
Haidar memilih pergi setelah disindir oleh Alina tadi, dari pada di sana bisa membuatnya tersulut emosi dan Haidar takut melakukan sesuatu di luar kendalinya.
Setelah Haidar dan Lio pulang, Alina mengajak Meilla dan Elsa untuk ke kamarnya. Ada yang Ining Alina tanyakan pada Meilla dan berharap kalau Meilla tau jawabannya.
"illa, sebenernya lo sama Haidar itu sebelumnya saling kenal?" Tanya Alina saat sudah merebahkan dirinya di atas kasur.
Meilla yang tengah duduk di meja belajar langsung menoleh ke arah Alina. Elsa yang mendengar pertanyaan Alina pun ikut menimpali karena Elsa pun penasaran dengan jawaban Meilla.
Meilla mengangguk ragu. "Gue sama dia satu SMP Lin." Ujarnya pelan.
Alina dan Elsa yang mendengar itu langsung kaget, keduanya baru tau fakta ini setelah hampir tiga tahun bersahabat.
"Berati Lo kenal Alvaro juga?" Tanya Alina.
Meilla mengangguk.
"Kok Lo gak pernah ngomong sih kalau lo temenan sama mereka dari dulu?" Ujar Elsa.
"Gak penting juga kan?" Ujarnya ketus.
"Tapi ini penting bagi alina, harusnya Lo kasih tau semuanya sejak awal." Ucap Elsa yang kesal.
"Gue sama haida gak Deket sama sekali dari dulu. Jadi apa yang gue kasih tau ke Alina tentang Haidar?" Bela Meilla.
"Tapi setidaknya lo kasih tau ke kita kalau sebelum lo kenal sama Haidar." Kekeuh Elsa.
"Sebegitu pentingnya seorang haidar? Sampai gue harus bangga bisa kenal sama dia sejak dulu?"
Alina hanya melihat Meilla dan Elsa adu mulut. "Udah cukup! Tapi bener sa apa yang Meilla bilang."
"Tapi illa, maksud omongan lo waktu itu bukannya berarti lo tau sesuatu tantang Haidar?" Tanya Alina lagi.
Meilla sedang mengingat-ingat omongan yang mana yang pernah aja katakan pada Alina.
"Omongan yang waktu lo hilang, bintang hanya terpaku sama satu cewek!" Sahut Elsa yang masih ingat dengan kata-kata itu.
Meilla ingat dengan kata-kata itu, dan itu adalah hal terfatatal yang pernah ia ucapkan di depan Alina dan juga Elsa. Hal yang seharusnya ia simpan saja tak perlu ada yang tau lagi.
"Sorry, tapi gue gak bisa kasih tau itu sekarang." Ujarnya pelan.
__ADS_1
Sudah jelas di sini sahabatnya suka dengan yang Meilla kenal sejak lama dan tidak mungkin kalau Meilla tidak mengetahuin sama sekali tentang Haidar.
"Apa cewek yang di maksud itu adalah lo?" Tebak Alina dan eks secara bersamaan.
Meilla yang mendengar pertanyaan itu dari kedua sahabatnya langsung menggeleng cepat. "Bukan, bukan gue cewek itu. Pokoknya adalah tapi sorry gue gak bisa cerita tentang ini sama kalian terutama sama alina. Ini bukan hak gue buat cerita, gue gak mau salah ngomong nantinya." Jelas Meilla setenang mungkin.
Alina hanya mengangguk ia tidak mau memaksa Meilla untuk bercerita tentang ini.
"La, gue tanya lagi boleh?" Ujar Alina.
"Soal Haidar? Please lin, gue males banget bahas Haidar. Lagian seperti yang gue bilang tadi. Gue gak kenal Deket sama dia." Jawab Meilla cepat.
"Tapi la, ini ada hubungannya sama di usir nya gue tadi di rumah Haidar." Desis Alina membuat Elsa tertarik dengan ucapan Alina.
"Nah, memangnya kenapa lo bisa di usir sama Haidar? Lagian lo ngapain ke rumah Haidar? Mau macem-macem ya Lo?" Sahut Elsa menggebu-gebu.
Alina melempar Bantar ke arah elsa, untung saja meleset jadi tidak mengenai wajah Elsa bantalnya.
"Gak usah ngaco Sa! Gue ngelihat sesuatu yang mungkin menurut haidar seharusnya gue gak lihat." Ujar Alina membuat Meilla terdiam.
Meilla tau Persih apa yang Alina lihat dan membuat Haidar marah besar sampai rela mengusir Alina tadi. Meilla menggeleng tidak habis pikir dengan melakukan Haidar yang menurutnya terlalu berlebihan.
"Gue ngeliat seorang wanita paruh baya yang sedang nangis bersedu-sedu gitu, tangisannya menyayat banget Illa, Lo tau gak itu siapanya haidar?" Tanya Alina membuat Meilla kembali terdiam.
Meilla yang mendengar itu langsung kepikiran pada sosok wanita paruh baya tersebut. Sudah lama sekali ia Idak mengunjungi nya di rumah Haidar.
"Meilla, Lo denger pertanyaan gue kan?" Tegur alina.
