Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Nge-date setelah pacaran


__ADS_3

Setelah acara makan malam bersama dengan keluarga Kanada di restoran mewah, Alina dan Haidar berniat mampir ke suatu tempat lebih dulu baru pulang ke rumah.


Tempat yang akan mereka kunjungi adalah pasar malam. Kalian ingat kan tempat itu? Mungkin tempat ini adalah tempat bersejarah bagi mereka berdua. Makanya mereka sering kembali ke tempat ini.


Kalian ada tempat istimewa juga kan sama doi?


Setelah berpamitan pulang dan berpisah pada yang lain nya. Haidar langsung menancapkan gasnya menuju pasar malam tersebut. Semakin malam ya semakin ramai, itu lah kondisi di pasar malam saat ini.


Pertama kali yang Alina beli adalah harum manis gulali berbentuk Love. Alina suka sekali dengan makanan yang manis, tapi Mira sering melarangnya.


“Mau yang mana neng?” seru sang penjual.


Alina menunjuk salah satu gambar love, “Yang itu pak.” ujar Alina.


Sang penjual mengambil gulali yang di tunjuk Alina tadi, “Ini neng.”


Alina menerima dengan senang, “Berapa pak?” tanya Alina.


“20 ribu.” jawab sang penjual.


Saat Alina sedang mencari dompetnya di dalam tas kecil yang ia bawa, ternyata Haidar yang lebih dulu memberikan uang pada sang penjual.


“Kembaliannya, untuk bapak.” seru Haidar sambil memberikan uang pecahan 50 ribu rupiah.


“Makasih banyak mas, semoga sehat selalu dan banyak rezekinya, amin!” doa sang penjual dan di Aminin pula oleh haidar.


“Doain juga pak, biar saya sama kekasih saya cepat nikah.” seru Haidar membuat Alina reflek memukul bahu Haidar.


Sang penjual mengangguk, “Amin, saya doakan mas biar cepat di Halim pacarnya, jangan pacaran terus dosa!”


“Tuh dengerin!” sahut Haidar sambil menatap Alina.


“Kami permisi pak, terima kasih banyak!” seru Alina mengajak Haidar pergi dari sana.


Sambil memakan gulali nya Alina menggerutu pada Haidar, “Kamu apa sih begitu, bikin malu tahu ih!”


“Loh bikin malu gimana?” kan yang bapaknya bilang bener, pacaran dosa sayang!”


“Ya tapi aku belum mau nikah Haidar! Kalau kamu gak mau sabar yaudah!” kesal Alina.


Haidar merangkul bahu Alina, “Kalau udah mau nikah langsung bilang ya, aku sabar kok nunggunya!” bisik Haidar pelan membuat darah Alina berdesir.


Alina mengangguk pelan, lalu tangannya menyodorkan gulali ke depan mulut Haidar dengan cepat Haidar melahap gulali tersebut.


Mereka berdua menikmati indahnya malam berdua di pasar malam ini. Mengingat semua kejadian dulu yang pernah di lalui bersama. Haidar semakin yakin hatinya memang sudah untuk Alina sepenuhnya, meskipun di ruang hati berbeda nama Diana masih melekat tapi tetap Alina yangvynomer satu untuk sekarang.


“Alina, aku boleh bertanya?” tanya Haidar dengan suara pelan.


Mereka sedang duduk di bangku yang kebetulan kosong, sejak tadi mereka berdiri menunggu satu bangku di sana kosong. Akhirnya setelah lumayan lama berdiri orang yang sebelumnya duduk pergi.


Alina mengangguk, “Boleh, tanya aja aku akan jawab kalau aku bisa jawab!”

__ADS_1


“Kenapa kamu memilih jatuh cinta sama aku yang gak pernah bisa menghargai kamu dulu?”


Haidar menghela napasnya, “Haidar, maaf aku gak busa jawab pertanyaan itu, karena aku hanya mengikuti kata hati aku. Perihal kamu gak pernah menghargai aku karena aku tahu itu resiko jatuh cinta, jatuh itu kan sakit haidar.” jawab Alina.


“Makanya aku sekarang mau ajak kamu untuk bangun cinta biar gak jatuh terus, kamu mau kan?” lanjut Haidar.


Haidar mengangguk lalu tersenyum, “Sambil bangun rumah tangga pun aku mau alina.” sahut Haidar.


“Tuh kan bahas nikah terus! Nyebelin!” gerutu Alina.


Haidar menggeleng, “Bukan rumah tangga itu maksud nya, rumah yang ada tangganya bukan kita nanti tinggal berdua setelah menikah!”


“Maksud nya rumah beneran? Rumah tingkat? Masih lama Haidar!”


“Iya iya maaf, tapi aku ngebayangin deh hidup berdua sama kamu akan seindah apa nantinya, di tambah anak-anak kita!” seru Haidar sambil senyum-senyum.


Alina menutup wajah Haidar dengan kedua telapak tangan nya, “Stop Haidar!” seru Alina.


Kalian harus tahu, sebenarnya Alina salah tingkah mendengar itu semua dari Haidar.


Tapi balik lagi dengan prinsip nya, selesai kuliah baru menikah. Ia tidak mau menunggu kuliahnya karena menikah. Cita-cita nya menjadi guru harus tercapai lebih dulu, sebelum nantinya akan menjadi guru terbaik untuk anak-anaknya.


“Pulang yuk? Udah malam juga.” ajak Haidar.


Alina mengangguk.


