Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Memutuskan


__ADS_3

Setelah bercerita dengan kedua sahabatnya, hari Alina sedikit merasa lega. Apalagi setelah melihat tingkah konyol mereka berdua, Alina semakin terhibur.


Tetapi saat mereka berdua telah pergi dari rumahny, Alina kembali kesepian. Kembali teringat masalah cukup serius yang ada di depannya saat ini.


Benar kata Elsa dan Lio, ia harus mencoba bertanya tentang ini pada Meilla ataupun Haidar. Untuk masalah jujur atau tidaknya urusan nanti.


...****************...


Setelah semalaman berpikir tentang masalah yang baru saja datang, Alina memutuskan untuk istirahat sebentar. Bukan, bukan karena ia memilih mundur sebelum berjuang lagi tapi ia ingin mencoba menenangkan dirinya.


Dan kebetulan, tak lama Elsa dan Lio pulang dari rumah nya. Orang tuanya, Mira menghubungi nya, meminta Alina dan Adero segera ke Amerika karena akan ada perkumpulan tahunan di sana. Semua anggota keluarga memang biasa merayakan itu di Amerika, karena kakek dan neneknya tinggal di sana.


Sekarang masih pukul 7 pagi, Alina segera menyiapkan apa saja yang akan ia bawa ke Amerika selamat beberapa hari ke depan. Setelah semua siap, Alina menghubungi Haidar untuk memberitahu hal ini.


Bukan menghilang tanpa kabar kan? Meskipun rasanya masih sedikit kecewa , tetap bagaimana pun Haidar harus tau kepergian nya ini agar tidak khawatir dan berpikir macem-macem nantinya.


“Halo, Haidar.”


“Iya sayang.”


“Ehem, aku mau izin sama kamu.”


“Aku kan bukan dosen.”


“Ih Haidar, aku serius.”


“Izin apa sayang?”


“Aku harus pergi ke Amerika pagi ini.”


Haidar terdiam di ujung sana, tidak menjawab dan merespon apapun ucapan Alina.


“Haidar, masih di sana kan?”


“Pagu ini? Untuk apa? Kamu mau pergi ninggalin aku?”


Alina menggeleng, padahal Haidar pun tak bisa melihat karena ini bukan panggilan video.


“Bukan, aku ada acara di sana. Acara tahunan kelurga gitu, setiap tahun rutin ngadain acara ini.”


Terdengar helaan napas lega dai ujung panggilan sana.


“Aku ikut boleh?”


Lagi-lagi Alina menggeleng, “Gak bisa Haidar, kamu kan masih belum pulih total. Kamu istirahat aja rumah ya, aku gak akan lama kok cuma beberapa hari aja.”


“Aku masih sanggup kok, aku ikut ya?”


“Haidar, kamu bukan anak kecil yang ngerengek kaya gitu. Aku janji gak akan ninggalin kamu, please biarin aku pergi sebentar ya?”


“Berapa hari?”


“Paling lama satu Minggu, tapi bisa jadi cuma 3 hari sih.”


“Oke, kabarin aku terus, kala lewat dari jangka waktu yang kamu bilang, aku susul kamu kesana ya. Kamu kirimin alamat dia ana sekarang ke aku.”

__ADS_1


Alina terkekeh mendengar itu, walau dari kekehannya terdengar hambar tapi Alina speechless melihat respon Haidar. Apakah Haidar sudah benar-benar menerimanya dengan tulus? Tapi mengapa Maslah besar seperti itu masih bisa di sembunyiin?


Ah ya Alina ingat kata-kata Meilla dulu yang selalu beralasan, “Bukan hak gue buat cerita, biar Haidar yang kasih tahu sendiri.”


Kalian ingat juga kan ucapan itu?


Alina menutup panggilan setelah mendengar Haidar berkata i love you dengan tulus di telinganya.


...****************...


Setelah mendapat telepon dari Alina tadi, Haidar merasa perasaannya jadi gelisah. Entah mengapa seperti itu, tak rela Alina pergi ke Amerika dan meninggalkan dia meskipun itu hanya sementara.


