
Orang tua Alina telah keluar dari ruangan dan Haidar langsung menghampiri mereka untuk menjelaskan apa yang telah terjadi. Tetapi Reymond mengatakan kalau Alina sudah memberitahu yang telah terjadi.
Awalnya Reymond ingin marah pada Haidar. Tetapi Alina mengatakan untuk tidak melakukan itu, biar bagaimanapun Haidar melakukan itu Karena menjaganya dan membelanya.
“Makaaih karena kamu sudah mau menjaga Alina, tapi papah harap hal seperti ini tidak terulang lagi!" Seru Reymond.
Haidar mengangguk, “Iya pah, maafin Haidar karena sudah melakukan itu pada Alina dan Haidar pastiin ini gak akan terjadi lagi." Reymond hanya mengangguk.
Sahabat yang lain terpaku saat Haidar memanggil Reymond dengan kata ‘Papah' mereka pun langsung berbisik satu sama lain.
“Apa boleh Haidar masuk ek dalam buat melihat kondisi Alina, lah? " Izin Haidar dan di anggukin oleh Reymond.
Setelah mendapatkan izin dari Reymond, Haidar pun langsung masuk ke dalam ruangan Alina.
“Sayang?" Sapa Haidar.
Alina yang hapal dengan suara itu, tidak bergeming sama sekali, ia masih terus menatap langit-langit kamar nya. Bukan marah pada Haidar tapi kenapa Haidar tidak mendengar teriakannya saat itu.
Alina merasa tidak di anggap saat itu, dan Alina takut melihat Haidar emosi seperti itu!
Ketakutan Diana dulu, terjadi juga pada Alina saat ini.
“Sayang, maafin aku!"
Tangan Haidar menggenggam tangan Alina dengan erat, “Sayang, maafin aku. Karena aku kamu jadi seperti ini!" Mohon Haidar lagi.
“Pergi Haidar!" Seru Alina tanpa menatap Haidar sama sekali.
Alina hanya butuh istirahat tanpa gangguan Haidar dulu, Alina butuh waktu sendiri untuk menghilangkan rasa takut ini.
Haidar menggeleng setelah mendengar usiran Alina tadi, “Aku gak bisa pergi dari kamu Alina, aku mau ngerawat kamu sampai sembuh!"
“Aku gak butuh di rawat kamu!" Cecar Alina.
“Alina maafin aku, maafin aku sayang! Aku janji gak akan ngulangin hal itu lagi!"
Alina terus menggeleng pelan kepalanya karena masih sakit, “Please boleh tinggalin aku sendiri dulu? Aku bener-bener gak mau lihat kamu dulu, Haidar!" Seru Alina dengan nada suara bergetar seakan menahan tangisannya.
Haidar menggeleng cepat, “Gak bisa Alina, aku harus selalu ada di samping kamu dalam kondisi apaoun,. Maafin aku Alina, maafin!" Tanpa di sangka Haidar lah yang lebih dulu mengeluarkan air mata nya dan jatuh tepat di tangan Alina.
Alina yang merasakan ada tetesan air yang jatuh, langsung menatap kekasihnya itu.
“Haidar kamu kenapa nangis? Maaf aku terlalu kasar ya?" Seru Alina yang malah meminta maaf pada Haidar.
__ADS_1
Emang dasar alina, memiliki hati selembut kapas!
Haidar hanya terdiam sambil menatap wajah cantik milik Alina saat ini. Tangannya mengelus wajah cantik Alina dengan lembut.
“Maafin aku ya, Maaf karena aku, kamu jadi sakit kaya gini. Sebagai permintaan maaf aku, izinkan aku merawat kamu ya!" Seru Haidar dengan tulus.
Alina yang melihat ketulusan itu dari mata Haidar, hanya hisa mengangguk pelan sambil matanya menghapus air mata Haidar tadi.
“Gak perlu nangis Haidar, aku gak papa! Aku cuma pengen kamu gak ngulangin Kesalahan kamu lagi. Aku udah pernah bilang, kalau gak semua masalah harus di selesaikan dengan otot!" Serua Lina dan di anggukin oleh Haidar.
“Iya sayang, aku salah. Maafin aku ya cantik!" Seru Haidar sambil tersenyum kecil.
Alina pun ikut tersenyum, “Iya aku maafin."
Haidar memberitahu tadi ia di tolong oleh Hellena saat membawa Alina ke sini. Alina tersenyum karena Haidar bisa menerima kebaikan Hellena itu.
“Aku harap, hubungan pertemanan kalian kembali membaik ya, Hellena bukan orang jahat, dan kamu pun bukan. Apa salahnya kalian berteman?" Seru Alina yang malah menasehati tentang pertemanan Haidar dan Hellena.
Haidar mengangguk, “Swmoga saja, dengan kejadian ini aku dan Hellena bisa berpikir kalau permusuhan di antara kita itu gak ada gunanya sayang!"
Alina mengangguk.
Tak lama, seorang suster masuk ke dalam ruangan, “Mohon maaf mas, pasien aka di pindahkan ke ruang rawat." Beritahu suster.
