
Wajah cerah terpancar di keduanya, sambil bergandengan tangan mereka melewati lorong kampus kelas Alina. Seperti biasa banyak yang melihat ke arah mereka dan mencibir suka dan tak suka pada keduanya.
Alina dan Haidar hanya biasa saja, tidak terlalu menganggap mereka selagi mereka tidak melukai fisik. Toh semua orang punya pendapat masing-masing. Tidak harus semuanya suka dengan Alina dan Haidar kan?
Tetapi ada seseorang di ujung sana memasang wajah sangat marah saat melihat keduanya bergandengan tangan dengan wajah yang sangat bahagia. Alister, yups itu lah dia yang berdiri sambil memandang Alina dan Haidar dari kejauhan.
Dulu saat masih berpacaran dengannya, Alina selalu marah kalau Alister merangkulnya bahkan gandengan tangan pun Alina suka menolak. Tetapi lihat sekarang, Alina sangat nyaman di samping Haidar.
“Gue harus rebut lo kembali, gak ada siapapun yang bisa miliki lo selain gue!” seru Alister dengan dendam di hatinya.
...****************...
Alina dan Haidar duduk di bangku yang tak jauh dari kelas Alina. Pagi ini memang Alina masuk kelas lebih dulu baru Haidar, makanya Haidar mengantarkan sampai sini.
“Pulang ngampus, mau kemana?” tanya Haidar.
Alina mengangkat bahunya, “Gak tahu, mungkin langsung pulang.”
“Gak mau ke cafe bareng anak-anak?” tanya Haidar.
Alina nampak berpikir sebentar, “Lihat nanti gimana? Takut ada tugas.” Haidar mengangguk lalu mengelus kepala Alina.
Alina menatap Haidar dengan dalam, “Sayang, menurut kamu papinya Meilla setuju gak ya kalau Edo ngajak Meilla tunangan?” tanya Alina.
Haidar mengangguk, “Pasti setuju!” seru Haidar.
Alina mengangguk, “Semoga aja, urusan mereka lancar!” doa Alina.
Haidar melihat ada kekhawatiran di wajah Alina, “Kamu kenapa sayang?” tanya Haidar.
Alina menggeleng, “Gak papa, aku cuma sedikit takut papinya Meilla cuma mau yang ada di posisi Edo. Kamu ngerti kan maksud aku?”
Haidar menggengam tangan Alina dan menaruhnya di depan dadanya, “Ngerti kok sayang, tapi papi gak mungkin seperti itu menurut aku. Di perjanjian kan gak mengharuskan aku nikah sama Meilla, kecuali umur aku sudah dari perjanjian itu.”
“Jangan khawatir ya sayang, aku akan selalu bersama kamu. Percaya sama aku, kita bisa lewatin masalah di hubungan kita, bersama.” lanjut Haidar.
__ADS_1
Alina mengangguk pelan lalu tersenyum, “Maaf ya, aku cuma takut itu terjadi. Aku gak mau kehilangan kamu, Haidar!”
Haidar mengelus kepala Alina, “Iya sayang, gak papa aku tahu kok itu semua karena kamu cinta banget sama aku!”
Alina reflek memukul dada Haidar pelan, “Kepedean dasar! Lagian emang kamu gak cinta pakai banget sama aku?” tuduh Alina.
“Jelas, cinta pakai banget dong sayang!” sahut Haidar membuat Alina tertawa karena wajah Haidar saat mengatakan itu sangat lucu.
Tak terasa, Waktu sudah menunjukkan pukul 08.30 WIB artinya Alina harus segera masuk ke kelas karena sebentar lagi dosen pengajar akan datang.
“Aku masuk ke kelas ya, kamu kabarin aku kalau udah masuk juga!” pamit Alina.
Haidar mengangguk, “Pasti sayangku!” Haidar mengecup kening Alina dengan lembut membuat Alina selalu terbuai dengan itu semua.
Alina melangkah menuju kelasnya sedangkan Haidar masih mengikutinya hingga sampai di depan kelas. Setelah memastikan Alina benar-benar masuk ke dalam dengan selamat, barulah Haidar pergi dari sana menuju kelasnya.
...****************...
Di sisi lain, Meilla sedang duduk di ruang keluarga nya bersama dengan Fandi dan Riani menunggu kedatangan Edo. Yups, Meilla sudah menceritakan apa yang terjadi saat liburan kemarin pada kedua orang tuanya. Termasuk saat Edo memberikan cincin, yang bermaksud untuk mengajak Meilla tunangan.
Sedangkan Edo sendiri tidak menyangka kalau ini semua terlalu cepat. Maka tapa persiapan kata-kata yang matang, Edo mau tidak mau harus menemui Fandi hari ini.