Hadar merasa seperti ada sesuatu yang lain yang tengah terjadi pada Alina, tapi entah apa Haidar tidak tau.


Haidar keluar dari kamarnya untuk sarapan di meja makan bersama dengan Indira dan Roy. Hari ini jadwal kuliah pertama nya pukul 8 pagi, dan mungkin hari ini ia akan meminta supir untuk mengantarnya.


“Pagi, pah, mah!” sapa Haidar yang sudah duduk di meja makan.


Indira menoleh ke anak laki-laki nya, “Pagi sayang, mau sarapan apa? Biar mamah yang ambilin!”


“Ehem mau nasi goreng sedikit aja mah.” jawab Haidar seperti tidak selera makan.


Indira mengambilkan sarapan itu lalu di taruh di depan Haidar, “Kenapa kaya gak semangat gitu? Bentar lagi penyemangat nya datang juga.” seru Indira.


“Benar tuh kata mamah, kaya gak bergairah gitu anak papah hari ini.” timpal Roy.


Haidar menatap langit-langit rumahnya. “Alina gak kesini selama seminggu ke depan.”


Indira dan Roy langsung menatap Haidar dengan tatapan penuh tanya, “Kenapa? Kalian lagi bertengkar ya?” tanya Roy.


Haidar menggeleng, “Enggak, Alina mau ke Amerika katanya ada acara keluarga di sana. Tapi entak kenapa Haidar merasa ada sesuatu yang terjadi sama Alina.”


“Maksud kamu Alina lagi menyembunyikan sesuatu dari kamu?” tanya Indira


Haidar mengangguk.


“Dua berangkat kapan? Sebelum dia berangkat, kamu ketemu aja sama dua. Minta penjelasan ala yang mengganjal di pikiran kamu.” seru Roy.


Haidar menggeleng, “Gak akan keburu pah, dia akan berangkat pagi ini.”


“Kamu beneran gak ada masalah apapun sama dia sebelumnya?” tanya Indira.


Haidar terdiam seperti sedang mengingat sesuatu, “Masalh aku sama Alina itu cuma tentang Meilla mah, selama ini. Gak ada masalah lain lagi.”


“Meilla?” beo Roy.


Indira dan Haidar mengangguk, “Iya pah, Alina itu cemburu sama Meilla. Tapi menurut mamah itu wajar kok, Alina kan pacar kamu gak akan rela kamu dekat dengan cewe manapun!” seru Indira dengan nada menyindir Roy sambil menatap suaminya itu.


Roy yang peka langsung menatap balik Indira, “Maaf, itu khilaf mah. Jangan di bahas lagi ya.”


“Haidar, kamu harus jadi lebih baik dari papah. Papah dulu melakukan kesalahan besar dan untungnya mamah dan kamu masih bisa memaafkan dan menerima papah kembali. Jadilah laki-laki yang bertanggung jawab nak.” lanjut Roy.


Haidar mengangguk, “Iya pah.” sahut Haidar.


Setelah sarapan selesai kedua orang tuanya, Haidar langsung berangkat menuju kampus nya. Hari ini Roy yang akan mengantar nya ke kampus sebelum pergi ke kantor.

__ADS_1


Jalanan hari ini cukup padat, setelah ikut bermacet-macetan bersama dengan pengendara yang lainnya, akhirnya Haidar telah sampai di kampus. Haidar pamit dengan Roy, lalu masuk ke dalam kampus sendirian.


Tanpa mampir kemanapun, Haidar langsung ke kelasnya. Terlalu malas ikut bergabung dengan yang lain. Haidar memilih sendiri sambil mainkan ponselnya menunggu kabar dari kekasih hatinya.


...****************...


Setelah jam kuliah hari ini selesai, Haidar meminta Nanda untuk menjemput nya di kampus yang kebetulan jadwal Nanda memang sedang kosong.


Dengan senang hati Nanda menjemput Haidar, karena katanya lumayan bisa cuci mata melihat cewek-cewek cantik di kampus Haidar. Siapa tahu ada yang kepincut dengan pesonanya.


