jalanan dan tangan nya yang satu mengambil tangan Alina untuk di genggamnya. Benar, Alina gugup karena tangannya dingin saat ini.
Haidar terkekeh pelan, “Se gugup itu kah, sampai tangan kamu dingin!” goda Haidar.
Alina mengangguk lalu memanyunkan bibirnya, “Iya!”
Haidar mengelus tangan Alina pelan, “Jangan gugup sayang, mamah cuma mau ketemu kok, gak nyuruh kamu nikahin aku!” seru Haidar membuat Alina melepaskan genggaman itu lalu memukul bahu Haidar sedikit keras.
“Aduh, kok aku malah di pukul!” ringis Haidar.
“Yah abis kamu ngaco, yang seharusnya bilang kaya gitu kan aku!” gerutu Alina.
“Aku siap kok kalau di suruh nikahin kamu sekarang!” seru Haidar tak mau kalah.
Haidar memukul bahu Haidar lagi, “kuliah dulu sampai lulus, gak usah mikir nikah!” bantah Alina.
Haidar menoleh ke arah Alina sekilas lagi, “Emangnya kamu gak mau nikah sama aku?” tanya Haidar dengan nada sedih.
Alina menoleh ke arah Haidar, “Mau gak ya kira-kira?” Alina pura-pura berpikir.
“Inget ya, kamu tuh cinta mati sama aku, pasti kamu mau nikah sama aku!” seru Haidar kesal karena Alina tak menjawab dengan serius.
Alina tertawa, “Gak semua yang cinta mati berakhir nikah Haidar!”
Haidar berdengus sebal, “Yah kalau kaya gitu kenapa kita ngejalanin hubungan Alina? Kalau kamu gak mau di ajak serius sama aku!” kesal Haidar.
Alina semakin terbahak, lalu tangannya terulur untuk merapikan rambut Haidar yang padahal sudah cukup rapi.
“Yang bilang gak mau di ajak serius siapa? Aku mau kita lulus kuliah dulu baru mikirin tentang Nika, Haidar. Memangnya kamu mau kasih makan aku apa kalau kita nikah sekarang? Pekerjaan aja belum punya!” seru Alina memberitahu alasan yang sebenarnya.
“Masalh itu kamu gak perlu mikirin Alina, aku jamin hidup kamu bakalan bahagia dan tercukupi kok.” seru Haidar tak mau kalah lagi.
Alina menghela napasnya, “Kita bahas nanti aja ya masalah ini, sekitar semester 5 lah baru bahas lagi. Sekarang kita fokus kuliah dulu, aku harap kamu ngerti!” ujar Alina dan di anggukin oleh haidar.
Haidar tak mau jadi masalah karena terus membicarakan soal nikah dengan Alina. Karena ia pun belum bercerita tentang rencana ini pada Indira. Tapi dalam hati Haidar, ingin sekali segera!
Sesampainya di rumah Haidar, keduanya langsung masuk ke dalam. Haidar mencari keberadaan Indira di kamarnya, terapi tidak ada. Haidar berjalan bersama dengan Alina di sampingnya ke arah taman belakang dan terlihat jelas ada Indira di sana sedang menyiram tanaman.
“Assalamu’alaikum, mah.” sapa Haidar membuat Indira menoleh ke arah suara itu.
Indira tersebut setelah melihat siapa yang datang ke sini, “Waalaikumsalam, sayang.” jawab Indira.
__ADS_1
Alina dan haudar bergantian mencium punggung tangan wanita paruh baya itu. Sedangkan Indira mengelus kepala kedua putra dan putri itu.
“Kalian baru pulang kuliah?” tanya Indira dan di anggukin oleh keduanya.
“Sudah makan?” tanya Indira lagi dan di jawab gelengan oleh keduanya.
Indira terkekeh lalu menarik tangan Alina menuju ke dalam, ke ruang makan. “Kita makan sama-sama ya.” ajak Indira menyuruh Alina ikut makan bersamanya dengan Haidar.
Alina mengangguk, “Iya tante.” jawab Alina dan mulai mengambil nasi dan lauk pauk ke piringnya.
Saat sedang asik makan, seseorang turun dari tangga, Alina tak asing dengan orang itu dan benar saja, itu adalah meilla. Untuk apa Meilla ada di sini? Pikir Alina mencoba untuk positif thinking.