Setelah menunggu kedatangan Edo, akhirnya cowok itu telah tiba di kediaman Melilla. Edo masuk ke dalam setelah asisten rumah tangga Meilla bilang kalau dirinya sudah di tunggu di ruang keluarga.
Melangkah pelan tapi pasti, Edo menuju ruang tersebut dan terlihat lah Fandi, Riani dan Meilla sedang duduk di sana. Jantung Edo berdetak lebih cepat dari biasanya.
“Assalamu’alaikum.” seru Edo saat sudah sampai di ruangan itu.
Semua yang ada di sana menoleh ke arah Edo dan menjawab salam dari Edo tadi. Fandi mempersilahkan Edo untuk duduk di bangku kosong sebelah Meilla. Meilla yang melihat wajah Edo dan terlihat ada peluh di sana, tahu Kalau kekasihnya itu sedang gugup.
Meilla menarik tangan Edo, dan di genggam nya erat. Edo menatap Meilla lalu tersenyum, seakan berbicara “Aku gak papa sayang.” Sedangkan Meilla hanya mengangguk sambil tersenyum juga.
“Om sudah mendengar cerita dari Meilla, kali kamu mau jadikan dia tunangan nya. Apa kah kamu serius dengan itu semua?” to the point Fandi.
Edo mengangguk cepat, “Sangat serius om, saya memang ingin mengajak Meilla ke jenjang lebih serius.” jawab Edo dengan cepat.
__ADS_1
Fandi mengangguk, “Bagus kalau kamu sudah punya pikiran seperti itu, tapi om belum bisa izinin kalian untuk menikah dalam waktu dekat ini.”
“Iya, kami mau Meilla lulus kuliah lebih dulu, dan kamu juga. Setelah kamu sudah punya penghasilan sendiri baru, om dan Tante akan berikan izin untuk menikah.” timpal Riani.
Edo mengangguk, mengerti maksud dari ucapan Riani itu. Kedua orang tua itu sellau ingin memberikan anaknya yang terbaik, begitu pula dengan orang tuan Meilla. Mereka takut kalau nanti kebutuhan Meilla tidak bisa terpenuhi karena Edo yang belum punya penghasilan.
“Iya Tante, om. Edo mengerti, tetapi untuk mengajak Meilla bertunangan lebih dulu saat ini, apakah on dan Tante merestui?” tanya Edo dengan tegas agar tidak terlihat kalau ia sedang gugup.
Fandi dan Riani mengangguk, “Kami merestui kalian, untuk itu om ingin mengundang orang tua kamu makan malam bersama. Apakah mereka bisa?”
Edo mengangguk, “Biar nabati Edo sampaikan ke mereka om. Terimakasih banyak untuk restu yang om berikan kepada saya dan meilla.”
Di mengangguk, “Sama-sama, kalau orang tua kamu sudah setuju, beritahu Meilla biar om pesan tempat nya ya.”
Edo mengangguk, “Baik om.” jawab Edo.
Setelah perbincangan keluarga itu telah selesai, Fandi dan Riani berpamitan untuk bekerja sedangkan Meilla dan Edo masih tetap duduk di sana. Mereka memutuskan untuk tidak kuliah karena memang sudah telat.
“Gimana perasaan kamu, sudah lega?” tanya Meilla sambil mengelus lengan Edo.
Edo mengangguk, “Alhamdulillah sangat lega sayang, ternyata meminta restu tidak semenyeramkan itu ya!”
“Semoga urusan kita di lancarkan ya.” doa Meilla dan di amin kan oleh Edo.
“Beb, aku ada tugas kuliah tapi aku gak ngerti. Kamu bisa tolong ajari. Aku?” seru Meilla.
Edo mengangguk, “Mana tugasnya, coba aku lihat!”
Meilla bangkit dari duduknya dan mengajak Edo ke kamarnya untuk mengambil buku tugasnya.setelah itu Meilla duduk di bangku belajarnya dan mulai membuka buku tugas untuk di beritahu kan kepada Edo.
Tanpa sengaja, siku Meilla mengenai hal sensitif milik Edo. Wajah keduanya berubah menjadi merah, karena malu.
“Maa..maaf!” cicit Meilla.
Edo hanya bisa mengangguk dan mencoba lebih fokus lagi untuk mengajarkan Meilla. Tetapi sayang, itu semua tidak mudah. Sebagai lelaki normal, hal itu membuatnya menjadi gelisah.
__ADS_1
Entah mengapa mereka malah berbuat dengan keadaan itu. Tanpa sadar mereka...