“Seharusnya mas, tetapi keluarga pasien meminta untuk merawat di sini lebih dulu untuk memastikan kondisi pasien benar-benar pulih!" Seru suster.
Haidar mengangguk, setelah itu membantu mendorong tempat tidur Alina keruangan untuk pindah perawatan. Alangkah terkejutnya Alian saat melihat keluarga nya, keluarga Haidar serta para sahabatnya ada di sana.
Alian bersyukur karena selalu di kelilingi oleh orang baik seperti mereka semua dan selalu jadi garda terdepan
Setelah di tempat kan di ruang rawat, satu persatu orang yang ada di sana masuk untuk menjenguk Alina, hingga saatnya Hellena bersama Elsa dan Meilla masuk ke dalam.
Alina terkejut saat Hellena bersama dengan Meilla, karena yang Alina tahu Hellena tak menyukai keberadaan Meilla sejak kejadian meninggal nya Diana atau bahkan sebelum nya.
“Apanyang lo rasa, Lin?" Tanya Hellena pertama kalinya.
Alina memegang kepalanya yang memang masih terasa nyeri, “Keoaa gue doang sih yang sakit, btw thanks ya, karena lo udah bantuin Haidar buat bawa gue ke sini!"
“Lo kan temen gue Lin, biar gimanapun Haidar juga tetep temen gue!" Jawab Hellena membuat Alina tersenyum, setidaknya Hellena masih mengakui Haidar sebagai temannya.
“Lo berdua ngapain ada di sini? Bukannya istirahat, gue gak papa kok guys!" Seru Alina sambil menatap Meilla dan Elsa.
Bukan tanpa maksud dan tujuan Alina mengatakan itu, ia hanya ingin kedua sahabatnya itu tidak terlalu capek, karena menurut fakta seseorang yang sedang hamil muda tidak boleh terlalu capek.
__ADS_1
“Gak papa gimana anjir, Lo sampe masuk rumah sakit kaya gini, di bilang gak papa! Ngaco lo Lin!" Kesal Elsa.
“Taoi pada nyatanya gue emang gak papa, ini tanda cinta yang Haidar kasih buat gue naamnya!" Kekeh Alina.
“Dasar gila emang, kena tonjok kaya gini di bilang tanda cinta!" Ketua Meilla membuat Alina semakin terkekeh.
“Ah ya btw, sorry kalau pertanyaan gue menyinggung, kalian udah baikan? Tanya Alina yang penasaran.
“Kalian siapa?" Tanya Hellena.
Alina menunjuk Hellena dan Meilla bergantian, dan di jawab anggukan dari mereka.
“Lebih tepatnya sih gak musuhan, cuma ya gitu deh!" Seru Hellena dan di benarkan oleh Meilla.
“Udah deh gak perlu bahas yang lalu, yang terpenting sekarang kita nambah anggota lagi, Lin!" Seru Elsa membuat yang lain mengangguk.
Hellena teringat dengan pembicaraan tadi dengan Meilla dan Elsa, “Lin, sorry nih gue nanyanya agak menyinggung. Kenapa lo doang yang belum nikah sama Haidar? Sedangkan kedua sahabat lo, udah nikah plus lagi hamil pula."
Alina tidak kaget dengan pertanyaan itu, “Sabar kenapa sih, jangan nanya gue doang yang kenapa belum nikah, emang Lo sendiri udah?" Gerutu Alina.
Hellena menyengir kuda lalu menggeleng, “Ya belum sih, kan tahu sendiri gue aja belum punya pacar. Mantan lo itu sok jual mahal anjir sama gue!"
Meilla dan Elsa kaget mendengar kata ‘Mantan lo' yang di sebut oleh Hellena tadi. Maksudnya nya mantan Alina? Kenapa Alina tidak pernah cerita pada Meilla dan Elsa.
“Mantan lo? Mantannya Alina? Siapa?" Tanya Elsa.
Seperti nya Hellena dan Elsa sama deh. Memiliki keinginan yang tinggi alias kepo tingkat dewa!
Alina menghela napasnya, “Sekarang gue lagi sakit, nanti aja gue jelasinnya ya?" Akhirnya Meilla dan Elsa hanya mengangguk.
“Eh tapi Lin, Nanda kan jomblo ya, kenapa ga Hellena aja sama si Nanda aja dari pada sama Gadis!" Seru Elsa memberitahu tentang ide nya pada Alina.
Hellena langsung memukul bahu Elsa pelan, “Aoan sih lo, main bodoh-bodohin gue aja." Kesal Hellena.
Alina terkekeh pelan, “Bener juga tuh Sa, setuju sih gue, lo sama Nanda. Dia cowok baik kok Hell!"
Hellena menggeleng, “Stop deh ah!"
Yang alin hanya tertawa saat melihat wajah Hellena memerah karena malu.
Alina sangat setuju dengan ini atau kalau Nanda gak mau, Alina bisa kasih ke Adero biar terlepas dari Gadis. Eh tunggu memang Hellena barang yang bisa kasih ke siapapun dengan mudahnya.
Guys jangan lupa komen dan kasih ulasan ya, biar aku tambah semangat buat cerita nya!
__ADS_1