
Seorang gadis cantik yang kata Alvaro memiliki kepribadian yang sama persis dengan Alina. Sekarang yang buat Alina penasaran adalah bagaimana wajah Diana dana ada masalah apa sebenarnya Vanesa dengan Haidar.
Pagi ini, Alina sekolah di antar oleh Alvaro. Alina sudah menolak karena takut merepotkan tetapi jawaban Alvaro tetap sama, "untuk calon pacar apasih yang enggak" begitulah.
Saat sampai di gerbang sekolah, Alina langsung turun dari motor besar milik Alvaro dan memberikan helm yang tadi ia pakai kepada Alvaro.
"Thanks banget loh ya, serasa punya lah ojek gue sekarang."
"Gak papa di anggap kang ojek, asal ongkosnya dibayar pakai cinta, gue rela sampai kapan pun." Sahut Alvaro membuat tangan Alina reflek memukul tangan Alvaro.
"Ih, kita udah bahas ini kemarin, Lo harus inget ya, cari pacar dan kenalin ke gue!"
"Emangnya lo udah mutusin buat balik ke Haidar lagi? Kemarin aja pas dia ngajakin pacaran lo malah tolak!"
"Belum sih, tapi yaa kan gue gak mau lo terpaku juga sama gue. Gak selesai-selesai cerita kita kalau kita semua terpaku sama orang yang gak mungkin Kita gapai."
"Ya gak papa, biar episodenya panjang hehe."
"Malah ketawa lagi ngeselin, bukannya mikir." Ketus Alina.
"Iya Alina gue paham kok, gue ngejalanin ini kaya air mengalir aja. Selagi lo belum pacaran sama Haidar, Lo bukan milik siapapun dan gue masih boleh Deket sama Lo kan?"
"Boleh, tapi ingat gue gak bisa pastiin kalau perasaan gue bakal berubah buat lo nantinya."
"Iya alina, gue bakalan inget selalu tentang lo itu." Ujar Alvaro sambil mengelus tangan Alina dan tersenyum tulus.
"Ya udah sana ke sekolah, jangan bolos!"
Alvaro memberi hormat seperti biasa pada Alina, "siap cantik."
Saat ingin memakai helm, Alvaro dan Alina dikejutkan dengan kedatangan seseorang. Hal itu membuat Alvaro menghentikan kegiatannya.
"Alvaro?" Sapa Vanesa.
Alina menatap Vanesa dengan lekat sedangkan Alvaro menatap Alina. Alvaro sama sekali tidak menjawab sapaan itu, membuat Alina menyenggol lengan Alvaro.
"Kalian lagi Deket ya?" Ujar Vanesa.
"Enggak kok kita cuma temen baik, btw kok lo bisa kenal Alvaro?" Tanya Alina pura-pura tidak tau.
"Iya, Alvaro dulu temen gue juga. Emangnya Alvaro tidak ngasih tau?"
"Gak penting." Sahut Alvaro.
Alina lagi-lagi menyenggol Alvaro mengingatkan agar tidak bersikap begitu terhadap Vanesa.
Bukannya marah mendengar cibiran itu, Vanesa malah terkekeh, "sekarang memang tidak penting, tapi dulu gue sangat penting bukan buat Lo?" Ujar Vanesa.
Alina bingung dengan kata-kata itu, apakah sebelumnya mereka pernah pacaran?
Tiba-tiba datang lagi seseorang dan membuat ketiganya langsung menatap orang tersebut. Siapa lagi kalau bukan Haidar yang menghampiri mereka.
"Ikut gue!" Ujar Haidar lalu kembali Manarik tangan Alina.
Alvaro yang melihat itu tidak terima dan berusaha menepis tarikan Haidar hingga terlepas.
"Jangan kasar sama cewek!" Ujar Alvaro membuat Haidar tersenyum miring.
"Cocok lo berdua!" Ujar haidar sambil menunjuk Alvaro dan Vanesa.