“Gue udah di depan.”


Bip


Hanya kata itu yang di keluarkan dari Haidar saat menghubungi Nanda. Memang teman laknat, sudah minta jemput tapi tidak ada sopan santunnya Sam sekali. Mungkin Nanda sedang menggerutu seperti itu.


Tak lama terlihat mobil Nanda berhenti di depan Haidar, tanpa banyak basa-basi Haidar langsung masuk ke dalam mobil sebelum lebih banyak lagi yang melirik nya bahkan ada yang nekat menghampiri nya untuk meminta nomer ponselnya.


“Anjir kenapa cepet banget sih lo masuk mobilnya, baru gue mau turun dulu buat tebar pesona.” seru Nanda saat melihat Haidar sudah duduk rapi di sampingnya.


“Buru jalan, ke cafe dulu ketemu yang lain.” tegas Haidar membuat nyali Nanda ciut dan segera menyalakan mobilnya kembali lalu melajukannya menuju cafe.


Setelah menghabiskan waktu di perjalanan, keduanya telah sampai di cafe tersebut. Haidar memang sudah mengabari Edo dan Lio untuk berkumpul di sini. Terlalu malas untuk segera pulang ke rumah. Apalagi sejak tadi, Alina sama sekali belum ada kabarnya.


Ternyata Lio datang bersama dengan Elsa, sedangkan Edo hanya sendirian. Haidar dan Nanda langsung masuk ke dalam cafe dan duduk di meja yang telah di pesan Lio tadi.


“Tumben lo sama Nanda, Alina kemana?” tanya Lio yang memang tidak ada yang tau kemana aliran, baru Nanda yang tau karena Haidar memberitahu alasan meminta jemput.


“Alija ke amerika.” jawab Haidar singkat padat dan jelas.


Elsa dan Lio kaget mendengar berita ini mereka saling tatap, pasti pikiran mereka saat ini sama.


“Alina udah tau semuanya?” tanya Elsa pada Haidar.


Haidar bingung dengan maksud pertanyaan dari Elsa. Tahu semuanya? Tahu apa? Tentang apa? Pikir Haidar.


“Tahu semuanya? Maksudnya?” tanya Haidar.


Lio menggeleng pada Elsa, bertujuan agar tidak melanjutkan kata-katanya untung saja Elsa paham dengan kode itu.


“Enggak maksud nya, tahu kalau kita mau ngumpul di sini?” Elsa mengelak langsung dari pertanyaan Haidar.


Haidar tidak percaya begitu saja, seperti dugaannya. Ada yang tidak beres yang terjadi pada Alina.


“Ada apa, Elsa?” tegas Haidar membuat Elsa diam seribu bahasa tak berani menatap mata tajam milik Haidar.


“Gaj ada apa-apa Haidar. Yang Elsa bilang benar kok apa Alina tahu tentang pertemuan kita ini, takut akiba khawatir atau apa kalau tidak di kasih tahu.” sahut Lio membantu Elsa dari serangan Haidar.


“Alina tak ada kabar sama sekali sejak pagi! Gue ngerasa kalau ada sesuatu yang terjadi sama dia, dan ada yang dia sembunyiin itu semua.” jelas Haidar.


Lio dan Elsa bernapas lega lalu diam mendengar curhatan Haidar. Elsa kita Alina memutuskan untuk pergi karena sudah menanyakan hal itu pada Haidar, tapi Alina tidak mendapatkan jawaban yang jujur.


“Cewek Lo pasti gak mau ikut karena gue ya?” seru Elsa bertanya pada Edo.


Edo menggeleng, “Bukan, dia ada tugas yang harus di kumpul besok makanya gak bisa ikut ke sini.”

__ADS_1


Padahal apa yang di tuduh Elsa memang benar, Meilla memilih tidak ikut bersama Edo takut acara ngumpulnya jadi tak asik karena Elsa dengan Meilla masih perang dingin sejak di rumah sakit waktu itu.


__ADS_2