Keduanya berjalan menuju mobil, saat di tengah perjalanan Alina melihat sebuah boneka lucu berkarakter monkey. Tanpa bilang dengan Haidar, Alina langsung menuju ke stand boneka tersebut. Haidar yang melihat Alina belok pun langsung mengikuti gadisnya.


Penjual pun memberikannya pada Alina, “Ini neng, sisa satu dari tadi banyak yang beli buat kasih ke pasangan mereka juga.” jelas sang penjual.


Alina mengambil boneka itu lalu membayar nya pada sang penjual, saat sudah selesai bertransaksi Alina berbalik badan ingin menghampiri Haidar yang ia pikir sudah sampa di mobil.


Tapi ternyata Alina salah, Haidar tepat berada di belakangnya, saat berbalik badan tidak sengaja keningnya langsung menyentuh dada bidang milik kekasihnya itu.


“Aduh, Haidar kok kamu di sini?” tanya Alina sambil mengelus keningnya.


Tidak sakit sih, tapi pengen aja ngelus!


Haidar menurunkan tangan Alina yang tadi sedang mengelus keningnya sendiri, lalu di gantikan dengan Haidar yang mengelusnya.


“Kamu tuh kenapa gak bilang mau kesini dulu, langsung jalan aja!” gerutu Haidar.


Alina menyengir tak berdosa, “Maaf, aku lihat boneka ini lucu banget makanya aku mampir mau beli ini.”


Haidar melihat ke arah boneka monkey tersebut lalu mengerutkan keningnya, “Untuk apa beli dua, sayang?” tanya Haidar.


Alina menurunkan tangan Haidar yang tadi mengelus keningnya, lalu memberikan satu boneka monkey itu pada Haidar.


“Untuk kamu yang cewek, yang cowok untuk aku!” seru Alina.


Haidar menggeleng, “Gak mau ah, pacar aku bukan monkey dan aku pun bukan monkey.”

__ADS_1


Alina terkekeh, “Haidar, ini cuma boneka lucu. Bukan buat deskripsiin kamu atau aku. Aku mau kamu jaga ini, ini hadiah dari aku.”


Setelah mendengar itu Haidar menerimanya, “Aku kasih nama mereka, Miki dan Miko ya.” seru Haidar.


Alina tertawa keras, “Haidar, itu mah cocoknya untuk nama kucing bukan monkey!”


Haidar ikut terkekeh walau pelan, “Ya gak papa biar beda dari yang lain. Seperti aku yang beruntung milikin kamu, sayang.”


Alina menepuk dada Haidar dia kali, “Apa sih gak nyambung!” seru Alina meskipun jantungnya berdebar.


Sudah sering di kasih kata-kata manis oleh Haidar tapi masih aja tetap berdebar gini batin Alina.


“Yaudag yuk kita pulang, karena besok kita kan kuliah!” ajak Haidar lalu menggandeng Alina menuju mobil takut Alina hilang lagi kalau di lepas.


Kaduanya langsung masuk ke dalam mobil dan Haidar segera melajukan mobilnya menuju rumah Alina untuk mengantarkan gadis cantik ini pulang.


Setelah perjalanan yang lumayan cepat dari biasanya karena jalanan sudah lumayan sepi dari biasanya karena jalanan sudah lumayan sepi, akhirnya mereka telah sampai di rumah Alina.


“Kamu mau masuk dulu?” tawar Alina.


Haidar menggeleng setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, “Gak deh, udah malam juga takut ganggu orang tua kamu yang lagi istirahat.”


Alina mengangguk lalu turun dari mobil Haidar, begitu pun Haidar ikut turun dari mobil untuk mengantarkan Alina sampai depan gerbangnya. Bukannya tidak sopan karena mengantarkan hanya sampai depan gerbang, tapi takut malah menunggu orang tua Alina nantinya.


Toh anaknya pulang dengan selamat!


“Kamu pulang nya hati-hati ya, sampai rumah langsung kabari aku.” seru Alina.


Haidar mengangguk sambil tangannya mengusap surai rambut panjang Alina yang memang di gerai bebas begitu saja.


“Pasti sayang, kamu langsung bersih-bersih ya sambil nunggu aku kabarin, jangan tidur dulu nanti kita sleep call dulu ya.” ujar Haidar.


Alina mengangguk lalu tersenyum, “Iya sayang, makasih buat malamnya sayang dan jangan lupa ya di jaga hadiah dari aku si Mika.” seru Alina sambil terkekeh.


Haidar jadi ikut terkekeh, “Pasti sayang, kamu juga jagain ya si Miki. Kalau gitu aku pulang ya, selamat malam cantik.” seru Haidar sambil mengecup pipi dan kening Alina tak lupa juga dengan pelukan hangatnya yang di berikan oleh Haidar untuk Alina.


Setelah selesai kegiatan itu, Haidar mengucapkan, “I love you, Alina.”


“I love you more, Haidar!” jawab Alina.


“Kamh masuk dulu ke dalam, baru aku pulang.” seru Haidar.


Alina menggeleng, “Gak, kamu aja pulang dulu baru aku masuk.” bantah Alina.


“Enggak Alina, kamu aja. Udah cepat sana!” seru Haidar dengan tegas.


Akhirnya mau tak mau Alina mengalah dan masuk rumah lebih dulu, setelah memastikan Alina sudah masuk ke dalam rumah dengan selamat barulah Haidar berjalan menuju mobilnya dan segera pergi dari sana.


“Mika, kamu lihat kan kelakuan kekasih aku itu, menggemaskan!” seru Haidar di dalam mobil bersama dengan boneka monkey pemberian Alina tadi.


Malam ini indah untuk Alina dan Haidar.

__ADS_1


__ADS_2