"Lo gak boleh deket-deket mereka! Bahaya!" Desis Haidar pada Alina.
__ADS_1
Alina menatap ketiganya dengan bergantian, bingung sebenarnya ada masalah apa di masalalu mereka hingga permusuhan mereka sangat kental seperti ini.
Haidar kembali menarik tangan Alina dan membuat Alvaro ingin menepis kembali tetapi Alina menggeleng dan membiarkan tangannya di tarik Haidar lalu kakinya mengikuti arah kemana Haidar pergi.
Alvaro yang melihat itu menghela nafas kecewa dan hal itu pun di lihat oleh Vanesa.
"Lo bersaing lagi sama Haidar?" Tebak Vanesa.
Alvaro tidak menjawab dan segera memakai helmnya agar cepat pergi dari sana.
"Lo gak belajar dari masa lalu? Lo gak akan menang Var kalau lo gak punya temen buat kerja sama." Bisik Vanesa pada Alvaro.
"Bacot!" Bentak Alvaro lalu menyalakan mesin motornya dan melaju cepat.
"Oh ternyata Alina yang berhasil ngegantiin posisi Diana. Ujar Vanesa pada dirinya sendiri.
Sedangkan di tempat lain, Alina tengah duduk di meja kantin bersama Haidar dan hal itu membuat siapa yang melihatnya berkomentar.
Haidar masih terap terus menatap Alina sedangkan Alina terus saja menghindari tatapan Haidar.
"Alina."
"Haidar."
Ujar keduanya secara bersamaan.
"Lo duluan." Ujar Haidar.
Alina menggeleng, "Lo aja."
"Ladies first."
"Sebenarnya Vanesa itu siapa?"
"Yah bener Haidar!"
"Itu bener!"
Alina menghela napasnya lagi, berbicara dengan Haidar memang harus penuh kesabaran.
"Lo mau tau?" Ujar Haidar dan membuat Alina mengangguk.
"Setelah lo jadi pacar gue."
"Maksudnya?" Ujar alina bingung.
Belum sempat, Haidar berbicara lagi, suara Alina kembali terdengar.
"Lo mau gue jadi pacar lo, tapi hati lo bukan buat gue. Percuma Haidar, gue gak bisa ngebantu perasaan itu buat siapapun." Alina menyadari kalau ia egois tatapi itulah yang Alina inginkan, menjadi satu-satunya.
Siapa coba yang mau jadi orang kedua di hati seseorang yang sangat kita cintai? Pasti semua orang pun ga akan ada yang mau kan?
"Maksud lo?"
"Iya, lo masih terpaku sama mantan lo yang dulu kan?"
Pertanyaan itu membuat kejadian di masa lalu berputar lagi di otak Haidar. Kejadian yang membuat nya sangat hancur.
"Kenapa sih Haidar lo gak bisa buka hati lo, gue tau lo ngelakuin ini biar gue gak deket-deket sama Alvaro alias lo terpaksa!"
"Buat apa Haidar menunggu orang yang gak bakal kembali lagi ke lo, seharusnya lo ikhlas in dia biar dia senang di langit sana." Emosi Alina meluap entah mengapa.
__ADS_1
Haidar yang mendengar perkataan, "senang di langit sana" membuatnya semakin bingung, dari mana Alina tau tentang ini.
"Stop buat nyalahin diri lo sendiri Dar, semua ini sudah takdir! Gak ada gunanya lo nutup diri Haidar!" Ujar Alina.
Haidar menggeleng, "Lo tau dari mana masalah ini?" Bentak Haidar membuat siapapun disana melihat ke arah mereka.
Alina tidak menjawab ia hanya menahan air matanya agar tidak jatuh. Mengingat apa yang telah Alvaro ceritakan kemarin.
"Lo tau dari mana!" Bentak Haidar lagi sambil menggebrak meja membuat Alina terlonjak kaget.
Meilla dan Elsa datang menghampiri meja mereka, dengan cepat Elsa memeluk Alina yang sudah menangis.