“Alina?” seru Meilla saat melihat Alina tengah berada di meja makan bersama dengan Haidar dan Indira.
“Meilla, lo disini?” tanya Alina ada sedikit tak suka tapi mungkin tidak di rasakan oleh siapapun.
Meilla mengangguk, “Iya tadi Tante Indira minta temenin ke supermarket, beliau belum berani jalan sendiri.” jelas Meilla.
Haidar menahan napasnya, tahu apa yang akan di rasakan Alina setelah penjelasan Meilla ini.
“Sorry Lin, gue gak bermaksud buat ngambil posisi lo, tapi kata Tante Indira lo sama Haidar ada kelas pagi makanya dia hubungi nya gue bukan lo.” ujar meilla.
“Iya Alina, maaf ya Tante harus ajak Meilla, karena cuma Meilla yang lagi kosong waktunya hari ini.” seru Indira ikut meminta maaf.
Alina mengangguk lalu tersenyum, meskipun senyuman itu tidak bisa bohong kalau dia kecewa dan sedih mendengar nya.
Menurut kalian Alina kalau cemburu berlebihan atau hal yang wajar?
“Iya Tante gak papa, aku ngerti kok.” jawab Alina berusaha sesopan mungkin.
“Lain kali, mamah bilang sama Haidar jangan langsung minta anterin Meilla ya!” seru Haidar agar Meilla tahu sekarang posisi nya dimana.
“Kalau gitu aku pamit pulang dulu ya Tante, soalnya ada janji sama Edo sore ini.” seru Meilla pamitan pada Indira.
“Iya, makasih banyak ya, kamu hati-hati di jalan. Salam juga buat papi mami dan Edo dari Tante ya.” ujar Indira.
Meilla mengangguk, “Iya nanti aku sampein Tante, Alina gue cabut dulu ya.” izin pada Alina.
Alina mengangguk, “Lo hati-hati ya, jangan macem-macem sama edo.” goda Alina membuat Meilla terkekeh.
Setelah kepergian Meilla, mereka bertiga kembali mengobrol. Hingga datanglah seseorang yang tak pernah mereka duga lagi, Roy! iya Roy papah Haidar datang ke sini, sendirian.
“Assalamu’alaikum.” seru Roy saat sudah sampai di ruang makan yang terdapat tiga orang tersebut.
Haidar dan Indira kaget, begitu pun dengan Alina. Untuk apa Roy datang ke rumah ini lagi pikir mereka masing-masing.
“Ngapain kesini lagi? Pergi!” usir Haidar tak suka dengan kedatangan Roy.
Alina menahan tangan Haidar agar tidak maju dan berhadapan langsung dengan Roy, takut malah Haidar tidak bisa mengontrol emosinya dan memukul papahnya sendiri.
“Maafin papah, Haidar.” seru Roy tiba-tiba membuat Haidar dan Indira kaget.
“Maafin papah karena selama ini sudah bikin kamu susah, bikin kamu kecewa, bikin kamu gak pernah dapat perhatian lagi dari papah.”
“Papah sekarang sudah sadar Haidar, kali kebahagiaan papah ada di kalian. Maafin papah Haidar! Papah mohon!” mohon Roy sambil menangis berlutut di lantai.
__ADS_1
Haidar menggeleng lalu melangkah maju untuk memukul Roy, meskipun langkahnya susah karena di tahan oleh Alina tapi akhirnya ia sampai juga di hadapan Roy.
“Permintaan maaf itu udah telat, saya udah gak butuh anda lagi di hidup ini! Lebih baik anda pergi dari sini sebelum saya habisin wajah anda!” ancam Haidar tak suka dengan permintaan maaf itu.
“Pukul papah semau kamu Haidar, papah akan terima asal setelah itu kamu bisa memaafkan papah.” seru Roy.
Saat Haidar ingin melayangkan pukulannya, suara Indira terdengar pilu, dan membuat Haidar tidak bisa memukul ayahnya itu.
“Stop! Jangan pernah pukul papah kamu, Haidar!” seru Indira membuat Haidar bingung.
“Mah?” hanya itu yang keluar dari mulut Haidar.
“Biar bagaimana pun dia tetap papah kamu, dia sudah mengakui kesalahannya apa salahnya kita maafkan dia?” seru Indira.
Haidar menggeleng tak setuju dengan ucapan Indira, “Dia udah membuat mamah hancur bertahun-tahun! Dan sekarang dengan seenaknya dia datang lalu minta maaf! Dimana hati dan otak dia selama ini mah?”
