Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Pertama kali


__ADS_3

Setelah membuat rencana yang matang, agar semua berjalan dengan lancar, Alina dan Meilla segera datang ke rumah Haidar untuk bertemu dan mengajak Indira pergi ke makam anak bungsu nya yaitu Olivia Clarissa.


Ini kali pertama Indira datang ke makam Olivia setelah beberapa tahun Olivia dinyatakan meninggal.waktu itu, kondisi Indira belum separah ini tetapi ia tidak sanggup ikut ke sana, memakan kan anaknya. Setelah satu bulan, kondisi Indira menjadi semakin parah, dia mengalami depresi berat.


Tetapi sejak saat itu hingga sekarang. Haidar tidak mengizinkan Indira di bawa ke rumah sakit jiwa. Haidar tidak mau dan tidak tega melihat itu semua. Makanya Haidar memutuskan agar Indira tetap di rumah saja bersamanya. Setidaknya Haidar tidak terlalu kesepian, jika ada Indira di rumah meskipun mamahnya tidak bisa di ajak bicara dengan serius.


Pertengkaran hebat pernah terjadi antara Haidar dan papahnya Roy. Haidar yang kekeh agar mamahnya tetap di rumah sedangkan Roy yang terus m maksa agar Indira di bawa ke rumah sakit jiwa. Tetapi, dengan kedatangan keluarga Meilla, dan memberi pengertian pada Roh, akhirnya Roy mengalah.


Membiarkan Indira di rawat di rumah dengan perawatan rumah sakit jiwa yang setiap hari datang ke rumahnya waktu itu. Roy memang sudah tidak tinggal lagi di rumah, maka karena itu pula Haidar marah. Haidar pikir, untuk apa Roy melakukan itu semua, bukankah salah satu penyebab Indira begini karena dia?


Saat sampai di kediaman Haidar, Meilla langsung masuk ke dalam tanpa permisi lagi. Alina menguatkan hatinya agar tidak sakit atau merasa kecil di sini. Pikiran Alina saat ini, yang jadi pacarnya Haidar saat ini gue, bukan Meilla.


Haidar sedang duduk di depan kamar Indira, menunggu dua gadis ini darang,. Haidar sudah menawarkan mereka agar di jemput olehnya tetapi Alina menolak dan ingin berangkat bersama Meilla saja.


“Nyokap Lo udah rapi?” tanya Meilla.


Haidar mengangguk, matanya terus menatap Alina lalu tersenyum dan di balas senyuman pula oleh Alina.


Alina menghampiri Haidar, “Kamu udah siap?”seru Alina dengan suara lembut.


“siap, mau kapan?” jawab Haidar.


Alina menaikkan halusnya, “Mau kapan? Maksudnya? Ya sekarang lah!” seru Alina.


“Yaudag ayo ke KUA.” jawab Haidar cepat membuat Alina mencubit perut Haidar, kesal dan salah tingkah


Meilla yang mendengar itu pun belaga ingin muntah, “Anjir, lo belajar gombal dari mana?”


Alina terkekeh sedangkan Haidar menampilkan wajah tajamnya untuk Meilla, Haidar tak suka mendengar Meilla berkata kasar.


“Paling dari Lio, La.” sahut Alina terkekeh.


Setelah selesai acara kekehannya, Haidar segera berjalan menuju kamar Indira. Sebelum masuk Haidar menarik napasnya lebih dulu, untuk menenangkan hatinya. Jujur, sebenarnya hatinya takut dan gelisah, entah mengapa.


Meilla ikut memasuki kamar tersebut, begitu pula dengan Alina yang berjalan paling akhir. Alina pun takut, takut melihat respon Indira dan takut sedih melihat kedekatan Meilla dengan Indira.


Nah kan, baru masuk aja Indira langsung memeluk Meilla. Padahal Meilla baru berucap, “Hai, Tan.” tapi sepertinya Indira sudah mengenali suara tersebut.


“Kamu kemana aja, Meilla? Tante kangen.” seru Indira seperti orang sehat.


“Maaf ya tan, kemarin Meilla sibuk ujian. Tante tau gak, kalau Meilla sama Haidar lulus dan Haidar juara 2 paralel loh.” beritahu Meilla pada Indira.


“Selamaf ya Meilla, kalau Olivia dimana? Terus Diana juga sekarang gak pernah kesini La, dia juga lulus?” tanya Indira.


