Mengejar Cinta Pria Dingin

Mengejar Cinta Pria Dingin
Party birthday Bobi


__ADS_3

Hari ini adalah ulang tahun Bobi di adakan. Semua tamu undangan di wajibkan membawa topeng masing-masing dan harus memakainya selama acara berlangsung.


Sekarang sudah pukul 8 malam, sedangkan di sisi lain, Haidar masih berada di depan gerbangnya menunggu seseorang yang akan menjemputnya datang. Tak lama seseorang yang Alina tunggu tiba. Dengan langkah anggun dan pelan Alina menghampiri mobil itu.


"Tumben gak tepat waktu lo." Ujar Alina saat sudah memasuki mobil orang tersebut.


"Gue lupa naro kunci mobilnya, ini aja pake kunci serep." Ujar meilla memberi tahu alasannya terlambat.


Iya, Alina memutuskan berangkat bersama dengan Meilla dan Elsa. Karena Alina ingin tahu seberapa besar perjuangan Haider untuk meluluhkan hati Alina.


Loh sekarang jadi terbalik?


"Jemput Elsa dulu." Ujar meilla di anggukin oleh Alina.


Meilla melajukan mobilnya menuju rumah Elsa untuk menjemput gadis itu. Sejak tadi Elsa sudah menelepon nya tidak seperti Alina yang hanya meneleponnya satu kali saja.


"Berisik banget sih tuh anak." Gerutu meilla saat melihat ponselnya yang lagi-lagi berdering dan terlihat nama Elsa di sana.


"Sini gue angkat." Ujar Alina mengambil alih ponsel Meilla.


"Sabar, ini lagi di jalan." Ujar Alina pada Elsa.


"...."


"Bawel."


Bipp


Alina mengembalikkan ponsel Meilla kepada sang pemiliknya. Alina jadi ikutan Meilla menggerutu karena kesal dengan Elsa.


Setelah hampir 20 menit akhirnya mereka sampai juga di depan rumah Elsa, tetapi gadis itu tidak ada di depan gerbang padahal tadi di telepon bilang serah menunggu di depan.


Alina turun dari mobil Meilla dan melangkah menuju rumah Elsa. Alina memencet bel satu kali lalu gerbang terbuka. Bukan otomatis ya, tapi ada yang bukain satpamnya Elsa.


"Eh neng Alina." Sapa Mansur satpam Elsa.


"Eh mang Mansur, Elsa nya mana mang?" Ujar Alina to the point.


"Loh baru aja jalan di jemput sama temennya, 10 menit yang lalu kayaknya."


Alina kaget dengan informasi itu, tak mau berlama-lama Alina langsung pamit pada Mansur.


"Gak mau sabar emang temen lo, mang Mansur bilang dia udah jalan 10 menit yang lalu." Gerutu Alina.


Meilla yang mendengar itu pun ikut kesal dengan Elsa, bisa-bisanya dia malah pergi begitu saja.


"Awas aja tuh anak!" Desis Meilla.


"Tapi dia berangkat sama siapa ya?" Tanya Alina pada Meilla dan hanya di jawab dengan angkatan bahu dan itu artinya tidak tahu.

__ADS_1


Dengan cepat Meilla segera melajukan mobilnya menuju hotel di mana acara Bobi di adakan dan sekarang sudah pukul setengah 9 malam. Sedangkan dari rumah Elsa ke hotel membutuhkan waktu 35 menit bisa jadi mereka akan terlambat apa lagi kalau jalanan nya macet.


Tak apalah, kalo gak ngaret namanya bukan anak remaja. Bener kan?


****


Sedangkan di sisi lain, Alina dan kawan-kawannya sudah sampai di sana sekitar 10 menit yang lalu. Eits tapi tidak ada Lio ya. Lio tadi bilang pada mereka ingin mencoba menjemput Elsa siapa tahu gadis itu mau.


Edo sudah memberitahu kalau Elsa akan berangkat bersama dengan Meilla dan juga Alina, tetapi Lio kekeh ingin mencoba keberuntungannya.


"Anjay beruntung dia." Seru Edo saat melihat Lio berjalan bersama dengan Elsa.


Meskipun memakai topeng, Edo mengenali jas yang di pakai Lio karena jas itu miliknya.


"Elsa cantik juga ya ternyata." Sahut Nanda saat melihat Elsa menggunakan dress warna Maroon selutut dengan dress model sabrina.


Edo yang mendengar itu langsung menoyor kepala Nanda, "Lo gak laku? Sampe gebetan temen lo sendiri di lirik?" Gerutu Edo.


Nanda menggeleng cepat, "Gue sama Meilla aja deh kalau gitu." Sahut Nanda.


Edo lagi-lagi menoyor kepala Nanda, "Enak aja, Meilla udah jadi incaran gue ya. Awas aja lo tikung, gue gebukin!"


