
Alina seharusnya mempunyai private pada dirinya sendiri tidak semuanya harus di ceritakan pada orang lain. Tetapi itulah alina, ia selalu membagi rasa sedih dan senangnya kepada orang sekitar dan ternyata itu salah, lihat saja sekarang ia terlihat seperti badut bukan yang di tertawa kan oleh teman-temannya karena tidak mengetahui apapun.
"Benarkan varo apa yang gue bilang, gue yang terlalu malang hidup di dunia." Batin Alina.
"Meskipun Diana sudah lebih dulu pergi, setidaknya dia sempat merasakan apa itu bahagia bersama dengan orang tersayangnya." Batin Alina lagi.
"Enggak seperti gue, orang tua gue jauh, gue gak bisa peluk mereka kalau lagi sedih jaya gini di tambah gue gak bisa ngerasain bersama Haidar plus kedua sahabat gue bikin gue kecewa saat ini." Batin Alina lagi.
Alina merasa sangat kecewa dengan semuanya, termasuk dengan dirinya sendiri.
"Alina, lo kenapa?" Tanya Vanesa yang entah dari mana muncul di perpustakaan.
Alina menggeleng, "gak papa, Lo bisa tinggalin gue sendiri?"
Bukannya pergi, Vanesa malah duduk di samping Alina, " Lo bisa cerita sama gue, siapa tau gue bisa bantu."
Aliran menggeleng, "gue mau sendiri, Lo bisa pergi?"
"Dengan lo bercerita setidaknya mengurangi sedikit rasa sedih."
Alina bangkit dari tempat duduknya, "dibilang gue mau sendiri!" Ujarnya ketus lalu meninggalkan Vanesa.
Menurut Alina saat ini yang cocok dijadikan teman cerita nya adalah Alvaro. Alvaro yang selalu mendengar kan tanpa pernah menghakimi apapun yang Alina ceritakan.
Tatapi ia tidak mau egois, karena masalahnya malah menyuruh Alvaro buat bolos sekolah, itu tidak akan mungkin Alina lakukan.
Alina melangkah masuk ke dalam kelas, wajahnya yang tadi cerah sekarang menjadi murung dan terlihat sedikit pucat. Saat sampai di bangkunya, Alina langsung duduk tanpa menyapa kedua sahabatnya.
"Lin." Panggil Elsa.
Alina menaruh jari telunjuknya di depan bibir bermaksud agar Elsa tidak berisik.
"Alina, dengerin dulu penjelasan gue." Kali ini Meilla yang bersuara.
"Berisik La, gue butuh ketenangan!" Ketus Alina dan menaruh kepalanya di atas meja dan wajah nya di tutupi tas.
Meilla menghela napas nya, membiarkan Alina menenangkan diri dulu adalah hal yang tepat mungkin pikir Meilla.
Tak lama guru pelajaran masuk kelas dan mau tidak mau Alina mengangkat kepalanya untuk ikut belajar seperti biasa.
...****************...
Saat bel istirahat berbunyi, Alina memutuskan untuk berdiam diri di kelas. Alina kembali meniduri kepalanya di atas meja dan menutupi wajahnya dengan tas dan telinganya yang di simpan dengan earphone.
Meilla dan Elsa yang melihat Alina seperti itu merasa bersalah. Alina yang ceria menjadi murung. Meilla ingin berbicara dengan Alina tetapi dilarang oleh Elsa.
"Biarin dia sendiri dulu, dia pasti kecewa banget sama kita. Gue yakin gak akan lama kok kaya gini, lo kan tau sifat Alina." Ujar Elsa membuat Meilla mengangguk.
__ADS_1
Akhirnya keduanya memilih meninggalkan Alina di dalam kelas. Lio melihat Alina seperti itu langsung menghubungi Haidar untuk datang ke kelasnya melihat kondisi Alina.
Tak sampai 5menit, Haidar sudah berada di dalam kelas Alina dan melihat kondisi Alina yang wajahnya tertutup tas milihnya.
Dengan langkah pasti, Haidar menghampiri meja Alina untuk mengecek kondisi Alina. Entah mengapa perasaan Haidar tidak enak saat ini, seperti seperti ada sesuatu yang terjadi pada Alina.
Dengan pelan Haidar mengangkat tas milih Alina, dan betapa terkejutnya Haidar melihat kondisi Alina.
"Yo!" Panggil Haidar pada Lio untuk melihat juga kondisi Alina.
"Astaghfirullah alina, bawa ke UKS cepat Dar!" Ujar Lio saat melihat kondisi Alina.
Wajah Alina pucat dan keluar darah pada hidungnya alias mimisan, plus badannya sedikit demam hingga mengeluarkan suara dengkuran dari mulutnya.
"Mamah." Suara itu keluar dari mulut Alina.
Haidar segera mengangkat tubuh Alina untuk segera di bawah ke UKS, Lio mengikutin langkah Haidar di belakang. Hal itu membuat mereka lagi-lagi menjadi pusat perhatian semua orang.
Mata Alina sama sekali tidak terbuka, tetapi mulutnya terus memanggil mamah dan papahnya. Setelah sampai di UKS Alina pun langsung di tanganin oleh dokter di sekolah ini.
Perasaan Haidar cemas, sangat cemas. Seperti perasaannya dulu saat menemani Diana di dalam ambulan menuju rumah sakit. Tetapi sayangnya Diana tidak dapat tertolong sebelum sampai di rumah sakit.