Tanpa sadar Alina tersenyum miris, hatinya seperti di remas, sakit. Tiba-tiba muncul rasa bersalah di hatinya terhadap Diana dan juga Indira. Tetapi, ah sudahlah susah untuk di jelaskan.

__ADS_1


“Tante, tahu gak kalau Meilla kesini sama kekasih barunya Haidar loh, namanya Alina, dia pernah kesini waktu itu. Tante mau ketemu dia gak?”


Indira diam lalu tiba-tiba menangis, memanggil nama Olivia terus menerus. Dengan cepat Haidar memeluk ibunya seakan menenangkan Indira.


“Mah, tenang ya. Setelah ini aku mau ajak mamah ke rumah baru Olivia. Mamah mau ikut sama aku kan?” ajak Haidar dan di anggukin oleh Indira.


Meilla membantu Indira bangun dan memeganginya menuju pintu keluar, Alina yang berdiri di depan pintu langsung bergeser memberi jalan untuk Indira dan Meilla. Sedangkan Haidar langsung menggenggam tangan Alina lalu mengikuti langkah Meilla.


“Tante, kita kunjungi Olivia ya, dia sama Diana juga di sana.” seru Meilla sambil terus menuntun Indira.


Saat melihat ruang tamu, terlihat jelas pajangan foto keluarga Haidar, lengkap di sana, kembali membuat Indira menangis mengingat semuanya.


“Kamu jahat mas! Kamu lebih memilih perempuan murahan itu dari pada aku! Aku benci banget sama kamu.” teriak Indira histeris.


Dengan sigap Meilla mengusap punggung Indira pelan lalu segera membawa keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobilnya.


Meilla duduk di belakang bersama dengan Indira, sedangkan Alina duduk di depan bersama dengan Haidar yang menyetir. Haidar segera melajukan mobilnya menuju ke makam Olivia dan Diana.


“Semoga mamah kamu, bisa m Nerima ini semua ya setelah melihat makam Olivia nanti.” seru Alina berharap.


Haidar langsung mengambil tangan Alina sebelah kanan dan menggenggamnya erat, “Aku harap juga begitu, makasih ya buat ide kamu ini.” seru Haidar dan di angguki oleh Alina.


Sepanjang perjalanan, Indira kadang menangis kadang tertawa membuat Meilla sedikit kewalahan saat menangani nya. Untungnya saja kalau bersama dengan meilla, Indira tidak pernah mengamuk.


Setelah menghabiskan waktu beberapa menit, akhirnya mereka sampai di tujuan. Ke empat nya turun dari mobil dan melangkah menuju batu nisan bertulis Olivia dan di sebelahnya Diana.


“Mah, ini rumah baru Olivia dan di sebelahnya juga ada Diana yang selalu jagain Olivia di atas sana.” seru Haidar sambil mengusap punggung Indira yang sedang tertawa.


“Haidar benar Tante, Olivia sudah bahagia di atas sana bareng Diana. Tante tau gak Olivia pernah nitip pesan ke alina.” seru Meilla membuat Alina tersenyum.


Alina mulai memberanikan diri untuk mendekat ke arah Indira, “Iya Tante, Olivia bilang kalau dia kangen dan sayang banget sama Tante. Olivia mau lihat Tante sehat lagi seperti dulu. Olivia sedih melihat kondisi Tate seperti sekarang, yang gak pernah ikhlasin Olivia buat pergi.” seru Alina sambil ikut mengelus punggung Indira.


“Olivia? Mana Olivia?” seru Indira mencari keberadaan anak gadis bungsunya itu.


Haidar menuju pusaran makam Olivia, “Olivia sudah di dalam sini mah, Olivia mau Mamah bisa biarin dia pergi dengan tenang, dia sudah bahagia mah dan dia juga mau mamah bahagia disini bersama Haidar.”


“Tante ikhlasin Olivia ya, Alina yakin setelah ini pasti Olivia akan muncul di mimpi Tante dan mengucapkan apa yang Alina bilang tadi.” seru Alina.


“Olivia anakku, anak gadis ku. Aku mau bertemu dia! Dimana dia!” histeris Indira sambil menarik rambut Alina.


Haidar dan meilla berusaha melepaskan tangan Indira dari kepala alin. Sedangkan Alina hanya meringis merasakan sakit di kepalanya.