Meilla menggeleng, "Gue gak tau Alina, di bilang gue gak kenal Deket sama Haidar. Lagian gue juga gak tau rumah Haidar di mana!" Elak Meilla.
Elsa mencincang mata, "Lo gak tau rumah Haidar, tapi Haidar tau rumah lo? Ujar Elsa membuat Meilla terdiam, salah lagi jawab yang ia berikan tadi sepertinya.
"Maksudnya Sa?" Tanya Alina.
"Iya tadi waktu mau nyari lo, Meilla itu datangnya sama Haidar. Meilla bilpanf sendiri kalo Haidar yang tiba-tiba jemput ke rumahnya. Bukan begitu illa?" Sindir Elsa.
"Iya bener, Haidar tau rumah gue karena suka nganterin Nanda ke rumah gue dulu." Bohong Meilla.
Elsa tidak percaya begitu saja dengan ucapan Meilla. Elsa yakin ada hal yang benar-benar Meilla sembunyikan darinya dan juga Alina.
__ADS_1
Apa sebenarnya memang cewek yang di maksud itu adalah Meilla? Lihat saja selama ini Meilla selalu melarang Alina untuk memperjuangkan Haidar.
"Lo sama Nanda pernah pacaran?" Tanya Alina random.
Meilla mengangguk pelan, padahal kenyataannya tidak pernah. Menurut Meilla itulah jawaban yang pas agar Alina tidak terus menanyakan soal Haidar padanya.
"Nanda sama Haidar kan sahabat dari dulu, malah gue dengernya mereka sahabat dari kecil karena rumah mereka Deket. Berarti sedikit banyak seharusnya lo juga tahu dong tentang Haidar secara lo pasti sering di ajak nongkrong bareng sama mereka?" Elsa terus sama memojokkan Meilla.
"Lo kenapa si Sa, gak percaya banget sama gue dari tadi. Gue udah bilang dari awal gue itu gak tau apa-apa tentang Haidar. Yang gue tau ya cuma itu, Haidar masih tertarik sama satu cewek, udah. Selebihnya gue gak tau lagi tentang tu anak!" Kesal Meilla karena Elsa terus saja mencecarnya dengan pertanyaan yang seakan memojokkan nya.
"Yah kan lo tau siapa cewek itu! Kenapa lo gak kasih tau aja ke Alina, kenapa lo alasan gak bisa ceritain! Alina sahabat Lo hukan?" Ketus Elsa.
"Kenapa jadi lo yang marah-marah? Alina aja gak ngedesak gue buat cerita, kenapa jadi lo yang kepo banget! Atau jangan-jangan lo juga suka sama haidar selama ini? Makanya lo juga mau tau tentang haidar?"
"Lo gila! Gak ada kepikiran buat ikut suka sama Haidar, gue begini karena gue ngerasa ada sesuatu yang Lo sembunyiin dari Alina."
"Terserah lo mau percaya atau engga sama gue, yang jelas gue udah kasih tau itu semua dengan jujur!" Ketus Meilla lalu bangkit dari tempatnya.
Alina yang melihat itu langsung bangkit dari tempatnya, "Lo mau kemana Illa?" Tanya Alina yang melihat Meilla hendak pergi.
"Gue mau pulang." Jawab Meilla.
"Gue minta maaf ya kalau perkataan Elsa tadi nyudutin lo, tapi gue percaya kok sama lo. Please kalian jangan bertengkar karena masalah gue ya, gue gak mau kita musuhan karena masalah ini." Mohon Alina pada kedua sahabatnya.
"Gue balik ya, gak mood banget gue!" Pamit Meilla langsung pergi begitu saja dari Alina.
Alina yang melihat tingkah Meilla berubah jadi merasa bersalah, karenanya semua ini terjadi. Karena masalahnya, karena dirinya dan karena Haidar.
"Sa, udah ya gak usah desak meilla buat ngasih tahu siapa cewek itu. Gue yakin Meilla begini karena ada alasannya, kan lo tau selama ini Meilla selalu ngelarang gue buat Deket sama Haidar, dan pasti dia ngelakuin itu juga karena ada alasannya."
Elsa menggeleng, "Gak bisa gitu Lin, Lin seharusnya Meilla ngasih tahu lo. Apapun alasannya menurut gue gak masuk akal karena dia kan Hau bagaimana perjuangan lo selama ini."
Alina hanya mengangguk agar berhenti berdebat dengan Elsa, "tapi please kalian jangan bertengkar karena masalah gue ya, gue udah putusin kok kalau gue bakalan berhenti sejenak buat ngejar Haidar."
"Lo seriusan? Berhenti? Setelah apa yang lo perjuangan buat dia?"
"Hanya sebentar kok, gue mau istirahat dulu Sa. Gue jenuh sama ini semua, gue ngerasa gak ada kemajuan sama sekali. Sekalinya ada kemajuan eh langsung di dorong mundur lagi ke belakang dan begitu terus. Kalo kaya gitu gue kapan sampainya dong?" Keluh Alina.
Elsa hanya mengangguk, ia hanya bisa mendukung apapun keputusan Alina.
__ADS_1