Dokter telah selesai memeriksa Alina dan memberitahu kalau Alina tengah kecapean dan banyak memikirkan sesuatu makanya sampai mimisan seperti ini, dan dokter menyarankan agar Alina izin pulang lebih dulu agar bisa beristirahat di ruang.
"Terimakasih dok." Ujar Lio pada dokter Sintya yang cantik itu.
"Terimakasih sekali lagi dok." Ujar Lio.
Dokter Sintya keluar dari UKS dan hanya menyisakan mereka bertiga. Haidar menggenggam tangan Alina dengan erat dan wajahnya terlihat sangat panik.
"Gue ke kantin dulu ya, beliin Alina bubur sekalian mau ngasih tau Meilla dan Elsa." Ujar Lio dan hanya di anggukin oleh haidar.
Setelah kepergian Lio, Haidar mulai membuka suaranya bahkan terdengar suara isakan dari bibi Haidar.
"Alina, maafin gue karena semuanya salah gue. Apa yang lo bilang tadi pagi benar, seharunya gue stop nyalahin diri gue sendiri atas meninggalnya Diana."
"Seharusnya sejak dulu gue bisa buka hati buat lo, lo yang selalu memperjuangkan gue tanpa lo mikirin diri lo sendiri. Lo egois Alina, Lo gak mau ngeliat orang sakit tapi Lo sendiri nyiksa diri lo."
"Jujur, gue udah mulai sayang sama lo sejak kita jalan waktu itu, makannya gue larang lo deket-deket sama Alvaro."
"Lo pasti tau ini semua dari Alvaro kan? Gue gak bisa marah sama dia ya karna emang itu kenyataannya. Tapi Lin, gue beneran gak bisa lupain Diana karena dia cinta pertama gue, dia tetap ada di hati gue walaupun di ruang yang berbeda."
"Tapi gue yakin kok, kalau hati gue udah bener-bener ke buka buat lo. Gue harap lo ngerti Lin."
Haidar menghapus air matanya setelah menyelesaikan perkataannya tadi. Haidar sangat merasa bersalah pada Alina saat ini.
Tak lama pintu terbuka dan terlihat Meilla dan Elsa di sana, Haidar bergeser memberikan ruang untuk Meilla dan Elsa untuk melihat kondisi Alina.
__ADS_1
"Ya ampun Lin, kenapa lo bisa sampai kaya gini!" Isak Meilla sambil mengelus lengan Alina.
Elsa pun sama terisak melihat wajah Alina sangat pucat , "Lin, maafin gue karena ikut nge bohongin Lo!" Ujar Elsa.
Tiba-tiba mata Alina berkedip hingga akhirnya terbuka sempurna, Haidar yang melihat itu langsung menghampiri tempat tidur Alina.
Alina yang melihat ketiganya hanya tersenyum kecil, tubuh nya sangat lemas, "gue gak papa kok." Ujar Alina sangat pelan.
"Lin, maafin gue maafin-" seru meilla.
Alina menggeleng, "Cukup La." Ujar Alina.
Tak lama Lio, Nanda dan Ardi datang sambil membawakan bubur ayam untuk Alina. Lio memberikan bubur itu pada Haidar dan di terima dengan baik.
"Makan dulu." Ujar Haidar membuat Alina menggeleng.
"Makan setelah ini gue anter pulang!" Ujar Haidar lagi.
Lagi-lagi Alina menggeleng, "Gue bisa telepon Alvaro buat nganterin gue pulang!" Ujar Alina pelan.
Haidar yang mendengar nama Alvaro menjadi emosi, saat akan pergi tatapan Meilla membuatnya mengurungkan niat.
"Harus sama gue!" Kekeuh Haidar.
Melihat perdebatan akan di mulai, Lio mengambil alih lagi bubur itu dan mendorong pelan tubuh Haidar agar memberinya ruang untuk berdiri di samping tempat tidur Alina.
"Makan, gue yang suapin!" Ujar Lio membuat Alina mengangguk.
Lio tersenyum, sedangkan Haidar mendengus kesal. Alina yang melihat wajah Haidar hanya tersenyum kecil, hatinya tersentuh.
Alina memakan buburnya hingga habis, saat Lio ingin memberi Alina minum, Haidar malah mengambil alih gelas itu dan mendorong Lio agar menjauh.
Alina yang tau kalau Haidar yang ingin memberinya minum langsung menutup mulutnya rapat sambil menggeleng.
"Dia gak mau sama lo Haidar." Ujar meilla terkekeh pelan tingkah Alina.
"Tau, maksain banget. Kemarin di paksa Alina buat jadi pacarnya gak mau!" Sahut Edo.
"Udah sini, kasihan tuh Alina seret mau minum." Ujar Lio kembali mengambil alih gelas yang di pegang Haidar, dengan berat hati Haidar memberikan gelas itu dan mendengus sebal lagi pada Lio.
Saat akan meminum, Alina menghentikan tangan haidar dan mengambil alih gelas itu, "biar gue yang pegang, pasti lo masih lemes." Ujar Lio khawatir pada Alina.
Alina menggeleng, lalu memberikan gelas itu pada Haidar. Dengan cepat Haidar mengambil gelas itu dan menggantikan posisi Lio untuk memberikan minum pada Alina.
"Kasih minum aja banyak drama anjir." Kesal Nanda melihat itu semua.
Sedangkan yang lain hanya terkekeh pelan. Begitulah sifat Alina yang selalu mudah memaafkan. Eits tapi apa iya, Alina memaafkan mereka semua?
__ADS_1