Teman-teman Haidar yang lain berada di kejauhan melihat dengan jelas apa yang terjadi di sana. Ingin menghampiri dan membantu, tetapi Haidar sudah berpesan, jangan mendekat saat Indira datang, takut nanti malah Indira tidak nyaman karena banyak orang.


Akhirnya tangan Indira terlepas dari kepala Alina, dengan cepat Haidar berpindah posisi menjadi di samping Alina lalu mengusap kepala Alina sayang.

__ADS_1


“Maafin mamah ya.” seru Haidar pelan.


“Gak papa, aku paham kok.” sahut Alina meskipun tidak di pungkiri kalau kepalanya merasa sakit.


Meilla mengelus punggung Indira yang sedang terisak sambil terus berkata dengan kata-kata m menangkan untuk Indira. Tanpa di duga. Indira mengucapkan kata yang membuat Haidar, Alina serta Meilla kaget.


“mamah, ikhlas sayang.” seru Indira sambil mengelus batu nisan bertulis nama Olivia di sana.


“Maafin mamah kalau bikin kamu sedih di sana selama ini. Setelah ini mamah akan berusaha agar bisa bikin kamu bahagia nak. Yang tenang disana bersama kak Diana ya.” seru Indira lagi.


Tanpa di sadar mereka yang ada di sana meneteskan air mata, terharu. Karena setelah beberapa tahun. Akhirnya bisa melihat Indira menerima kenyataan ini. Ini semua berkat alina, ini semua ide Alina.


Alina bangkit lalu menukar posisinya dengan Haidar, tanpa menunggu lama Haidar langsung memeluk Indira dengan erat.


“Maafin mamah nak.” seru Indira membuat tangis Haidar semakin kencang.


Haidar melepaskan pelukan itu lalu mengecup kening sang ibu, “Maafin Haidar juga ya kalau selama ini belum bisa bikin mamah bahagia.”


Indira menggeleng lalu mengelus kepala Haidar sayang, “Engga sayang.”


Haidar menoleh ke arah Alina lalu menggengam tangan Alina, “Mah, kenalin ini Alina, kekasih Haidar. Ini semua ide alina yang ngajak mamah kesini.”


Indira menatap Alina datar, lalu tak lama senyuman indah terlukis, senyuman yang sudah lama hilang entah kemana.


“Makasih sayang.” hanya itu yang bisa di bilang Indira pada Alina.


Indira merentangkan tangannya menyuruh Alina masuk ke dalam pelukannya, dengan cepat Alina masuk ke dalam pelukan itu dan merasakan hangatnya pelukan ibu.


Alina jadi kangen mamah nya di Amerika sana.


“Tante, masih inget sama aku gak?” si Meilla saat Alina sudah melepaskan pelukan itu.


Indira langsung menoleh ke arah Meilla, dan langsung memeluk gadis yang sudah di anggap sebagai anaknya itu.


“Tabte gak mungkin lupa sama kamu sayang, kamu anak tante.” seru Indira sambil mengelus rambut hitam milik Meilla.


“Meilla kangen banget sama Tante yang bahagia dan sehat kaya dulu, Tante janji ya sama Meilla ya buat ikhlasin semuanya?” seru Meilla dan membuat Indira mengangguk.


Setelah itu, teman-teman yang lainnya ikut menghampiri Indira dan memberi salam pada Indira.


Mengapa secepat ini Indira bisa sembuh dan bisa kembali pulih? Alina pun tak menyangka. Tetapi semua tidak ada yang tidak mungkin bukan? Ini semua menurutnya sebagai keajaiban.


Semoga setelah ini, kehidupan Haidar dan Indira menjadi lebih baik dengan mengikhlaskan apa yang sudah terjadi dahulu. Menjadi lebih baik lagi dari kehidupan sebelumnya. Alina selalu berharap seperti itu, dan berharap kalau hubungannya dengan Haidar tidak ada lagi rintangan atau masalah nantinya. Meskipun ia tahu, cinta dan sakit itu adalah satu paket.


Kalau sudah jatuh cinta, bararti sudah siap juga dengan kecewa nantinya. Benar?

__ADS_1


Maaf ya akhir-akhir ini jarang updatenya, lagi sibuk tidur-tiduran! Biasa siklus dewasa:(


__ADS_2