“Dua yang maksa Haidar, buat bawa mamah ke rumah sakit jiwa! Dia yang selam ini nelantarin Haidar, Haidar berjuang sendiri buat hidup! Dia dimana mah? Dia bersenang-senang dengan wanita licik itu tanpa memikirkan kita mah!”
Alina mengelus punggung Haidar dengan pelan seakan menenangkan kekasihnya itu, Alina tidak mau ikut bersuara karena menurutnya ini adalah Maslah keluarga Haidar yang seharusnya ia tidak melihat kejadian ini.
“Mamah tahu Haidar, tapi papah kamu udah mengakui kesalahannya, tuhan aja maha pemaaf, lalu kenapa kita gak bisa memaafkan dia?”
“Kita coba kasih satu kali kesempatan lagi untuk papah, buat buktiin kalau dia sekarang sudah sadar. Bagaimana Haidar?”
Tanpa menjawab apapun, Haidar pergi dari sana bersama dengan Alina di genggamnya. Lalu segera memasuki mobilnya dan pergi dari rumahnya.
Haidar mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, membuat Alina ketakutan.
“Haidar, jangan ngebut-ngebut aku takut.” seru Alina tapi tidak di tanggapi oleh Haidar.
“Haidad, stop! Kalau kau mati sendiri aja jangan ajak aku, aku masih punya cita-cita yang harus aku gapai!” lagi-lagi tak ada jawaban dari Haidar.
Alina menarik napasnya, “Haidar stop atau aku ngambek!” teriak Alina akhirnya membuat Haidar memelankan laju mobilnya.
Haidar melihat ada lahan untuk memberhentikan mobilnya, dengan segera ia memarkirkan mobilnya tanpa mikir resikonya.
“Alina, maafin aku udah buat kamu ketakutan!” seru Haidar sambil menggenggam kedua tangan Alina.
Alina paham apa yang di rasa Haidar tadi, Alina mengangguk, “Iya aku paham apa yang kamu rasa, tapi gak seharusnya bikin kamu mau celaka kaya gini apa lagi sekarang ada aku.”
“Alina, aku harus gimana?” tanya Haidar seakan frustasi.
Alina menggenggam erat tangan haidar, “Haidae, aku gak mau ikut campur tentang masalah keluarga kamu ini. Tapi kalau aku boleh saran, s baiknya kamu pikirin lagi tentang permintaan maaf papah kamu.”
“Akubrasa, apa yang di bilang mamah kamu itu benar. Semua orang punya masa lalu dan kesalahan, bukan? Seperti kasusnya Diana saja. Dan sekarang papah kamu sudah mengakui kesalahannya, jadi apa salahnya beri dia kesempatan kedua bukan? Untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi?” saran Alina.
“Tapi aku gak bisa semudah itu memaafkan dia, Alina. Terlalu banyak luka yang papah kasih untuk aku dan mamah.” keluh Haidar.
Alina mengangguk, “Aku tahu, tapi balik lagi ke diri kamu. Jangan egois Haidar, biar bagaimanapun mamah kamu pasti butuh sosok seorang suami, begitu juga kamu yang masih butuh seorang ayah.”
“Haidar, tahu gak kalau sebentar lagi papah sama mamah aku akan balik ke Amerika dan aku ngerasa sedih banget karena gak bisa nikmatin waktu bersama dengan mereka lagi di rumah. Dan kamu punya kesempatan itu, Haidar. Kalau aku jadi kamu, aku akan memikirkan kebahagiaan bukan dendam dan keegoisan.”
Haidar memikirkan setiap kata yang keluar dari mulut gadisnya itu, semua yang di ucapkan Alina seakan menusuk ke relung hatinya yang paling dalam.
Begitu pula dengan alasan Indira yang langsung memaafkan Roy tadi. Indira hanya memikirkan Haidar, anak sulungnya itu membutuhkan sosok ayah yang telah hilang selama beberapa tahun kemarin.
__ADS_1
Dan Indira pikir apa salahnya, untuk memberi kesempatan itu pada Roy. Kalau Indira lihat dari wajah dan tutur kata Roy, memang Roy menyesal telah melakukan kesalahan itu.
Tetapi yang membuat Indira bingung adalah, mengapa tiba-tiba Roy datang lalu meminta maaf?