"Yah, terus gue sama siapa dong kalau gitu? Ah ga, sama Alina aja deh gue." Seru Nanda langsung mendapat tatapan tajam dari Haidar.


"Keroyok Do." Seru Haidar sambil menatap Nanda.


Nanda yang di tatap Haidar hanya menyengir.


Edo menepuk bahu Nanda, "sama Vanesa." Ujar Edo terbahak kencang membuat Haidar ikut menyunggingkan senyumnya.


Nanda mengetuk meja tiga kali sambil berkata, "amit-amit cabang bayi."


Edo semakin tertawa berbahak-bahak.


"Ngapain lo ketawa sampe begitu?" Ujar Lio yang sampai di meja tempat duduk Haidar.


"Itu si Nanda nanti mau dansa sama Vanesa katanya." Ujar Edo.


Lio yang mendengar itu langsung ikutan terkekeh dan bertanya kepada nanda untuk memastikan hal itu.


"Alina mana?" Tanya haidar pada Elsa.


"Bilangnya sih tadi udah di jalan mau jemput gue, tapi gak dateng-dateng. Eh kebetulan nih ada kutu Dateng, makanya gue ikut dia duluan." Ujar Elsa sambil nunjuk ke Lio.


"Di bilang kutu dia, Nan haha." Seru Edo.


"Iya Do, kasian. Udah bela-belain jemput, eh di bilang kutu." Sahut Nanda sambil terkekeh.


Lio yang di goda seperti itu langsung kesal, "berisik lo berdua!"

__ADS_1


Sedangkan Elsa sedikit merasa bersalah, hanya sedikit ya inget sedikit.


Acara sepertinya akan di mulai, karena pembawa acaranya sudah menaiki panggung yang di sediakan pihak hotel.


"Selamat malam semuanya." Sapa pembawa acara.


"Malam." Sahut semua tamu.


Sedangkan mata Haidar masih terus menatap pintu masuk, menanti Alina yang belum tiba juga sampai sekarang. Haidar takut terjadi sesuatu pada Alina, terlebih lagi sama dengan Meilla sahabatnya sejak kecil, Haidar tidak mau kejadian yang lalu terulang kembali.


Maksudnya berarti di hidupnya gimana? Kalau Meilla sih pasti ia, karena sejak dulu selalu bersama. Tetapi kalau Alina?


Tak lama kekhawatiran itu berubah menjadi senyuman kecil yang tercetak di bibir merah muda milik Haidar, karena sosok Alina yang sejak tadi ia tunggu muncul di pintu masuk.


Haidar mengetahui itu, karena Haidar sudah menghafal lekuk tubuh milik mereka berdua. Tunggu jangan berpikir macam-macam ya, maksudku postur tubuh mereka. Kalau kalian mikir macem-macem terserah deh!


Alina terlihat sangat anggun malam hari ini, menggunakan dress brukat model sabrina berwarna putih dan memakai sepatu heels 5cm senada jangan lupa tas jinjing kecil berwarna senada juga. Begitu pula dengan Meilla, memilih dress berwarna biru muda panjang dengan rambut di cepol ke atas.


Saat keduanya memasuki ruangan tersebut, perhatian langsung menuju ke mereka.


Meilla menghampiri meja yang tengah di duduki oleh Haidar dan yang lainnya. Meilla tahu itu Haidar karena jas yang Haidar pakai adalah pemberian dari papinya waktu itu.


"Sialan ya lo gue udah jauh-jauh jemput, lo malah pergi duluan." Gerutu meilla saat sampai di meja itu.


"Husst!" Ujar yang lainnya menegur Meilla.


Saat ini Bobi tengah memberikan beberapa sambutan untuk para teman-temannya.


"Thanks buat semuanya yang udah datang ke acara gue malam ini, gue harap kalian semua bisa menikmati pesta ini, sekali lagi terima kasih." Sambutan Bobi.


Bobi turun dari panggung dan di lanjuti oleh pembawa acara.


"Oke, sekarang kita langsung aja nyanyi selamat ulang tahun buat Bobi dan potong kue!" Seru pembawa acaranya.


Happy birthday to you


Happy birthday to you


Happy birthday


Happy birthday


Happy birthday to you


Seru semuanya menyanyikan lagu tersebut, sebelum itu menyanyikan lagi potong kue.


"Hayo suapan pertama buat siapa?" Seru pembawa acara.


Bobi seakan sedang mencari seseorang dan akhirnya seseorang yang di maksud Bobi ketemu. Dengan langkah pasti Bobi menghampiri orang itu. Suasana menjadi sunyi, semua orang melihat langkah kaki Bobi ke arah mana.

__ADS_1


Memang di acara ulang tahunnya ini, orang tua Bobi tidak ada karena ingin acara khusus untuk teman-temannya. Orang tua Bobi pun menyetujui nya tetapi dengan syarat tidak ada minuman keras dan narkoba. Dan Bobi pun menjamin itu semua tidak akan ada.


Lalu siapa kah seseorang itu?


__ADS_2