Sedangkan Meilla berdiri berhadapan dengan Haidar.
"Brengsek, lo buat nangis Alina lagu!" Ujar meilla sambil memukul lengan Haidar.
"Illa, ini bukan salah Haidar ini salah gue!" Ujar Alina membela Haidar agar tidak kena pukulan dari Meilla.
"Stop buat belain dia Alina! Dia udah kelewatan dan gue gak bisa ngebiarin itu!" Seru Meilla sambil menatap Haidar tajam.
Alina berdiri sambil menatap Meilla dan Haidar secara bergantian, "stop juga buat lo yang gak jujur dengan hubungan kalian!"
"Maksud lo? Gue gak ada hubungan apapun sama Haidar. Lo nggak percaya itu?" Ujar meilla tidak terima di tuduh seperti itu.
"Lo berdua sahabatan sejak kecil, tapi kenapa lo selalu bilang gak Deket sama Haidar? Apa alasan lo nutupin ini semua dari gue illa?"
"Gue terlalu gak cocok buat Haidar? Makanya lo gak mau kasih tau apapun soal Haidar ke gue?" Ujar Alina lirih.
Meilla menggeleng, "bukan gitu Lin, lo salah."
Alina mangangguk, "iya emang gue selalu salah la, gue tau. Seharusnya gue gak terus mempermalukan diri gue gini buat ngejar Haidar seperti apa yang selalu Lo bilang sama gue."
"Alina-" ucapan Meilla terpotong karena Alina menggeleng.
"Gue udah tau sosok yang lo maksud itu, sosok yang sangat sempurna di mata kalian kan? Sangat beda jauh kalau di bandingin dengan gue!"
Meilla menggeleng sedangkan Haidar meremas tangannya sendiri. Kejadian demi kejadian berputar jelas di otaknya bagai kaset rusak dan itu membuat kepala Haidar sedikit sakit.
"Alina, lo-"
"Diana, itu kan nama gadis yang masih di hati lo?" Ujar Alina sambil menunjuk dada milik Haidar.
"Haidar, jujur hati gue masih buat lo tapi selama lo gak akan bisa nge ikhlasin kepergian Diana selama itu pula gue gak akan bisa terima lo!"
"Biarin gue yang tersiksa sama perasaan gue sendiri, ini adalah konsekuensi nya . Mengejar seseorang tanpa mencari tau dulu bagaimana kehidupan di masa lalunya."
"Illa, tenang gue gak akan marah sama lo, gue cuma kecewa dan gue harap kekecewaan gue ini bisa lo jadiin pelajaran kedepannya!"
Alina menatap Elsa, "Lo belum tau masalah ini atau Lo juga sebenarnya udah tau?" Tanya Alina pada Elsa.
Elsa mengangguk tidak berani menjawabnya.
"Berarti cuma gue yang gak tau di sini? Edo, Nanda dan Lio pasti tau karena kalian sahabatan sejak dulu."
"Gue beneran gak di anggap sama lo semua." Ujar Alina sangat kecewa.
Meilla menggeleng, "Alina, gue bisa jelasin semuanya sama lo."
Alina pun menggeleng, "gak perlu la, semua udah jelas. Gue juga gak bisa nyalahin karena kalian semua pasti punya alasan kan untuk ini?"
"Apa lagi nyalahin Haidar karena masa lalunya. Gak berhak sama sekali untuk itu. Gue cuma ngingetin sama Haidar, supaya berhenti merasa bersalah karena kejadian di masa lalu. Kalau terus begitu hidup dia enggak akan damai."
__ADS_1
"Ya udah kalau gitu gue balik ke kelas duluan ya, sorry sudah bikin kegaduhan di pagi hari." Pamit Alina lalu pergi begitu saja.
Membuat siapapun yang melihat merasa kasihan pada Alina. Cewek setulus Alina bisa di bohongin sama orang terdekatnya, membuat mereka tidak habis pikir.